Kelemahan Patih Sengkuni Membuatnya Kalah dan Mati

Share

Kelemahan Patih Sengkuni yang sakti mandraguna tidak mempan senjata gaman mustika, akhirnya mati karena ketahuan titik kelemahannya yang akhirnya membuatnya kalah dan Mati.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, dalam peperangan bratayudha antara sata kurawa dengan pandawa lima, ada kejadian mengejutkan yaitu pertarungan duel satu lawan satu antara Haryo Suman alias Patih Sangkuni dengan Bima alias Werkudoro.

Saking hebatnya patih Sengkuni, Bima yang digdaya dengan gada rujakpolo serta kuku pancanaka tidak berhasil melukai bahkan menggores kulit sang patih dari pihak Sata Kurawa ini. Dia mengaku kalah.

Hal ini sebagaimana dalam tulisan sebelumnya mengenai pertarungan antara Werkudoro dengan Haryo Suman dalam Kesaktian Patih Sengkuni, Bima Nyaris Kalah, Asal Usul Kesaktiannya karena khasiat minyak tala.

kelemahan patih sengkuni

Pengakuan kekalahan bima ini dalam percakapannya dengan prabu Sri Kresna yang menanyakan bagaimana hasil pertarungannya dengan Haryo Sengkuni.

Dengan berat hati Bimasena atau Werkudara mengakui bahwa dia kalah melawan Sengkuni.

Di pukul dengan gada rujakpolo, ditusuk dengan kuku pancanaka pada tubuhnya, tidak menggores kulitnya sedikitpun.

Kulitnya liat tidak mempan berbagai pukulan tendangannya bahkan senjata mustika sekalipun.

Khasiat Minyak Tala

Sebagaimana penuturan awal, kekuatan sengkuni yang kebal senjata ini karena dia gulung melumuri badan tubuhnya dengan minyak tala yang tumpah karena perebutan antara Pandawa dan Kurawa.

Minyak tala merupakan hadiah para dewa kepada raja Prabu pandu karena berhasil mengalahkan raksasa yang menyerang kahyangan.

Kemudian seharusnya minyak ini diberikan kepada pihak pendawa lima.

Akan tetapi karena berbagai hasutan dan bujukan raja Destarastra menjadi bimbang dan melemparkan minyak ini kemudian masuk kedalam sumur.

Tidak ada satu orangpun pihak kurawa maupun pandawa yang mampu mengambilnya dari dalam sumur.

Kemudian datanglah Pendita Dorna yang dengan mudahnya mengambil minyak tala ini dipancing dengan suket kolonjono (rumput kalanjana).

Dan kemudian dijadikan rebutan oleh pandawa serta kurawa akhirnya tumpah.

Dan disitulah Sengkuni gulung melumuri badannya dengan minyak ini sehingga menjadi kebal dengan senjata apapun.

Semar memberitahukan kelemahan Patih Sengkuni

Setelah Bimasena malu karena telah menyepelekan sengkuni, dia bertanya bagaimana saran dari Prabu Kresna supaya bisa mengalahkan Haryo Suman.

Kemudian dia memanggil semar dan mulailah semar menceritakan asal usul kesaktian Sengkuni sehingga menjadi sakti mandraguna karena tuah minyak tala ini.

Dalam memberikan informasi, Semar menyuruh Bima maupun yang ada tempat itu mencoba menganalisa bagian tubuh mana sajakah yang tidak terkena minyak.

Maka disitu pulalah letak kelemahannya alias pengapesan Sengkuni.

Selanjutnya kresna paham maksudnya dan menyuruh Bima mendekat dan membisikkan bagian tubuh Sengkuni yang menjadi tempat pengapesannya atau titik kelemahannya.

Sang Prabu Kresna membisikkan kata “CHANTHOKA”.

Kematian Patih Sengkuni karena ditusuk bagian Chanthoka

Setelah mendapatkan informasi mengenai titik pengapesan kelemahan patih Sengkuni, Bima berangkat untuk melanjutkan pertempuran duel dengan Haryo Suman.

Selanjutnya dia pegang dan bekap sang patih.

Meskipun kebal terhadap segala senjata dan pukulan, Sengkuni bukanlah orang yang memiliki tenaga kuat maupun ahli kanuragan, sehingga dengan mudah Bima memegang dan memithingnya.

Selanjutnya Werkudoro mengarahkan senjata pada kuku pancanaka dan menghujamkannya ke bagian Chantoka yang membuat Sengkuni mengerang kesakitan.

Selanjutnya dari bagian tubuh cantoka ini Bima melai menguliti sang patih, melepaskan kulitnya dari tubuhnya sehingga lepaslah kulit dari raga sang patih bagaikan pisang yang dilepaskan kulitnya.

Selesai pertarungan, Petruk mendekat kepada prabu Kresna dan bertanya apa sebenarnya kelemahan Sengkuni?

Kresna menjawab, kelemahannya adalah bagian chantoka.

Petruk paham, sayangnya Bagong tidak mengerti, apa itu chantoka, dan dia menanyakan kepada Petruk, apa maksud chanthoka.

Petruk menjawab, ora ilok, tidak patut untuk dikatakan.

Karena bagong mendesak terus akhirnya petruk menjawab “Chanthoka iku maksudte silit”.

Kisah Sengkuni membangunkan Kresna Sedang Bertapa Semedi di Balai Makamban dengan tidak sopan

Menanggapi kematian sengkuni yang tragis ini, selanjutnya Prabu Kresna menceritakan kisah mengenai supahnya sengkuni pada saat Kresna sedang bersemedi di Balai Makamban.

Pada saat Patih Sengkuni membangunkan sri Kresna dari pertapaannya, dia sedang mengupas pisang.

Kemudian pisangnya dimakan dan kulitnya dilemparkan kepada Sri Kresna.

Menyepelekan Prabu Kresna, Sengkuni menuai apa yang dia lakukan. Begitulah yang kata Prabu Kresna.

Maka Matinya Patih Sengkuni seperti pisang yang dikupas mengingatkan kejadian penghinaanya karena melemparkan kulit pisang kepada sang Prabu Kresna.

Begitulah akhir kisah kematian Sengkuni yang pengapesannya berada pada lobang silit alias dubur karena pada tempat itulah minyak tala tidak mengenai permukaan kulitnya.

Sehingga Bima dengan kuku Pancanaka menusukkan pada lobang ini dan selanjutnya mbeset “menguliti” sehingga lepas kulit dari daging dan tulangnya.

Begitulah kematian patih sengkuni dalam versi Dalang Oye asal Karanganyar yang bisa anda lihat ceritanya pada youtube.

Ada berbagai versi lainnya mengenai kematiannya, dalam versi india dia dipanah oleh salah satu kembar nakula sadewa.

Adapula versi kematiannya oleh Werkudara dengan dirobek mulutnya dan di lobangi anusnya kemudian dipotong potong bagian tubuhnya (mutilasi).

Sumber : youtube Wayang dengan dalang Ki Manteb Sudarsono dengan judul Baratayuda.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *