Mahfudzot Kelas 2 Dan Artinya Penjelasannya untuk pondok pesantren lengkap dengan harakat syakal arti dan penjelasan bisa copy paste sebagai panduan membuat soal ujian dan jawabannya.
pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, dalam mata pelajaran bahasa Arab mahfudzot kelas 2 menjadi bagian 1 2 3 4 5 untuk semester 1.
Adapun tema atau judul mahfudot kelas 2 pada masing-masing bagian adalah sebagai berikut
Mahfudzot bagian 1 : al hatsu alat ta’allumi
Mahfudzot bagian 2 : adabul mujalasah (mujaalasati)
Mahfudzot bagian 3 : asy syarofu bil adabi
Mahfudzot bagian 4 : qola imam Syafi’i Syakautu ila Waaqi’ suua hifdzhii
Mahfudzot bagian 5 : alhatsu alatta’allumi 2
Langsung saja berikut adalah tulisan teks arab, artinya dalam Bahasa Indonesia serta syarah penjelasannya dari berbagai sumber.
al hatsu alat ta’allumi Mahfudzot Kelas 2 Beserta Arti dan Penjelasannya (Bagian 1)
الحَثُّ عَلَى التَعَلُّمِ
العَالِمُ كَبِيْرٌ وَإِنْ كَانَ حَدَثًا
وَالجَاهِلُ صَغِيْرٌ وَإِنْ كَانَ شَيْخًا
تَعَلَّمْ فَلَيْسَ المَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا
وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ
وَإِنَّ كَبِيْرَ القَوْمِ لاَعِلْمَ عِنْدَهُ
صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ المَحَافِلُ
Artinya :
Ajakan untuk menuntut ilmu
Orang yang berilmu itu besar walaupun umurnya masih muda,
sedangkan orang yang bodoh itu kecil walaupun umurnya tua
Belajarlah (karena) tidak ada orang yang dilahirkan dalam keadaan berilmu,
dan tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang bodoh.
Dan sesungguhnya tokoh terpandang suatu kaum yang tidak berilmu itu,
menjadi kecil tatkala berkumpul bersamanya orang-orang di dalam perkumpulan.
Syarah al hatsu alat ta’allum Penjelasan dan Kesimpulan:
Besarnya orang tidaklah dilihat dari segi usia, namun dilihat dari keilmuan dan pengetahuan.
Sementara itu seseorang yang mengharapkan keilmuan dan pengetahuan tetapi hanya berdiam diri saja tanpa ikhtiar yang memadai pada akhirnya hanyalah sia – sia (tidak berhasil meraih ilmu).
Karena tidak ada orang yang lahir ke dunia ini dalam keadaan berilmu, ilmu itu hendaknya dicari.
Orang yang tak berilmu tidak akan pernah sama dengan orang yang memiliki ilmu, apapun kedudukan dan jabatannya.
Oleh karenanya di dalam sebuah perkumpulan besar, orang yang tak berilmu akan tetap dipandang sebagai orang bodoh, walaupun ia adalah seorang yang punya kedudukan tertentu di dalam masyarakat.
Adabul mujalasah Mahfudzot Kelas 2 Beserta Arti dan Penjelasannya (Bagian 2)
أَدَبُ الْمُجَالَسَةِ
إِنْ أَنْتَ جَالَسْتَ الرِّجَالَ ذَوِي النُّهَى
فَاجْلِسْ إِلَيْهِمْ بِالْكَمَالِ مُؤَدَّبًا
وَاسْمَعْ حَدِيْثَهُمْ إِذَا هُمْ حَدَّثُوْا
وَاجْعَلْ حَدِيْثَكَ – إِنْ نَطَقْتَ – مُهَذَّبًا
Artinya
Adab dalam bermajlis (bergaul)
Jika kamu bergaul bersama orang-orang berilmu,
Maka bergaullah bersama mereka dengan kesempurnaan adab
Dan dengarlah perkataan mereka jika mereka berbicara,
Dan jadikanlah perkataanmu –jika kamu berkata– penuh sopan santun.
Syarah adabul mujalasah Penjelasan beserta Kesimpulan:
Pedoman dasar dalam bermajelis dan bergaul khususnya dengan orang cerdik pandai maka seyogyanya menjaga adab dan sopan santun.
Karena pentingnya adab itulah selanjutnya muncul ungkapan bahwa :
الأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ
“Adab itu berada di atas ilmu”
Dari segi agama Islam, etika pergaulan atau adabul mujalasah memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Teks latin : innamaa bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq.
Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, no. 8952)
Asy Syarofu bil adabi : Mahfudzot Kelas 2 Beserta Arti dan Penjelasannya (Bagian 3)
الشَّرَفُ بِالْأَدَبِ
لَا تَنْظُرَنَّ لِأَثْوَابٍ عَلَى أَحَدٍ
إِنْ رُمْتَ تَعْرِفَهُ فَانْظُرْ إِلَى الْأَدَبِ
وَمَا الحُسْنُ فِيْ وَجْهِ الْفَتَى شَرَفاً لَهُ
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ فِعْلِهِ وَالخَلائِقِ
فَلْيَنْظُرَنَّ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ أَدَبًا
وَلْيَنْظُرَنَّ إِلَى مَنْ دُوْنَهُ مَالًا
Artinya :
Kehormatan itu berdasarkan adab
Janganlah engkau melihat pakaian yang ada pada seseorang,
Jika engkau ingin mengenal orang itu maka lihat adabnya.
Dan tidaklah keindahan yang ada pada wajah seseorang itu kehormatan baginya,
Jika tidak diiringi dengan keindahan pada perbuatan dan perilakunya.
Maka hendaklah seseorang melihat orang yang lebih baik dari dirinya dari segi adab,
Dan hendaknya juga ia melihat orang yang kurang dari dirinya dari segi harta.
Syarah Penjelasan dan Kesimpulan mahfudzot bagian 3 asy syarofu bil adabi
Pertama : Apabila kita ingin mengetahui kedudukan terhormat atau tidaknya seseorang, maka janganlah hanya melihat dari penampilannya saja, tapi lihatnya akhlak dan budi pekertinya.
Kedua : Ketahuilah sesungguhnya keindahan fisik yang dimiliki oleh seseorang itu bukanlah ukuran dalam memberikan penilaian kedudukan seseorang.
Maka jika kita benar-benar hendak menilainya, hendaklah mencermati segala perilaku dan tutur katanya.
Ketiga : Apabila seseorang ingin adabnya menjadi lebih baik, seyogyanya untuk melihat kepada orang lain yang adabnya lebih baik dari dirinya.
Hal lain hendaknya melihat kepada orang yang hartanya tidak sebanyak dirinya agar muncul rasa syukur di hatinya, dan agar muncul rasa iba di hatinya terhadap penderitaan orang lain.
Qola imam Syafi’i Syakautu ila waki’ suua hifdzii : Mahfudzot Kelas 2 Beserta Arti dan Penjelasannya (Bagian 4)
قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ
وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِيْ
Artinya :
Telah berkata Imam Syafi’i Radhiyallahu Anhu
Aku telah mengadukan kepada Waki’ lemahnya hafalanku,
Maka beliaupun membimbingku untuk meninggalkan maksiat.
Beliau juga memberitahukan kepadaku bahwasannya ilmu itu adalah cahaya,
Dan cahaya Allah itu tidaklah diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.
Syarah mahfudzot bagian 4 qola imam Syafi’i Penjelasan dan Kesimpulan:
Dalam mahfudzot ini menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah merasakan lemah dan kurang pada bidang kemampuan dalam menghafal.
Kemudian beliau pun menyampaikan masalah tersebut kepada gurunya, yaitu Imam Waki’.
Kemudian Imam Waqi’ memberi petuah kepada beliau untuk menghindari maksiat.
Perlu dipahami di sini bahwasannya seorang ulama seperti beliau tentu tidak akan berbuat ‘maksiat’ dalam artian pada masa sekarang.
Alaasnnya dalam pandangan para ulama setingkat mereka, sebuah dosa kecil yang mungkin dianggap ‘biasa’ dalam pandangan awam pun dirasakan sebagai dosa yang besar yang sangat mereka sesali.
Dalam riwayat, bahwasanya ‘maksiat’ yang dimaksud oleh Imam Syafi’i di sini adalah beliau secara ‘tidak sengaja’ melihat betis seorang wanita yang pakaiannya tersingkap oleh angin.
Demikianlah mereka para ulama yang sangat luar biasa menjaga diri dari dosa.
Al hatsu alatta’allumi 2 : Mahfudzot Kelas 2 Beserta Arti dan Penjelasannya (Bagian 5)
الحَثُّ عَلَى التَّعَلُّمِ (٢)
مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتـِهِ
وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ
فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتـِهِ
حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى
إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتـِهِ
Artinya Mahfudzot kelas 2 bagian 5
Anjuran dalam menuntut ilmu 2
Siapa yang belum merasakan susahnya menuntut ilmu barang sejenak
dia pasti akan merasakan rendahnya kebodohan seumur hidupnya
Barangsiapa yang lalai dari menuntut ilmu pada waktu mudanya
Maka bertakbirlah kamu untuknya sebanyak 4 kali akan kematiannya.
Hidupnya seseorang itu “demi Allah” ditentukan oleh ilmu dan takwa
Jika keduanya sudah tak ada, maka tak ada lagi harga dirinya.
Al hatsu alat ta’allumi 2 Syarah Penjelasan dan Kesimpulan
Orang yang pada waktu muda tak pernah merasakan pahit getirnya menuntut ilmu, dia akan merasakan susahnya menjadi orang bodoh seumur hidupnya.
Sehingga hal ini layak untuk ‘ditakbiri sebanyak 4 kali’.
Maksudnya adalah sebenarnya orang seperti itu tak ubahnya bagaikan orang yang meninggal.
Hidup raganya, namun tidak jiwanya. Kemudian karena harkat dan martabat seorang manusia itu letaknya pada keilmuan dan ketakwaannya.
Apabila keduanya sudah tak ada lagi, habislah sudah yang bisa dibanggakan dari orang tersebut.
