Berkolaborasi dengan Semua Untuk Mengatasi Masalah

Share

Berkolaborasi dengan semua. Jika kita cermati, permasalahan yang dihadapi oleh manusia sangatlah banyak dan kompleks.

Problematika tersebut tidak hanya dihadapi oleh kelompok atau individu tertentu, namun dirasakan juga oleh sebagian besar masyarakat.

Sering kali satu masalah tidak berdiri diri, ia berkait dan berkelindan dengan masalah yang lain, sehingga penyelesaiannya pun membutuhkan kesadaran dan kerja sama semua pihak.

Masalah sosial seperti kemiskinan, kebodohan, kesehatan, kejahatan, kerusakan lingkungan dan masalah yang lain, baik yang bersifat kultural maupun sistemik, tidak bisa rampung hanya oleh satu atau dua orang.

Ia membutuhkan partisipasi dan peran serta semua pihak.

Baik peran Negara maupun dari masyarakat sipil.

Peran Umat Islam (Berkolaborasi dengan Semua)

Dengan jumlah pemeluk dan Organisasi keagamaan yang dimiliki, Umat Islam sebagai bagian dari kelompok masyarakat.

Baik pada level lokal, nasional maupun global, memiliki peran yang sangat strategis dalam menyelesaikan permasalahan sosial dan kemanusiaan yang ada.

Lebih-lebih jika ada dengan pendekatan kolaboratif, maka permasalahan apapun yang ada sekiranya akan dapat menemukan jalan keluar.

semangat

Agama Islam tidak hanya mengajarkan untuk berkontribusi dan memberi solusi terhadap berbagai permasalahan yang datang kepada manusia (khairunnas anfa’uhum linnas).

Namun juga membangun kerja sama dalam memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan tersebut (at ta’awun ‘alal birri).

Prinsip Kolaborasi

Prinsip dalam kolaborasi adalah memiliki tujuan yang sama (common visión) dan kesadaran yang sama (common awareness) dalam rangka menyelesaikan masalah.

berkenaaan Prinsip tersebut pencapaiannya dengan beberapa pendekatan, yaitu;

  • mutual respect (saling menghormati),
  • mutual trust (saling percaya) dan
  • mutual understanding (saling memahami).

Bekerjasama dalam menyelesaikan permasalahan sosial-kemanusiaan yang tidak berkaitan dengan aqidah ataupun ibadah, merupakan hal yang benar dalam Agama.

Apalagi jika dengan niat dan cara yang baik, maka akan dapat memiliki makna ibadah dan bagian dari sikap ihsan serta berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

Semoga Ramadlan menjadikan kita mampu berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain, baik mereka yang seagama maupun yang tidak seagama, baik secara pribadi maupun dengan cara berkolaborasi. Amien ya Rabbal alamien

—– Muh. Rifai al Faqir —- Pengajar Akademi Ilmu Statistik Muhammadiyah Semarang
🌾 Ngaji Kehidupan ( Hari Ke-11 Ramadlan 1442 H)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *