Arsip Tag: manajemen TPQ yang baik

TPQ Modern, Modernisasi metode mengajar dan manajemen

TPQ Modern, mengajari ngaji tanpa meninggalkan kearifan lokal, modernisasi metode mengajar dan manajemen pengelolaan. Kata modern biasanya merujuk kepada sesuatu yang baru dan kekinian mutakhir canggih, tidak usang.

Dengan begitu maka TPQ modern maksudnya Taman Pendidikan al-Qur’an yang kekinian mengikuti perkembangan zaman.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, barusan saya membaca artikel Modernisasi Pengelolaan TPQ Dalam Menjawab Tantangan Global kiriman Kemenag Kabupaten cilacap yang dipasang pada website resmi Kanwil Kemenag Jateng.

Dalam salah satu sambutannya, penyelenggara syariah yang mewakili Kankemenag dalam peresmian Baitul Muttaqin menyebutkan bahwa saat ini zamannya canggih, serba memakai teknologi utamanya bidang IT.

Untuk itu TPQ juga harus dikelola secara canggih dan modern.

Demikian salah satu arahan dalam sambutannya.

tpq modern

Entah bagaimana jika ditanyakan seperti apa kongkrit mengelola TPQ secara canggih, dan contoh model Taman Pendidikan a-Qur’an yang modern.

Saya tidak bisa membayangkan atau menganalisa seperti apa jawabannya.

Utamanya dalam contoh kongkrit dan model TPQ modern sebagai acuan.

Paling pol mentok nanti pada pembiayaan yang tidak ada dananya untuk membiayai TPQ yang modern dan canggih sebagaimana harapan.

TPQ yang Canggih dan Modern

Kalau menurut Kemenag, praktisnya TPQ yang canggih adalah;

  • Pertama, TPQ yang telah mendaftar dan memiliki SK Tanda Daftar LPQ dari Kepala Kantor Kemenag.
  • Yang kedua, yaitu TPQ yang aktif entry data EMIS.
  • Ketiga, taat pada aturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Percaya atau tidak kriterianya seperti itu, coba saja anda tanya ke pihak yang berkaitan.

Wah, semuanya berkaitan dengan administrasi kelembagaan dong? Iya karena salah satu tugasnya kemenag utamanya PD Pontren dan Seksi Pakis ya mendata keberadaan LPQ yang termasuk didalamnya TPQ baik modern maupun yang sudah kuno.

Bagaimana sih TPQ yang modern? Seperti apa? Adakah buku panduannya?

Mari kita jawab satu persatu.

Untuk buku panduan dalam membuat TPQ yang modern, tidak ada buku yang secara eksplisit memiliki judul seperti itu yang dikeluarkan oleh kementerian Agama (sepanjang yang saya tahu).

Buku panduan paling akhir yang saya temukan (terbitan Kemenag) release pada tahun 2013 (8 tahun yang lalu).

Itupun prosentase sudah berapa banyak TPQ yang paham saya yakin juga belum mencapai 80% dari akumulasi TPQ di Indonesia.

Untuk mengarahkan dan menuju Taman Pendidikan Al-Qur’an yang canggih dan modern maka perlu mengetahui komponen pokok dalam lembaga ini.

Apa saja?

  • Manajemen Pengelolaan
  • Para Pengelola
  • Kurikulum
  • Jajaran Pendidik dan tenaga kependidikan (ustadz-ustadzah & tata usaha)
  • Santri murid anak didik TPQ.
  • Fasilitas lembaga
  • Mengarahkan lembaga menjadi tempat belajar yang modern maka komponen ini harus bergerak kearah yang canggih.

Kenapa bergerak kearah yang canggih?

Kalau mau jujur, mayoritas penataan lembaga serta pengelola, ustadz pengajar, anak didik serta fasilitas lembaga masih jauh dari kata ideal untuk modernisasi, jika tidak mau dikatakan ketinggalan zaman.

Bagaimana mengarahkannya? Entah seperti apa, tetapi begini opini saya.

Menuju Manajemen pengelolaan TPQ Modern

Saya berasumsi, masih banyak lembaga TPQ yang manajemennya masih memprihatinkan.

Beberapa model manajemen TPQ yang menyandera TPQ menuju era modern misalnya;

Manajemen Ala Tukang Cukur

Manajemen tukang cukur, dimana pengelolaan TPQ ini seperti model tukang cukur.

Maksudnya?

Anda tau tukang cukur itu semuanya dikelola sendiri, mulai menyiapkan tempat, menerima pembayaran, memberikan uang kembalian, mencukur klien, intinya semuanya dilakukan sendiri.

Pada lembaga yang kekurangan guru, kejadiannya mirip seperti ini yaitu ustadz pengajarnya sebagai guru juga menjadi bagian tata usaha, yang mencari dana, yang mengabsen santri, yang bikin kurikulum, intinya guru TPQ menghandle semua urusan TPQ.

Idealnya bagaimana?

Mestinya guru TPQ bisa fokus mendidik santri tanpa perlu bingung mengenai pendanaan, takmir masjid atau yayasan maupun para pemangku kebijakan seharusnya mengambil alih dalam menggali dana untuk keberlangsungan TPQ.

Urusan administrasi lembaga, mestinya ada pihak khusus yang bertindak sebagai tenaga administrasi, mengelola data emis, surat keluar masuk, raport santri, termasuk apapun itu berkaitan dengan kegiatan administrasi.

Intinya pembagian tugas masing masing person jelas sehingga manajemen lembaga bisa berjalan dengan baik.

Model Mengajar Seingatnya

Yang kedua yaitu model manajemen mengajar seingatnya, termasuk salah satu ciri manajemen TPQ yang masih ora karu-karuan.

Maksudnya?

Yaitu materi mengajar TPQ tidak memiliki arah tujuan dan target yang jelas. Pemberian materi tergantung pada keinginan guru menyampaikannya, seingat dia apa, tidak urut dengan panduan dan target KBM tertentu.

Tidak semua lembaga memakai model manajemen seingatnya, tetapi menurut saya pribadi masih ada saja TPQ yang seperti itu.

Manajemen anak ayam kehilangan induknya.

Kalau ini bukan manajemen juga, tetapi keadaan pengelola TPQ yang seperti anak yatim piatu.

Bagaimana bisa?

Ya bisa saja, lumrah terjadi TPQ yang kegiatan belajar mengajarnya pada masjid, tetapi kenyataan dalam hal pendanaan, bimbingan dan support takmir masjid bisa dikatakan nol kontribusi.

Palingan saat lebaran saja ada tali asih (dalam pendanaan), untuk support lembaga supaya maju bagaimana caranya juga hampir-hampir pesimis jika mengharap gerak dari pengurus masjid.

Selanjutnya arahan dan bimbingan dari Kemenag. Anggaran yang minim serta banyaknya lembaga membuat lembaga TPQ seperti tidak tersentuh pendampingan secara nyata.

Modernisasi TPQ, jangan Bingung Kurikulumya

Contohnya, saat lembaga TPQ bingung seperti apa kurikulum TPQ, ternyata masih banyak lembaga yang belum mengetahui buku panduan dari Kemenag.

Padahal syarat mendaftarkan Lembaga TPQ ke Kemenag mensyaratkan 1 set kurikulum.

Untuk madrasah pendidikan formal saja mereka memiliki panduan. Anda tentu tahu yang namanya guru madrasah tentunya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman jam terbang jika anda bandingkan dengan guru TPQ secara umum.

Lha urusan kurikulum saja banyak guru TPQ yang tidak tahu harus bagaimana melangkah, ujung-ujungnya pendidikan TPQ materinya adalah seingat guru yang mengajar.

Untuk menuju TPQ modern maka berbagai situasi minus diatas perlu tindakan kongkrit dan eksekusi.

Mengubah Manajemen yang kurang Baik menuju modernitas tata kelola TPQ

Perihal manajemen tukang cukur, maka kepala TPQ mulai melakukan penataan lembaga, berkoordinasi dengan takmir masjid dan tokoh masyarakat.

Sebelumnya perlu membuat desain seperti apa nanti TPQ hendak dijalankan, selembar dua lembar kertas uraian bisa menjadi pendamping dalam membuat rancangan arah TPQ, misalnya pendanaan dengan SPP santri, donatur tetap lingkungan kiri kanan, 10 persen infaq masjid dan lain sebagainya.

Yang kedua menghilangkan model pembelajaran seingat guru. Caranya membuat kurikulum atau mengaplikasikan panduan dari Kemenag. Jangan lupa laksanakan kurikulum ini semendekati mungkin.

Jujur saja saya agak ragu jika TPQ bisa mengadaptasikan matriks pembelajaran TPQ secara komprehensif.

Kenapa begitu? TPQ tingkat c pada panduan Kemenag sudah selesai ilmu tajwid bacaan gharib.

Guru TPQ berapa banyak yang menguasai bacaan gharib?

Urusan anak ayam kehilangan induknya, maka perlu ustadz ustadzah TPQ berkomunikasi dengan takmir masjid.

Menyampaikan program selama satu tahun, dan membuat surat pemberitahuan anggaran biaya. Perkara diberi atau tidak yang penting sudah berusaha.

Karena perekonomian masjid juga tidak semua sama, maka dalam menyusun anggaran anda perlu melihat kondisi kas masjidnya.

Jika memang seret buatlah sederhana saja, misalnya untuk keperluan ATK kegiatan belajar mengajar selama satu tahun.

Guru TPQ yang modern

Saya pribadi tidak melihat bahwa seorang guru TPQ harus memiliki ijazah tertentu pada pendidikan formal.

Sebenarnya syarat menjadi guru TPQ (menurut opini saya) itu ada 3;

  • Mau mengajar rutin
  • Memiliki keinginan belajar yang kuat (dalam keilmuan KBM TPQ)
  • Mengaplikasikan teori mendidik santri TPQ secara sungguh-sungguh

Berijazah S.Ag, atau SHI, S.Pd.I maupun gelar pendidikan yang ada keagamaan Islamnya tidak menjamin para sarjana ini mau terjun mengajar TPQ.

Kebanyakan memburu aktivitas ekonomi maupun pekerjaan yang lain.

Memang ada yang mengajar, tapi apabila anda rasio berapa banyak alumni sarjana agama yang mengajar TPQ maka anda akan menemukan angka yang tidak terlalu banyak dalam prosentase.

Makanya saya beranggapan gelar pendidikan bukan syarat untuk menjadi guru TPQ, tetapi kemauan dan kompetensi keilmuan lebih penting.

Menjadi Guru pada TPQ Modern

Bagaimana menjadi guru TPQ yang modern?

Ada 3 kemampuan pokok yang harus gur TPQ miliki yaitu;

  • Menguasai materi pembelajaran TPQ;
  • Memiliki pengetahuan psikologi anak;
  • Mempunyai bekal keilmuan dalam metode dan menyampaikan materi pembelajaran

Apapun basic anda, apapun ijazah sampean, jika menguasai ketiga hal ini menurut saya pribadi sudah cukup untuk menjadi guru TPQ yang berkompeten.

Tidak peduli ijazah anda hanya SD atau bahkan tidak punya ijazah formal sekalipun, kalau anda memiliki ketiga kemampuan diatas maka menurut saya anda adalah guru TPQ yang berkompeten.

Sarana Prasarana

Jujur saja, sudah bertahun tahun semenjak saya kecil, urusan sarana prasarana TPQ ya berkutat itu-itu saja.

Apa saja coba?

  • Buku atau kitab untuk belajar membaca
  • Papan tulis beserta kapur spidolnya
  • Meja untuk belajar

Jarang saya menemukan TPQ yang full ac dan setiap kelas ada lcd proyektornya, malah sejujurnya saya belum pernah menemukannya.

Apakah arahnya harus memiliki LCD projector?

Menurut saya engga juga sih, lagian duitnya siapa, untuk nyari SK Kemenkumham sebagai syarat mendaftarkan TPQ ke Kemenag sudah membuat pusing seribu keliling. Apalagi mikir beli LCD.

Yang jelas begini, urusan alat gadget dan lainnya berbanding lurus dengan kemampuan keahlian IT pengajarnya.

Kalau gurunya masih gaptek, maka alat-alat canggih kurang maksimal dalam menggunakannya.

Memanfaatkan Media Yang Modern

Kalau guru gurunya jago IT tentu bisa memanfaatkan celah keterbatasan keadaan dengan kemampuannya.

Misalnya membuat blog, channel youtube untuk pembelajaran TPQ, animasi dan lain sebagainya, masih jauh, tapi kalau mau modern juga perlu mulai untuk menuju kesana.

Nah yang terakhir yaitu TPQ tidak meninggalkan kearifan lokal, saya agak bingung sendiri kenapa bikin judul seperti itu.

Sepanjang yang saya tahu memang islam sifatnya universal untuk seluruh umat manusia, jadi tentu bukan yang sifatnya lokal.

Tapi ya entahlah, kurang paham juga, yang jelas dalam kearifan lokal selama tidak berupa maksiat dan hal berdosa atau perbuatan syirik tentunya bukan hal yang masalah bagi lembaga TPQ dalam mensikapi kearifan lokal.

Nglantur kemana saja ini, jika anda punya opini TPQ modern, silakan anda tuliskan pada kolom komentar, wilujeng enjang, wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

3 Problem mendaftarkan TPQ ke Kemenag; Bdn Hkm, Kurikulum, ruang

Problem mendaftarkan TPQ ke Kemenag Badan Hukum & Kurikulum, kesulitan lembaga pengelola TPQ TPA dalam mengajukan SK Tanda Daftar LPQ dari Kepala Kantor Kementerian Agama sebagai bukti keabsaan lembaga dalam tatanan administrasi kenegaraan.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, sampean tentu sudah paham ketentuan bahwa lembaga TPQ yang memiliki jumlah santri minimal 15 orang harus mendaftarkan keberadaannya pada Kemenag.

Ketentuan ini (santri lembaga 15 untuk mendaftarkan diri ke Kemenag) bisa anda lihat dalam PMA nomor 13 tahun 2014 tentang pendidikan Keagamaan Islam.

Lebih jelasnya mengenai santri TPQ berjumlah 15 dalam PMA no 13 th 2014 pasal 45, dalam ayat (4) dikatakan bahwa

Pendidikan diniyah nonformal yang diselenggarakan dalam bentuk program sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan memiliki peserta didik paling sedikit 15 (lima belas) orang harus mendaftarkan ke Kantor Kementerian Agama kabupaten / kota.

PMA no 13 tahun 2014

Dalam hal ini, TPQ termasuk sebagai pendidikan diniyah nonformal rumpun LPQ (Lembaga Pendidikan Al-Qur’an).

Kesimpulan pada pasal 45 ayat 4 PMA no 13 tahun 2014 adalah lembaga pendidikan islam nonformal yang memiliki santri minimal 15 orang harus mendaftarkan ke Kemenag Kabupaten atau Kota.

Regulasi Mendaftarkan TPQ Ke Kemenag

Dalam regulasi mendaftarkan TPQ ke Kemenag mengacu kepada SK Dirjen Pendis no 91 tahun 2020.

Perdirjen ini tentang petunjuk pelaksanaan penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur’an termasuknya Taman Pendidikan TPQ.

Apa saja syaratnya? (dalam SK Dirjen Pendis no 91 th 2020)

Secara garis besar, syarat pendaftaran TPQ ke Kementerian Agama adalah;

  • Dibawah organisasi Berbadan hukum
  • Memiliki struktur organisasi lembaga
  • Jumlah minimal peserta didik 15 santri
  • rekomendasi pejabat Kankemanag Kabupaten/Kota
  • 1 (satu) set kurikulum
  • kompetensi kepala, guru dan tenaga kependidikan
  • ruangan KBM yang representatif

dalam persyaratan ini, ada kendala yang menghadang lembaga untuk mendaftarkan lembaganya ke Kemenag.

Mari kita analisa satu persatu.

Problem mendaftarkan TPQ Ke Kemenag

Yang namanya problem adalah kendala atau kesulitan. Perihal mendaftarkan TPQ untuk mendapatkan nomor statistik dan piagam terdaftar ini muaranya pada pendanaan dan kekurangan SDM.

Memangnya apa saja kendalanya sih?

Kalau urusan santri minimal 15 orang tentu bukan masalah. TPQ mudah memenuhi syarat ini.

Rekomendasi pejabat Kemenag? Bukan juga, urusan rekomendasi sebenarnya tinggal membuat permohonan, terlepas dari birokrasi mbulet, termasuk bukan masalah yang tidak bisa diatasi.

Memiliki struktur organisasi? Bukan juga, mudah untuk membuat bagan dan ketentuan strukturnya, tinggal copy paste atau download dari situs yang banyak menyediakannya, tinggal edit dan modifikasi.

Kompetensi tenaga pendidik dan pendidikan? Kalau ini bisa iya, bisa juga tidak. Karena saat ini belum ada aturan sebagai pedoman lembaga maupun kemenag untuk acuan.

Pada SK Dirjen pendis no 91 th 2020 menyebut akan diatur dalam ketentuan yang lain (mengenai kompetensi tenaga pendidik).

Terus apa dong? Menurut opini pontren.com, inilah kendala lembaga TPQ dalam mendaftarkan diri ke Kemenag.

Dibawah organisasi lembaga berbadan hukum

Organisasi atau lembaga berbadan hukum ini bisa berupa yayasan atau berwujud kelompok.

Yang menjadi titik point adalah berbadan hukum, masalahnya terletak pada biaya untuk membuat yayasan atau kelompok berbadan hukum.

Kebanyakan lembaga TPQ miskin kas dan memprihatinkan keuangannya.

Membuat badan hukum tidak cukup uang 50 ribu saja, bahkan mencapai jutaan rupiah.

Belum lagi pejabat yang menafsirkan apabila TPQ hendak menginduk ke yayasan, maka ketentuannya adalah yayasan yang bonafide.

Bonafid itu seperti apa?

Bingung juga dia memberikan batasan sebagai dasar menentukan bonafid tidaknya yayasan organisasi.

Akhirnya memberi contoh NU dan Muhammadiyah.

Sayangnya, dalam menginduk ini bukan hanya sekedar menginduk, ada yang mensyaratkan harus ada surat dari organisasi yang menerangkan lembaga ini (TPQ) menginduk kepada organisasinya.

Dalam membuat surat pernyataan atau surat keterangan harus didepan notaris.

Anda tahu dampaknya? Mbayarrrr.

Sangat disayangkan, pondok pesantren yang didirikan oleh perorangan saja dia tidak memerlukan yayasan atau lembaga berbadan hukum.

Lha ini TPQ yang sifatnya lebih cair dan begitu sederhana malah harus berada dibawah badan hukum, udah begitu ada yang membuat ketentuan menginduknya begitu membuat lembaga sesak napas.

Mati pelan pelan nanti TPQ nya.

Masalah 1 set kurikulum

Problem mendaftarkan TPQ ke Kemenag. Kurikulum merupakan salah satu komponen dasar dalam dunia pendidikan belajar mengajar, baik formal nonformal. Apapun itu jenisnya.

Menurut saya pribadi sudah benar ada syarat keberadaan kurikulum untuk mendapatkan nomor statistik dan piagam tanda daftar untuk TPQ.

Ada sayangnya, saat ini contoh seperti apa kurikulum TPQ begitu terbatas, buku panduan Kemenag dan regulasi yang ada mempunyai perbedaan.

Contoh kongkritnya dalam jenjang pendidikan TPQ.

Pada buku panduan TKQ dan TPQ Kemenag tahun 2013 membagi jenjang TPQ menjadi 3 yaitu Level A, B, dan C.

pedoman kurikulum TPQ
buku kurikulum TPQ

Sedangkan pada regulasi SK Dirjen Pendis no 91 tahun 2020 menyebutkan bahwa pendidikan TPQ ditempuh dalam jangka waktu antara 2 sampai dengan 4 tahun.

Jadi lembaga perlu susah payah menyingkronkan antara buku panduan dengan regulasi yang ada.

Apakah anda melihat, atau setidaknya mendengar, atau minimal mendengar gossip bahwa Madrasah Ibtidaiyah Tsanawiyah Aliyah memiliki buku panduan kurikulum? Bahkan sampai dengan setiap mata pelajaran?

Tahukah bahwa para pengelola madrasah ini adalah orang orang profesional pada bidang pendidikan, apalagi melihat latar belakang pendidikan serta pengalaman dan jam terbang.

Nah mereka saja yang profesional dan latar pendidikan sejalur serta jam terbang tinggi masih mendapatkan panduan kurikulum yang (meskipun bejibun) bisa menjadi panduan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sekarang kita melihat kepada Lembaga TPQ.

Apakah anda menemukan panduan TPQ dalam kurikulum?

Apakah anda mempunyai SK Dirjen maupun apalah itu nama dan bentuknya sebagai acuan dan panduan TPQ?

Kalau ada alhamdulillah, saya ketinggalan kereta mengetahui info ini. Yang saya tahu adalah buku panduan yang terbit 8 tahun yang lalu, bahasa kerennya usia sewindu. Kalau anak manusia biasanya sudah kelas 2 MI.

Jadi sepanjang yang saya pahami, lembaga harus menganalisa sendiri hendak dibuat seperti apa dan bagaimana TPQ nya dalam kurikulum. Mau tidak mau ya harus, karena syaratnya begitu, dan juga belum ada SK Dirjen Pendis mengenai kurikulum TPQ.

Kemenag tidak mau mengatur atur kurikulum TPQ, semuanya diserahkan kepada lembaga, misalnya ada yang komenatar seperti itu.

Ya monggo silakan saja, jadi bentuknya bisa sebagai panduan bagi lembaga masih perlu pendampingan. Sifatnya adalah acuan saja, bukan keharusan TPQ kudu mengikutinya.

Supaya TPQ yang awam bisa memiliki pegangan yang jelas, setidaknya sebagai pondasi kegiatan belajar mengajar.

Permasalahan Ruangan KBM yang representatif

Problem mendaftarkan TPQ ke Kemenag. Perdirjen no 91 tahun 2020 mengatur mengenai ruangan kegiatan belajar mengajar adalah suatu tempat yang representatif, maksudnya layak dan menunjang KBM dengan baik.

Apesnya, khusus TPQ mendapat beban tambahan mengenai ruangan.

Tambahan khusus untuk TPQ ini berbunyi; Untuk TPQ dipersyaratkan memiliki ruang belajar, ruang guru, ruang kepala, ruang administrasi, ruang ibadah, ruang bermain, dan tempat bersuci.

Kenyataan di lapangan, banyak TPQ yang hanya belajar pada emperan masjid atau teras depan, adapula yang KBM nya berada dalam masjid dan mushalla.

Apabila syarat Kemenag mengenai ruangan ini berbentuk tembok yang memisahkan ruang satu dengan ruangan lainnya, ngalamat Taman Pendidikan Al-Qur’an banyak yang kukut tidak memenuhi syarat.

Karena apa?

Karena lembaga TPQ harus memiliki ruangan sendiri sendiri yaitu berupa;

  • ruangan belajar;
  • ruang guru;
  • ruang kepala;
  • ruangan administrasi;
  • ruang ibadah;
  • ruang bermain; dan
  • tempat bersuci.

Duit darimana untuk membangun 6 (ruang belajar tidak dihitung) ruangan ini?

Berapa yang diberikan Direktur Pendidikan Islam untuk mewujudkan TPQ yang memiliki 7 ruangan ini? 1 miliar? 4 miliar? Wah saya jelas tidak tahu alokasi anggarannya.

Lain lagi jika ruangan ini sifatnya fleksibel.

Maksudnya ruangan hanya berupa sekat biasa atau tempat duduk yang menunjukkan area tertentu menandakan wilayah ruangan tanpa adanya sekat.

Entahlah siapa yang merancangnya, bukan saya melihat rancangan ini untuk menghidupkan lembaga TPQ supaya maju tapi malah seperti mematahkan semangat para pengelolanya sehingga banyak TPQ yang tidak bisa mendaftarkan ke Kemenag.

Nah itulah opini problematika masalah dan kesulitan pengelola lembaga TPQ dalam mendaftarkan ke Kemenag. Wilujeng enjang, wassalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Cara mengajar iqro yang menyenangkan

Cara mengajar iqro yang menyenangkan. Tips kiat bagi guru ustadz ustadzah dalam melaksanakan KBM TPQ yang menyenangkan supaya santri tidak bosan mengaji berdasarkan saran para praktisi dan ahli.

pontren.com – assalamu’alaikum, mungkin anda bertanya, kenapa judulnya “hanya” cara mengajar metode iqro yang menyenangkan? Padahal banyak metode pembelajaran TPQ yang lain semisal yambua, tilawati, qiroati, ummi dan lainnya.

Asumsinya begini, saat ini mayoritas TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an atau TPA) menggunakan metode iqro dalam kegiatan belajar mengajarnya, dan sebagian yang lain memakai metode yang saya sebutkan diatas.

Buktinya?

Anda bisa melihat lembaga pendidikan al-Qur’an islam nonformal sekitar anda. saya yakin anda lebih mudah menemukan dengan menggunakan iqro daripada metode ummi atau tilawati, yambua maupun qiroati.

Sekarang saya berasumsi begini, jika anda menanyakan sampai dimana tingkat pembelajaran anak mengaji pada TPA, bagaimana sampean tanya pada si anak?

Saya kira anda akan bertanya begini;

Sampai iqro berapa? Jilid berapa? Bukan bertanya kelas berapa pada TPQ. Bener ngga?

Dari asumsi sederhana ini makanya saya membuat judul seperti itu.

Yang jelas, cara ini mengajar metode iqro yang menyenangkan ini bisa anda ejawantahkan dan aplikasikan pada metode pembelajaran yang lain semisal yambua tilawati qiroati dan lainnya.

Kembali lagi cara mengajar iqro yang menyenangkan, maka anda perlu menyadari komponen yang melekat pada cara ini.

Adapun menurut saya, apabila ada seorang guru ustadz ustadzah Taman Pendidikan Al-Qur’an hendak menjadi pendidik yang menyenangkan dalam Kegiatan Belajar Mengajar metode Iqro maka perlu memiliki;

Itulah 5 hal menurut pontren.com yang perlu melekat pada diri guru TPQ yang ingin bisa mengajar TPQ secara menyenangkan dan menghindarkan anak rasa bosan.

Mari kita bahas satu persatu mengenai komponen yang sudah kami sebutkan.

Kemampuan dan memahami cara metode pembelajaran iqro

Untuk mendapatkan hasil maksimal dalam KBM memakai metode iqro, seorang guru mesti memahami cara mengajarnya sesuai dalam rancangan yang telah digariskan para penyusun metode ini.

Susunan metode iqro terdiri dari 6 jilid. Sampean pasti mengerti hal ini, kalau tidak tahu, yaa… gak mungkinlah, saya yaqiiin njenengan paham iqro ada 6 jilid.

tujuan pembelajaran TPQ
ustadzah TPQ di jawa barat sedang menyimak santri mengaji

Tulisan ini saya sarikan dari journal unilak dengan judul Penerapan Metode Iqro Sebagai Kemampuan Dasar Membaca Al-Qur’an Di TK Hiama Kids karya Zulfitria (Universitas Muhammadiyah Jakarta), Zainal Arif (Universitas Muhammadiyah Tangerang)

Adapun memahami cara pembelajaran metode iqro yaitu dengan paham sifat sifat pembelajarannya.

Apa saja sifatnya?

Berikut adalah sifat-sifat pembelajaran metode iqro.

Bacaan Langsung

Maksudnya dengan bacaan langsung yaitu santri membaca tanpa mengejanya.

Singkatnya kebalikan dengan metode baghdady.

Singkatnya guru tidak mengenalkan huruf hijaiyah maupun harakat kepada santri, tetapi langsung membaca huruf hijaiyah dengan harakatnya sepeti a ba ta tsa dan selanjutnya.

Yang jelas anda paham seperti apa yang saya maksudkan.

CBSA

CBSA merupakan singkatan dari Cara belajar siswa aktif, pada era 90 an metode ini dipergunakan pada sekolah-sekolahan. Termasuk untuk saya belajar pada sekolah pada masa itu.

Yaitu metode yang menekankan kepada santri supaya aktif dalam belajar membaca. Posisi guru atau pendidik sebagai pemantau dan pembimbingnya.

Privat

Kira-kira seperti metode sorogan pada pondok pesantren. Santri siswa TPQ dalam membaca iqro harus berhadapan langsung dengan guru.

Tujuannya supaya santri bisa tahu makharijul huruf, pengucapan, panjang pendek serta kaidah membaca dengan benar.

Dalam hal privat, secara teknis pelaksanaannya yaitu satu persatu santri disimak oleh gurunya.

Sayangnya metode privat ini memiliki kelemahan pada TPQ yang membludak jumlah santrinya dengan rasio guru yang sedikit.

Sehingga waktu privat menyedot banyak waktu dan penyampaian materi klasikal menjadi kurang.

Dampaknya pembelajaran materi selain membaca (seperti pelajaran SKI, Fiqih, Aqidah, Akhlak dan lainnya) menjadi terabaikan.

Pengecualian apabila rasio guru memadai. Tentu kegiatan privat malah menjadi sangat bagus karena tercapai cara membaca yang baik dan tersampaikan materi keislaman secara mencukupi.

Modul

Sebagaimana sudah sampean ketahui, Iqro mempunyai 6 jilid.

Dalam menyelesaikan materi iqro atau naik jilid bergantung kepada masing-masing santri.

Bukan berdasarkan jenjang kelas level anak didik.

Mudahnya begini, setiap santri independen dalam naik tingkat jilid TPQ tanpa ada pengaruh dari santri lainnya.

Saya pribadi sebagai orang yang pernah menjadi praktisi pengajar TPQ adakalanya kesusahan memadukan kelas dan kemampuan santri dalam jilid iqro.

Kenapa bisa terjadi?

Adakalanya anak kelas 1 atau 2 SD sudah ada yang mahir dalam membaca, misalnya sudah mencapai jilid iqro 5.

Pada saat yang sama masih ada anak didik santri kelas 4 SD yang belum lancar dan terbata bata membaca iqro jilid 2.

Kesulitannya jika menjadikan mereka dalam satu kelas tentu susah pada saat melakukan pembelajaran mengajar huruf hijaiyah karena beda kemampuan.

Jika mengajar materi pembelajaran lain (sejarah fiqih dll), anak yang sudah mahir mengaji bisa saja kerepotan belajar karena dia masih anak usia kecil.

Bagaimana pengalaman anda?

Variatif

Dalam pembelajarannya, metode iqro memiliki 6 jilid memakai sampul berwarna warni.

Tujuan warna warni ini menurut kedua penulisnya supaya menarik para siswa dalam belajar dan menghindari kejenuhan pada saat kegiatan belajar mengajar pada TPQ.

Komunikatif

Memakai kalimat yang mudah untuk dipahami dan dicerna alam menggunakan kalimat serta kata pendampingan menyimak santri membaca.

Komunikasi guru pendamping lazim saat santri melakukan kesalahan bacaan, awal membaca guru memberikan arahan awal halaman, serta menjelaskan lafal lafal yang unik dan khusus.

Fleksibel

Metode ini memiliki fleksibilitas tinggi untuk berbagai usia, mulai anak paud TK, mahasiswa sampai dengan dewasa orang tua.

Flesibel usia belajar juga dalam hal metode mengajarnya. Siapapun yang sudah bisa membaca al-Qur’an bisa mengajar metode iqro ini.

Berbeda dengan metode lainnya perlu belajar cara mengajar serta metodenya terlebih dahulu apabila hendak mengajar dengan metode tertentu.

Nah itulah sifat-sifat metode iqro yang perlu guru kuasai dalam rangka menggunakannya untuk kegiatan KBM pada Taman Pendidikan al-Qur’an.

Mengajar Iqro : Memiliki tutur kata dan isi omongan yang baik dan lemah lembut

Cara mengajar iqro yang menyenangkan anda tidak bisa mengabaikan perilaku, pemilihan kata, dan gaya menyampaikan kalimat dari guru kepada siswa.

Langkah selanjutnya seteah menguasai pembelajaran iqro yaitu adalah berkenaan dengan akhlak guru kepada santri dalam menyampaikan pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung.

Anda pernah mendapat bentakan saat belajar? Pernah dihardik pada waktu kecil?

Atau anda pernah mendapat pemberitahuan didepan banyak teman yang membuat anda malu karena melakukan kesalahan?

Anda sampai saat ini masih mengingatnya?

Apakah anda menyukai kejadian seperti itu?

Nah kira-kira seperti itulah yang santri anda hadapi saat anda menyimaknya menggunakan metode iqro.

Dalam mengajar maupun kegiatan privat, anda perlu meningkatkan kualitas kepribadian anda pada level lebih baik.

Maksudnya menjadi guru yang meminimalisir hardikan, memermalukan santri didepan temannya, atau bentakan yang tidak perlu.

Kenyamanan santri dalam belajar perlu anda pupuk sedemikian rupa sehingga dia merasa belajar iqro adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan situasi seperti film horror yang tegang dan menakutkan.

Padahal anda perlu berlaku tegas dan jelas pada saat anak ramai, tidak fokus belajar, dan keusilan anak seusia TK dan SD.

Begitulah seninya, meminimalisir emosi anda tanpa harus mengurangi ketegasan supaya anak didik tetap pada jalur belajar yang tenanan dalam mengaji.

mengajar iqro : Kemampuan memberi semangat dan motivasi kepada anak didik (santri)

Penunjang cara mengajar metode iqro yang menyenangkan yaitu memberikan motivasi an semangat. Setelah anda memiliki kecerdasan mengontrol emosi, lanjutnya yaitu meningkatkan skill untuk memberi semangat dan motivasi kepada santri TPQ.

Semangat ini berupa ungkapan simpel sederhana maupun berupa bentuk apresiasi kesuksesan anak dalam belajar.

Contohnya nilai yang bagus, pujian yang tulus, atau bilamana lembaga memiliki kas dapat memberikan hadiah kepada santri yang pesat perkembangan mengaji atau terbaik dikelasnya.

Bentuk lain motivasi juga anda dapat berkomunikasi kepada orang tuanya dan memberikan informasi perkembangan baik sang anak.

Perlu anda tidak menginfokan sisi negatif anak kepada orang tua supaya mereka merasa aman jika dia mengaji kepada anda.

Sang anak akan merasa sangat tidak enak hati dan jengkel apabila mendapat teguran orang tuanya hasil laporan gurunya.

Misalnya orang tua menegur “bu gurumu bilang kamu suka ramai dan nakal saat berada di sekolah”.

Situasi ini membuat anda sebagai terdakwa tukang mengadu peristiwa pada TPQ kepada orang tua.

Saya pribadi memandang ini (mengadukan) dapat merusak suasana hubungan emosional anda dengan sang anak, utamanya pandangan anak kepada anda.

Akan sangat menyenangkan hati anda jika anak didik mengatakan bahwa anak menyukai anda dan ingin seperti anda.

Kenapa anak bisa begitu?

Karena anak menyukai anda, tidak mungkin dia bicara begitu jika dia tidak menyukai anda.

Kenapa santri menyukai?

Tidak lepas sang anak merasa nyaman dalam kegiatan belajar mengajar dan melihat anda pribadi yang charming, cerdas serta patut menjadi inspirasi hidupnya.

Pengetahuan ice breaking dan bermain game untuk mengajar iqro yang menyenangkan

Dunia anak adalah dunia bermain, begitulah kira kira dalam beberapa quotes yang pernah saya baca atau saya dengar.

Enggak usah anak-anak, saya saja yang sudah bangkotan masih suka maen dan ngegame.

Tentunya main hape tidak boleh dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar di TPQ.

Akan tetapi, sesekali perlu seorang guru mengajakpara santrinya untuk bersantai sejenak dengan melakukan permainan.

Atau bisa memasukkan game permainan TPA atau TPQ simpel berupa tepuk tangan yang pada permainan tepuk ini dalamnya memuat unsur pendidikan.

Contoh misalnya tepuk islam, tepuk iman, dan yang lainnya.

Menurut pengamatan saya pribadi, banyak anak yang hanya hafal dan kurang meresapi apa yang ada dalam permainan tepuk tangan ini.

Sesekali guru perlu meluangkan waktu sejenak menerangkan isi game tepuk tangan, supaya anak bisa lebih memperhatikan isi permainan.

Memiliki variasi game yang banyak juga menunjang anak untuk menyukai guru. Tentunya permainan yang seru dan kesukaan para santri.

Pertandingan dan kompetisi serta hadiah bagi pemenang bisa memacu semangat mereka.

Urusan hadiah adakalanya tidak menjadi masalah apa itu bentuknya.

Anda bisa memberi hadiah skor nilai lebih tinggi bagi kelompok yang menang, baik dalam hal kerapian, ketepatan menjawab atau suka suka anda memilih pemenangnya.

Darimana mencari bahan permainan?

Internet 😀 ;D 😀

Sebenarnya saya hendak mengumpulkan berbagai model tepuk tetapi sudah banyak yang mengulasnya.

Opini saya, yakin tiap TPQ memiliki guru yang cerdik pandai dalam memimpin dan mengatur game untuk para santrinya.

Kemampuan mendongeng yang baik (mengajar iqro)

Orang tua itu menurut saya banyak yang suka bicara dan pengen didengarkan lawan bicaranya.

Anak-anak senang mendengar kisah cerita yang baik dalam menyampaikannya.

Kebanyakan guru TPQ adalah mereka yang remaja dan dewasa, asumsi saya suka untuk berkata-kata dan memerlukan obyek untuk mendengarkan.

Seharusnya klop, sampean bicara, anak-anak mendengarkan.

Tetapi lain situasinya saat moment mendongeng atau bercerita.

IMHO (in my humble opinion, ceilee sok inggris) kegiatan bercerita atau mendongeng pada TPQ tidak memerlukan cerita yang menarik berliku, alur cerita sederhana pun juga tidak masalah.

Yang penting dalam mendongeng pada TPQ adalah bagaimana menyampaikan kisah ini secara menarik.

Cerita bunga berada dikebun yang ngobrol dengan katak, tentu bagi orang dewasa engga ada bagusnya untuk dibahas.

Tetapi bagi anak-anak, dengan keberadaan pendongeng yang baik, mereka tidak peduli bahwa kisahnya sederhana, alurnya biasa saja, yang penting seru mendengarkan.

Salah satu yang perlu anda pertimbangkan untuk memiliki kemampuan mendongeng yang baik adalah efeknya.

Maksudnya bagaimana?

Dalam hal ini, mendongeng merupakan cara yang efektif dan menyenangkan dalam menyampaikan pesan.

Tentunya pesan yang baik bagi para santri baik motivasi hidup, semangat belajar, berpegang teguh dalam agama, kuat memegang sikap jujur dan lain sebagainya.

Bagaimana bisa bercerita dengan baik dan menjadi pendongeng yang sukses menarik perhatian anak?

Ada beberapa teknik yang anda bisa lihat dari berbagai sumber, saya petikkan beberapa tips ini sebagaimana berikut.

Media mendongeng

Untuk menghidupkan kisah cerita, guru TPQ bisa memakai finger puppet ataupun hand puppet.

Maksudnya adalah boneka jari tangan atau juga boneka tangan.

Tidak perlu saya jelaskan, anda pasti sudah punya gambaran maksud dari boneka jari atau tangan ini.

Jika susah, anda bisa memakai kertas origami atau kertas biasa dan anda buat sebagai karakter tokoh yang hendak anda ceritakan.

Media yang lain adalah berupa buku.

Metode ini juga disebut dengan read aloud alias membaca lantang.

Anda bisa mendongeng kepada santri anda sembari menunjukkan gambar-gambar yang ada pada buku (tentu sampean perlu buku berkait dengan dongeng yang anda ceritakan).

Cara ini lebih mudah daripada model memakai media boneka, syaratnya anda punya bukunya.

Bagaimana jika tidak punya buku dan boneka?

Nah ini adalah media yang setiap orang punya.

Apa itu medianya?

Medianya adalah diri anda sendiri.

Tanpa menggunakan media apapun, hanya menggunakan ekspresi wajah anda, gerak gerik anggota tubuh anda, memakai intonasi dan berbagai suara yang bisa anda hasilkan.

Dalam mendongeng memakai diri sendiri sebagai media, apabila sukses (membengongkan anak mendengar cerita anda) berarti anda sudah hebat dalam mendongeng.

Tips kak Wees dalam mendongeng utamanya ekspresi tubuh adalah jangan malu!!

Anda harus benar benar full berekspresi pada saat mengekspresikan tokoh dalam cerita dongeng anda.

Baik ekspresi marah, tertawa, anak kecil menangis, nenek yang bertanya dan lain sebagainya.

Istilahnya adalah All out. Mengeluarkan segalanya alias tidak malu malu mengekspresikan apapun.

Menguasai teknik mendongeng

Setelah mengulas mengenai media dalam mendongeng, maka selanjutnya adalah tahu apa saja dalam teknik mendongeng.

Apa saja tekniknya?

Yang pertama adalah teknik olah vokal dalam mendongeng.

Teknik ini terdiri dari pernafasan, intonasi, artikulasi dan volume suara.

Teknik pernapasan ini penting, alasannya dengan teknik pernafasan yang baik pendongeng bisa memiliki energi cukup untuk bercerita dalam durasi waktu tertentu.

Bagaimana cara belajar teknik pernapasan?

Mengutip kids.grid.id, cara belajarnya adalah memulai bernafas melalui hidung, kemudian jangan lupa untuk memberi jeda saat bicara supaya tidak membuat pendongeng kehabisan nafas.

Akibat kehabisan nafas adalah tersengal-sengal pada waktu mendongeng, ini tentu kurang baik untuk mood para santri yang mendengarkan dongeng.

Unsur teknik mendongeng selanjutnya adalah intonasi.

Intonasi ini harus terdengar bagai alunan sebuah nada.

Pentingnya intonasi dalam bercerita supaya dongen yang disampaikan terdengar menarik.

Teknik selanjutnya yaitu artikulasi alias mengeja kata dengan tepat.

Ucapan yang jelas dan benar setiap kata yang keluar dari mulut pendongeng, maka cerita yang disampaikan menjadi lebih jelas bagi para penyimaknya. Dalam hal ini adalah santri metode iqro.

Volume suara juga unsur yang penting dalam mendongeng, tinggi rendahnya keras tidaknya suara bisa anda perhatikan berdasarkan situasi suasana.

Yang jelas jangan ada santri yang kesulitan menangkap suara anda.

Disinilah fungsi teknik suara lantang. Bukan berarti teriakan yang mengganggu, lebih tepatnya adalah setiap pendengar mampu menangkap suara anda dengan jelas.

Bagaimana cara membedakan suara mengganggu dan suara lantang?

Sampean bisa merekam suara sampean dan memperkirakan apakah suara anda bisa disimak dengan jelas atau sebaliknya.

Teknik Olah Ekspresi. Ini merupakan unsur yang dominan juga untuk para murid metode iqro mendengarkan cerita anda.

Ekspresi merupakan unsur penting karena bisa menjadi wakil gambaran tokoh yang anda bawakan.

Tentunya pendongeng yang baik bisa mengekspresikan berbagai tokoh dengan baik dan jelas, serta mengubah ekspresi satu dengan yang lain secara cepat, serta santri mampu menangkap ekspresi anda dengan jelas.

Cara memulai menjadi pendongeng untuk Mengajar Iqra

Saya ingin bisa mendongeng, tapi tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Ada tips dalam memulai untuk belajar mendongeng.

Langkah mudahnya yaitu dengan belajar bercerita, anda bisa memulai dengan memperkenalkan diri anda sendiri, memahami volume, ekspresi, serta artikulasi anda.

Cara lainnya yaitu dengan menceritakan ulang kisah dalam buku.

Sebaiknya jika anda memakai cara ini, sampean kudu paham dan hafal isi ceritanya, bukan menghafal bukunya seperti menyanyikan lagu.

Tujuannya adalah supaya anda tidak kehilangan satau atau beberapakata dalam kisah pada buku.

Cara kedua, yaitu dengan memakai metode read aloud, menceritakan dengan lantang.

Sampean bisa memilih cerita yang sesuai dengan usia anak yang belajar menggunakan metode iqro anak didik anda.

Bacakan ceritanya dan sembari menunjukkan teks serta gambar didalamnya.

Jangan lupa, dalam membacakannya jangan hanya datar datar saja. selalu gunakan intonasi serta volume yang tepat. Gunakan artikulasi yang jelas dan mulai gunakan ekspresi wajah maupun bahasa tubuh anda.

Tips lain awal mula belajar mendongeng, pilihlah buku yang tipis supaya anak tidak bosan.

Juga perlu menyelipkan nyanyian serta tebak tebakan apabila anak-anak nampak kurang bergairah mendengarkan cerita anda.

Selain itu, cara praktisnya belajar yaitu dengan melihat berbagai video dan banyak membaca kiat untuk mendongeng. Tentunya praktek langsung supaya bisa evaluasi cara anda menyampaikan dalam bercerita.

Nah itulah berbagai kiat dan tips dalam mendongeng, tentu anda bisa mempraktekkannya supaya berhasil mengajar iqro yang menyenangkan dan sukses sebagai guru metode iqro.

Wilujeng sonten, wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Indikasi TPQ tidak dikelola dengan baik

Ciri TPQ tanpa manajemen yang baik kurikulum seingatnya asal jalan.

Identifikasi beberapa tanda tanda lembaga taman pendidikan alquran dikelola tanpa adanya manajemen TPQ yang mumpuni dilihat dari proses kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan kurikulum dalam KBM beserta kegiatan rutin dalam satu tahun.

Pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, bukan untuk membuat pengajar TPQ yang ikhlas patah hati dengan ulasan ini, hanya sebagai self reminder atau pengingat diri guna usaha dan ikhtiar dalam meningkatkan kualitas dan mutu TPQ yang diharapkan menghasilkan lulusan yang sesuai harapan.

Dari pengamatan dan identifikasi suatu lembaga pendidikan yang dalam hal ini adalah TPA, dari beberapa parameter dan tanda suatu TPQ tidak maksimal dalam manajemen pendidikan dapat dikategorikan atau pengelompokan tanda tandanya sebagai berikut;

Tidak ada administrasi lembaga

manajemen TPQ
macam macam pedoman penyelenggaraan pendidikan islam

Administrasi ini contoh yang paling sederhana adalah absensi kehadiran siswa anak didik, jika absen saja tidak ada maka saya yakin untuk buku buku administrasi yang lain dipastikan tidak ada, apalagi sampai dengan buku tamu, buku daftar inventaris lembaga, arsip keluar masuk dan sebagainya.

Meskipun ada cap atau stempel lembaga TPQ sayangnya banyak TPQ yang lemah dalam administrasi lembaga, setidaknya buku Induk santri lebih baik untuk diusahakan keberadaannya karena menyangkut riwayat keluar masuk santri dan kenangan bagi anak-anak nantinya.

Selanjutnya absen kehadiran santri bisa dibuat berdasarkan print out atau beli buku absen yang biasanya ada dan dijual pada toko khusus.

Materi Pembelajaran Kurikulum seingatnya

kurikulum-TPQ-seingatnya

Pada saat waktu penyampaian materi TPQ diluar privat, materi pelajaran yang disampaikan ustadz atau guru pengajar yaitu apa yang terlintas pada kepala pak ustadz atau bu ustadzah.

Tidak ada manajemen target pembelajaran dalam 1 semester atau satu tahun pembelajaran, materi apa saja yang hendak disampaikan dan target yang hendak dicapai untuk pendidikan anak TPQ selama satu tahun.

Dengan metode kurikulum dan KBM seingatnya membuat materi tidak tersampaikan secara runut dan urut serta dimungkinkan ada materi terlewat dan ada juga materi yang diulang dalam penyampaiannya.

TPQ asal jalan

santri pondok tahfidz

Yang dimaksud disini adalah asal anak anak didik masuk TPQ dan disimak secara privat oleh guru atau santri senior. Hal ini atau kegiatan model ini berulang setiap masuk dan jangka waktu yang sangat lama.

Diselingi momen ramadhan dan beberapa kegiatan semisal acara 17 tahun dan peringatan hari besar islam, selepas itu monoton dalam pembelajaran TPQ.

Keberadaan kegiatan TPQ asal jalan ini menjadikan potensi santri yang ada tidak dapat dimaksimalkan, semisal keahlian dalam menulis arab, potensi bakat pidato, keahlian melukis menggambar dan juga kans untuk menjadi pemenang lomba pada kejuaraan Cerdas Cermat alquran maupun lomba lainnya.

Tidak ada agenda Tahunan bersifat rutin yang didalamnya ujian semester dan pembagian raport

Dengan metode pembelajaran seingatnya dan sekenanya serta monoton KBM disertai juga ketiadaan administrasi, kemungkinan besar agenda ujian semester adalah impian disiang bolong.

Dan kesulitan dalam pembuatan soal ujian serta tidak adanya pendampingan yang kongkrit dari pihak kemenag semakin menjauhkan evaluasi pembelajaran santri melalui metode ujian semesteran ini. Maka kloplah hal mustahil bersemester ria.

Bicara raport, bisa saja nilai dari raport diambilkan dari hasil penilaian guru dalam pemebelajaran sehari hari santri baik dari kemampuan dalam kegiatan tanya jawab atau pada saat privat semaan alquran dan iqra.

Akan tetapi penilaian yang sifatnya intuitif seperti ini tidak memiliki landasan acuan pemberian nilai yang layak dijadikan pijakan.

Dan lebih banyak TPQ yang tidak membagikan raport hasil pembelajaran dalam 6 bulan (1 semester) dibandingkan mereka (lembaga TPQ) yang telah rutin menyampaikan raport ini kepada orang tua atau wali santri.

Siapa yang patut disalahkan

yang ngurusi PIP

Tidak ada pihak yang perlu disalahkan atau saling lempar tanggungjawab, yang salah adalah mereka yang tidak mau mendukung TPQ untuk lebih baik dalam hal manajemen maupun kualitas secara administrasi dan pendanaan.

Setidaknya dengan membuat buku induk santri dan menyiapkan absen serta merancang pelaksanaan ujian semester dan persiapan pembagian raport merupakan tonggak untuk menuju TPQ yang lebih baik dan dipercaya oleh masyarakat.

Demikian ulasan pribadi dan analisa tentang tanda tanda atau indikasi suatu lembaga TPQ yang jauh dari kata manajemen. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Taman Pendidikan Al Quran di Masjid

TPQ Taman Pendidikan Al Quran di Masjid
Informasi tentang TPQ di Masjid mengacu kepada berdasarkan Keputusan Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam nomor DJ.II/802 Tahun 2014 tentang Standar Pembinaan Manajemen Masjid yang tercantum dalam Bab V Pembinaan Imarah.

Pontren.com – assalamu’alaikum, saat ini banyak sekali TPQ yang melaksanakan kegiatan Belajar mengajar di dalam ruangan utama masjid atau pada bangunan khusus yang berada di kompleks Masjid.

Sepertinya lebih banyak TPA yang mengandalkan masjid sebagai tempat pendidikan TPQ daripada lembaga TPA yang telah memiliki gedung tersendiri baik mandiri maupun berada dibawah yayasan.

Dalam tulisan ini akan mengulas tentang TPQ di Masjid dengan dasar dari Keputusan dirjen diatas.

TPQ adalah Pendidikan Nonformal dan Jenjang Pendidikan

back to TPQ
back to TPQ

TPQ merupakan pendidikan nonformal di lingkungan masjid yang diselenggarakan untuk semua umur dan dikelompokkan menurut kategori usia peserta yaitu anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua.

Dari paparan dalam Keputusan Dirjen Bimas ini, jenjang TPQ berbeda dengan milik Dirjen Pendis.

Adapun versi pengelompokan santri peserta didik menurut Dirjen Bimis mengacu kepada tahapan kehidupan umur yaitu;

  • Anak –anak;
  • Remaja;
  • Dewasa; dan
  • Orang tua.

pada kenyataan yang bisa dilihat semua orang, TPQ hanya berjalan pada usia anak anak, sedangkan remaja telah memiliki komunitas sendiri, meskipun begitu, pengajian remaja dapat pula dikategorikan sebagai TPQ karena mempelajari yang berkaitan dengan alquran.

remaja masjid (ilustrasi)
remaja masjid (ilustrasi)

pada Kalangan Dewasa dan orang tua, TPQ ini dalam bentuk atau format berupa pengajian atau kajian rutin. dimana kegiatan belajar mengajarnya lebih bersifat monolog dari nara sumber diselingi dengan tanya jawab.

Materi Pembelajaran TPQ Pada masjid

Dalam informasi materi pendidikan TPQ pada masjid, hanya disampaikan secara sangat global dan tidak ada acuan kurikulum serta patokan pendidikan, kesemuanya diserahkan kepada pengelola.

Adapun materi untuk TPQ di Masjid ini terbagi menjadi tema besar yaitu;

  • membaca huruf alquran,
  • ilmu tajwid,
  • hafalan dan
  • ilmu tafsir atau memahamimakna ayat ayat alquran.

Pengelola TPQ pada Masjid

Mengacu kepada ketentuan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, kegiatan TPQ dikelola oleh pengurus TPQ secara langsung atau dapat juga dengan cara mengundang mendatangkan guru yang berkompeten atau dianggap mumpuni dalam pengajaran Taman Pendidikan Alquran.

setahu saya sangat jarang sekali ketua tamir atau kepala bidang pengurus masjid yang terjun langsung mengajar pada TPQ utamanya pada jenjang anak-anak.

TPQ pada Masjid berada dibawah Bidang Imarah

pengertian-idarah-imarah-riayah-manajemen-masjid
pengertian-idarah-imarah-riayah-manajemen-masjid

Siapakah yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan Kegiatan Belajar Mengajar TPQ?

Pasti sampean sudah tahu jawabannya, karena sudah kami cantumkan dalam sub judul diatas.

Ketua Bidang Imarah mestinya bertanggungjawab terhadap keberadaan Taman Pendidikan Alquran pada masjid yang dikelola yang dalam hal ini mestinya meliputi tanggungjawab manajemen, penggalian dana, pengadaan sarana prasarana.

Meskipun bisa saja tidak langsung mengurusi akan tetapi seharusnya ketua bidang imarah beserta anggota yang berada di imarah melakukan usaha dan upaya dalam rangka peningkatan kualitas TPQ.

Termasuk dalam perhatian terhadap kelengkapan sarana prasarana serta usaha menyediakan kurikulum serta peralatan buku iqra maupun soal ujian setiap semester dan raport.

Juga tanggungjawab penyelenggaraan perkumpulan wali murid beserta kegiatan kegiatan yang memerlukan dukungan penuh dari takmir masjid, minimal menjembatani para pengelola TPQ dengan pihak takmir masjid utamanya dalam hal pendanaan dan pendampingan.

Sayangnya jauh api dari panggang, kebanyakan Takmir masjid pada bidang imarah atau siapapun yang bertugas dalam bidang ini (mungkin disebut dengan istilah yang lain) kebanyakan tidak menjadikan TPQ sebagai isu utama untuk dibina.

Lebih condong memikirkan pembangunan dan juga kegiatan pengajian akbar atau hal hal yang bersifat mempercantik dan memperindah bangunan masjid.

Memperindah bangunan masjid bukan hal yang tabu atau jelek, tapi mengabaikan Lembaga Taman Pendidikan alquran juga bukan hal yang bijaksana jika terjadi pada takmir masjid.

Demikian informasi tentang taman pendidikan alquran di masjid, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ketentuan Dasar yang banyak tidak diketahui Pengelola TPQ

informasi tentang beberapa ketentuan atau pedoman dalam manajemen maupun kegiatan belajar mengajar yang dimungkinkan masih banyak ustadz ustadzah pengelola dan pengajar pada taman pendidikan alquran yang belum mengetahuinya.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, sugeng siang dan selamat tahun baru 2020 warganet yang menikmati liburan pergantian tahun dari 2019 ke tahun berikutnya.

TPQ merupakan lembaga pendidikan nonformal yang tersebar keberadaannya di komunitas Islam Indonesia.

beroperasi semenjak dahulu kala bahkan sebelum dikenal dengan nama TPQ. ada berbagai sebutan yang dikenal untuk lembaga ini seperti TPA, sekolah sore, sekolah arab, ngaji, turutan maupun yang lainnya.

dengan perkembangan zaman dan kemajuan manajemen pendidikan, Kementerian Agama melalui PD Pontren menjadi garda terdepan dalam pembuat pedoman pengelolaan lembaga pendidikan Islam nonformal ini disamping Badko TPQ.

manajemen TPQ
macam macam pedoman penyelenggaraan pendidikan islam

dalam pedoman baik secara administrasi maupun kurikulum serta pedoman, ternyata secara sosialisasi dan pengejawantahan atau pelaksanaan ditingkat praktek masih sangat jauh dari harapan.

salah satu sebab yaitu ketidaktahuan pengelola atau pengurus ustadz ustadzah tentang pedoman pengelolaan TPQ yang mengacu kepada standar yang dibuat oleh Kementerian Agama.

adapun beberapa ketentuan dasar yang masih belum terlalu dipahami oleh pengelola bisa dirangkum sebagai berikut.

aturan mendaftarkan lembaga TPQ pada Kementerian Agama

dalam PMA nomor 13 tahun 2014 disebutkan bahwa bagi TPQ yang telah memiliki santri sejumlah minimal 15 orang diharuskan untuk mendaftarkan diri (lembaganya) di Kementerian Agama.

jumlah minimal murid TPA

selain tidak tahu keharusan ini, adapula yang hendak mendaftarkan tapi memiliki kendala keterbatasan informasi syarat ketentuan serta contoh proposal pengajuan, termasuk jarak yang relatif jauh dari lembaga ke Kabupaten atau Kota.

kendala yang lain yaitu pihak Kantor Urusan Agama memfokuskan terhadap pelayanan nikah yang berdampak sangat memprihatinkan pengetahuan pegawai di KUA mengenai lembaga Taman Pendidikan Alquran.

Tidak Tahu Jenjang TPQ

sebenarnya dalam buku pedoman dari Kemenag sudah ada panduan tentang lembaga ini, tapi hanya sedikit yang tahu dan lebih sedikit lagi yang mampu mendesain atau membagi jenjang pendidikan TPQ sesuai dengan pedoman.

sebenarnya TPQ hanyalah salah satu dari rumpun Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ) yang mana pada LPQ ini memiliki jenjang dari TK sampai dengan orang umum atau dewasa yang terakomodasi dalam majelis taklim.

berikut adalah rumpun dari pendidikan pada Lembaga Pendidikan Alquran;

  • Taman Kanak-Kanak Alquran (TKQ);
  • Taman Pendidikan Alquran (TPQ);
  • Ta’limul Qur’an Lil Aulad (TQA); dan
  • majelis taklim
skema jenjang pendidikan TPQ

dari sini saja kita harus mengakui keawaman para ustadz ustadzah pengajar TPQ bahwasanya TPQ hanyalah merupakan salah satu dari empat lembaga yang mempelajari tentang alquran.

belum lagi nanti tentang pembagian tingkatan masing masing kelas untuk setiap jenjang pendidikannya.

Tidak Tahu Kurikulum TPQ

kegiatan belajar mengajar yang tertata tentunya ada kurikulum sebagai rel dalam transfer ilmu dari pendidik kepada anak didik.

masih ada (bahkan sebagian besar?) lembaga TPQ yang pelaksanaan alakadarnya yaitu anak dan guru datang selanjutnya pembukaan, dilanjut privat dan penutupan, begitu selalu terulang tanpa ada materi yang urut tertata dan target pembelajaran.

faktor yang mempengaruhi perilaku KBM seperti ini tidak terlepas dari beberapa hal dibawah ini;

  • SDM yang kurang memadai (bisa dari kualitas atau kuantitas)
  • ketidaktahuan tentang adanya kurikulum;
  • dukungan takmir dan masyarakat sekitar yang nol;
  • ketiadaaan pendanaan;
  • tidak ada kemauan pengelola untuk maju;
  • tidak ada sosialisasi dari kemenag yang mumpuni dalam kurikulum TPQ;
  • TPQ memang tidak mampu melaksanakan kurikulum yang dijadikan pedoman.

setidaknya fakor faktor diatas yang membuat pelaksanaan kurikulum TPQ mangkrak tidak berjalan.

Tidak Tahu Manajemen dan administrasi

Karena merupakan lembaga pendidikan yang mengatur anak guru dan juga bersentuhan dengan instansi terkait (khususnya Kementerian Agama) mestinya dalam hal administrasi sederhana bisa berjalan pada lembaga ini.

tidak sedikit TPQ yang hanya sekedar mengetik surat undangan jika diperlukan. tidak ada berkas inventaris lembaga, buku induk santri, bank soal bahkan raport hasil pembelajaran selama satu semester.

struktur organisasi unit tpq tkq

perbaikan manajemen pada TPQ sulit diharapkan bermula dari dalam TPQ yaitu ustadz ustadzah yang mengajar setiap hari.

harus ada pihak pihak yang memulai pendampingan lembaga ini dengan cara pemberian contoh file atau softcopy mengenai administrasi yang komprehensif.

juga supply soal soal ujian bagi santri setiap jenjang supaya lembaga bisa melakukan evaluasi pembelajaran setiap semester.

begitu pula perlunya lembaga seperti Badko TPQ sebagai jembatan antara pihak pengelola TPQ dengan Takmir masjid dalam mendapatkan akses dana yang dipergunakan menjalankan roda kegiatan belajar mengajar TPQ.

termasuk dalam administrasi yaitu susunan pengurus lembaga yang bukan hanya bersifat sebagai gagah gahan, tapi mampu berfungsi menyesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya semisal ketua, sekretaris, bendahara, dan bagian Tata Usaha serta ustadz ustadzah.

mirisnya, masih terlalu banyak guru TPQ yang rangkap jabatan ya mengajar, ya menjadi kepala, ya menjadi sekretaris ya sekalian menjadi bendahara.

Singkatan Taman Pendidikan ALquran resminya adalah TPQ bukan TPA

singkatan Taman Pendidikan Alquran TPA atau TPQ

mayoritas masyarakat umum menyebut lembaga ini dengan sebutan TPA bahkan juga guru gurunya, akan tetapi mengacu kepada singkatan berbagai lembaga seperti MTQ, LPTQ, Badko TPQ, maka singkatan yang benar untuk Taman Pendidikan ALquran adalah TPQ bukan TPA.

terlebih lagi penggunaan TPA juga identik dengan tempat sampah yaitu Tempat Pembuangan Akhir.

sangat tidak mengenakkan jika lembaga yang mengajarkan alquran mempunyai singkatan nama dengan lokasi tempat sampah.

itula hal hal dasar mengenai TPQ yang masih ada saja pihak dari Guru atau Pengelola TPA yang belum mengetahuinya. sugeg siang, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

TPQ dengan SPP Mahal Lebih berkualitas dan banyak diminati masyarakat

Opini pribadi mengenai biaya SPP yang mahal untuk level TPQ dan minat masyarakat merespon sejumlah uang yang ditarik lembaga dalam rangka biaya operasional pendidikan taman pendidikan Al Qur’an (TPA).

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, selamat malam para muslimin wal muslimat yang semoga selalu mendapatkan perlindungan dan rahmat dari Allah SWT.

Saya akan menceritakan tentang kondisi beberapa lembaga pendidikan alquran khususnya TPQ yang saya dengar mengenakan biaya yang termasuk tinggi untuk para santri di lembaga yang dikelola.

Juga tentang adanya rumah tahfidz yang didaftarkan sebagai Madrasah Diniyah Takmiliyah dengan keuangan serta tenaga pendidikan mendapatkan back up oleh seorang dokter guna kegiatan dan operasional pendidikan.

Yang pertama yaitu TPQ dengan SPP yang mahal, memang mahalnya berapa sih? Relatif juga ya karena TPQ ini mengenakan biaya kisaran Rp. 25.000,- sampai dengan Rp. 50.000,- kepada para santri yang belajar disitu.

Apakah orang tuanya keberatan dengan biaya segitu? Apakah TPQ menjadi sepi kurang peminat karena uang syahriah yang mencapai 50 ribu perbulan? Bukankah termasuk mahal dan tinggi bagi pendidikan TPQ?

SPP Mahal dan korelasi dengan minat orang tua dan santri mendaftarkan diri ke TPQ

Yup, ternyata jawabannya adalah Taman pendidikan alquran tersebut tidak sepi peminat, malah dikatakan tidak dapat menampung pendaftar bagi anak anak yang hendak disekolahkan disitu.

Pasti anda mengetahui alasan kenapa orang tua dan anak anak berminat dengan TPQ yang berbiaya “tidak murah” bagi pendidikan TPQ.

Alasannya adalah kualitas jaminan mutu anak anak pada lembaga ini nampak berbeda hasil yang diperolehnya, contoh kongkritnya yaitu kedisiplinan anak, hafalan surat pendek yang lumayan jauh, ada kegiatan ujian semesteran dan pembagian raport rutin dilaksanakan.

Dari kesimpulan ini bahwa sebenarnya secara umum biaya bukanlah termasuk hal yang dipermasalahkan oleh banyak kalangan selama sesuai dengan kualitas yang didapat. Kalau kita renungkan, saat ini orang tua ataupun pada umumnya orang di Indonesia telah memikirkan kualitas meskipun perlu ada tambahan biaya yang dikeluarkan.

Jadi kesimpulan secara umum dapat dikatakan bahwa pengenaan uang syahriah yang relatif “berisi” bukanlah menjadi komplain orang tua selama kualitas yang disajikan sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Alasan TPQ mahal lebih berkualitas

biaya masuk ibnu abbas klaten

Bukan hanya sekedar mengenai jumlah uang yang dikeluarkan saja, tapi ada faktor lain yang mendorong kenapa SPP ini menjadikan peningkatan signifikan bagi mutu TPQ dimaksud.

Pertama, dengana keberadaan uang SPP ini dapat memberikan gaji (kalau layak disebut gaji) bagi para pengajar atau ustadz ustadzah relatif mendingan, bukan hanya 25 ribu sebulan.

Keberadaan mukafaah ini membuat sang peneriman (guru dan ustadz) memiliki ikatan dan tanggungjawab secara moral dalam mengajar, sehingga mereka tidak akan sekenanya pada KBM baik disiplin waktu mulai dan selesai pembelajaran ataupun kualitas mengajar anak yang sak sak e.

Kedua, adanya biaya yang mendingan ini membuat orang tua merasa sayang jika anak membolos TPQ karena alasan yang tidak jelas, eman-eman wis dibayari koq ora di nyangi (sayang sudah dibayar koq tidak diambil haknya).

Demikian ini membuat anak anak menjadi lebih tertib dalam berangkat TPQ karena dorongan dan pengawasan orang tua atau wali santri untuk tertib menuju lokasi pendidikan.

Ketiga, biaya SPP ini akan mendorong pengelola TPQ membuat inovasi dan kegiatan serta terobosan guna memaksimalkan potensi santri pada pembelajaran alquran maupun ilmu keislaman yang lain.

Termasuk didalamnya yaitu pelaksanaan ujian, rapotan bahkan wisuda santri menjadi terprogram dengan rutin dan dapat menjadi bahan evaluasi para pengasuh serta pengajarnya untuk pendidikan selanjutnya.

Hal ini untuk menjaga kepercayaan dan harga diri para pengajar supaya tidak di paido para wali dan orang tua murid.

Jika tidak memiliki suatu hal yang dapat diandalkan sebagai pembeda dengan TPQ gratisan maka kuping siap memerah mendengar komentar, wis mbayar larang larang koq hasile yo podo wae ra ono bedane (sudah bayar mahal kok hasilnya sama saja tidak ada bedanya. Maksudnya tidak berbeda dengan TPQ yang biasa – red).

Ini juga terjadi dengan rumah tahfidz yang di back up secara keuangan seorang dokter. Hasilnya yaitu banyak santri yang rumahnya termasuk jauh dari lokasi rumah tahfidz ini diantar jemput oleh orang tuanya, entah memakai sepeda motor atau mobil pribadi.

Kenapa orang tua ini mau susah susah antar jemput anak untuk TPQ atau rumah tahfidz? Padahal di sekitar dia terdapat TPQ juga?

ambil raport TPQ
ilustrasi wali santri TPQ ambil raport dengan jalan kaki

Ya begitulah, alasan yang realistis yaitu orang tua melihat adanya kualitas yang terjaga pada lembaga pendidikan rumah tahfidz sehingga rela antar jemput anak walaupun lokasi relatif jauh.

Era memilih kualitas meski ada biaya tambahan

Saat ini menurut saya memang situasinya seperti itu, lihat saja SDIT dengan biaya yang lebih mahal dibanding sekolah negeri (bisa jadi SD nya malah gratis), tetap saja SDIT ini relatif mendapatkan murid yang banyak.

Bahkan pada beberapa kasus, sekolah SD Negeri yang gratis sekalipun dilakukan regrouping, yaitu menyatukan dua sekolahan menjadi satu karena kekurangan siswa.

Kemana para muridnya? Ya itu tadi, memilih sekolahan yang dirasa memiliki mutu dan kualitas yang lebih baik meskipun mengeluarkan biaya relatif banyak.

Berharap Takmir Masjid mau menggelontorkan dana

Dari kejadian dan situasi diatas, harapannya adalah semoga takmir masjid yang memiliki kas berjuta juta dan ngendon di bank mau memberikan dana yang relatif berperikemanusiaan kepada lembaga TPQ yang berada di wilayahnya.

Apalagi jika ada TPA yang dilaksanakan pada kompleks masjid, dengan pertimbangan manfaat, semoga saja takmir memiliki kebijakan menaikkan anggaran yang diberikan kepada pengelola TPQ dalam rangka meningkatkan kualitas santri anak didiknya dengan cara perbaikan adimnistrasi maupun secara pengajaran.

Jika sudah berjalan dengan baik nanti para pengelola TPQ dapat mengenakan uang syahriah atau SPP yang sekiranya dapat men support keberadaan TPA.

giatan TPQ yang menyenangkan

Lha anak anak yang tidak mampu enggak dapat belajar di TPQ dong kalau begitu caranya?

Ya seharusnya tidak begitu, utamanya bagi yang rumahnya dekat dengan masjid.

Seperti informasi yang saya terima, SPP TPQ yang mengenakan biaya juga membuat program beasiswa atau sekolah gratis bagi santri yang berdomisili di sekitar lembaga beroperasi, sehingga kalangan yang kondisi sedang sulit tetap terlayani pendidikannya.

Yang jelas secara analisa, bahwa dalam membuat TPQ dapat meningkat dalam hal kualitas secara signifikan perlu memperhatikan hal hal sebagai berikut;

  • Keberadaan administrasi yang baik (absen, kaldik, soal semesteran, raport, dll);
  • Keberadaan guru pengajar yang mumpuni (baik secara pengetahuan dan disiplin serta kemampuan metode mengajar yang baik);
  • Biaya operasional yang mencukupi dalam KBM (setidaknya untuk mencetak raport, menggandakan soal ujian TPQ serta sarana prasarana KBM semisal spidol, buku iqra atau semacamnya),sedikit bayaran kepada pengajar sebagai pengikat dan beban tanggungjawab moral;

Itulah analisa pribadi mengenai biaya TPQ yang dianggap relatif mahal berdasarkan penuturan salah satu pegawai di KUA yang dahulu sempat menjadi penyuluh agama Islam.

Demikian opini malam ini, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Minta bantuan Guru PAI dan Madrasah untuk Meningkatkan Jumlah Santri TPQ

Usaha guna peningkatan kuantitas jumlah santri pada Taman Pendidikan Alquran melalui koordinasi dan bantuan Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, selamat sore para pembaca dan pelaku peristiwa maupun peminat terhadap pendidikan islam nonformal khususnya TPQ yang dikenal dengan TPA.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh para pengasuh taman pendidikan yaitu masih banyaknya anak umuran SD yang berkeliaran tanpa tujuan yang jelas disaat sekolah TPQ diadakan.

Tentunya sudah ada usaha yang dilakukan oleh pengelola maupun ustadz ustadzah supaya anak anak ini mau mengikuti pembelajaran pada TPQ secara rutin.

Bisa dengan cara pemberitahuan dan himbauan di pengajian rutin, pengumuman sebelum khutbah jumat dimulai, iming iming program TPQ yang menarik beserta cara unik lainnya yang bisa jadi banyak belum saya ketahui.

Entah sudah ada yang melakukan hal ini secara insentif atau belum, secara logika ada 2 pihak yang berdekatan dalam pendidikan agama bagi anak anak, yang pertama yaitu pihak keluarga dan kedua pihak sekolahan dalam hal ini guru PAI dan guru madrasah.

Saya meyakini guru PAI maupun madrasah akan menyambut dengan baik jika pengurus Badko TPQ atau Pengajar pada TPA meminta bantuan kepada para beliau untuk mengarahkan anak anak belajar di TPA sesuai jadwal yang ada (biasanya sore hari).

Dalam permohonan bantuan ini bisa disampaikan program bersinergi antara TPQ dengan guru pada sekolah umum perihal teknis cara supaya anak anak berangkat ke sekolah arab atau sekolah sore.

Misalnya dengan tambahan nilai plus bagi para siswa yang dapat menunjukkan kartu kendali atau buku prestasi santri yang berisi riwayat mengaji pada TPA dengan stempel resmi.

santri TPQ Belajar
santri TPQ Belajar

Dengan begitu ada kegiatan kongkrit yang dapat dijadikan acuan untuk guru PAI memberikan nilai tambahan dan juga semangat bagi siswa belajar di TPA karena keberadaan tambahan penilaian khusus untuk kartu prestasi yang terisi dengan baik.

Dilain pihak dengan keterlibatan para guru pengajar ini saya meyakini akan membuat orang tua turut menyemangati anak dalam mengaji ke TPQ karena ada dampak yang jelas terkait nilai pelajaran agama pada sekolah umum.

Koordinasi ini bisa bersifat informal atau santai dengan cara datang berkunjung atau bahasa jawanya sowan kerumah atau sekolah tempat beliau mengajar kemudian menyampaikan maksud dan tujuan yaitu minta tolong kepada bapak ibu guru dalam rangka pengarahkan para murid untuk menjadi santri TPQ juga memberi masukan adanya nilai plus untuk santri yang aktif belajar di TPA.

Bisa juga melalui surat resmi dengan tanda tangan dan cap kepala/ketua TPQ, dan lebih bagus lagi ketua Badko Kecamatan yang berisi permohonan kepada guru guna memberi dorongan kepada anak didiknya rajin berangkat TPA.

Dilanjutkan permohonan adanya nilai tambah bagi santri yang aktif belajar mengaji pada TPQ sebagai bentuk penghargaan kegigihan menuntut ilmu di TPA.

Dengan adanya promosi program yang baik dari TPA berupa kegiatan yang terukur, pelaksanaan ujian semester yang rutin terlaksana, pembagian raport dengan kemasan menarik (diadakan pengajian dan pembagian hadiah bagi santri yang juara atau berprestasi), ditambah lagi dorongan dari sekolahan diharapkan ada peningkatan jumlah murid yang belajar pada lembaga yang kita cintai ini.

Tentunya diperlukan koordinasi yang baik antar pengelola TPQ ini siapa yang ditunjuk sebagai juru bicara dan penyampai permohonan yang dikemudian hari dapat terjalin hubungan yang baik antara TPQ dengan para pendidik pada sekolah formal.

Demikian opini pada sore ini, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Problematika dan Masalah Manajemen TPQ

Permasalahan-permasalahan yang Dihadapi Manajemen Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Pontren.com – tulisan tentang permasalahan dan problematika dalam manajemen TPQ yang diambil dari Tesis AMBO UPE NIM : 1005 S2 1163 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2012.

baca;
Manajemen TPQ yang baik
menjadi guru TPQ yang baik
Download form administrasi TPQ Lengkap

Adapun judul tesis ini adalah MANAJEMEN TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN (TPQ) DI KECAMATAN TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR.

Berikut tulisan beliau mengenai problem permasalahan dalam pengelolaan Lembaga Pendidikan Al Qur-an dalam Hal ini TPQ.

Dalam sosialisasi kebijakan tentang pembinaan dan peningkatan mutu Madarasah yang dialami di Indonesia termasuk di dalamnya adalan lembaga pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan al-Qur’an.

Permasalahan permasahalahan tersebut adalah sebagai berikut: (34 Muhaimin dkk, Manajemen Pendidikan, Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah (Kencana:Jakarta: 2009), hal. 207-209)

  1. MutuPendidikan;
  2. Relevansi Pendidikan;
  3. Elitisme;
  4. Manajemen Pendidikan (Personalia);
  5. Bidang Keuangan;
  6. Manajemen Kelas;
  7. Pemerataan Pendidikan;
  8. Bidang Sarana dan Prasarana

Berikut pembahasan kedelapan permasalahan diatas secara lebih terperinci dan agak lebar mungkin panjang.

Mutu Pendidikan

Kendala dalam kualitas pendidikan, menurut tesis ini ada dua yaitu;

  • Mutu guru yang masih rendah terdapat di semua jenjang pendidikan.
  • Alat bantu proses belajar mengajar belum memadai.

Relevansi Pendidikan

Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara pendidikan dengan perkembangan di masyarakat. Misalnya lembaga pendidikan tidak dapat mencetak lulusan yang siap pakai dan tidak adanya kesesuaian antara output (lulusan) pendidikan dengan tuntutan perkembangan ekonomi.

Elitisme

biaya pondok pesantren krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta
Biaya Tinggi

Adalah kecenderungan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang menguntungkan kelompok minoritas yang justru mampu ditinjau secara ekonomi.

Dicontohkan tingginya biaya pendidikan yang ditanggung orang tua anak didik berdampak hanya bisa dinikmati oleh orang yang kaya tapi hal ini tidak dijumpai di TPQ-TPQ di Indonesia yang ayoritas sangatlah murah dan bisa dijangkau oleh semua kalangan.

Manajemen Pendidikan (Personalia)

Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu:

(1) dalam mengembangkan Taman Pendidikan al-Qur’an, sumber daya manusia adalah komponen paling berharga;

(2) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung tujuan institusional;

(3) kultur dan suasana organisasi di Taman Pendidikan al-Qur’an, serta perilaku manajerial Taman Pendidikan al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan Taman Pendidikan al-Qur’an; dan

(4) manajemen personalia di Taman Pendidikan al-Qur’an pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan Taman Pendidikan al-Qur’an.

menyusun Kalender Pendidikan TPQ
ilustrasi ustadzah Pengajar TPQ (C) Faizal Riza

Disamping faktor keberadaaan SDM (sumber daya manusia), hal pokok sangat penting pada manajamen personalia yaitu berkait dengan penguasaan kompetensi dari para personil di Taman Pendidikan al-Qur’an.

Dengan begitu,usaha peningkatan kompetensi dari setiap orang pengelola di Taman Pendidikan al-Qur’an menjadi mutlak diperlukan.

Dari hal kondisi atas biasanya memunculkan beberapa problematika permasalahan kesulitan berikut:

  • Masih terdapat pimpinan lembaga Taman Pendidikan al-Qur’an yang tidak mumpuni atau mempunyai kualifikasi utuk memimpin Taman Pendidikan al-Qur’an.
  • adanya guru pengajar yang tidak menguasai materi dan metode pada bidangnya.
  • terdapat benturan antara personil Taman Pendidikan al-Qur’an menyangkut hak dan kewajibannya.

Bidang Keuangan

Manajemen keuangan di lembaga terutama berkenaan dengan kiat lembaga dalam menggali dana, kiat lembaga dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan Taman Pendidikan al-Qur’an, cara mengadministrasikan dana lembaga, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan.

Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di lembaga, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

Permasalahan dan problem yang mengemuka yaitu :

  • kesulitan mendapatkan suntikan dana dari pemerintah
  • pengelolaan tidak ter administrasi dengan baik
  • Belum ada pembukuan yang baik
  • sumber dana bergantung donatur atau dana pemilik yayasan
  • Terjadi ketidakjelasan keuangan bagi lembaga yang mempunyai banyak struktur (ketua yayasan, direktur, kepala Taman Pendidikan al-Qur’an),satu yayasan mempunyai banyak lembaga.

Manajemen Kelas

santri pondok tahfidz
santri ngaji disemak

Dinamika kelas pada dasarnya adalah kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui kreatifitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok. Dinamika kelas dipengaruhi oleh cara guru kelas menerapkan administrasi pendidikan dan kepemimpinan pendidikan serta menggunakan pendekatan Manajemen/pengelolaan kelas.

Penerapan kegiatan tersebut antara lain, sebagai berikut:

a. Kegiatan Administratif Manajemen

Kelas pada dasarnya merupakan unit kerja yang di dalamnya bekerja sejumlah orang untuk mencapai suatu tujuan.

Olehnya itu, pengelolaan kelas memerlukan tindakan-tindakan berupa perencanaan, pengorganisasian, koordinasi dan kontrol sebagai langkah-langkah kegiatan manajemen administratif.

b. Perencanaan Kelas

Sebagai program umum kurikulum harus diterjemahkan menjadi program-program kongkrit dan menghubungkannya dengan waktu yang ada, berupa program tahunan, semester/cawu, bulanan, mingguan dan bahkan pada program harian. Selain perencanaan berdasarkan kurikulum, sebuah kelas perlu menyusun program penunjang berupa kegiatan ekstra
kelas seperti, kesenian, pelajaran tambahan dan lain-lain.

c. Pengorganisasian kelas

Aspek terpenting dalam pengorganisasian ini yaitu usaha penempatan personal yang tepat pada tempatnya (proporsional) dengan memperhatikan ability-nya, tingkat pendidikannya, masa kerjanya dan sebagainya.

Olehnya itu, harus diupayakan agar setiap personal kelas termasuk para santri untuk mengetahui posisinya masing-masing dalam struktur organisasi kelas yang disusun berdasarkan pembagian tugas.

d. Koordinasi kelas.

Perwujudan Koordinasi kelas dengan menciptakan kerja sama yang didasari oleh saling pengertian akan tugas dan peranan masing-masing.

Maka koordinasi yang efektif memungkinkan setiap personal menyampaikan saran dan pendapat, baik dalam bidang kerjanya maupun bidang kerja patnernya terutama yang berhubungan dengan bidang tugas yang menjadi tanggung jawab yang bersangkutan.

Koordinasi yang efektif tidak akan terjadi (meminimalisir) tabrakan atau kesimpangsiuran dalam penggunaan waktu dan fasilitas kelas.

e. Kontrol kelas

Selama dan setelah program kegiatan kelas dilaksanakan, maka perlu kegiatan kontrol dari guru/wali kelas, dimana kontrol tersebut harus mengacu kepada program yang disusun dengan maksud untuk menilai sampai dimana tujuan telah dicapai dan apa yang menjadi hambatan (jika ada), atau dengan kata lain kegiatan kontrol kelas dilakukan untuk mengetahui kebaikan-kebaikan yang diraih dan kekurangan kekurangannya.

Pemerataan Pendidikan

suasana kelas
suasana kelas

Hal ini dapat dijumpai misalnya dalam masalah biaya pendidikan yang mahal membuat santri putus atau tidak melanjutkan. Untuk mengatasinya dengan menggratiskan sekolah dalam wajib belajar 9 tahun. Kaitannya dengan TPQ adalah dengan meniadakan pungutan biaya bagi yang tidak mampu.

meski di sisi lain adalah dengan mendorong seluruh komponen peserta didik dengan menekankan pentingnya Taman Pendidikan al-Qur’an atau pendidikan baik formal maupun non formal.

Bidang Sarana dan Prasarana

Manajemen perawatan preventif sarpras pada Taman Pendidikan al-Qur’an merupakan kegiatan yang dilakukan secara berkala dan perencanaan yang matang untuk merawat fasilitas fisik, seperti :

gedung,
meubeleir, dan
peralatan sekolah lainnya,

dengan maksud dalam rangka peningkatan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan

sarana dan pra sarana Taman Pendidikan al-Qur’an. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di Taman Pendidikan al-Qur’an dengan cara ;

  • pembentukan tim pelaksana,
  • membuat daftar sarana pra saran,
  • menyiapkan jadwal kegiatan perawatan,
  • menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan Taman Pendidikan al-Qur’an dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasaranaTaman Pendidikan al-Qur’an.

Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan :

  • pengarahan kepada tim pelaksana,
  • mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana,
  • menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventi untuk seluruh warga Taman Pendidikan al-Qur’an, dan
  • membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas Taman Pendidikan al-Qur’an untuk memotivasi warga Taman Pendidikan al-Qur’an.

Di antara beberapa masalah yang timbul dalam bidang ini adalah:

  • Sebaran sarana pendidikan masih kurang merata. BanyakTaman Pendidikan al-Qur’anyang belum lengkap sarana pendidikannya.
  • Sarana penunjang pendidikan banyak yang rusak dan jumlahnya tidak mencukupi.
  • Perawatan yang dilakukan terhadap sarana pendidikan tidak optimal.
  • Biaya perawatan dan pemeliharaan sarana Taman Pendidikan al-Qur’an sangat kecil sehingga tidak menunjang upaya peningkatan mutu dan relevan.

Itulah berbagai permasalahan dan problematika dalam melakukan pengelolaan manajemen lembaga Taman Pendidikan Al Qur’an, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi masing-masing lembaga guna memperhatikan apakah seperti itu kendala atau situasi yang terjadi pada lembaga para pengasuh TPQ ini.