permainan TPQ kenalan

Kehidupan anak di Dusun Gadungan Girimulyo Pada Era 80 90 an

Jika yang dikuak sejarah adalah era tahun 80 sampai dengan tahun 90 an, dengan asumsi anak anak saat itu kisaran sepuluh tahun, maka saat ini mereka yang mengalami era ini diperkirakan berusia antara 30 – 50 tahun. Kebanyakan telah memiliki anak yang memasuki pendidikan SMP bahkan juga SMA, tidak tertutup kemungkinan yang memiliki anak perempuan sudah mantu.

Zaman itu suasana dusun gadungan masih begitu polos dan lugu utamanya tentang akses telefon maupun listrik, bagaimana rebutan naik kendaraan dari Karangpandan Kemuning dan baris depan dimintai bayaran lebih dahulu oleh bapak bapak yang saya ingat wajahnya tapi tidak tahu namanya.

loading...

Di dusun gadungan pemilik sepeda motor tidak seramai sekarang, hanya beberapa gelintir yang punya sepeda motor, termasuk televisi yang menjadi hiburan paling top dikala itu. Maka jangan heran jika ada tontonan layar tancep atau ketoprak di gedung akan banyak yang menontonnya.

Biasanya layar tancep kalau tidak Rhoma Irama, Dono Kasino Indro, Jaka Sembung yang diputar. Tiketnya pun hanya beberapa ratus rupiah, seingat saya zaman dahulu ada yang menarik karcis 250 rupiah sekali tonton. Kalau ingin lihat di bioskop tinggal ke karangpandan, saya jadi ingat pernah diajak sekali nonton film arie anggara di almarhum bioskop Karangpandan.

Dunia Anak Dusun Gadungan di Era tahun 80-90 an

Di era tahun 80-90 an anak anak SD kebanyakan masih bermain dengan kelereng yang kondang dengan nekeran melalui varian permainannya, seperti jirak, pot potan dan beberapa yang saya lupa namanya. Permainan kelereng di dominasi oleh anak laki-laki, jarang dimainkan anak perempuan.

mainan-kelereng-anak-desa-zaman-dahulu
gundu yang kala itu disebut dengan neker

Permainan lain yang menjadi favorit anak perempuan adalah bekelan, kemudian lompat karet yang adakalanya melibatkan anak laki laki. Sedangkan dolanan yang jamak dilakukan anak perempuan dan laki laki semisal sodoran, sudamanda, delikan, ataupun jamuran.

Masih ingat umbul? Yaitu permainan yang menjurus pada perjudian dengan menggunakan kertas gambar yang dahulu selembarnya seharga Rp. 50,- dengan isi 36 potong gambar. Permainan ini dimainkan dengan mengumbulkan gacuk (melemparkan keatas) gambar yang menjadi jagoannya.

Anak anak yang curang biasanya menggunakan teknik jemblek yaitu membikin 2 gambar jadi satu bolak balik sehingga tidak terkalahkan, biasanya akan diketahui karena mencurigakan gambarnya tidak pernah mati.

Lokasi yang sering dipakai bermain yang luas yang banyak dipakai bermain ramai ramai adalah jalan sepanjang depan masjid sampai dengan rumah almarhum Kyai Arif Darmawan karena luasnya lokasi dan tanah lapangan yang merata.

Selain permainan khas anak zaman dahulu, ternyata anak anak tersebut sudah memiliki tanggungjawab dalam membantu ekonomi orang tuanya, kebanyakan anak anak membantu orang tua dalam hal mencari rumput untuk ternak dan sapi yang biasa diistilahkan dengan ngarit.

anak-desa-punya-tugas-menggembala-kambing-zaman-dahulu
ilustrasi angon wedus di Gunung cilik

Jikalau tidak ngarit, maka ada satu kegiatan lain yaitu angon wedus atau sapi bisa pula disambi dengan ngarit. Tempat yang lazim dipakai melepas ternak masa itu berada di sepanjang jalan gunung cilik menuju ke kikis, dimana saat itu masih ada perkebunan pala dan gunung cilik belum ada pohon tehnya, mainan anak anak selama angon adalah prosotan yang lumayan curam.

Kebiasaan angon ini dimulai dari jam 2 sampai dengan jam 5 sore baik berupa ternak sapi maupun kambing, mayoritas memang anak anak yang menggembalakannya karena orang tua berada di kebun atau sawah mencangkul atau mencabuti rumput supaya hasil kebun dapat maksimal.

Keunikan pada saat angon adalah kesenangan anak anak desa yang bakar bakar lethong sapi kering serta tembak tembakan inggu menggunakan bambu kecil, entah betapa bahagianya anak anak dikala itu bisa bermain tembakan inggu, kadang diselingi mancing dikali maupun obong obong letong sapi.

Ada satu wilayah yang saat itu haram dipergunakan untuk angon yaitu lapangan, siapa saja yang nekat memarkirkan sapi atau kambing di lapangan akan di marahi oleh almarhum pak kadus karena akan meninggalkan kotoran sapi di lapangan yang sedianya dipakai untuk olahraga.

dilarang-menggembalakan-kambing-di-lapangan
dilarang angon sapi di lapangan Girimulyo

Itulah sekilas kenangan apa yang menjadi kegiatan anak anak usia SD dan SMP di era tahun 80 dan 90 an dimana belum ada telefon di daerah Gadungan, bahkan listrik pun hanya berupa 110 yang hidup mulai pukul 5 dan mati kisaran jam 6 pagi. Ada yang ingat almarhum kang Karmin sebagai penjaga listrik?

Ngomongin listrik 110, hiburan anak anak dimasa itu adalah melihat TV secara ramai ramai, kebanyakan hitam putih tv nya, mulai dari film si unyil yang begitu melegenda, ria jenaka, aneka ria safari, album minggu (puput novel dan adam) dan akhir akhir ada aneka ria safari anak yang di bawakan oleh ria enes.

Artis zaman dahulu pun begitu menancap di kepala para pemirsanya baik kalangan anak anak maupun remaja, paling terkenal nike ardilla, kemudian poppy mercury, amy search dengan lagu isabella ataupun saat berduet dengan inka cristie, saat itu ada beberapa artis asal negeri jiran malaysia yang merajalela lagunya di Indonesia.

Di malam hari, biasanya hari rabu ataupun kamis, terdapat acara berupa ketoprak yang menjadi favorit orang kampung, banyak yang rela berkunjung ke tempat tetangga dalam rangka dapat melihat acara ketoprak. Acara favorit adalah guyonan atau humor yang saat itu terkenal yaitu gito gati dan sandirono sandirene.

tv-jadul

Hal menjengkelkan saat ketoprak? Ya saat acara gandrung dan mendendangkan lagu, entah kenapa kalau sudah begitu banyak orang orang yang sebal karena menganggap hanya buang buang waktu mendengarkan nyanyian dari pelakon ketoprak ini.

Olahraga merupakan acara yang stabil digemari oleh siapapun dari zaman dahulu sampai sekarang. Era 70-80 an orang orang tua begitu antusias menceritakan keseruan Muhammad Ali dalam bertinju, di era 80 90 datang Mike Tyson yang menggemparkan, sampai sampai sekolahan sejenak berhenti dalam rangka menghormati pertandingan ini.

pertandingan-tinju-era-80-90

Tapi cerita mike Tyson dalam pengaruh sekolahan tidak sehebat Muhammad Ali, katanya dimasa Ali bertanding maka Sekolahan libur!!!

Sekolah Tempat Belajar anak anak Dusun Gadungan

Semasa itu penyelenggara pendidikan belum sebanyak saat ini dan pilihan pendidikan masih sangat terbatas, hampir semua anak di dusun Gadungan sekolah di SD Girimulyo 1 (dahulu ada juga SD Girimulyo 2 yang lokasinya 1 kompleks, saat ini sudah di regrouping).

Ada satu dua anak yang sekolah di SD Kemuning karena orang tuanya menjadi guru disana (seingat saya bu guru ini adalah istri dari seorang polisi yang tinggal di Asrama Polsek Ngargoyoso).

anak-sekolah-SD-dengan-jalan-kaki

Jangan dibayangkan antar jemput orang tua seperti saat ini, anak anak berjalan kaki menuju sekolahan yang kisaran 10 km dari rumah masing masing, biasanya anak kelas 1 dan 2 pulang jam 10 sedangkan anak anak kelas 3-6 habis jam 12 baru pulang. Sendiri sendiri tiada jemputan kecuali ngepasi ayah ibunya berada di sekitar. Lagian kebanyakan tidak punya sepeda motor.

Masih ingat guru guru masa itu? ada Pak Harso, Pak Ayub, Bu Shoibah Guru Agama, Pak Sugeng Guru Olahraga, bu Khusnul yang mampir sebentar. Kebanyakan beliau telah Purna Tugas mengajar.

Untuk sekolah lanjutan tingkat pertama atau SLTP maka SMP Ngargoyoso merupakan sasaran utama bagi lulusan SD di sekitar Desa Girimulyo bahkan area Kecamatan Ngargoyoso, adapula yang menuju MTs Sudirman yang berada di Gemah meskipun jumlah muridnya tak sebanyak SMP Ngargoyoso.

ada satu bonus yang begitu melegenda di kalangan anak SD yaitu jika pulang sekolah kemudian dicegat orang tua untuk bancakan, wuih besoknya akan diceritakan kepada rekannya sekelas. bancakan kala itu biasa berupa nasi ditambahkan kelem dan bumbu kepala dan sebuah potongan telur rebus. paling lazim 1 telur jadi 8 potong (kalau gak salah).

Tontonan Favorit anak anak era 80 90

Tidak banyak hal yang dapat dijadikan tontonan saat itu karena keterbatasan hiburan, yang paling umum menjadi tontonan adalah TV, Balbalan, Ketoprak maupun pertunjukan di Gedung.

ilustrasi-tiang-listrik-110

Sebagaimana diatas, Televisi merupakan hiburan harian utama dikala itu dan saat hari libur, biasanya PLN 110 menghidupkan listrik saat libur atau ada yang memiliki aki sehingga televisi bisa distel.

Pemilik televisi saat itu masih terbatas orang orang tertentu, di gadungan etan ada bu mloyo dan yu tarti serta Pak Tarno, di gadungan Kulon punya Bu Arip dan mas Kasno serta Bu Erka. Yang jelas mengasyikkan menonton televisi beramai ramai.

film-kartun-tontonan-anak-era-90-an
doraemon, film favorit era 90 an.

diakhir era nonton bareng di tempat tetangga adalah keseruan melihat doraemon dan Ksatria Baja Hitam yang mampu menyihir anak anak SD untuk menirukan gerakan dan jurusnya, masih ingat khan dengan pemeran kotaro minami? isunya masih jomblo lho…. :D.

Pertandingan balbalan termasuk tontonan yang menjadi idola, apalagi disaat masih bernama tormag ataupun persega, yang banyak di Ingat adalah lasiman sebagai striker gempal dengan lari yang cepat serta tendangan geledeknya begitu melegenda, kemudian di bawah mistar gawang ada Samidi.

pertandingan-bola-penduduk-antar-kampung

Saya agak lupa alasan diadakan ketoprak ataupun kegiatan di gedung dalam rangka momentum atau kegiatan apa, yang jelas jika ada tontonan yang pemainnya pun kebanyakan orang gadungan, disaat latihan juga banyak anak yang menonton, akan tetapi saat tampil masih juga sang anak menontonnya.

Walau sudah tahu jalan ceritanya tetaplah menarik dan menyenangkan untukmelihat penampilan para tetangga memerankan tokoh yang telah ditentukan. Legendaris dari tokoh ini adalah kostum yang dipakai oleh pak Tio (Setyo Raarjo RT 3) yaitu ciung wanara berupa kostum monyet hitam yang menutupi sekujur tubuh, merupakan suatu kostum yang mewah kala itu, atau lakon suminten edan yang saya ingat judulnya tapi sudah begitu lupa bagaimana jalan ceritanya, yang memerankan tokoh utama ya bu Parman etan Masjid.

peran-raksasa-dalam-ketoprak

Sebagai pengingat, dahulu biasa yang menjadi pemeran dalam ketoprak biasanya adalah pak Gino, Mbak Nanik, bu Arip, Pak Mugi, mbak Mini, serta tidak lupa pemain gambang kromong atau apalah namanya Kyai Atmo Gito. (Semoga yang sudah almarhum diterima segala amal ibadah dan diampuni segala salahnya).

Nonton teman naik sepeda kayuh, nah ini yang termasuk antik, bagaimana riangnya berlari lari mengikuti teman yang mengayuh sepeda, apalagi tidak banyak anak yang mempunyai sepeda saat itu sehingga bagi anak dan orang tua yang dermawan merelakan sepedanya dipinjam bergantian anak anak.

Memang perbuatan ini beresiko sepeda menjadi cepat rusak, akan tetapi saya yakin kenangan yang dipinjami tetap tertancap sampai sekarang dan barakah serta doa bisa jadi dilimpahkan atas kelonggaran hati meminjamkan sepedanya dikala itu.

Untuk sementara, ini saja yang saya tuliskan mengingat keterbatasan dalam membuka kenangan masa lalu , jika ada yang punya foto foto kenangan bisa dibagikan supaya sejarah tidak begitu saja terlupakan.

Informasi beberapa gambar diatas hanya pemanis tulisan saja.

Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: