Kisah Sengkuni Memakan Saudaranya, Penderitaan, Asal Muasal Jahat

kisah sengkuni memakan saudaranya sendiri
Share

Kisah Sengkuni memakan saudaranya, penderitaan, asal muasal menjadi Jahat. Patih Sangkuni merupakan adik Dewi Gendari, simbol kejahatan dan kelicikan menjadi satu pada diri patih negeri Astina ini.

pontren.com – Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, Sengkuni alias Sangkuni merupakan personifikasi tokoh dengan sifat licik, jahat, menghalalkan segala cara, provokator, dan ambisi balas dendam angkara murka, beserta sifat-sifat buruk lain yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran yang mengerikan.

Nama lain sengkuni yaitu Harya Suman dan Tri Gantalpati, Sengkuni berasal dari Kata Saka dan Uni, yang artinya Buruk atau rusak karena perkataannya sendiri.

rusaknya fisik dan wajahnya karena dihajar oleh Patih Hastina yaitu Gandamana karena marah difitnah dan di perangkap dalam sebuah luweng (sumur yang dalam).

Asal Muasal Sengkuni menjadi Jahat (kelahiran Harya Suman)

Ada berbagai versi cerita mengenai tokoh yang terkenal dalam dunia pewayangan karena intrik politiknya dalam kehidupan pewayangan.

Ada yang mengisahkan Harya Suman merupakan titisan Batara yang memiliki sifat jahat dan pendengki, adapula cerita bahwa dia lahir karena hasil rudapeksa pemerkosaan permaisuri raja oleh anak buahnya yang berkhianat.

Adapula dia lahir secara normal, namun karena keadaan hidup penderitaan yang mengerikan membuatnya menjadi dendam kesumat dan untuk menuntaskan rasa dendamnya kemudian memakai segala cara untuk menuntut balas.

Sengkuni Titisan Batara Dwapara

Ada versi asal muasal patih Sengkuni alias Haryo Suman menjadi jahat. Alasan pertama yaitu karena dia merupakan titisan dari Batara Dwapara yang di usir dari Kahyangan dan menjalani hidup di Dunia.

Batara Dwapara memiliki sifat yang selalu sirik, iri hati, mempunyai akal busuk dan licik.

kesaktian patih sengkuni
saktinya Patih Sengkuni yang membuat Bima Nyaris Kalah dalam pertempuran

Pada saat batara Dwapara ini turun ke Bumi, saat itu bersamaan dengan persalinan permaisuri Raja Awu-awu langit yang menjadi raja pada Kerajaan Gandara.

Pada saat itulah Batara Dwapara memasuki bayi yang masih merah yang kemudian mendapatkan nama Harya Suman dan kelak kita kenal dengan sebutan Sengkuni (Sangkuni).

Dari situlah salah satu alasan asal muasal sengkuni menjadi jahat karena dia menjadi titisan Betara Dwapara yang menghimpun berbagai sifat buruk dan jahat dalam dirinya.

Kelahirannya karena Hasil perkosaan Gandarwa Sutibar (anak Buah yang membelot dan berkhianat)

Awal mula kisah ini adalah munculnya sosok makhluk halus bernama Gandarwa Sutibar, utusan Kerajaan Sulamangleng untuk menyampaikan lamaran rajanya yang bernama Prabu Siswandakala.

Adapun yang hendak dilamar untuk menjadi istri adalah Dewi Kesru.

Dewi Kesru merupakan istri Arya Kistawa, patih Kerajaan Mandaswara. Mendengar surat lamaran ini Kistawa marah dan menantang Gandarwa Sutibar untuk melangkahi mayatnya apabila menginginkan dewi Kesru.

Selanjutnya tantangan ini berubah menjadi peperangan antar pasukan. Melihat Patih Arya Kistawa banyak membunuh pasukannya, Gandarwa Sutibar menghilang dan masuk ke Kapuntren. Singkat cerita dia menculik Dewi Kesru.

Dengan hilangnya Dewi Kesru membuat patih Kistawa terkejut, Prabu Kistawa (kakak sang patih) menasehati untuk tenang dan mencari petunjuk berkonsultasi kepada Resi Abyasa yang menjadi Raja Hastina dengan gelar Prabu Kresna Dwipayana.

Patih Kistawa menuruti nasehat kakaknya, kemudian mendatangi Prabu Kresna Dwipayana menyampaikan hilangnya dewi Kesru.

Kemudian Raja Hastina ini semedi kemudian mendapatkan petunjuk bahwasanya Dewi Kesru hilang karena diculik oleh Gandarwa Sutibar yang merupakan kalangan bangsa Gandarwa.

Prabu Kresna Dwipayana bersiul memanggil sahabat ayahnya yaitu Gandarwaraja Swala (bapaknya Petruk punakawan) yang merupakan raja mahluk halus.

Kemudian prabu Kresna menyampaikan permohonan kepada Gandarwaja Swala untuk menemukan Dewi Kesru yang di culik oleh Gandarwa Sutibar.

Kemudian Raja Gandarwaja Swala menyanggupi permintaan ini. Dia juga menceritakan bahwa Gandarwa Sutibar dahulu adalah anak buahnya, kemudian dia berkhianat dan mengabdi kepada raja Siswandakala, Raja Raksasa Kerajaan Semalangleng.

Kesanggupan ini juga dalam rangka sekaligus untuk menghukum Sutibar yang telah melakukan pengkhianatan.

Pada lain tempat, Gandarwa Sutibar menyekap Dewi Kesru di Hutan Tikbrasara.

Dewi kesru merupakan wanita yang cantik, menarik dan memiliki perawakan memikat.

Awal mula niat Gandarwa Sutibar hendak menyerahkannya kepada sang raja, akan tetapi melihat penampakan dewi Kesru yang begitu mempesona membuatnya ingin memiliki dewi Kesru untuk dirinya sendiri.

Pada saat diculik, dewi kesru baru saja melahirkan dua orang anak yaitu Raden Gendara dan Dewi Gendari.

Dengan kesaktiannya, Gandarwa Sutibar memulihkan kondisi Dewi Kesru, maka pulihlah kesehatannya seperti sedia kala.

Selanjutnya Sutibar meminta kepada Dewi Kesru untuk menjadi istrinya.

Sang Dewi menolak pinangan ini, karena kondisi kesehatannya pulih, dia meronta dan berusaha lari dari sekapan Gandarwa Sutibar.

Hal ini membuat Sutibar marah, kemudian mengejar dan menangkapnya, selanjutnya dia melampiaskan hasrat keinginannya kepada sang dewi.

Beberapa saat kemudian sampailah Raja Gandarwaja Swala dan Patih Arya Kistawa ke Hutan Tikbrasara tempat dewi Kesru disekap.

Melihat perlakuan Gandarwa Sutibar Kepada Dewi Kesru maka marahlah raja Gandarwaja Swala kemudian terjadi pertandingan yang berakhir dengan kematian Gandarwa Sutibar.

Setelah berhasil melepaskan Dewi Kesru dari Sekapan dan membunuh Gandarwa Sutibar, kembalilah Raja Gandarwaja Swala dan Patih Arya Kistawa ke Kerajaan gandardesa.

Selanjutnya Dewi Kesru mengaku dan menceritakan bahwa dia diperkosa oleh Gandarwa Sutibar.

Sang Dewi merasa sangat sedih dan hendak bunuh diri.

Sang suami yaitu Arya Kistawa mencegahnya dan menyampaikan bahwa ini merupakan suratan takdir diluar kemampuan dan kehendak manusia.

Sang Kakak yaitu Prabu Kiswara membenarkan ucapan ini, namun dia tidak rela apabila Dewi Kesru mengandung anak Gandarwa Sutibar.

Kemudian Prabu Kiswara meminta tolong kepada raja Gandarwaja Swala untuk memeriksa rahim Dewi Kesru.

Tujuannya yaitu mengeluarkan benih yang ada dalam kandungannya, dengan syarat tanpa harus menyakiti dewi Kesru.

Gandarwaja menyanggupi permintaan ini dan segera maju untuk melaksanakannya.

Pada saat itu, arwah penasaran seorang resi yang bernama Dwapara melayang-layang diatas kerajaan.

Dahulu resi ini tewas di tangan sepupunya yaitu Resi Satrukem yang merupakan kakek buyut Prabu Kresna Dwipayana.

Kejadian ini pada saat Resi Dwapara menyerang Gunung Satpaarga.

Arwah penasaran ini hendak membalas dendam dengan cara menghancurkan keturunan resi Satrukem yang telah membunuhnya.

Atas petunjuk Betara Kala, untuk mewujudkan keinginan ini maka Batara Dwapara harus menitis pada rahim Dewi Kesru.

Mendapat petunjuk seperti itu, dia segera masuk dalam rahim Dewi Kesru. Bersamaan dengan Raja Gandarwaja yang berusaha mengeluarkan benih Gandarwa Sutibar.

Sayangnya Gandarwaja Swala tidak menyadari adanya penyusup yang masuk kedalam rahim. Sehingga pada saat Raja Gandarwaja berusaha mengeluarkan benih ini menjadi gagal karena dilindungi oleh arwah penasaran Resi Dwapara.

Adu kekuatan kedua tokoh sakti ini bukannya membuat sang janin menjadi mati, akan tetapi malah membuatnya semakin cepat berkembang.

Kemudian arwah resi penasaran ini merasuk dan menjadi satu dengan sang janin. Dan ajaibnya, hanya dalam satu hari proses kehamilan ini berjalan kemudian lahirlah jabang bayi ke Dunia. Bersambung ………

Sambungan ……. Kelahiran bayi yang hanya dalam kandungan satu hari ini membuat membuat heran banyak pihak. Apalagi merupakan benih dari Gandarwa Sutibar. Membuat Prabu Kiswara hendak membunuhnya.

Akan tetapi Arya Kistawa mencegahnya, merasa kasihan dan tidak tega melihat bayi yang polos ini.

Berselang tidak lama, datanglah Prabu Kresna dan Resi Bisma dari Hastina.

nama lain sengkuni adalah harya Suman

Prabu Kiswara menceritakan kisah aneh usia kandungan yang hanya satu hari ini kepada keduanya.

Sri Kresna mendapatkan firasat bahwa nanti bayi ini akan mendatangkan angkara murka dan kekacauan yang sangat besar pada masa yang akan datang.

Akan tetapi ini sudah merupakan suratan takdir, Prabu Kresna Dwipayana tunduk dengan ketentuan ini sehingga sang bayi tetap hidup sebagai sarana membersihkan keangkaramurkaan nantinya di muka bumi.

Yang bisa Kresna lakukan adalah berusaha meredakan amarah Prabu Kiswara.

Setelah mendapatkan firasat buruk perihal kekacauan yang nanti di timbulkan oleh sang bayi pada masa depan, Sri Kresna termenung.

Dia juga berharap Batara Wisnu Terlahir sebagai manusia untuk menangkal kekacauan yang timbul nanti karena ulah si Jabang bayi.

Karena itulah Prabu Kresna mengusulkan untuk memberi nama bayi anak Dewi Kesru dengan nama Raden Suman.

Suman adalah nama lain Betara Wisnu. Dengan demikian jika jika nama raden Suman di panggil maka sama saja dengan memanggil Batara Wisnu.

Dengan begitu artinya sama saja mengharapkan kehadiran Betara Wisnu untuk segera lahir ke Dunia.

Usulan ini di setujui, maka selanjutnya sang bayi mendapat nama Harya (Haryo) Suman yang kelak ketika dewasa kita kenal dengan nama Sakuni/Sangkuni alias Sengkuni.

Bersambung bro… capek ngetiknya, panjang kisahnya deh, belum lagi versi Sengkuni menjadi jahat karena keadaan penderitaan memakan saudaranya sendiri satu persatu untuk bertahan hidup dalam rangka membalas dendam keluarga. Wassalaam.

Sumber :
https://ringgitloka.blogspot.com/2018/04/lahire-angkaramurkasengkuni.html


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *