Kun Murodan Wala Takun Muridan artinya dan tulisan Arab

Kun murodan wala takun muridan artinya dan tulisan Arab

Kun murodan wala takun muridan artinya dan tulisan Arab lengkap dengan syakal harakat untuk memudahkan membaca dan copy paste.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu, secara harfiah, arti dari mahfudzot atau maqolah Bahasa Arab kun muroodan wa laa takun muriidan adalah Jadilah kamu orang yang dikehendaki bukan orang yang menghendaki.

Bisa jadi anda mencari tulisan ini karena melihat Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) pada waktu pembahasan tasawuf atau ilmu berkenaan dengan keislaman.

Adapun tulisan Arab dan artinya Kun murodan wala takun muridan adalah sebagai berikut;

كُنْ مُرَادًا وَلَا تَكُنْ مُرِيدًا

Artinya : Jadilah (kamu) orang yang diinginkan / dikehendaki, bukan orang yang menginginkan/menghendaki.

Apa alasannya menggunakan ungkapan ini untuk menjadi falsafah hidup dalam menjalani kehidupan?

Salah satu alasannya adalah Kun murodan wala takun muridan karena banyaknya harapan yang kamu atau kita inginkan namun kenyataan yang ada tidak seindah serta sesuai dengan angan.

Kun murodan wala takun muridan artinya dan tulisan Arab

Apa sih maksud dan makna dalam ungkapan ini?

Dalam skripsi milik Ahmad Labib Nuruzzaman Prodi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang berjudul penafsiran Q.S. Ar-rum (30): 21 Perspektif Tafsir Maq ̅ṣidi

Kun Muroodan (Jadilah yang Dikehendaki) maksudnya yaitu menempatkan diri sebagai hamba yang pasrah dan mengizinkan kehendak Allah berlaku atas dirinya. Hidupnya diatur oleh Allah dan ia ridha dengan keputusan-Nya.

Wa laa Takun Muriidan (Jangan Jadi yang Mengehendaki) memiliki makna melepaskan keinginan hawa nafsu pribadi, ambisi duniawi, atau memaksakan kehendak sendiri.

Inti Ajaran: Mencapai tingkat tertinggi dalam tauhid dan tasawuf, di mana seorang hamba tidak lagi memiliki “kehendak” selain “kehendak Allah”, pasrah dan tunduk dengan ketentuan Allah SWT.

Dari sini maka Hati dan jiwa pasrah sepenuhnya pada takdir (ridha). Namun begitu pasrah Bukan berarti pasif tanpa usaha, melainkan berusaha maksimal namun hasilnya diserahkan penuh kepada Allah.

Ringkasnya, ungkapan ini mengajak manusia untuk berhenti menuntut Allah mengikuti keinginannya, dan sebaliknya, menjadikan diri layak agar Allah “menginginkan” kebaikan pada dirinya tentunya setelah melakukan ikhtiyar sesuai kemampuan.

Ini adalah tingkat tertinggi kepasrahan hamba. Demikian semoga bermanfaat, wassalaamu’alaikum.

Tinggalkan Balasan

Ibnu Singorejo

Postingan baru : Kami usahakan Jadwal hari Senin dan Jumat akan ada tambahan postingan artikel baru. Terima kasih sudah menyimak. saran dan kritik serta sumbangan artikel kami tunggu. contact info : cspontren@yahoo.com twitter : PontrenDotCom FB : Gadung Giri