Suka Duka Menimba Ilmu kuliah Di Negeri Seribu Menara Al Azhar Mesir

as'ad mahmud pengalaman kuliah di mesir
Share

Merupakan kisah cerita suka dan duka kuliah di Al Azhar Mesir sekitar 20 tahun yang lalu tulisan salah satu alumni sono yang saat ini mengelola Yayasan Pendidikan Islam. diantaranya yaitu membawahi SMPIT Nurul Islam Tengaran, tentunya termasuk SMAIT Nuris dan Madrasah Aliyah Nurul Islam Tengaran.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, saya nyaris sama sekali tidak mengutak atik kata atau kalimat pada tulisan ini.

Pol menthok hanya melakukan pemenggalan paragrafnya supaya pendek-pendek agar lebih nyaman di baca pada hape dan menambahkan kata kuliah Al Azhar mesir pada judulnya..

Jika hendak membaca tulisan lain dari kontributor cerita kuliah di Al Azhar Cairo anda bisa melongok situsnya pada alamat asadmahmud.net.

Tanpa banyak kata, inilah ceritanya.

Suka Duka Menimba Ilmu Di Negeri Seribu Menara Al Azhar Mesir

Mesir, Negeri Seribu Menara yang kaya dengan peradaban kuno, adalah salah satu destinasi favorit para pelajar di Indonesia untuk menempuh studi dibidang ilmu agama.

Terutama karena di sana terdapat kampus agama tertua di dunia, yakni Universitas Al Azhar, yang sudah mulai menebarkan cahaya ilmunya sejak Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir.

Melimpahnya para ulama dengan kedalama ilmunya dan ditambah kekayaan referensi dan literatur membuat para pelajar di sana mendapatkan kemudahan untuk menuntut ilmu agama.

Di sisi lain, hal menarik dari Universitas al azhar juga adalah biaya pendidikannya yang sangat murah, bahkan bisa dibilang gratis.

Sebab mahasiswa hanya perlu menyiapkan biaya untuk membeli buku buku pegangan kuliah dan administrasi kartu mahasiswa yang tidak seberapa, tidak ada uang semesteran.

Seru kan?

Sampai saat ini pelajar dan mahasiswa dari luar mesir masih terus membanjiri untuk mendaftar kuliah di sana, mulai dari negara negara Arab, negara negara Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara bahkan China dan negara negara semenanjung Balkan.

Dari Indoneisia sendiri mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Organisasi Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) jumlahnya mencapai lebih dari 7500 mahasiswa.

Rasa-rasanya angka ini masih merupakan jumlah tertinggi mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara-negara Timur Tengah bahkan di seluruh dunia.

Kuliah Al Azhar Era tahun 2000

matahari tenggelam di kota Alexandria Mesir

Penulis sendiri menempuh studi srata satu di sana sudah agak lama, medio tahun 2000-2005, alias sudah 15-20 tahun yang lalu.

Itu adalah masa – masa awal reformasi dimana Indonesia sedang mulai merangkak menemukan jalan kebangkitan ekonomi yang sempat terpuruk pasca huru hara politik akhir dekade 90-han.

Jadi boro boro hape android atawa watshapp, hape jadul saja belum kenal.

Email dan internet baru mulai melek.

Jadi saya masih mengalami masa masa menulis surat orisinil dengan tangan lalu dikirim via burung merpati pos lintas benua.

Hehe bercanda.Jadi mohon dimaafkan jika cerita yang kami bagi di sini sebagiannya sudah tidak up to date.

Sebab mestinya sudah banyak perubahan pola pola dan gaya hidup, tentu juga nasib, para mahasiswa indonesia di Mesir (Masisir) hari ini dibandingkan masa masa perjuangan dulu.

Sistem Perkuliahan al Azhar

Secara umum, kuliah di Universitas Al Azhar khususnya di program S1 di tempuh selama empat tahun.

Hanya saja mulai sekitar lima tahun terakhir, semua mahasiswa asing termasuk dari Indonesia harus menempuh kelas persiapan bahasa dulu selama satu tahun / tujuh level kursus bahasa sebelum dinyatakan layak masuk ke jenjang S1.

Model perkuliahan S1 di sana berbeda dengan di Indonesia yang rata rata memakai sistem SKS.

Kampus Al Azhar menggunakan sistem kenaikan kelas.

Jika dalam satu tahun ada lebih dari tiga mata kuliah tidak lulus, maka ia harus mengulang tiga mata kuliah tersebut tahun depannya.

Fakultas di Universitas Al Azhar Kairo

Fakultas yang ada untuk jurusan agama ada Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah, Fakultas Bahasa Arab, Fakultas Dirasat Islamiyah dan Fakultas Dakwah.

Masing masing fakultas terbagi lagi menjadi beberapa jurusan, dimana penjurusan tersebut di mulai di tahun yang berbeda-beda.

Di Fakultas Ushuludin, penjurusan di mulai di tahun ke tiga, dimana Mahasiswa dipersilahkan memilih antara konsentrasi tafsir, hadis atau filsafat.

Di Fakultas Syariah, sejak awal masuk tahun satu sudah diminta memilih apakah akan di Jurusan Hukum dan perundangan (Syariah wal qanun) atau di Syariah Islamiyah.

Nanti di S2, dari Syariah Islamiyah ini akan di sediakan lagi pilihan jurusan : fiqih umum, ushul fiqih, siyasah syar`iyah atau fiqh muqaran / perbandingan madzhab.

Sedangkan di Fakultas Bahasa sejak awal masuk sudah diminta memilih antara lughoh amah dan tarikh wal hadharah alias sejarah dan peradaban islam.

Model Ujian

cairo Tower Mesir

Ujian di Al Azhar di bagi dalam dua semester, dimana semua nilai baru akan di umumkan setelah semester dua, alias setelah ujian kenaikan tingkat.

Ini selalu jadi masa paling mendebarkan bagi para mahasiswa, sebab ia akan melihat nilai nilai yang dipampang, apakah lolos naik ke tahun berikutnya, apakah harus mengulang lagi yang berarti menambah jatah umurnya setahun lagi di Mesir.

enurut pengalaman kami, soal soal ujian di al azhar memang cukup berbobot.

Biasanya setiap soal akan membutuhkan jawaban yang panjang karena memerlukan pemahaman materi secara mendalam.

Jangan harap ada soal pilihan ganda, apalagi menggaris bawah pilih yang benar dan menjodohkan, heheh.

Itulah sebabnya kalau tidak punya kemampuan bahasa yang cukup memang ya angkat tangan.

Lancar berbahasa pun kalau tidak serius belajar juga dijamin akan kesulitan.

Pengalaman Kehidupan sehari hari selama kuliah

Sedikit melebar ke masalah pengalaman hidup sehari-hari, secara umum masyarakat Mesir cukup baik dan sopan terhadap orang asing terutama mahasiswa.

Apalagi rata-rata mereka memiliki bekal keislaman dan ilmu agama yang cukup.

Hanya saja, kondisi ekonomi dan politik yang kadang-kadang bergolak, membuat mahasiswa Indonesia harus berhati-hati dalam bergaul dengan penududuk pribumi.

Sebab kadang-kadang hal itu menjadi sumber kecurigaan pihak keamanan, dikiranya kita ada hubungan dan ikatan-ikatan tertentu dengan organisasi-organisasi lokal yang kadang tidak propemerintah.

Jadi untuk mahasiswa Indonesia, sebaiknya bermain aman saja, jangan berhubungan dengan orang pribumi secara intens kecuali untuk keperluan studi.

Biaya Hidup

Biaya kehidupan di Mesir tidak lah mahal.

Kurang lebih sama dengan hidup di kampung di Indonesia.

Kalau bandingannya dengan kota besar di Indonesia macam Jakarta atau Surabaya, hidup di Mesir bahkan terasa jauh lebih murah.

Dengan modal satu sampai satu setengah juta perbulan sudah cukup untuk bekal harian : makan dan minum, sewa flat, dan transportasi ke kampus.

Jaman saya dahulu bahkan mahasiswa Indonesia banyak yang menerima beasiswa bulanan dari kampus AL Azhar.

Ya Tuhan, betapa baiknya, sudah kuliah gratis, masih diberi beasiswa untuk hidup.

Saya termasuk salah satu yang menikmatinya, bahkan tiket berangkat dan pulang saya masuk kategori mendapat gratisan alias beasiswa.

Baiklah, saya kira begitu, kapan-kapan disambung lagi.

Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca. (selesai sampai disini tulisan kontributor).

Nah begitulah sekilas cerita pada masa lalu (15-20) tahun sebelumnya kuliah di Al Azhar Kairo Mesir.

Bisa menjadi sekilas bayangan kuliah disana pada masa lalu serta kenangan untuk yang pernah mengecap perkuliahan disana. memikirkan fakultas dan jurusan yang hendak sampean pilih nanti.

Kalau ada cerita yang lebih kekinian, moga aja bisa kita upload. Oh iya, alumni pesantren nurul Islam Tengaran sudah meluluskan salah satu santrinya sebagai mahasiswa al-Azhar.

Semoga saja santrinya pak KH As’ad Mahmud berkenan juga mengisahkan suasana perkuliahan era tahun 2020.

Wilujeng enjang, selamat pagi dan wassalaamu’alaikum.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *