10 Panyandra Wong Nginum Panyandrane Perumpamaan Orang Minum

10 panyandra wong nginum
Share

Panyandra Wong Nginum Panyandrane Perumpamaan orang minum dalam Bahasa Jawa yang mengumpamakan orang teler mulai dari 1 (satu) sloki atau gelas sampai gelas ke 10 (sepuluh) lengkap dengan arti penjelasan, tegese basa Jawa.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh, wilujeng enjang selamat pagi. Berikut ini ada 10 panyandrane wong nginum lan tegese beserta artinya Basa Jawa kedalam penjelasan Bahasa Indonesia.

Maksudnya minum atau nginum pada panyandra ini bukanlah meminum teh atau kopi, namun minuman yang membuat mabuk dan memabukkan. Biasanya ukuran atau takaran minuman berupa sloki atau seloki.

Sloki tegese yaiku gelas cilik kanggo ngombe mendhem, seloki artinya adalah gelas kecil untuk minum-minuman keras.

Apa saja candrane wong nginum lan tegese basa Jawa? Berikut ini panyandra orang mabuk lengkap dengan arti dan terjemahnya kedalam bahasa Indonesia.

10 Panyandrane wong nginum yaiku;

Eka Padma Sari Tegese Wong Nginum Antuk Sadhasar Kaya Kombang Ngisep Sari

yang pertama atau gelas sloki pertamanya meminum bagaikan kumbang/lebah yang menghisap sari bunga.

Adapun penjelasan tembung arti kata satu persatu pada eka padma sari tegese yaiku eka: sawiji, padma: kêmbang, sari: sarining kêmbang

Jadi dalam bahasa Jawa, seloki pertama atau gelas kapisan, sloki sik dewe tegese yaiku wong minum antuk sadhasar, kaya kombang ngisêp sari;

Penjelasannya, pengandaian/gambarannya seperti tawon atau kumbang yang menghisap sari madu ini memberikan gambaran bahwa pertamanya meminum nikmatnya benar benar merasuk kedalam jiwa.

Begitu enak dan nikmatnya sehingga mengundang untuk menambah kenikmatan lagi dengan menuangkan air api kedalam gelas untuk kedua dan selanjutnya.

Dwi amartani tegese loro andhap asor

Untuk seloki kedua ini candrane wong nginum basa jawa yaiku Dwi amartani.

Tegese yaiku loro andhap asor.

Dwi tegese loro, amartani tegese andhap asor.

Tegese dwi amartani yaiku wong minum antuk rong dhasar, saenggo gelem dikongkon utowo diepak.

Sloki yang kedua ini memberikan gambaran bahwa orang yang menghabiskan minuman kedua (sloki atau gelas) memiliki panyandra mudah untuk disuruh-suruh atau melakukan perintah apapun dengan mudah.

Mempunyai etika andhap asor yang tinggi sehingga dengan mudahnya disuruh dan diperintah, posisinya seperti seorang kongkonan.

Tri Kawula Busana tegese yiku telu, batur panganggo

Panyandrane wong nginum Pada tuangan sloki atau seloki ketiga pada basa Jawa yaiku tri kawula Busana.

Tri Kawula Busana Tegese yaiku wong nginum antuk telung dhasar, sanajan batur, babu, pembantu yen becik busana panganggone kudu jajar lungguh lan bendarane.

Penjelasannya, apabila sudah minum gelas atau seloki ketiga, orang akan melupakan tempat kedudukan atau derajatnya.

Maksudnya kawula busana adalah meskipun dia derajatnya hanya pesuruh atau abdi alias batur (babu), apabila memasuki taraf tiga gelas minum maka lupa akan sopan santun.

Walaupun (misalnya) dia hanya seorang pesuruh atau rewang (pembantu) namun jika merasa pakaiannya pantas dan bagus akan merasa sederajat dengan tuannya (bendarane).

Panyandara ini menggambarkan orang yang meminum 3 sloki sudah mulai mabuk serta kehilangan kesadaran. Buktinya yaitu mulai kehilangan unggah ungguh sopan santun dan melupakan derajat kedudukannya sendiri.

catur wanara rukêm tegese yaiku kethek mangan wohwohan

yang keempat gambarannya yaitu catur wanara rukem.

Catur tegese papat, wanara tegese yaiku kethek (monyet), rukem tegese yaiku wohwohan (buah – buahan).

Sebenarnya rukem adalah nama buah yang mirip dengan kersen atau sari, namun secara umum tujuannya yaitu berupa buah buahan, namun pemisalannya dengan nama salah satu buah yaitu rukem.

Penjelasane wong kang wis ngombe patang gelas kaya kethek kang mangan woh wohan. Orang yang minum sloki keempat bagaikan monyet yang makan buah buahan.

Maksudnya yaitu pada gelas keempat, memberikan gambaran sebagaimana perilaku monyet yang menemukan buah buahan.

Bagaimana tingkah lakunya?

Menimbulkan kegaduhan, rebutan, saling sikut dan lain sebagainya memperebutkan buah untuk dikonsumsi.

Hal ini memberikan gambaran pada sloki keempat sudah dalam kondisi yang semakin tidak terkendali.

panca sura panggah tegese yaiku wani kasaguhan

untuk gelas atau sloki kelima nginum yaiku panca sura panggah, tegese wong nginum antuk limang gelas sanajan wonge kuru mengi amesthi ngumbar sanggup.

Artinya adalah orang yang sudah menghabiskan 5 sloki, meskipun kurus kering atau kecil maka dia akan mengumbar kesanggupan, apapun dilakukan dijabanin.

Penjelasannya yaitu pada tahap ini, orang akan hilang rasa takutnya, yang ada hanya sanggup dan merasa mampu bahkan dalam hal perbuatan apapun (jelek, mesum dll).

Hal ini karena rasa malu sudah hilang tidak ada.

Jadi maksud penggambaran panca sura panggah yaitu pada gelas kelima maka orang akan menjadi pemberani, tidak takut apapun dan siapapun karena sudah hilang kesadarannya dan juga rasa malunya. Istilahnya yang saat ini kondang yaitu sudah putus urat malu.

Sad Guna Weweka tegese yaiku bangkit pangawasing ati

Secara harfiah atau tegese lugu sad yaiku enem, guna tegese bangkit, weweka tegese yaiku pangawasing ati. Artinya adalah bangkit atau tumbuh kewaspadaannya dengan sangat tinggi sekali melewati batas umum.

Guna weweka tegese yaiku wong kang waspada banget, sanajan krungu wong maca utawa muji, pngrasane angrasani ala marang awake. Artinya atau maksudnya adalah walaupun mendengar orang membaca ataupun memuji, dia malah mengira orang tersebut menghina atau menjelek jelekkannya.

Tidak ada omongan orang lain yang baik (menurut orang yang sudah menghabiskan keenam gelas ini). Semua yang ada dianggap menjelekkan dirinya.

Sapta Kukila Warsa tegese manuk udan (kudanan)

Sapta tegese pitu (tujuh) kukila tegese yaiku manuk (burung) dan warsa tegese yaiku udan (kudanan).

Panyandrane wong nginum kaping pitu yaiku sapta kukila warsa, tegese kaya manuk kodanan, awak ndharêdhêg, cangkême kêmruwuk. Artinya bagaikan burung yang kehujanan, badannya menggigil, mulutnya merancau.

Hal ini memberikan gambaran pada tahapan gelas ketujuh tentang penampakan fisik yang kedinginan bagaikan burung yang kehujanan. Mulutnya merancau mengatakan apapun yang dia sendiri tidak sadar.

Bicara sendiri, omongannya tidak jelas dan kata kalimat apapun keluar dari mulutnya tanpa bisa mengendalikan.

astha sacara-cara tegese yaiku sawiyah wiyah

astha tegese wolu (delapan) sacara-cara tegese yaiku sawiyah wiyah. Maksude yaiku wong sing minum antuk wolung dhasar, gampang mêtokake ujar sawiyah-wiyah.

Artinya adalah saat kedelapan gelas, orang yang minum ini akan mudah mengeluarkan perkataan yang sesukanya, seenaknya sendiri sak kepenake dewe, sak udel-udele dewe.

Penjelasannya yaitu dia akan semena-mena dalam berbicara, menghina orang didepannya tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bicaranya tidak terkontrol sehingga mudah saja omongan semena mena dan menghina tidak terpikirkan sebelumnya.

Nawa Gra Lapa Tegese Yaiku Awak Lesu

Nawa tegese sanga (sembilan), gra tegese yaiku wagra, macan, kucing gedhe kang galak serem lan menangan, lapa tegese yaiku lesu, kesel, thenger-thenger. Artinya badan menjadi capek lesu lelah, dan sebagainya.

Jadi pada tahapan minum kesembilan ini panyandrane wong nginum yaiku nawa gra lapa, tegese macan lesu.

Maksudnya yaitu harimau yang sudah kehilangan daya dan tenaganya, tidak berdaya, lemah lunglai lemas sehingga hilang pamor dan tidak lagi membuat orang takut.

Dasa Yaksa Wangke artinya kaya buta mati

Dasa tegese yaiku sepuluh, yaksa tegese yaiku buta (raksasa) wangke tegese yaiku mati (bangkai).

Penjelasannya dalam bahasa Jawa yaitu wong kang ngombe antuk sepuluh dhasar wus saengga mati ewadene isih medheni, yen obah kang ndheleng padha lumayu. Artinya pada kesepulug gelas ini bagaikan bangkai, mati. Apabila masih membuat takut, apabila bergerak akan membuat orang yang melihatnya menjadi lari.

Bahkan ada yang lebih ekstrim mengartikan dasa buta mati yaitu orang yang sudah teler ini bagaikan raksasa yang sudah menjadi bangkai, maksudnya tidak ada gunanya lagi.

Demikianlah informasi mengenai candrane wong nginum basa Jawa tegese lengkap dengan arti dan penjelasannya dalam Indonesia.

Wilujeng enjang, selamat pagi dan wassalamu’alaikum.


Share

Satu pemikiran pada “10 Panyandra Wong Nginum Panyandrane Perumpamaan Orang Minum

  1. Menarik sekali menganalisis Alkohol dari perspektif Jawa.
    Alkohol adalah cara tercepat untuk merendahkan tingkat vibrasi kita -dan sudah ribuan tahun dijadikan alat penghilang kesadaran manusia. Dengan membunuh sel-sel otak, alkohol melemahkan koneksi kita dengan titik sadar tertinggi.
    Entah ini menarik atau menakutkan, saat seseorang meminumnya, justru alkohol lah yang balik mengkonsumsinya.
    Untuk itulah ia disebut juga ‘the devil’s juice’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.