Arsip Tag: penyakit kulit di pesantren

Skabies di pondok pesantren

skabies pada tangan
skabies pada tangan

Tentang Penyakit Skabies yang menyebabkan gatal

Pada suatu Rabu sore di bulan April di pondok pesantren yang sedang menyelenggarakan Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) untuk Pendidikan Wajardikdas PPS Wustha, terjadi obrolan antara kyai pondok pesantren dengan temannya. Pada saat pertengahan ngobrol didatangilah pak kyai oleh wanita wali santri. Maksud kedatangan wali santri adalah untuk minta izin kepada pak kyai membawa santri pulang guna mengobati gatal gatal pada anak. Secara ilustrasi seperti ini percakapan yang terjadi.

Wali santri : pak kyai, saya mau matur (bicara), mohon izin mau membawa anak saya untuk berobat, kasian anaknya kukur kukur terus (garuk garuk melulu). Sekujur badannya gatal semua. Saya tidak tega pak kyai.

Kyai : Waduh bu, bagaimana ya? Saya saja juga terkena gatal gatal. Ndak usah dibawa keluar anaknya, lagi musimnya gatal. Nanti juga sembuh sendiri. Saya sudah ke dokter juga, beli salep harganya sekitar 90 ribu nan. Sudah ganti dokter  juga, Tetap saja masih belum sembuh. ( :D) duh kasian pak kyai nya juga kena gatal gatal.

Akhirnya dengan agak bagaimana begitu orang tua santri akhirnya meninggalkan pak kyai untuk pulang ke rumah.

Setelah kejadian diatas akhirnya terjadi percakapan antara pak kyai dengan teman

teman : bertanya. Lho lagi usum (baru musim) gatal gatal ya anak anak?

Kyai : iya anak anak pada gatal gatal. Udah di obati, tetep aja belum sembuh, dah dicoba macam macam obat tetap aja gatalnya tidak hilang, sampai mumet saya cari solusi.

Teman : eh saya ada teman dokter, coba ku telfon kali aja bisa memberi pencerahan. Akhirnya teman Kyai tersebut mencari HP nya dan memencet nama teman yang seorang dokter di nomor 08137196****.

Teman : Assalamu’alaikum… halo… ini *** (menyebut namanya sendiri)

Dokter : halo, halo…. Haloooo… halo… ini siapa ya?

Teman : haduh…. Ini saya.. ***, duh dasar di Jambi lagi susah sinyal ya? Masa engga kedengeran?

Dokter : ooohh… pak *** tumben telfon, gimana kabarnya?

Teman : kabar baik. Eh non dokter, nih saya lagi di pondok, liat anak-anak ujian, keterangan kyai nya anak anak lagi kena gatal gatal, tangannya mruntus tuh (muncul bintil bintil kecil) termasuk kyainya juga kena. Hahahaha…..

Dokter : gatal – gatalnya terjadi dimana pak?

Teman : mas, iku ditakoni gatele nangendi wae? {mas (maksudnya pak kyai) itu ditanyakan, gatalnya dimana saja?}

Kyai : sambil malu malu memerah wajahnya menjawab yo nang driji nang nggon slempitan slempitan kuwi sik parah. (ya di jari jari, dan di slempitan slempitan yang parah terkena)

Teman : niih non dokter, katanya yang terkena di sela sela tubuh, jari jari termasuk area selangkangan tuh 😀

Dokter : oh.. itu. Namanya skabies tuh

Kyai : opo?? Rabies? Sik bener wae? (apa? Namanya rabies? Yang benar saja?)

Teman : ??? rabies?? Yang bener aja??

Dokter : idiihh kuping apa apa tuh, bukan rabies tapi scabies. Jadi skabies itu hewan atau kutu yang sangat kecil, kasat mata, suka nya di tempat yang lembab, makanya yang parah di daerah sela sela tubuh.

Teman : pantesan ga sembuh-sembuh ya di minumin pil. Lha penyebab gatalnya aja karena hewan. Trus apa obatnya non? Saranmu bagaimana?

Dokter : ya kalo mau sembuh ya hewannya harus dimusnahkan dulu, caranya kamar-kamar yang lembab dibuka, kasur kasur dijemur, pakaian yang di cuci dengan air panas, sirkulasi udara di maksimalkan, biar kelembaban ruangan diminimalisir. Supaya mati hewan penyebab sakit gatalnya.

Teman : trus obatnya apa non?

Dokter : dikasih &&^*%&Q(*(Q_)(W*E

Teman : apaan tuh sulit amat mengingatnya, di WA saja ya.. (maksudnya dikirim lewat whatsapp)

Dokter : iya deh saya kirim lewat WA.

Teman : oh iya, pondoknya sebulan sekali dapat telor dari polres non, ga papa tuh dimakan telornya? Maksudnya apa tidak memperparah kondisi penderita skabies?

Dokter : oh ga papa, ga ngaruh, telor, ikan jalan terus saja. Ga usah khawatir memperparah kondisi.

Teman : eh non. Makasih ya informasinya.

Dokter : Iya sama sama. Eh biaya konsultasinya berapa nih?

Teman : lahh.. berapa, maunya berapa non? Minta apa nih ganti biaya konsultasi

Dokter : heheheh bercanda. Enggaklah buat pak XXX gratis deh..

Teman : halah bayar juga ga papa koq…

Dokter : Hahahahhaa

hewan skabies
tungau penyebab skabies

Setelah terjadi percakapan tadi akhirnya browsing sebentar tentang scabies. Ternyata scabies disebabkan oleh suatu hewan yang sangat kecil yang berukuran kasat mata serta gerakan lambat yang tidak bisa melompat, berbeda dengan tomcat yang bisa melenting dengan tinggi.

Obat untuk gatal gatal skabies di pesantren

Pada penderita skabies disebabkan oleh tungau/kutu scabies adalah dengan memberikan obat oles di tempat yang terasa gatal. Obat yang bisa dipakai misalnya mermetherin, sulfur dan malathion. Guna mendapat hasil maksimal untuk dibiarkan obatnya menempel selama beberapa waktu (antara 12 sampai 24 jam) agar kutu bisa mati maksimal. Selanjutnya dibilas menggunakan air yang bersih.untik memastikan keseluruhan tungau telah mati, kegiatan pengolesan obat ini bisa dilakukan sekali lagi setelah seminggu dari jeda pertama digubakan.

Penanganan Skabies.

Penyakit gatal gatal di pesantren yang disebabkan kutu skabies biasanya sangat sulit di musnahkan karena kondisi asrama ataupun pondok pesantren dengan santri yang banyak dan beraneka macam sifat. Sebenarnya skabies tidak hanya di pesantren saja akan tetapi sering di temukan pada tempat yang di huni orang banyak secara bersama, misalnya barak, asrama, sel, ataupun yang lain. Dan pada malam hari umumnya rasa gatal disebabkan skabies semakin menjadi jadi.

Untuk mematikan penyebab skabies maka hal yang diperlukan diantaranya adalah :

  1. Membuka jendela pintu dan membiarkan sirkulasi udara bisa masuk. (untuk meminimalisir kondisi lembab yang menjadi tempat kesukaan scabies)
  2. Mencuci pakaian atau handuk dengan air panas
  3. Menjemur kasur dan mengganti sprei secara berkala
  4. Mengoleskan obat anti skabies pada penderita.

Hal yang menyebalkan ketika saya sedikit tau tentang skabies adalah ketika di olesi salep ataupun apa pembunuh hewan ini, ternyata gatal yang di akibatkan oleh gigitan skabies akan bertahan sampai dengan seminggu. Misalnya skabiesnya hari ini mati, maka seminggu kemudian gatalnya baru sembuh. Kesulitan nya adalah dengan luasnya kompleks pondok dan banyaknya tempat lembab di pesantren menjadikan tantangan tersendiri bagi pengasuh pesantren. Selain itu, mengetahui bahwa penyebab skabies sudah mati juga susah karena begitu kecilnya ukuran hewan scabies 0,25-040 mm. betapa kecilnya.

Setelah tau hal ini semoga bisa menjadikan pengetahuan pondok pesantren apakah gatal gatal di pesantren karena scabies atau karena prurigo atau juga karena panu. Dalam bahasa awam, skabies disebut dengan KUDIS

Terima kasih kepada dr. Nur Ekasari, Sp.PD.

Penyakit kulit di pondok pesantren

Sebagai lembaga yang banyak menampung banyak santri di lembaga, banyak suka dan duka yang dialami oleh pengasuh pondok pesantren, dalam hal ini sakit secara fisik yang di alami oleh santri juga kadangkala sering menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pengelola ponpes.

Hal hal yang umum dialami santri dalam hal ini adalah sakit, ada yang berupa penyakit menular dan sakit yang tidak menular.

Salah satu yang sering di dengar adalah penyakit gatal di pesantren. Penyakit gatal anak pesantren ini sangat sering di jumpai di pondok pesantren. Kenapa penyakit gatal di pondok pesantren relatif susah dihilangkan? Ternyata ada beberapa sebabnya, itulah salah satu contoh hal yang kurang mengenakkan terjadi di pesantren.

Baiklah, secara umum akan digambarkan beberapa penyakit yang sering menimpa di pondok pesantren.

Disini yang dimaksudkan penyakit yang sering terjadi di lingkungan pondok pesantren adalah penyakit yang umum terjadi di pesantren dan bukan penyakit yang ada di lingkungan rumah.

Contohnya tidak dibahas anak yang flu di pesantren karena di rumah orang tertimpa flu atau demam merupakan hal yang lumrah juga. umumnya menderita skabies, prurigo maupun cacar air, silakan disimak dibawah.

Skabies di pondok pesantren

skabies pada tanganSkabies di pesantren merupakan penyakit yang umum menimpa santri pondok. Scabies dan pesantren hampir hampir merupakan hal yang beriringan.

Sebenarnya bukan hanya pondok pesantren saja yang terjangkiti penyakit ini, akan tetapi skabies umumnya menjangkit di tempat orang-orang banyak tinggal atau berkumpul secara bersama misalnya di barak, penjara, asrama.

Orang yang terkena skabies akan mengalami gatal-gatal yang mengganggu dan menimbulkan bintik bintik karena gigitan hewan ini.

Skabies dikenal di indonesia dengan nama penyakit KUDIS atau gudigen, kadang juga disebut dengan buduk atau budug. untuk lengkapnya bisa baca di skabies di pondok pesantren

Penyakit prurigo di pondok pesantren (darah manis di pondok pesantren)

Selain skabies alias kudis diatas, penyakit kulit yang sering menghingapi para santri adalah prurigo yang kadang dikenal dengan darah manis. Dan sampai saat ini belum diketahui penyebab sakit prurigo.

Salah satu tanda terjangkiti penyakit prurigo ini adalah bermunculan bintik kecil yang banyak di tangan ataupun pada kaki.

Selanjutnya terasa sangat gatal dan menjadi bentol berisi air. Disekitar yang bentol berisi air biasanya membengkak dan berwarna merah. Ketika di garuk maka sering pecah bentol tersebut.

Disaat sembuh sering meninggalkan bekas yang berwarna gelap. Salah satu penyebab prurigo adalah genetikal atau penyakit keturunan sehingga jangan terkejut jika di tanya apakah di keluarga anda punya riwayat mempunyai penyakit ini.

Ternyata kalau anda terkena sakit prurigo malah tidak disarankan memakai sabun anti gatal karena sabun tersebut memicu kekeringan kulit yang mengakibatkan malah gatal yang makin menjadi.Mandi dengan air hangat juga tidak di sarankan karena mengakibatkan kulit kering. untuk lebih jelasnya bisa menuju prurigo, analisa obat dan hal yang perlu di perhatikan.

Cacar air di pesantren atau cangkrangan

Seringnya sakit ini mendera anak dibawah umur 10 tahun. Akan tetapi juga bisa menyerang orang dewasa secara umum. Secara medis, bagi yang pernah terkena cacar air akan kebal terhadap penularan sakit cacar air yang dalam istilah medis disebut dengan varisela.

Ciri dari penyakit ini pastinya sudah banyak yang bisa melihat secara kasat mata seperti gejala utama yaitu ruam pada kulit, yang selanjutnya memerah dan menjadi bintil yang di dalamnya berisi air, kadang kala airnya berupa nanah.

Pada saat fase ini akan terasa gatal yang sangat sehingga banyak ketika tidur tidak terasa menggaruk area gatal yang mengakibatkan pecahnya bintil di badan. Setelah proses bintil berisi air dilanjut dengan mengeringnya luka akibat bintil dan menjadi kering berubah menjadi koreng.

Selanjutnya akan terkelupas dengan sendirinya yang memakan waktu antara seminggu sampai dengan dua minggu. Lengkapnya bisa dibaca di cacar air, obat dan penanganannya.