Kritik orang tua terhadap Guru TPQ dan komplain

kritik-wali-santri

Beberapa analisa tentang kritikan orang tua terhadap para pengajar ustadz ustadzah Taman Pendidikan Alquran entah itu yang bersifat membangun ataupun waton muni (asal ngomong) yaitu suatu ucapan yang berlandaskan sindiran atau kebencian, bukan bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kualitas. Nyinyir kalau bahasa anak tua sekarang.

Pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Selamat siang dan selamat siap siap menikmati liburan dua hari bagi anda yang akan mendapatkan hari libur (artikel ini ditulis tanggal 23 Desember sehingga tanggal 24 dan 25 merupakan cuti bersama dan baru selesai 1 hari setelahnya).

Ditengah keikhlasan mengajar para ustadz ustadzah TPQ dan kesulitan mendapatkan pengajar lembaga TPA, ternyata guru pendidikan nonformal pendidikan Islam ini tidak lepas dari sorotan orang tua (ya sebagian sih, kecil tidak banyak tapi suaranya kadang menjadi provokator yang lain) yang memberikan komentar.

Ada komentar yang bersifat membangun adapula model tajam lidah dimana ungkapan kata lisan yang keluar bukan bermaksud kebaikan lembaga, lebih tepatnya sebuah ejekan dan bully bagi para pengajarnya.

Meskipun pahit getir didengar, semoga kita dapat mengambil sisi positif dari berbagai kalimat yang mampir di telinga (meskipun tidak langsung didengar oleh sang pengajar).

Oh iya ini pada beberapa segmen hanya merupakan analisa tingkah laku orang tua atau person yang tinggal disekitar TPQ, jadi jangan terlalu bikin baper juga ya.

Perkembangan kemampuan santri yang tidak signifikan

santri TPQ TPA
santri TPQ TPA

Pada saat saya berada didekat masjid kampung saya, terjadi obrolan dengan orang tua yang rumahnya berdekatan dengan tempat berlangsung KBM TPQ.

Adapun komentarnya adalah “Dari dahulu bertahun tahun anak-anak diajari pelajaran, koq tidak hafal hafal ya surat surat pendek maupun belum pada bisa mengaji?

Ini relatif agak nyinyir kalau anda melihat raut muka saat mengatakannya, akan tetapi kalau mau jujur, kejadian stagnasi perkembangan anak juga ada. Meskipun juga tidak mengabaikan banyak santri yang mengalami pertumbuhan pengetahuan dalam baca tulis alquran.

Pembiaran anak ramai bermain saat kegiatan belajar mengajar

Kalimat nylekit yang terdengar, “gurunya gimana sih? Anak anak liar maen sembarangan berlarian kesana kemari?”

Apalah daya guru TPQ memang dunia anak saatnya bermain dan berlarian, apalagi memang metode Kemenag dalam KBM TPQ adalah bermain bercerita dan menyanyi.

santri TPQ Belajar
santri TPQ Belajar

Hal ini juga akan semakin menjadi jika kegiatan masuk pada semaann atau privat, karena guru fokus untuk mengajar secara satu persatu santri sehingga tidak dapat memantau santri yang belum mendapat giliran setoran mengaji.

Termasuk pemicu anak anak TPA susah dikendalikan adalah tidak imbang rasio guru pengajar dengan kehadiran murid yang berangkat TPA.

Kualitas Guru ecek-ecek

Bisa jadi akan mudah mendengar nyinyiran dari seseorang yang tidak suka yaitu mengkritik kemampuan agama dan mengaji dari guru TPQ. Misalnya perkataan, pantesan saja muridnya engga pinter-pinter, gurunya saja ga paham ngaji.

Atau bisa apa sih si anu? Emangnya dia kedalaman agamanya seberapa?

ilustrasi guru TPQ (C) Faizal Riza
ilustrasi guru TPQ (C) Faizal Riza

Dan berbagai macam kalimat yang mirip serupa intinya merendahkan kemampuan membaca alquran dari pengajarnya termasuk komentar keilmuan yang dimiliki oleh para ustadz ustadzah TPQ

Mensikapi komentar yang tidak mengenakkan dan kritik

Pastinya menyayat hati jika mendengar komentar dari umat Islam sendiri yang mengkritik keberadaan pengajar TPQ ini tidak pada porsi dan tempatnya.

Jika omongan nyinyir dan menghina maka abaikan saja tidak usah dipedulikan dan diambil hati, malah semakin membuat perih.

Akan tetapi perlu diambil inti yang diungkapkan, misalnya anak ramai maka dicari solusi supaya ada mitigasi alias cara mengurangi keramaian anak disaat TPQ, misalnya dengan membuat kurikulum menulis yang jelas supaya anak menulis saat menunggu giliran.

Atau dengan cara belajar mendongeng sehingga anak anak tertarik mendengarkan cerita dan dapat anteng berada dikelas.

Kritik kemampuan mengajar mengaji? Pastinya dengan meningkatkan kompetensi kemampuan dalam belajar mengajar serta bekal materi yang disampaikan dengan penguasaan yang mantab.

Bisa disimak pada artikel menjadi guru TPQ yang baik.

Jika dirasa pengkritik dilakukan karena ketulusan demi perkembangan TPQ, ada baiknya pihak guru meminta bantuan orang tersebut untuk turut serta menjadi penghubung dengan takmir masjid atau tokoh masyarakat supaya TPQ lebih diperhatikan, semisal dalam pendanaan, mendatangkan guru yang mumpuni atau dilengkapi sarana prasarana kegiatan belajar mengajar.

Itulah beberapa komentar orang tua atau masyarakat tentang TPQ yang pernah mampir ditelinga saya, semoga anda tidak mengalami omongan nyinyir dari kalangan yang pandai bersilat lidah.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

loading...

Silakan berkomentar