Arsip Tag: PAI SMP

Mengapa Kita Harus Memiliki Sifat Jujur

mengapa kita harus memiliki sifat jujur, Kita harus memiliki sifat jujur karena sikap jujur membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Itulah jawaban pertanyaan alasan kenapa harus bersikap jujur.

pontren.com – assalaamu’alaikum, pada postingan kali ini kita akan membahas mengenai sikap dan sifat jujur beserta dalil naqli dalam al-Qur’an dan hadits teks tulisan Arab lengkap dengan arti dan terjemahnya dalam Bahasa Indonesia.

Langsung saja mari kita lanjutkan pembahasan ini.

Apabila ada soal berbunyi “sebutkan ciri-ciri orang jujur!

Ciri ciri orang jujur

diantara ciri-ciri sifat orang yang jujur adalah:

  • tidak dapat berbohong;
  • tidak berbuat curang atau melakukan kecurangan;
  • dan berkata apa adanya sesuai dengan kenyataan.

Kepada siapakah kita harus bersikap amanah?

  • Kita harus amanah kepada Allah Swt.;
  • kepada diri sendiri;
  • kepada orang tua dan
  • semua orang.
mahfudzot-mengenai-jujur-dan-kejujuran

Sebutkan manfaat dari perilaku amanah!

Adapun manfaat berperilaku amanah adalah;

  • Dipercaya orang lain;
  • Mendapatkan simpati dari semua pihak, kawan maupun lawan;
  • Hidup dalam kesuksesan serta dimudahkan oleh Allah Swt.

Mengapa kita harus Istiqamah?

Kita harus istiqomah karena kita harus memiliki sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan keislaman, meskipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan

Sebutkan hikmah dan perilaku istiqamah!

Salah satunya hikmah istiqomah adalah ibadah kita terus terjaga dan dapat menyelamatkan kita pada hari pembalasan,

Contoh Perilaku Istiqamah

Contoh perilaku istiqamah diantaranya adalah;

Apabila kita mendapat kepercayaan untuk menjadi jadi pemimpin, maka kita mengemban amanah dari rakyat untuk mengelola negara, dan kita kelola negara sesuai apa yg diharapkan rakyat.

mendirikan sholat 5 (lima) waktu tepat pada waktunya

apa yang kamu lakukan jika kamu melihat perilaku temanmu melakukan perbuatan terpuji? Jawabannya adalah “mencontohnya”.

contoh perilaku istiqamah

Apa yang kamu lakukan apabila kamu melihat temanmu melakukan perbuatan tercela? Jawabannya adalah dengan mengingatkannya secara baik dan sopan.

Dalil berperilaku jujur atau sifat kejujuran dalam al-Qur’an.

Sebutkan dan tuliskan dalil tentang jujur minimal 3 saja!

Berikut beberapa dalil alQur’an lengkap dengan nama surat dan ayatnya berkenaan dengan jujur.

Dalil dalam al-Qur’an tentang kejujuran salah satunya terdapat pada surat at-taubah ayat 119;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Dalil Hadits tentang Sikap dan Sifat Jujur

Sedangkan dalil perilaku jujur dalam hadits diantaranya sebagai berikut;

Hadits riwayat Imam Bukhari yang berbunyi :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلعم قال : ان الصدق يهدى الى البر وان البر يهدى الى الجنة وان الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا ان الكذب يهدى الى الفجور وان الفجور يهدى الى النار وان الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا { متفق عليه }

artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, Beliau bersabda; sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa (pelakunya) ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata benar(jujur) sehingga ia tercatat disisi Alloh sebagai orang yang benar, sesungguhnya dusta itu membawa pada keburukan(kemaksiatan) dan keburukan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan dirinya berdusta sehingga ia tercatat disisi Alloh sebagai pendusta.

dalil mengenai perilaku jujur berdasarkan hadits yang lain yaitu hadits riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya yang berbunyi;

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ ر.ض. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ, فَاِنَّهُ مَعَ البِرَّ وَهُمَا فِى الْجَنَّةِ, وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ, فَاِنَّهُ مَعَ الْفُجُوْرِوَهُمَافِى النَّار. ابن حبان فى صحيحه

artinya : Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “ Rasulullah saw. bersabda: “ Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di Surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, Karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”.

Demikianlah informasi mengenai sikap jujur beserta contoh dalam kehidupan sehari hari dan dalil naqli berasal dari al-Qur’an lengkap dengan nama surat beserta ayatnya juga dalil naqli berasal dari hadits.

Salam kenal, wilujeng dalu dan wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Muhammad bin Musa Al Khawazimi Ahli Matematika Astronomi Astrologi

Muhammad bin Musa Al Khawazimi Ahli Matematika Astronomi Astrologi Geografi. Beliau berasal dari Persia. Lahir kisaran tahun 780 di Khwarizm (sekarang daerah Khiva Uzbekistan). Wafat kisaran tahun 850 di Baghdad.

pontren.com – assalaamu’alaikum mengenal tokoh Matematika ahli astronomi astrologi dan geografi sebagai kisah teladan dalam materi Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 8 atau kelas 2 SMP/Mts.

Karya pertama Al Khawazimi adalah buku al-Jabar. Merupakan buku yang pertama kali membahas tentang solusi semantik dari linear dan notasi kuadrat.

Dengan karyanya ini dia mendapatkan gelar sebagai “Bapak Aljabar”.

Musa Al Khawazimi Ahli Matematika mengenalkan angka India Sistem Posisi Desimal

Translasi Bahasa latin dari aritmatika al Khaawzimi yang memperkenalkan nomor atau angka India, kemudian dikenalkan sebagai “sistem penomoran posisi desimal” pada dunia barat di abad 12.

Al Khawazimi melakukan revisi dan membuat penyesuaian Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan mengenai astronomi dan astrologi.

Sumbangan al Khawazimi juga berdampak besar dalam hal Kebahasaan. Kata aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, ini tercantum dalam buku karangannya.

Untuk kata logarisme dan logaritma berasal dari kata algorismi, merupakan penyebutan secara latin dari nama al khawazimi.

Nama al khawazimi juga diserap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan juga pada bahasa Portugis, Algorismo yang mempunyai arti digit.

Karya Besar Musa Al Khawazimi Ahli Matematika dalam berbagai Bidang

Karya besar Al Khawazimi dalam ilmu matematika, astronomi, astrologi, geogrfi, kartografi sebagai pondasi dan selanjutnya lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri dan juga pada bidang lainnya yang menjadi konsentrasi alkhawazimi.

Pendekatan logika dan sistemasis al khawazimi dalam menyelesaikan linear dan notasi kuadrat memberikan akurasi dan keakuratan pada bidang disiplin ilmu aljabar.

Buku pertama al khawazimi yang diterjemahkan dalam bahasa latin pada abad ke 12 adalah karyanya pada tahun 830 dengan judul al kitaab al mukhtasar fii hisaab al jabr wa’l-muqbala.

yang artinya “Buku rangkuman untuk kalkulasi dengan melengkapkan dan menyeimbangkan”.

Pada buku Muhammad bin Musa Al Khawazimi mengenai kalkulasi dengan angka hindu.

Ditulis pada tahun 825 M, memprinsipkan kemampuan difusi angka India kedalam perangkat Timur Tengah kemudian Wilayah Eropa.

Buku ini diterjemahkan kedalam bahasa latin menjadi Algoritmi de numero Indorum. Dalam penerjemahan ini menunjukkan bahwa kata algoritmi menjadi bahasa latin.

Berbagai sumbangan pengetahuan Muhammad bin Musa Al Khawazimi berlandaskan pada astronomi persia dan babilonia, angka India dan sumber-sumber yang berasal dari Yunani.

Koreksi Al Khawazimi terhadap data Ptolemeus

Sistemasi dan koreksi alKhawazimi terhadap data Ptolemeus pada bidang geografi merupakan penghargaan untuk Afrika dan Timur Tengah.

Buku Besar al Khawazimi bernama Kitab Suuraat al Ardh (gambaran bumi, diterjemahkan oleh Geography).

Buku ini yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia.

Beliau dengan berani melakukan evaluasi nilai panjang laut Mediterania dan lokasi berbagai kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya dilakukan oleh Ptolemeus.

Pada masa Khalifah Al Ma’mun, Al Khawazimi mengepalai konstruksi peta dunia.

Bersama dengan 70 ahli geografi yang lainnya membuat peta dan selanjutnya disebut dengan “ketahuilah dunia”.

Karta ini kemudian disalin dan ditransfer ke eropa serta Bahasa Latin.

Memiliki dampak yang sangat hebat untuk kemajuan matematika dasar di Eropa.

Al Khawazimi juga menulis tentang astrolab serta sundial.

Karya Al Khawazimi banyak diterjemahkan kedalam Bahasa yang Lain

Buku besar alKhawazimi yang lain adalah tentang Aritmatika, yang masih bertahan dalam bahasa latin.

Tetapi manuskrib arab yang asli telah hilang.

Penerjemahan buku ini dilakukan oleh Aderad of Bath yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada tahun 1126.

Dalam buku atau manuskrip berbahasa latin, lazimnya tidak memiliki nama.

Akan tetapi umumnya dimulai dengan kata “Dixit Algorizmi” (seperti kata al khawazimi atau algoritmi de numero Indorum (Al Khawazimi pada angka kesenian hindu).

Sebuah nama baru yang diberikan kepada hasil kerja al khawazimi. Nama ini diberikan oleh Baldassarre Boncompagni pada tahun 1857.

Adapun kemungkinan buku aslinya berjudul kitaab al jam’a wal tafriiq bi hisaab al Hindi (Buku penjumlahan dan pengurangan berdasarkan penghitungan Hindu).

Selanjutnya adalah buku ketiga al khawazimi yang terkenal adalah Kitaab Suuraat al ard “Buku pemandangan dunia atau penampakan bumi.

Diterjemahkan oleh Geography selesai ada tahun 833. Merupakan revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus.

Buku ini memuat daftar 2402 koordinat dari berbagai kota dan tempat geografi lainnya mengikuti perkembangan umum.

Saat ini hanya ada satu saja salinan dari buku ini, tersimpan pada perpustakaan Univ. Strasnbroug. Sedangkan terjemahan latinnya berada di Biblioteca Nacional de Espana di Madrid Spanyol.

Judul Lengkap buku ini adalah buku pendekatan tentang dunia, dengan kota-kota, gunung, laut, semua pulau dan Sungai. Ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al Khawazimi berdasarkan pendalaman geografis yang ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.

Dalam buku ini diawali dengan daftar bujur serta lintang, masuk didalamnya zonna cuaca, yang menulis pengarhu lintang dan bujur terhadap cuaca.

Karyanya sangat Bermanfaat

Paul Gallez mengatakan bahwa ini sangat bermanfaat untuk menentukan posisi lokasi dallam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis.

Sayangnya saat ini tidak ada lagi yang tertinggal naskah manuskrip buku ini baik berupa salinan arab maupun latin.

Oleh karena itu Hubert Daunicht melakukan rekonstruksi kembali peta tersebut dari dafar koordinat. Dia berusaha melakukan pendekatan yang mirip dengan peta dimaksud.

Bukan hanya sampai pada buku ketiga ini, al khawazimi juga menulis berbagai buku lain.

berbagai Karyanya menjadi rujukan para ilmuan pada masa periode berikutnya bahkan sampai dengan saat ini.

Nah itulah rangkuman materi tentang kisah teladan tokoh ilmu pengetahuan matematika Masa Golden Age Islam Bani Abbasiyah Muhammad bin Musa Al Khawazimi Ahli Matematika Astronomi Astrologi Geografi.

Selamat membaca dan belajar, salam kenal wassalamu’alaikum.

Sebab dan Faktor runtuhnya Bani Abbasiyah

Sebab dan Faktor runtuhnya Bani Abbasiyah rangkuman tulisan mengenai penyebab kemunduran dan keruntuhan dinasti Abbasiyah.

Pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, berikut adalah ulasan dan rangkuman mengenai berbagai faktor luar dan dalam atau internal dan eksternal yang menyebabkan runtuhnya Bani Abbasiyah.

Langsung saja mari kita simak.

Banyak Faktor yang menyebabkan kemunduran atau runtuhnya Daulah Dinasti atau Bani Abbasiyah, diantaranya adalah ;

Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas

luasnya wilayah kekuasaan, membentang dari wilayah yang terdiri dari terdiri dari Afrika, Mesir, Palestina, Yaman, Bahrain, Oman, Irak, Afganistan, dan Turki.

Penjelasan singkat : Luasnya wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Sehingga, tingkat saling percaya dikalangan penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah.

Selanjutnya dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

Kemudian imbas dari keadaan ini adalah keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar.

Pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Bagdad. (William Montgomery Watt : (1990: 165-166)

Dari situ Watt menyimpulkan bahwa faktor utama yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Abbasiyah adalah luasnya wilayah.

2 Faktor menyebabkan Runtuhnya Bani Abbasiyah

Menurut Badri Yatim, ada 2 faktor yang menyebabkan kemunduran daulah ini yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor Internal

Ada empat faktor eksternal yaitu

Faktor Pertama, Khalifah Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia.

Aliansi ini berlatar belakang persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas.

Setelah Dinasti Abbasiyah berdiri, Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan yang telah dibangun.

Pada saat itu, persaingan antarbangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah bisa dirasakan sejak awal mula berdirinya Daulah Abbasiyah.

Faktor kedua, Bani Abbasiyah Mengalami kemunduran bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran pada bidang politik

khalifah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik.

Pada masa periode pertama, pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya Raya dan Makmur.

Secara ekonomi, Dana yang masuk lebih besar daripada yang keluar, dampaknya adalah baitul mal penuh dengan harta.

Setelah khalifah mengalami kemunduran, pendapatan negara menurun dan berdampak pada kemerosotan ekonomi.

Faktor Ketiga, fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan.

Pada masa Daulah Bani Abbasiyah, konflik keagamaan menjadi isu sentral, hal ini mengakibatkan terjadi perpecahan.

Pada masa itu Berbagai aliran keagamaan seperti Mu‟tazilah, Syi‟ah, Ahlul Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya yang menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.

Faktor Keempat, ancaman luar

Faktor terakhir atau yang keempat adalah, ancaman dari luar. Perlu pembahasan yang lebih terperinci.

Faktor Eksternal penyebab Mundurnya Bani Abbasiyah

Ada dua faktor yaitu;

Pertama, terjadinya Perang Salib.

Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang banyak menelan korban serta biaya yang banyak.

Konsentrasi dan perhatian pemerintahan Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara Salib.

Situasi ini memunculkan kelemahan-kelemahan.

Faktor Kedua, Serangan Mongol.

Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah. (Yatim, 2005: 80-85)

MUHAMMAD AMIN dalam tesisnya yang berjudul KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN DINASTI ABBASIYAH SERTA DAMPAKNYA TERHADAP DUNIA ISLAM KONTEMPORER pada PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) RADEN FATAH PALEMBANG 2016 menambahkan bahwa ulasan kedua tokoh ini kurang lengkap.

Kenapa begitu?

Karenaa menurut Muhammad Amin kedua tokoh ini tidak membahas faktor-faktor berikut ini;

  • perilaku pejabat yang memperkaya diri (korupsi), meninggalkan ajaran agamanya,
  • sistem pergantian khalifah secara turun menurun,
  • khalifah usia muda dan tidak memiliki kemampuan memimpin.

Menurut Muhammad Amin umat Islam meninggalkan ajaran agamanya perlu dimasukkan, karena pada masa Abbasiyah sering terjadi saling bunuh antara umat Islam ketika terjadi konflik keagamaan.

Padahal dalam ajaran Islam itu dilarang saling membunuh apa lagi sesama Muslim.

Bukan itu saja perbuatan yang melanggar ajaran agama Islam pada masa Dinasti Abbasiyah.

masih ada lagi seperti suka bermewah-mewahan, memperkaya diri sendiri, dan lain-lain.

Dengan demikian bahwa umat Islam pada masa Abbasiyah telah meninggalkan ajaran agamanya,

Menurut M. Amin bahwa sistem pergantian khalifah secara turun-menurun (monarki), juga merupakan salah satu faktor penyebab kemunduran Dinasti Abbasiyah.

Faktor tambahan yang ada yaitu Berdiri kerajaan Turki Usmani tahun 1292 M. Pada awalnya Turki Usmani bertujuan untuk menyelamatkan wilayah-wilayah Abbasiyah yang telah dihancurkan pasukan Mongol, tetapi muncullah perang terbuka dengan wilayah-wilayah Abbasiyah yang berdekatan dengan wilayah Turki Usmani.

Kesimpulan

Puncak runtuhnya dinasti Abbasiyah kira-kira pada tahun 656 H/1258 M tepatnya pada masa akhir kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah (Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal. 156).

Penyebab runtuhnya bani Abbasiyah karena dua faktor yaitu internal dan eksternal

Faktor internal adalah;

  • Luasnya wilayah yang perlu dikelola dan banyak yang melepaskan diri;
  • Orang-orang banyak yang meninggalkan ajaran agama Islam dengan hidup foya-foya dan menyalahi aturan yang lain;
  • Sistem pergantian penguasa yang monarchi adakalanya mendapatkan khalifah yang tidak kapabel;
  • Konflik keagamaan Perpecahan Fanatisme keagamaan yang menimbulkan perpecahan umat;

Adapun faktor eksternal yaitu;

  • Perang salib yang lama;
  • Serangan bangsa mongol; dan
  • Berdirinya kerajaan Turki Utsmani

Demikian rangkuman tentang faktor yang menyebabkan runtuhnya Bani Abbasiyah dari berbagai sumber. Wilujeng dalu, selamat malam dan wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Sumber :
http://repository.radenfatah.ac.id/6316/1/MUHAMMAD%20AMIN.pdf
brainly
https://tirto.id/sejarah-masa-kemunduran-peradaban-islam-faktor-dan-penyebabnya-gbdN
https://pustakailmudotcom.wordpress.com/2012/10/25/runtuhnya-dinasti-abbasiyah/

Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah

Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah. Puncak dari masa keemasan itu ditandai dengan tumbuh berkembang ilmu pengetahuan pada abad ke-8 materi kelas 8 SMP MTs Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah. Pada masa itu para ilmuwan muslim sangat produktf dan menjadi pelopor perkembangan ilmu pengetahuan di dunia.

Puncak Kejayaan atau popularitas Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun ar-Rasyid dan puteranya yang bernama AlMa’mun.

Kekayaan yang sangat banyak pada masa itu dimanfaatkan Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi.

Pada masa itu setidaknya ada 800 orang dokter, pemandian-pemandian umum juga dibangun.

Bidang kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada era atau masa zaman keemasannya.

Masa Keemasan Daulah Abbasiyah (ilmu pengetahuan masa Abbasiyah)

Pada masa daulah Abbasiyah masa Harun Al Raasyid dan al Ma’mun negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.

Pengganti Harun ar-Rasyid yaitu Al-Makmun, terkenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu Filsafat.

Pada masa pemerintahan al-Makmun, penerjemahan buku-buku asing dengan giat.

Dalam rangka menerjemahkan buku-buku Yunani, Khalifah AlMakmun menggaji penerjemah-penerjemah beragama Kristen dan penganut agama lain yang ahli.

Khalifah al Makmun juga banyak mendirikan sekolah.

Salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.

Pada masa khalifah Al-Ma’mun inilah Bagdad (Iraq) mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya yaitu dari Bani Umayyah.

Pendiri dari Daulah Abbasiyah ini adalah Abdullah al-Saīah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.

Penerapan Pola pemerintahan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politk, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, dari tahun 132 H/750 M sampai dengan 656 H atau 1258 Masehi.

5 Periode Masa Pemerintahan Daulah Abbasiyah (ilmu pengetahuan masa Abbasiyah kelas 8 SMP MTs)

5 periode masa pemerintahan daulah abbasiyah

Para ahli sejarah membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik.

  1. Periode Pertama tahun 132 – 232 H / 750 -847, disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.
  2. Periode Kedua tahun 232- 334 H / 847-945ͬ M, disebut dengan periode pengaruh Turki pertama.
  3. Masa Ketiga 334 -447 H / 945 – 1055, masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Msa ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
  4. Periode Keempat tahun 447 sampai 590 H atau 1055 sampai 1194 M, masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah͖ biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk Agung).
  5. Fase Kelima tahun 509 – 665 H atau 1194-1258 Masehi, masa khalifah bebas dari pengaruh dinast lain, tetapi kekuasaannya hanya efektf di sekitar kota Bagdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.

Pada awal mula bani Abbasiyah, ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah.

Akan tetapi, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri, Khalifah al-Mansur yaitu khalifah ke-2 memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru yaitu Kota Bagdad, suatu wilayah dekat bekas ibu kota Persia, tahun 762 M.

Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.

Di ibu kota yang baru ini yaitu kota Baghdad, khalifah al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif maupun yudikatif.

Tradisi Baru Masa Abbasiyah

Pada bidang pemerintahan, khalifah al-Mansur membuat tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementerian yang ada.

Wazir pertama yang diangkat bernama Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia.

Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata.

Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara.

Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan dalam peran dengan berbagai tambahan tugas.

Kalau masa sebelumnya sekadar untuk mengantar surat, pada masa al-Mansur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan supaya bisa berjalan lancar.

Para direktur jawatan pos memiliki bertugas untuk melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.

Pada masa khalifah ketiga yaitu al-Mahdi, perekonomian beranjak meningkat dengan peningkatan pada sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan.

Hasil pertambangan misalnya perak, emas, tembaga, dan besi.

Disamping itu transit perdagangan antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Wilayah kota Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Era Harun Al Rasyid dan Al Makmun

Daulah Abbasiyah mengalami masa keemasan pada masa diperintah oleh Khalifah Harun ar-Rasyid 786-809 M dan penerusnya yaitu sang putera yang bernama al-Ma͛mun 813-8833 Masehi.

Pemerintahan selanjutnya yaitu Khalifah Al-Mu’tasim, tahun 833-842 M, memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan.

Keterlibatan orang-orang Turki ini mulai sebagai tentara pengawal.

Tidak seperti pada masa Daulah hmayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan.

Praktek perang bagi orang-orang muslim sudah terhenti.

Para Tentara mendapat pembinaan secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional.

Dengan demikian, kekuatan militer dinast Bani Abbas menjadi sangat kuat.

Jika demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.

Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan internal Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara.

Juga gerakan Zindiq di Persia, gerakan Syi͛ah, dan konfik antarbangsa dan aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah

perkembangan ilmu pengetahuan masa daulah abbasiyah

Pada masa Daulah Abbasiyah merupakan masa keemasan (The Golden Age) bagi umat Islam.

Pada masa itu Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan dalam berbagai bidang maupun segi, baik dalam bidang ekonomi, peradaban, dan kekuasaan.

Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya menerjemahkan berbagaibuku dari bahasa asing ke dalam bahasa Arab.

Situasi ini kemudian yang melahirkan banyak para ahli dan cendekiawan-cendekiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Adapun para ahli atau cendekiawan-cendekiawan Islam pada masa Daulah Abasiyah yang terkenal adalah sebagai berikut :

Bidang ilmu Filsafat

  • Abu Easyar Muhammad bin Muhammad bin Tarhan yang dikenal dengan al-Farabi,
  • Abu zusuf bin Ishak yang dikenal dengan al-Kindi,
  • Ibnu Sina,
  • al-Ghazali,
  • Ibnu Rusd,
  • Ibnu Bajah dan Ibnu Tufail.

Bidang ilmu Kedokteran

Tokoh cendekiawan Islam bidang kedokteran;

  • Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai bapak ilmu kimia,
  • Hunaian bin Ishak yang dikenal sebagai ahli penerjemah buku-buku asing,
  • Ibnu Sahal, ar-Razi (ahli penyakit campak dan cacar), dan
  • Thabit Ibnu Qurra.

Bidang ilmu Matematika

  • Muhammad bin Musa al-Khawarizmi ;penemu huruf nol yang dengan bukunya Algebra, Geometri Ilmu Matematika,
  • Umar bin Farukhan ;bukunya Quadripartitum,
  • Banu Musa ;ilmu mengukur permukaan, datar, dan bulat).

Bidang ilmu Falak (ilmu pengetahuan masa Abbasiyah)

  • Abu Masyar alFalaky (bukunya Isbatul Ulum dan Haiatul Falak),
  • Jabir Batany (membuat teropong bintang),
  • Raihan Bairuny ;bukunya al-Afarul Bagiyah͛ainil Khaliyah, Istkhrajul Autad dan lain-lain

Bidang ilmu Astronomi

  • al-Farazi (pencipta Astro Lobe),
  • al-Gattani atau Albetagnius,
  • al-Farghoni atau Alfragenius.

Bidang ilmu Tafsir

  • Ibnu Jarir at-abary,
  • Ibnu Atyah al-Andalusy,
  • as-Suda,
  • Mupatil bin Sulaiman,
  • Muhammad bin Ishak dan lain-lain.

Bidang ilmu Hadis (ilmu pengetahuan masa Abbasiyah)

  • Imam Bukhari,
  • Imam Muslim,
  • Ibnu Majah,
  • Abu Daud,
  • at-Tarmidzi, dan lain-lain

Bidang ilmu Kalam (tauhid)

  • Wasil bin Atha͛,
  • Abu Huzail al-Allaf,
  • ad-Dhaam,
  • Abu Hasan al-Asy͛ary,
  • Hujjatul Islam Imam al-Gazali.

Sekedar catatan, Pembahasan ilmu tauhid semakin luas dibandingkan dengan zaman sebelumnya.

Bidang ilmu Tasawuf (ilmu mendekatkan diri pada Allah Swt.)

  • al-Qusyairy dengan karyanya ar-Ri_alatul Qusyairiyah,
  • Syahabuddin dengan karyanya Awariful Ma͛arif,
  • Imam al-Gazali dengan karyanya al-Bashut,
  • al-Wajiz, dan lain-lain.

Para imam Fuqaha (ahli Fiqh)

  • Imam Abu Hanifah,
  • Imam Maliki,
  • al-Imam al-Syafi, dan
  • Imam Ahmad bin Hambali.

Pusat peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah

Pada masa daulah Abbasiyah ada dua pusat peradaban yaitu;

Kota Bagdad, merupakan ibu kota negara Kerajaan Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah Abu Ja͛far al-Mansur 754 sampai 775 Masehi.

Pada tahun 762 M kota Baghdad terletak di tepian Sungai Tigris.

Masa Kejayaan atau keemasan Kota Bagdad terjadi pada pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan puteranya yaitu al-Ma͛mun.

Yang kedua, pusat peradaban daulah Abbasiyah adalah Kota Samarra, berada pada sebelah tmur Sungai Tigris yang berjarak kurang lebih 60 km dari Kota Bagdad.

Di kota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.

Banyak kemajuan yang dicapai pada masa ini. Kemajuan yang dicapai bukan hanya mencakup kepentngan sosial saja, tetapi juga peradaban di semua aspek kehidupan.

Misalnya yaitu dalam bidang administrasi pemerintahan dengan biro-bironya, sistem organisasi militer, administrasi wilayah pemerintahan, pertanian, perdagangan, dan industri, Islamisasi pemerintahan, kajian dalam bidang kedokteran, astronomi, matematka, geografi, historiografi,Filsafat Islam, teologi, hukum (Fiqih), dan etika Islam, sastra, seni, dan penerjemahan serta pendidikan, kesenian, arsitektur, meliput pendidikan dasar (kuttab), menengah, dan perguruan tinggi, perpustakaan dan toko buku, media tulis, seni rupa, seni musik, dan arsitek.

Contoh Soal masa daulah Abbasiyah

Berikut ini adalah contoh soal yang jawabannya bisa anda lihat pada teks diatas.
Kerjakan Soal-Soal berikut ini!

  1. Siapakah khalifah Harun ar Rasyid͍
  2. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi berdirinya daulah Abbasiyah!
  3. Sebutkan tiga tokoh cendekiawan mulim di bidang ilmu kedokteran͊
  4. Sebutkan nama-nama khalifah yang memimpin bani Abbasiyah͊
  5. tuliskan tiga penyebab runtuhnya Daulah Abbasiyah͊

Hikmah mempelajari sejarah pertumbuhan Ilmu pada masa Daulah Abbasiyah (ilmu pengetahuan masa Abbasiyah)

Adapun Hikmah mempelajari sejarah pertumbuhan Ilmu pada masa Daulah Abbasiyah

Adalah meningkatkan keimanan kepada Allah Swt., dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Eya.

Menumbuhkan semangat menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia sepert yang telah dicontohkan oleh para cendekiawan Islam mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Juga membina rasa kesatuan dan persatuan umat Islam dan kerukunan beragama di seluruh dunia yang tdak membeda-bedakan suku, bangsa, negara, warna kulit, dan lain sebagainya.

Nah silakan anda padu padankan jawabannya sesuai dengan yang sudah kami sadur dari buku Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2017 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 8 MTs SMP. Wassalaamu’alaikum.

Surat an nisa ayat 146 arti surah kandungan beserta tajwidnya dan hadits

surat an nisa ayat 146. kandungan surah an-nisa ayat 146 arti beserta tajwidnya dan hadits berkaitan beserta mufrodat, hikmah dan akhlaq qs ini.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, berikut adalah tulisan arab surat an nisa ayat 146 teks latin dan arti surah dalam materi pelajaran kelas VII atau 1 SMP buku Pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti.

Tulisan arab surat an nisa ayat 146 tulisan latin

berikut ini adalah teks arab dan tulisan latin surah anNisa ayat 146. monggo silakan disimak.

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا – ١٤٦

Illalladziina taabuu wa ashlahuu wa’tashomuu billahi wa akhlashuu diinahum lillahi faulaaika ma’al mu’miniin. Wa saufa yu’tillaahul mu’miniina ajron ‘adhiimaa

Arti surah an-nisa/4 146

Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.

surat an nisa ayat 146 beserta tajwidnya

sebutkan hukum tajwid dalam bacaan surat an-nisa ayat 146 beserta alasannya.

Kata/KalimatTajwid/Hukum Bacaan
اِلَّاmad asli
الَّذِيْنَalif lam syamsyiah dan mad asli
تَابُوْاMad asli
 وَاَصْلَحُوْاMad asli
وَاعْتَصَمُوْاMad asli
بِاللّٰهِLam tarqiq
وَاَخْلَصُوْاMad asli
دِيْنَهُمْ لِلّٰهِMad asli dan idzhar syafawi
فَاُولٰۤىِٕكَMad wajib muttashil
الْمُؤْمِنِيْنَۗAl qamariyah, mad badal dan mad ‘arid lisukun
اَجْرًا عَظِيْمًاQalqalah sughra (jim sukin ditengah kalimat), Idzhar halqi (fathatain bertemu huruf ‘ain, mad asli dan mad iwadz (sebelum waqaf terdapat huruf berharkat fathatain dan setelahnya ada alif)
Hukum Tajwid surat an-nisa ayat 146

Arti Mufrodat

LafalArti
اِلَّا الَّذِيْنَKecuali orang-orang
تَابُوْاYang bertaubat
وَاَصْلَحُوْاYang memperbaiki diri
وَاعْتَصَمُوْاBerpegang teguh
بِاللّٰهِAgama Allah Swt
وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْDan tulus dalam beragama
فَاُولٰۤىِٕكَMaka mereka
مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗBersama orang yang beriman
وَسَوْفَDiatas
يُؤْتِ اللّٰهُAllah memberikan
اَجْرًا عَظِيْمًاPahala yang besar

Kandungan Q.S. An nisa/4 ayat 146

Kandungan Q.S. an-Nis±/4: 146 menjelaskan tentang keikhlasan amal seseorang. Ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya amal.

hadits surat annisa ayat 146

berikut adalah hadits yang berkaitan dengan rusat annisa ayat 146 tentang perilaku ikhlas dari Ibnu Mas’ud riwayat Imam Ahmad.

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ثَلَاثٌ لَا يَغُلَّ عَلَيْهِ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ وَ النَّصِيْحَةُ لِوَلِيِّ الْأَمْرِ وَ لُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)

Artinya “Dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah saw.. bersabda: “Tiga hal yang tidak boleh hati seorang mukmin iri terhadapnya: ikhlas dalam beramal, memberi nasihat kepada pemimpin, dan melanggengkan kebersamaan dengan jamaah.” (H.R. Ahmad).

contoh perilaku ikhlas dalam kehidupan sehari hari surat an nisa ayat 146

sebutkan contoh perilaku sehari hari yang mencerminkan surat an nisa-ayat 146!

Perilaku Ikhlas dalam Kehidupan Sehari-hari Perilaku ikhlas sebagai penghayatan dan pengamalan Q.S. an-Nisaa surah ke empat dalam al-Qur’an ayat 146 dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan dengan cara;

  • Gemar melakukan perbuatan terpuji dan tidak di pamerkan kepada orang lain;
  • Ikhlas dalam melaksanakan ibadah semata-mata karena Allah Swt.
  • Tidak mengharap pujian maupun sanjungan dari orang lain;
  • Selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan maupun bertingkah laku;
  • Tidak pernah membeda-bedakan antara amalan besar maupun yang amal kecil;
  • Tidak menghitung terlebih lagi mengungkit perbuatan baik yang pernah dilakukan kepada orang lain.

Rangkuman tentang akhlak qs an nisa ayat 146

Kandungan Q.S. an-Nisa/4: 146 menjelaskan tentang keikhlasan amalan seseorang.

Ikhlas artinya perbuatan yang kita lakukan semata-mata karena Allah, tidak menginginkan pujian orang lain.

Ikhlas, sabar, dan pemaaf merupakan perilaku terpuji yang harus bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

hikmah dari qs annisa 4 ayat 146

hikmah yang bisa kita petik adalah untuk senantiasa ikhlas dalam beramal semata mata niat karena Allah.

Dalam beribadah tidak mengharapkan pujian dari orang lain.

Ikhlas merupakan salah satu sikap terbuji yang bisa kita laksanakan dan amalkan dalam perilaku kehidupan sehari hari.

Demikian ringkasan tentang tulisan arab dan latin surat an nisa ayat 146, isi kandungan, hikmah, hukum tajwid dan arti mufrodat didalamnya. Salam kenal dan Wilujeng dalu wassalamu’alaikum.

Surat an nahl ayat 114 tulisan latin arti per kata, hukum bacaan

Tulisan arab surat an nahl ayat 114 teks latin artinya perkata hukum bacaan mim sukun lam dan ra pada ayat dalam surat ini beserta hadits yang berkaitan, isi kandungan tentang tentang perintah memakan makanan yang halal lagi baik.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, berikut adalah rangkuman materi pembelajaran PAI kelas 2 SMP alias jenjang pendidikan kelas 8 tentang perintah memakan makanan yang halal dan baik. Beserta tulisan arab surat an nahl ayat 114 latin artinya perkata terjemahan bahasa Indonesia.

Serta menyertakan hukum bacaan mim sukun dan lamra dalam surah an nahl pada ayat 114.

Langsung saja berikut informasinya

Tulisan arab surah an nahl 114 dan tulisan latin beserta terjemah Bahasa Indonesia

فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّاشْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ – ١١٤

annahl ayat 114 tulisan latin : Fakuluu mimmaa rozaqumullaahu halaalan thoyyiban wasykuruu ni’matallaahi in kuntum iyyaahu ta’buduun.

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Surat an nahl ayat 114 artinya per kata

Teks Arab:Arti per kata
فَكُلُوْا:Maka makanlah
مِمَّا:Dari apa
رَزَقَكُمُ:Yang telah di rezekikan kepada kalian
اللّٰهُ:Oleh Allah
حَلٰلًا:Yang halal
طَيِّبًاۖ:Yang baik
وَّاشْكُرُوْا:Dan bersyukurlah kalian
نِعْمَتَ:Terhadap nikmat
اللّٰهِ:Allah
اِنْ:Jika
كُنْتُمْ:Kalian adalah
اِيَّاهُ:Kepada-Nya
تَعْبُدُوْنَ:Kalian menyembah

Isi kandungan

Sebutkan isi kandungan dalam surat an nahl ayat 114 2 saja.

Jika ada pertanyaan seperti itu maka jawaban ini bisa anda lihat dalam buku PAI dan budi pekerti untuk siswa.

Berikut jawaban atau isi kandungan dalam surah annahl ayat 114 yang menjelaskan isi kandungannya.

  1. Islam mengajarkan kepada umatnya agar mengkonsumsi makanan dan minuman yang halalan thayyiban. Halal artinya dibolehkan agama, sedangkan thayyib artinya bergizi dan baik bagi kesehatan tubuh.
  2. QS An-Nahl (surat ke enam belas) ayat 114 berisi perintah untuk memakan makanan yang halal lagi baik, serta mensyukuri nikmat Allah Swt.

Hukum Bacaan lam ra dan mim sukun pada suroh an-nahl 114

Lafdzul jalaalah lam tafkhim pada bacaan رَزَقَكُمُ اللّٰهُ dan kalimat نِعْمَتَ اللّٰهِ, alasan dibaca lam tafkhim karena didahului harakat fathah.

Bacaan ra tafkhim pada kata رَزَقَكُمُ karena hurug ra dengan tanda baca fathah.

Baca : Contoh Bacaan tafkhim tarqiq lam ro

Bacaan idzhar syafawi pada kalimat كُنْتُمْ اِيَّاهُ karena bertemunya huruf nun sukun dengan huruf alif.

Hadits berkaitan dengan surat an-nahl ayat 114

Berikut adalah teks bunyi hadits yang berkaitan dalam surat an nahl ayat 114.

Anda bisa melihatnya dalam Syarh Hadits ke-10 Arbain anNawawiyyah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul :

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (Q.S al-Mukminun:51)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).

Kemudian Nabi menceritakan keadaan seseorang yang melakukan safar panjang, rambutnya kusut, mukanya berdoa, menengadahkan tangan ke langit dan berkata: Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi asupan gizi dari yang haram, maka bagaimana bisa diterima doanya?! (H.R Muslim)

Demikianlah informasi tentang tulisan arab surat an nahl ayat 114 teks latin beserta artinya per kata dan hadits yang berkaitan untuk memakan yang halalan thoyyiban (halal dan baik). Mapel PAI kelas 2 SMP untuk mengerjakan soal ujian maupun ulangan.

Salam kenal, wilujeng dalu wassalamu’alaikum.

Ketentuan salat jamak (pelajaran kelas VII)

Ketentuan salat jamak pelajaran kelas VII 1 SMP. Membahas tentang arti, pengertian dan dalil hadits nabi mengenai bolehnya menjama’ salat fardhu dalam satu waktu.

pontren.com – assalaamu’alaikum gaeess…. Salat jama’ artinya adalah salat fardu yang dikumpulkan atau digabungkan.

ketentuan salat jamak

Maksud salat jamak adalah menggabungkan dua salat fardu dan mengerjakannya dalam satu waktu saja.

Sholat jama’ boleh dilaksanakan pada waktu Salat yang pertama (jama’ taqdim) maupun pada waktu salat yang kedua (jama’ ta’khir).

Hukum Salat jamak adalah boleh bagi orang yang berada pada kondisi darurat, seperti dalam perjalanan jauh.

Dalil Hadits

Dalil salat jamak dalam hadits nabi tentang salat jamak sebagaimana riwayat Anas bin malik berikut ini;

عَنْ اَنَشٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيِّ اِذَا اَرَادَ اَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ اَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّي يَدْخُلَ اَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا

‘an Anas r.a. ‘anhu qoola kaanannabii (shallallahu ‘alaihi wa sallam) idzaa arooda an yajma’a bainas sholataini fis safari akhkhoro-dh dhuhra hattaa yadkula awwala waqti-l ‘ashri tsumma yajma’u bainahumaa.

Artinya : Dari Anas r.a., ia berkata : Apabila Nabi Muhammad saw. hendak menjama’ antara dua £alat ketika dalam perjalanan, beliau mengakhirkan £alat ¨uhur hingga awal waktu A¡ar, kemudian beliau menjama’ antara keduanya.” (H.R. Muslim).

Jama’ taqdim

Yang dimaksud dengan salat jamak taqdim adalah salat yang dilakukan dengan cara gabungkan dua salat fardhu dan dilaksanakan pada saat waktu salat fardhu yang pertama.

Contoh, salat duhur dan salat A¡ar dilaksanakan pada waktu duhur, demikian juga salat Magrib dan salat Isya dilaksanakan pada waktu Magrib.

Cara melaksanakan salat jama’ taqdim adalah mendahulukan Salat fardu yang pertama kemudian melaksanakan salat yang kedua. Berniat salat jama’ taqdim, berturut-turut tidak boleh diselingi dengan perbuatan lain.

Setelah selesai melaksanakan salat duhur lanjut dengan langsung melaksanakan salat Asar.

Cara yang sama yaitu setelah melaksanakan salat Magrib langsung melaksanakan salat Isya.

Tidaklah sulit untuk melaksanakan sholat jamak taqdim ini.

Salat Jamak ta’khir

Yang dimaksud dengan salat jama’ Ta’khir adalah salat yang dilakukan dengan cara menggabungkan dua salat fardu dan dilaksanakan pada waktu yang kedua atau terakhir.

Contoh salat jamak ta’khir. Salat duhur dan salat Asar melaksanakannya pada waktu salat Asar.

Contoh kedua yaitumelaksanakan salat Magrib dan salat Isya pelaksanaannya pada waktu salat Isya.

Dalam tata cara melaksanakan salat jama’ ta’khir tidak disyaratkan harus mendahulukan salat pertama.

Boleh mendahulukan salat pertama baru melakukan salat kedua atau sebaliknya.

Apabila hendak melaksanakan salat jama’ ta’khir, caranya dengan berniat hendak mengerjakan kedua salat fardlu tersebut dengan cara menjamaknya.

Dalam mengerjakan salat jamak kedua sholat fardu ini (dhuhur dengan asar, magrib dengan isya) dilakukan secara berturut-turut.

Tidak boleh diselingi perbuatan lain.

Maksudnya adalah setelah selesai melaksanakan salat Asar langsung melaksanakan salat dhuhur.

Begitupula setelah melaksanakan salat Isya langsung melaksanakan malat Magrib.

Atau sebaliknya, setelah selesai melaksanakan salat dluhur langsung melaksanakan salat Asar.

Begitu juga setelah melaksanakan solat Magrib langsung melaksanakan shalat Isya.

Syarat salat jamak

  • Pada saat sedang melakukan perjalanan jauh, jarak tempuhnya tidak kurang dari 80,640 km.
  • Perjalanan yang dilakukan bertujuan baik, bukan untuk hal kejahatan maupun perbuatan maksiat.
  • Sakit atau dalam kesulitan.
  • salat yang dijama’ salat ada’an (tunai) bukan £alat qadha’.
  • Berniat men-jama’ ketika takbiratul ikram.

Nah demikianlah informasi ringkas mengenai salat jamak, tata cara beserta dalil hadits mengenai bolehnya menggabungkan dua salat fardhu dalam satu waktu.

Wilujeng siang, wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Kesimpulan Cerita Imam Syafi’i menghormati Guru

Kesimpulan cerita Imam Syafi’i menghormati guru dalam kisah bertemu dengan orang tua yang kumal dan lusuh. Suatu pelajaran kisah teladan yang dapat diambil dari kisah Imam Syafii dalam perilaku hormat dan patuh kepada guru dalam menuntut ilmu.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah, pada mata pelajaran PAI kelas 7 dan 8 (Kelas 1 dan 2 SMP/MTs) pada bab perilaku hormat patuh menghormati dan mematuhi guru memuat kisah cerita tentang Imam Syafi’i.

kisah kesimpulan cerita imam Syafi'i

Mengisahkan bagaimana imam Syafi’i serta merta memeluk orang tua yang dalam kondisi kumal lusuh yang membuat heran para murid murid yang mengikutinya.

Bahkan dalam cerita juga mencium tangan orang tua ini sebagai tanda ta’dzim (hormat), padahal menurut para pengikutnya masih banyak ulama yang lebih layak untuk mendapat perlakuan ini (salim tangan dan memeluknya).

Alasannya tentu keadaan orang tua yang pakaiannya mungkin kurang begitu terhormat secara harga maupun layak pakai.

Seperti apa ilustrasi ceritanya? Mari kita simak.

Kisah Imam Syafi’i menghormati guru yang mengajarkan perbedaan usia anjing dengan kirik (jawa : anak anjing)

Syahdan, suatu hari tiba-tiba Imam Syafi’i pernah tiba-tiba mencium tangan dan memeluk orang tua dengan hangat saat berpapasan.

Perilaku memuliakan orang tua ini membuat para pendereknya (pengikut atau murid Imam Syafii) menjadi keheranan.

Salah satu sahabatnya bertanya kepada beliau “Wahai Imam (syafi’i), kengapa anda mau mencium tangan dan memeluk lelaki tua yang tidak banyak orang mengenalnya?

Bukankah masih ada banyak ulama yang lebih pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari pada dia?”

Dalam buku PAI Kelas 1 dan 2 SMP MTs memberikan keterangan mengenai orang ini.

Bahwa kondisi orang tua ini dalam keadaan berpakaian kumal dan lusuh.

contoh sikap perilaku menghormati guru

kondisi ini sedemikian rupa memancing sahabatnya untuk bertanya.

Menjawab pertanyaan sahabatnya, maka dengan lugas (sebagaimana kami kutip dari tulisan republika) beliau menjawab,” “Dia (orang tua itu) adalah salah seorang guruku.

Ia kumuliakan karena pernah suatu hari aku bertanya kepadanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah dewasa.

Ia pun menjawab, untuk mengetahuinya dengan melihat apakah anjing itu mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing. Jika iya, ketahuilah bahwa anjing itu telah berusia dewasa.”

Pada buku PAI menyebutkan bahwa dengan informasi perbedaan usia kirik dengan anjing.

dari informasi ini kemudian beliau bisa menulis buku fiqih (dalam kisah tidak menyebutkan buku fikih yang mana).

Seperti itulah akhlak imam syafi’i dalam memuliakan guru dan menghormatinya.

Meskipun sang guru dalam keadaan kumal dan lusuh tidak mengurangi rasa hormat Imam Syafi’i kepadanya.

Bahkan orang bisa menganggap informasi keilmuan yang sederhana.

Yaitu berupa ilmu membedakan ciri anjing yang sudah baligh atau masih dalam kondisi anakan (berupa kirik).

Kesimpulan Cerita Imam Syafi’i dalam memuliakan Guru

Dalam soal ujian atau mid semester dan semesteran genap kelas 1 dan 2 SMP mungkin saja ada soal yang berbunyi;

Buatlah kesimpulan dari cerita Imam Syafi’i!
apa pesan yang diambil dibalik kisah imam syafi’i tersebut?

Kesimpulan dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah imam syafi’i dalam menghormati guru adalah;

  • Untuk memuliakan orang yang memberikan ilmu kepada kita meskipun sederhana
  • Tetap menghormat dan memuliakan guru meskipun sudah menjadi orang besar dan lebih sukses dari guru
  • Begitu berharganya ilmu meskipun ada yang menyebut remeh, karena hal remeh bisa melengkapi keilmuan yang lebih komprehensif.
  • Penghormatan kepada guru tanpa memandang derajat pangkat kaya miskin, akan tetapi mempertimbangkan bahwa dia telah memberikan ilmu kepada kita.

Demikian informasi mengenai kesimpulan kisah imam syafi’i semoga menambah wawasan dalam menjawab soal.

untuk menjawab pertanyaan pada buku Tematik maupun LKS. Utamanya dan buku Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 1 dan 2 SMP MTs (kelas 7 dan 8).

Salam kenal, semoga tambah keren cantik dan ganteng, wilujeng dalu, wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Hormat dan Patuh kepada Orang Tua, Sikap Perilaku, Contoh, Dalil

Hormat dan Patuh kepada Orang Tua, dalam buku mata pelajaran PAI kelas 8 atau 2 SMP MTs membahas mengenai sikap hormat dan patuh kepada orang tua dan guru, kita fokus pada yang pertama.

Membahas kenapa harus bersikap hormat dan patuh kepada orang tua, alasannya serta contoh sikap hormat dan patuh dalam kehidupan sehari hari.

perilaku sikap hormat dan patuh kepada orang tua

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, ternyata tema mapel PAI kelas 8 atau 2 SMP MTs mirip seperti kelas 1 atau kelas 7 Sekolah menengah pertama/MTs.

Misalnya dalam tema hormat dan patuh kepada guru dan orang tua. Jadi adik adik mas mas mbak mbak Cuma mengulang materi sebelumnya tahun lalu.

Siapakah orang yang paling berjasa dalam kehidupanmu?

Dalam buku PAI menyebutkan bahwa orang tua dan guru merupakan orang paling berjasa dalam kehidupan kita.

Alasan berlaku hormat dan patuh kepada orang tua

Apa alasan harus berlaku hormat dan patuh kepada orang tua?

Kenapa kita harus menghormati orang tua? Berikan penjelasan!
Nah seperti itulah pertanyaan dalam soal ujian mid semester atau semesteran genap bagi siswa siswi kelas 2 SMP MTs.

Berikut penjelasan alasan kenapa harus hormat dan patuh kepada orang tua dalam bentuk ringkasan jawaban dalam Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 2 SMP MTs atau kelas 8.

Harap ingat dan catat, hanya sebagian saja, bukan alasan keseluruhan, sekiranya mencoba menghitung jasa ortu, maka anda akan gagal karena begitu banyaknya jasa bapak ibu.

Alasan hormat dan patuh kepada Ayah dan Ibu

Orang tua telah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada kita semenjak janin didalam kandungan.

Seorang ibu dengan penuh ikhlas merawat calon bayi di dalam kandungan selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari (masa kehamilan).

Selama masa kehamilan, seorang ibu mengalami keadaan susah payah yang bertambah-bertambah dengan semakin besar perutnya.

Meski dalam keadaan payah dan susah serta lelah, tidak ada keluh kesah seorang ibu pada waktu mengandung. Karena semua dijalani dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.

Saat melahirkan, ibu mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Dengan rasa yang sakit melahirkan.

Seorang ibu masih merawat bayi, Menyusui, mengganti popok, membersihkan dan memandikan, mencuci pakaiansampai dengan menemami tidur dilakukan ibu. Perlakuan ini dengan penuh ikhlas.

Apabila bayi terjaga di malam hari, ibu akan segera bangun untuk memastikan keadaan anaknya baik baik saja.

Ayah, sebagai kepala keluarga kerja keras tiap hari demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya yaitu isteri dan anak-anaknya.

Seorang ayah (normalnya) senantiasa setia dalam menemani dan menjaga isterinya disaat hamil maupun dalam keadaan yang lain.

Figur ayah Ayah juga berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi istri

Itulah sedikit faktor rasional kenapa kedua orang tua memiliki jasa sangat besar dalam hidup kita. Dengan izin Allah, Berkat keduanya kita bisa terlahir ke dunia ini.

Karenanya kita harus menghormati dan mematuhi nasihatnya.

Orang tua juga berandil besar dalam mendidik anak-anaknya melalui contoh perbuatan baik atau dengan mengajarkan secara langsung suatu ilmu pengetahuan anaknya meskipun tidak seperti pembelajaran pada sekolah atau madrasah.

Kedudukan Ayah dan Ibu dalam Islam

Dalam ajaran Islam, kedua orang tua memiliki kedudukan yang tinggi.

Setiap anak memiliki kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua, istilah ini disebut dengan istilah kata birrul walidain

Birrul walidain adalah sebagai berbakti kepada kedua orang tua.

Contoh Perilaku birrul walidain atau menghormati seperti mematuhi nasihat-nasihatnya

Seorang anak wajib menghormati dan mematuhi semua nasihat orang tuanya yaitu ayah dan ibu. Nasehat ini adalah selama keduanya tidak memerintahkan kemaksiatan atau kemusyrikan.

Bahkan seorang anak tetap harus menghormati kedua orang tuanya meskipun orang tuanya kafir (tidak beragama Islam).

Contoh sikap cara perilaku hormat dan patuh kepada Ayah dan Ibu

Berikut adalah contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua beserta sedikit uraian penjelasan.

Pada soal ujian baik mid semester, ataupun semesteran, LKS dan ulangan harian mungkin muncul perntanyaan seperti;

Sebutkan contoh sikap hormat dan patuh kepada orang tua!

Ada dua pembagian sikap hormat kepada orang tua, pertama yaitu sikap hormat dan patuh kepada orang tua saat keduanya masih hidup

Yang kedua yaitu hormat dan patuh kepada orang tua setelah keduanya meninggal dunia.

Mari kita bahas yang pertama yaitu perilaku hormat dan patuh kepada orang tua saat mereka masih hidup.

Contoh Hormat dan patuh kepada orang tua saat masih hidup

Ada 3 contoh yang ada (tentu kenyataannya banyak, dan seharusnya lebih banyak), ketiga contoh ini singkatnya adalah;

  • Mendengarkan nasehat orang tua
  • Membantu orang tua
  • Minta doa restu

Adapun penjelasaannya sebagai berikut;

Mendengarkan seluruh perkataannya dengan penuh rasa hormat dan rendah hati

Orang tua akan sangat bahagia jika anak-anaknya mendengarkan nasihat-nasihatnya.

Pastinya nasehat orang tua untuk kebaikan, tidak ada niat menjerumuskan sang buah hati.

Tentunya selain mendengarkan, juga melaksanakan nasehat orang tua dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebatas pada pencitraan.

Semua orang tua (ayah dan ibu) menginginkan anak-anaknya beserta keturunannya (dzurriyyah) mempunyai kehidupan lebih baik dari keadaannya.

Termasuk tindakan yang sangat tidak sopan dan perilaku tercela apabila seorang anak tidak mendengarkan perkataan dan nasihat dari orang tua.

Dan perlu mendapat perhatian yaitu pada waktu orang tua berbicara, maka jangan sekali-kali memotong pembicaraannya. Alasannya adalah perilaku ini (memotong pembicaran orang tua) bisa menyakiti hatinya.

Membantu pekerjaan rumah maupun lainnya yang bisa meringankan beban keduanya

Pekerjaan rumah selalu ada setiap hari, dan tidak ada habisnya. Contoh pekerjaan rumah misalnya isah isah (jawa : mencuci piring), umbah – umbah (mencuci pakaian; jawa) dan menyetrika baju, menyapu dan mengepel lantai, merapikan kamar tidur, menyiram tanaman, membersihkan halaman serta pekarangan depan rumah, menyiangi rumput halaman belakang dan lain-lain.

Bagi orang berada dan memiliki kelebihan harta mungkin ada asisten rumah tangga, semua atau sebagian pekerjaan ini ditangani olehnya.

Tentu pekerjaan rumah lebih ringan jika dibanding tanpa pembantu.

Pertanyaannya, bagaimana jika tidak ada pembantu? Apakah semua pekerjaan ini diselesaikan sendiri oleh ayah ibu kita?

Jika ingin menjadi anak shaleh tentu kalian akan membantu menyelesaikannya supaya beban orang tua menjadi lebih ringan.

Contoh contoh ini (membersihkan rumah dan lainnya) merupakan contoh pada waktu usia anak Sekolah maupun kuliah pada waktu masih tinggal bersama keduanya.

Pada waktu dewasa dan sudah bekerja, apalagi tinggal pada tempat yang berjarak (entah dekat atau jauh) maka membantu orang tua dengan cara yang berbeda.

Misalnya sigap dan cepat tanggap pada waktu disuruh orang tua, misalnya mengantarkan sillaturrahmi, menemani cek rutin ke dokter atau rumah sakit, mendampingi acara kondangan atau walimahan saudara saudari dan teman temannya.

Atau jika mampu untuk berusaha semampunya membantu perekonomian orang tua yang kondisinya perlu bantuan.

Misalnya turut serta melunasi hutang hutangnya.

Senantiasa meminta doa restu kedua orang tua

Tidak banyak penjelasan dalam buku PAI mengenai minta doa restu kepada orang tua. Ada tiga inti penjelsan atau keterangan mengenai restu orang tua untuk anaknya yaitu;

Setiap aktiftas yang dilakukan anak hendaknya mendapat restu dari orang tua (ayah dan ibunda).

Doa restu orang tua akan menjadi modal berharga dalam meraih kesuksesan.

Doa ini (restu kedua orang tua) menjadi penyempurna ikhtiar yang telah dilakukan anak.

Contoh Sikap hormat dan patuh kepada orang tua yang sudah meninggal dunia

Dalam buku PAI Kelas 2 SMP memberikan 3 contoh perilaku dan sikap patuh dan hormat kepada orang tua yang sudah meninggal dunia dalam kehidupan sehari hari.

Tiga sikap perilaku ini adalah

  • Menyambung sillaturrahmi dengan kerabat sahabat orang tua (ayah & ibu)
  • Melanjutkan cita – cita orang tua
  • Mendoakan ayah ibu orang tua ampunan kepada Allah SWT

Penjelasannya sebagai berikut;

Apabila sudah meninggal, maka cara berlaku hormat dan patuh misalnya dengan

Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dan sahabat beliau berdua

Bagi seorang anak, suatu keharusan untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga dekat, kerabat, serta sahabat dekat orang tua.

Dengan menjalin sillaturrahmi dengan mereka (sahabat dan kerabat ayah ibu orangtua) pada hakikatnya juga menjaga silaturahmi dengan orang tua.

Melanjutkan cita-citanya

Yaitu berupa cita cita yang baik dan tidak melanggar syariat.

Cita-cita mulia orang tua seperti ini (dalam buku PAI) bagi anak anaknya harus melanjutkan

Contoh cita cita mulia seperti, pembangunan masjid yang rintisan orang yang belum purna, maka sebagai anak harus melanjutkan pembangunan masjid tersebut.

Mendoakan ampunan untuk keduanya kepada Allah Swt

Doa anak kepada orang tua akan menjadi ladang pahala yang tiada terputus baginya di alam kubur. Sebab hanya anak shaleh yang bersedia mendoakan orang tuanya.

Adapun doa ini sangat terkenal dan sudah mulai diajarkan semenjak anak PAUD maupun masuk awal pada TPQ.

Yaitu berupa doa allahummaghfirlii waliwalidayya atau robbighfirlii wa liwaalidayyah warhamhumaa kamaa robbayaani sogiiraa.

Dalil Dalam Al-Qur’an

Sebutkan dalil al-Qur’an lengkap dengan nama surat beserta nomor ayatnya yang menunjukkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua birrul walidain berperilaku hormat dan patuh kepada ayah dan ibu!

Salah satu dalil berperilaku hormat dan patuh kepada orang tua terdapat dalam al-Qur’an surat An nisa ayat 36.

Adapun tulisan arab surat an nisa (surat keempat dalam al-Qur’an) ayat 36 beserta teks latin dan artinya bahasa Indonesia adalah;

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Tulisan latin an nisa ayat 36
Wa’budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan fakhụrā

Arti surat an nisa ayat 36 bahasa Indonesia ;
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

Dalam ayat ini (Q.S. An-Nisaa (4) ayat 36 perintah berbuat kepada orang tua merupakan perintah langsung Allah SWT.

Letak perintah dalam al-Qur’an untuk birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua) setelah perintah menyembah Allah SWT dan larangan menyekutukan-Nya.

Peletakan perintah ini (birrul walidain) menunjukkan bukti bahwa orang tua mempunyai tempat dan kedudukan yang sangat mulia dalam pandangan agama Islam

Demikian ringkasan informasi mengenai hormat dan patuh kepada orang tua mapel PAI Kelas 8 atau 2 SMP MTs, salam kenal, wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.