Kenakalan santri di Pondok Pesantren, Pelanggaran dan Sanksi

Share

kenakalan santri di pondok pesantren

Saking banyaknya santri yang mencari ilmu di pondok pesantren, ada aja satu dua atau tiga bahkan sepuluh santri yang berulah melakukan kegiatan yang melanggar aturan pondok.

Macam-macam pelanggaran yang di lakukan dan kadang sangat kreatif dalam melakukan modus pelanggaran aturan pesantren.

Alasan mereka melakukan pelanggaran bervariasi.

Ada yang memang pada dasarnya anak pelanggar peraturan memiliki sifat dasar yang tidak baik, atau karena bosan dengan suasana pesantren.

Ada juga karena pengaruh teman dari luar pondok atau dalam pondok, juga karena tidak krasan di pondok pesantren.

Kenakalan Santri Pondok Pesantren, Larangan yang kadang di langgar

santri melanggar aturan pesantren

Tidak sholat jamaah di masjid/tempat ibadah yang sudah ditentukan, modusnya dengan sembunyi di kamar mandi, ngumpet di taman pondok, sembunyi di bawah tumpukan kasur, dan bagi yang santri putri atau cewe cewe mereka beralasan sedang haid alias datang bulan.

Biasanya diancam dengan hukuman bersih bersih kamar mandi, berdiri di lokasi pondok, membaca surat pernyataan, di cubit di gampar dll.

Keluar kompleks tanpa izin. Kadang karena merasa terkurung di dalam pondok, ada anak yang nekad melarikan diri dari pondok pesantren.

Cara-cara yang dilakukan umumnya lompat dari pagar, menggergaji pagar besi pesantren, ikut orang tua dalam mobil.

Bahkan pernah ada juga yang santri keluar kompleks pondok pesantren di antar oleh guru senior karena ustadz nya yang ikhlas dan lugu.

Kemanakah mereka biasa keluar kompleks pondok? Ke mall, ketemu gebetan, nonton film, merokok, pulang ke rumah, ke rumah teman, dll.

Ada yang keluar rame rame ada juga yang keluar kompleks tanpa izin dengan mandiri.  Umumnya di hukum dengan di gundul, kalau wanita dengan memakai kerudung warna tertentu.

santri baca komik

Baca komik. Membaca novel atau komik. Biasanya di sembunyikan campur dalam tumpukan dalam buku pelajaran, karena umumnya anak pesantren mempunyai buku yang banyak.

Ada memang buku komik biasa dan novel umumnya misalnya lupus dan lain-lain, kadang juga anak-anak nakal juga menyimpan buku jorok dan gambar gambar dewasa.

Biasanya kalau di ketahui menyimpan buku cerita dewasa maupun gambar porno akan di gundul.

ponsel anak pesantren

Menyembunyikan Hape atau ponsel atau handphone, di umpetkan dalam kasur busa yang di bolongi atau di taruh di atas internit, sedangkan untuk nge charge umumnya mereka kreatif dalam mengisi batrei hape itu.

Selain handphone, jaman dahulu kala menyimpan radio atau walkman alias radio kaset dengan headset, kadang santri putri lebih lihai menggunakannya karena memakai headset sehingga tidak tampak kelihatan dari luar karena tertutup jilbab.

Umumnya jika santri ketahuan membawa peralatan elektronik maka akan disita dan selanjutnya entah di apakan tuh alat elektronik.

paling lazim di hancurkan oleh pengurus pondok/organisasi pondok pesantren dengan cara di banting atau dipukul dengan palu dan lain lain disaksikan banyak santri.

Ada yang menyayangkan kenapa di hancurkan, kenapa enggak di sumbangkan saja supaya bermanfaat, tapi entahlah, mungkin kalo di hancurkan di muka umum akan lebih memberikan efek jera.

Pura pura sakit supaya tidak mengikuti kegiatan tertentu. Kenakalan yang umum dilakukan juga seperti bolos dari pelajaran, pura – pura sakit supaya tidak ikut pelajaran tutorial dan yang lain aman dari tugas khutbah pada saat muhadloroh dan lain sebagainya.

Adapun kenakalan yang sudah keterlaluan seperti hubungan diluar nikah, narkoba, mencuri, dll sepertinya ada juga yang melakukan karena dari ribuan bahkan jutaan santri umumnya ada yang melakukan perbuatan diluar batas.

Apakah salah pendidikan pesantren?

Saya kira bukan salah dari pondok pesantren, karena seingat saya ada juga oknum yang seharusnya mengayomi namun malah melakukan perampokan, sepertinya di daerah magelang entah tahun berapa dan bahkan menembak petugas yang merupakan rekannya.

Apakah salah dari pendidikan dia di suatu lembaga? Pastinya bukan salah dalam pendidikan pada suatu institusi.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *