Perjalanan saya menuju asesi kedua ternyata lebih sejuk, lebih bahagia dan lebih menggembirakan dibanding perjalanan ke asesi pertama. Bagaimana tidak, sebelum matahari bangkit dari peraduannya, kami sudah nongki di dermaga. Janjian dengan motoris yang siap mengantar kami menuju asesi kedua. PT-PT nya? Ibid ke cerita visitasi asesi 1.
pontren.com – Dengan berselimut kabut dan bekal nasi bungkus yang sempat kami beli di Pasar, klothok kami beringsut meninggalkan Darmaga Sungai Hiran, menuju ke arah hilir sebelum berbelok ke sungai Baung, tempat asesi kedua berada. Kali ini kami tidak perlu melewati Selat Hormuz, takut kena rudalnya Trumph.
Perjalanan kali ini jauh lebih seru daripada perjalanan menuju asesi 1. Jalur sungai lebih kecil, penuh kelokan, banyak pohon tumbang, dan dihiasi beberapa riam. Banyak batu dan kayu yang menyembul di antara deras air sungai. Bagi saya, orang kota yang tidak bisa berenang ini, perjalanan ini cukup menantang.
Adrenalin saya naik, desah nafas saya menjadi lebih cepat, detak jantung saya naik. Tapi sangat asyik, menyenangkan, menggembirakan. Sangat memanjakan jiwa petualang saya.
Diantara riak air dan deretan riam, beberapa kali kami melewati terowongan pohon. Terowongan ini adalah pohon besar yang menjorok ke arah sungai dan hampir bertemu antara sisi sungai satu dengan sisi sungai lainnya. Bentuknya memang mirip terowongan. Buatan alam. Ada rasa aneh dan sensasi mistis saat pertama kali saya melewatinya.
Bulu tangan saya berdiri, nafas saya jadi hangat, mata saya seperti melihat Saranjana. Komat komit saya baca do’a. Ya Allah Gusti, saya nyuwun slamet, slamet, slamet. Tak lupa saya mengucap permisi kepada hyang bawi kameloh putak balaw, “permisi, sahaya numpang lewat” sambil melambaikan tangan ke arah pohon tinggi besar penuh sulur yang berdiri tegak di pinggir banyu.
Saya seperti melihat sang bawi sedang tersenyum jauh di alamnya sana. Dan entah karena apa, sejenak semuanya hening. Suara mesin klothok yang berisik seperti tenggelam. Angin berhenti bertiup. Hampa. Lalu, sesaat kemudian suasana menjadi terang. Alhamdulillah, ternyata saya sudah melewati terowongan tadi. Duh Gusti, Alhamdulillah..
Beberapa saat setelah lepas dari terowongan, di kiri kanan sungai berderet penambangan emas. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang di tepi sungai, ada yang di sebelah darat. Nampak beberapa alat berat sedang mengeruk lumpur untuk diambil emasnya. Di sisi kanan kiri penambangan, banyak tenda-tenda dari terpal sebagai rumah tinggal bagi pekerjanya.
Di sebelahnya lagi tampak jemuran cawat dan pakaian pekerja. Seluruh pekerja semuanya laki-laki. Tapi, sekelebat mata saya menangkap sesosok perempuan muda.
Saya jadi berfikir, apakah itu benar-benar perempuan. Kalo memang benar perempuan, siapakah namanya. Mengapa ia berada di tengah pekerja tambang di tengah hutan. Kalo malam, dia tidur dengan siapa? Apakah dia juga ikut bekerja menjadi pendulang emas? Atau, apakah ia istri salah satu dari mereka.
Atau mungkinkah ia memang khusus dibayar oleh para pekerja untuk pekerjaan tertentu, misalnya temen curhat, teman ngobrol atau pemua…
Belum sempat saya menyelesaikan pertanyaan itu, mata saya dikagetkan bentangan jembatan kayu yang melintang di atas sungai. Bentuknya kayu gelondongan bulat dengan diameter lebih dari dua lengan orang dewasa. Bertumpuk sebanyak 5 lapis. Masing-masing lapis berisi sekitar 12 gelondong kayu. Lapisan paling bawah disusun menjorok ke darat menjadi pondasi, lapisan di atasnya disusun menjadi pondasi kedua dengan posisi agak menjorok ke sungai.
Lapisan ketiga semakin menjorok ke sungai. Juga lapisan keempat. Lalu paling atas, terbentang gelondongan kayu dengan panjang lebih dari 30 meter. Panjang sekali. Membentang menjadi lantai jembatan di atas sana. Saya bingung, bagaimana cara memasangnya. Apakah pakai cran? Atau hanya hexa?
Bisa juga jembatan ini adalah tempat bermainnya anak cucu Panglima Hitam. Pada saat anaknya minta dibuatkan titian, bersemedilah sang panglima di tepi sungai itu. Lalu, dalam waktu satu malam, jembatan itu tiba-tiba ada. Entah bagaimana caranya.
Setelah melewati jembatan kayu tadi, kami di sambut hujan lebat. Baju dan kepala langsung kuyup. Untung motoris sudah menyiapkan terpal untuk berlindung. Demi menghindari hujan, kami bertiga segera mengangkat terpal dan bersembunyi di bawahnya. Meringkuk di atas Klothok. Hujan semakin deras. Saya raih gadget. Saya putar lagu Idgitaf, cewek pulen dengan suara merdu itu.
Sedia aku sebelum hujan
Apa yang kau butuh, kuberikan
Ke mana pun tak akan kau temukan
Yang siapkan bekalmu di peperangan…
Saya biasanya sangat suka hujan, apalagi yang jatuh di bulan Juni, karena tak ada yang lebih indah dari hujan di bulan Juni. dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Begitu Sapadi mensitir syair. Tapi, ini hujan di atas Klothok di tengah sungai. Rindu siapa yang bisa dipendam dan dirahasiakan?
Hujan belum mereka ketika pelan-pelan klothok kami berhenti melempar tali di dermaga tepian desa. Saya keluarkan kepala untuk mengintip. Ternyata, kami sudah sampai. Maka, visitasi kali ini jadi visitasi romatis. Diiringi derai hujan. Berlarilah kami menuju sekolah yang jaraknya sekitar 400 depa dari dermaga.
Ketiga penumpang selain saya langsung bergegas menuju sekolah. Sementara, di tengah perjalanan, alarm iskemik saya berbunyi. Sedikit sensari nyeri merambat dari dada sebelah kiri. Lembut bergeser ke lengan dan bahu. Saya tersenyum. Mbak angina selalu menjaga saya. Agar jantung tetap bisa menyala. Di bawah atap rumah warga, saya berhenti. Bermohon agar hujan reda sebentar saja. Supaya saya bisa melanjutkan perjalanan.
Setelah menunggu bersaat-saat, hujan pun mereda. Juga angina di dada saya. Saya lanjut jalan menuju sekolah. Yang ternyata gabungan antara SD dan SMP. Sekolah satu atap. Setelah basa-basi, mulailah adegan visitasi yang tidak perlu secara detail saya ceritakan di sini.
Sekolah ini memiliki total 40 siswa, dengan hanya 4 guru. Bangunan sekolah terbuat dari kayu yang lumayan rapi. Banyak anjing yang ikut jadi murid di sini. Mereka ikut masuk kelas, duduk di pojokan, tapi tidak membawa buku. Sepertinya anjing-anjing ini adalah peliharaan murid. Ikutlah mereka ke sekolah. Siapa tahu nanti dapat embege. Karena jumlah guru hanya 4, ada dua guru yang mengajar dua kelas.
Salah satu guru yang sempat saya lihat, mengajar kelas 1 dan kelas 6 yang ruangannya terletak di ujung hulu dan ujung hilir. Jadilah pak Guru ini bolak-balik di antara dua kelas ini. Selain jadi guru yang handal, pak guru juga pelari yang jago. Karena tertarik dengan kegiatan pak Guru, saya masuk ke ruang kelas VI. Saya lihat ada 8 bidadari kecil di kelas ini. Jadilah saya orang paling ganteng.
Kelas ini semuanya bawi. Saya ajak ngobrol ngalor ngidul, saya ajak felocity sambil saya selidiki proses belajar mengajar di kelas. Hemmmm, sudahlah, tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang menarik lagi, waktu saya tanya tentang toilet kalo mereka mau bak atau bab, jawaban mereka sangat renyah. Kami cukup lari ke bawah. Ke sungai sana. Memang, sekaya ini daerah kami. Semuanya disediakan oleh alam…
Selesai mengamati kelas dan berkeliling, kami coba berdialog dengan guru. Apapun yang kami tanyakan, kebanyakan di jawab dengan senyum, lirik kanan kiri, senyum lagi, selesai. Tapi, karena biasanya guru bicara dengan hati, kami cukup memahami.
Puji Tuhan, ketika adegan visitasi sudah selesai tapi belum sempat penutupan, kami dapat kabar dari pinggir sungai. Air mulai pasang. Dengan segala ketergesaan, kami langsung berkemas. Air pasang berarti kami tidak bisa pulang. Segera kami menyimpun peralatan dan pamitan kembali ke Tumbang Hiran melewati jalur yang tadi pagi kami lalui.
Udara sejuk meski panas. Kami sangat bahagia, di daerah yang seperti ini masih ada yang peduli dengan dunia pendidikan. Para guru yang rela meninggalkan anak istri untuk mengabdi. Karena beberapa dari mereka bukan penduduk asli. Hanya bisa pulang ke rumah seminggu sekali.
Dan ketika kami sampai ke penginapan dengan selamat, asesor pasangan saya lihat sedang kebingungan. Celana dalam yang tadi pagi beliau cuci dan jemur hilang. Saya tersenyum sambil menimpali;
“hati-hati bos… Ini Kalimantan. Pian harus mandi air sungai Katingan minimal 3 kali. Kalo tidak, ati-ati…sampai Sampit, barang Pian bisa hilang pak..
Pangeran Djoko,
Tumbang Hiran, sambil memandang air sungai Katingan.
