Arsip Tag: jenjang madrasah diniyah takmiliyah

Madrasah Diniyah Takmiliyah tanpa Jenjang Bagaimana administrasi dan pelayanan

Analisa tentang madrasah diniyah takmiliyah yang tidak memiliki jenjang serta dampak dalam pelayanaan administrasi kelembagaan sebagai salah satu pendidikan Islam nonfromal di Indonesia. Benar benar membuat saya bingung, koq ya ada pengkategorian MDT tanpa jenjang pendidikan.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, belum ketemu jawaban kebingungan saya tentang jenjang madin yang hanya 2 tingkat untuk wustha dan ulya, datang sebuah kebingungan dalam benak saya setelah membaca KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM NOMOR 1206 TAHUN 2019.

Keputusan ini tentang PETUNJUK TEKNIS PENERBITAN IJAZAH PENDIDIKAN MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH yang di Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Pebruari 2019 DIREKTUR JENDERAL, KAMARUDDIN AMIN.

Entah kenapa koq baru tahun ini saya baru tahu, pastinya saya pribadi yang kurang update. Mestinya dengan tanggal 2 Pebruari 2019 sudah ramai ijazah ini beredar di tengah khalayak masyarakat pengelola madrasah diniyah takmiliyah di tahun 2019 kisaran bulan mei juni ataupun juli.

Yang jelas disini tidak akan membahas tentang penerbitan ijazah sebagaimana dalam Keputusan dirjen pendis diatas, hanya akan menyampaikan analisa secara teknis administratif mengenai sederet huruf tulisan yang berada dalam juknis dimaksud.

Disebutkan dalam juknis bahwasanya Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan salah satu varian pendidikan Islam jalur nonformal.

Merujuk kepada PMA no 13 tahun 2014 bahwa MDT diselenggarakan sebagai komplemen, melengkapi, memperkaya dan memperdalam pendidikan keagamaan pada MI/SD MTs/ MA/SMA/MAK/SMK dan perguruan tinggi atau yang sederajat.

Dalam rangka apa? Yaitu dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT.

Madin diselenggarakan Tanpa Jenjang

Nah ini kata kata yang membuat saya bingung dan dapat anda lihat sebagaimana screen shoot dibawah ini.

mdt-diselenggarakan-secara-tidak-berjenjang

MDT diselenggarakan secara berjenjang atau tidak berjenjang. MDT diselenggarakan secara berjenjang diselenggarakan dalam bentuk MDT Ula, MDT Wustha, MDT Ulya, dan MDT Al-jami’ah.

Memang secara de facto ada banyak lembaga MDT yang termasuk dalam kategori penyelenggaraannya tidak berjenjang, akan tetapi mereka secara dejure merupakan lembaga yang pengelolaan MDT sebagai pendidikan berjenjang.

Berikut jenjang pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah beserta sasaran santri sebagai anak didik;

  1. Tingkat ula diikuti oleh peserta didik pada MI/SD
  2. Tingkat wustha diikuti oleh peserta didik pada MTs/SMP
  3. Jenjang ulya diikuti oleh peserta didik pada MA/SMA/MAK/SMK
  4. Jenjang al-jami’ah diikuti oleh peserta didik Mahasiswa/masyarakat.

Untuk tingkatan ini secara teknis pemahaman saya tidak mengalami kendala kecuali kebingungan jenjang wustha dan ulya yang hanya terdiri dari 2 tingkatan/kelas.

Baca : Jenjang madin yang membuat saya bingung

Lha memangnya apa yang membuat bingung untuk lembaga Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) yang diselenggarakan tidak berjenjang?

Katanya ada madin yang seperti itu? Apa yang dibingungkan?

Secara Nyata Memang Ada MDT yang Tanpa Jenjang

Baiklah, maksud saya secara de facto ada MDT yang diselenggarakan tidak berjenjang itu adalah madin yang tidak memiliki kurikulum dan tidak ada pembagian raport ataupun kelulusan santri

Setiap tahun kegiatan belajar mengajar berjalan tanpa ada evaluasi pembelajaran baik berupa mid semester ataupun ujian akhir tahun.

Sehingga ketiadaan kenaikan kelas siswa maupun kelulusan santri pada jenjang merupakan fakta bahwa ada lembaga madrasah diniyah takmiliyah yang menyelenggarakan pendidikan secara tidak berjenjang. (yang sedikit terserempet fakta mohon tidak tersinggung).

Walaupun kondisinya seperti itu, lembaga tetap mengklaim bahwa dia memiliki jenjang pendidikan, apakah masuk awaliyah wustha ataupun ulya bahkan aljamiah.

Dengan begitu secara de jure model lembaga pendidikan seperti ini kebanyakan adalah madrasah diniyah takmiliyah jenjang awaliyah, meskipun secara de facto atau kenyataan merupakan lembaga yang diselenggarakan tidak berjenjang

Madin Tanpa Jenjang kaitan Piagam Terdaftar, EMIS dan Ijazah MDT

petunjuk teknis penulisan ijazah madin
santri wustha dan ijazah MDT Jenjang Ulya

Kalau memang kategori ini di sahkan (diselenggarakan secara berjenjang dan tidak berjenjang) maka madrasah diniyah takmiliyah yang tidak memiliki jenjang mesti dimasukkan atau dipaksa masuk kedalam salah satu jenjang pendidikan bagi MDT.

Kenapa begitu?

Karena dalam nomor statistik diniyah takmiliyah dan entry data emis disitu ada kolom atau tanda ciri khas angka atau apalah itu yang menunjukkan apakah lembaga tersebut madin awwaliyah atau madin wustha maupun madin ulya.

Jika ada madin yang uncategoried, bagaimana bisa masuk kedalam data EMIS, sedangkan untuk mendapatkan nomor statistik pun tidak bisa karena dia tidak memiliki jenjang pendidikan.

Dan yang kedua yaitu ijazah bagi santri yang telah selesai pendidikan, ketiadaan jenjang membuat santri tidak memiliki kans untuk mendapatkan ijazah.

Sebagaimana diketahui bahwa ijazah MDT yang diterbitkan oleh Kementerian Agama kesemuanya telah terbagi bagi untuk setiap jenjang pendidikan dengan bingkai warna tertentu pada masing masing jenjang.

Jadi tidak ada lembar blangko ijazah yang bersifat universal memberikan cakupan yang fleksibel kepada lembaga madin diluar jenjang awaliyah wustha ulya maupun aljami’ah.

Terlepas apa yang menjadi pertanyaan saya dikepala ini saya kira kenyataan yang ada lembaga akan tetap mengklaim dirinya berada pada jenjang pendidikan tertentu (umumnya MDT awwaliyah atau wustha) terlepas dia secara kenyataan berjenjang atau tidak.

Ya menurut saya sih aneh saja kalau memang ada pembagian kategori madin berjenjang dan tanpa jenjang, nambahin kerjaan saja heheheee….

Wilujeng siang, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pembagian Kelas Madrasah Diniyah Takmiliyah

Informasi dasar tentang sistematika pembagian kelas untuk MDTA MDTW MDTU pada lembaga yang dikenal dengan Madin baik jenjang awwaliyah wustha maupun ulya.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, pada beberapa kali mengobrol dengan pengelola madin, ternyata dalam pembagian kelas lembaga yang diampu ada macam macam ide dalam pengejawantahannya.

Bagi lembaga madrasah diniyah yang relatif sudah maju maka akan ada pembagian kelas bagi santri yang menuntut pada lembaga ini.

Untuk madin yang masih dalam taraf grayak grayak atau dalam masa pertumbuhan, ternyata masih ada madin yang uniclass.

Maksudnya lembaga ini hanya memiliki sebuah kelas untuk lembaganya tidak perduli sudah berjalan bertahun-tahun.

Kenapa bisa begitu? Ada beberapa faktor kenapa suatu madin tidak memiliki pembagian kelas bagi santrinya.

Faktor yang membuat kejadian seperti itu diantaranya adalah :

  • Jumlah santri yang tidak memadai atau hanya sedikit sehingga kurang untuk dibagi;
  • Jumlah pengajar yang hanya satu dua orang;
  • Manajemen lembaga alakadarnya asal sekolah belajar dan pulang.

Setidaknya itulah 3 hal yang membuat lembaga madrasah diniyah takmiliyah tidak melakukan pembagian kelas.

Tingkatan Madrasah diniyah takmiliyah

Sebelum merasuki tentang pembagian kelas untuk madin, ada baiknya kita mengenali dulu mengenai jenjang apa saja pada madin.

Yang pertama adalah jenjang awwaliyah, biasa disingkat dengan MDTA, jenjang ini diperuntukkan untuk anak anak tingkatan SD atau MI dan lingkup yang sederajat.

Yang kedua, jenjang wustha biasa disingkat MDTW. Diperuntukkan bagi murid murid yang sekolah pada level SLTP atau MTsN.

Yang ketiga, Ulya yaitu tingkatan madrasah diniyah takmiliyah yang diperuntukkan bagi siswa yang berada pada jenjang pendidika SLTA atau Madrasah Aliyah. Biasa disingkat dengan MDTU.

Yang keempat atau MDT alJamiah, suatu jenjang pendidikan diniyah takmiliyah bagi mahasiswa atau pendidikan sekolah tinggi alias mahasiswa.

Pembagian kelas Madrasah Diniyah Takmiliyah awaliyah Wustha Ulya

Setelah mengetahui jenjang madin yang terdiri dari 4 level, selanjutnya mengacu kepada buku pedoman madin yang dirilis oleh Kementerian Agama maka pembagian kelas adalah sebagai berikut;

MDTA atau Awwaliyah, terdiri dari 4 kelas yang pembagian kelasnya berdasarkan angka.

Semakin besar angka nya maka semakin tinggi tingkatannya. Berikut kelas untuk Madrasah diniyah takmiliyah awaliyah;

  • Kelas 1;
  • Kelas 2;
  • Kelas 3; dan
  • Kelas 4.

MDTW atau jenjang wustha, terdiri dari dua tingkatan dengan sistem yang sama seperti pada awaliyah, hanya berbeda dalam jumlah kelas.

Berikut kelas untuk jenjang madin wustha;

  • Kelas 1, dan
  • Kelas 2.

Selanjutnya untuk pembagian kelas MDTU alias Madin ulya, sama seperti pembagian kelas pada jenjang wustha terdiri dari 2 tingkat yaitu;

  • Kelas 1; dan
  • Kelas 2.

Selanjutnya jenjang aljamiah atau tingkatan madin bagi mahasiswa perguruan tinggi, saat ini saya pribadi belum menemukan jenjang pembagian kelasnya.

Malah dalam buku pedoman madin yang dikeluarkan kemenag (sudah agak bertahun tahun keluarnya) tidak membahas sedikitpun mengenai jenjang madin al Jami’ah.

Penutup

Itulah informasi dasar mengenai pendidikan madrasah diniyah takmiliyah dalam hal pembagian kelas menurut jenjangnya.

Semoga madrasah diniyah semakin maju dalam kualitas pendidikan, manajemen serta menghasilkan lulusan dan alumni yang mumpuni bidang keilmuan serta budi pekerti luhur akhlaq mulia.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pendidikan TPQ dan Madrasah Diniyah Tidak Nyambung secara Jenjang

Opini tentang kesinambungan jenjang pendidikan Pendidikan Diniyah dari Lembaga Pendidikan Al Qur’an (LPQ) yang terdiri dari TKQ, TPQ dan TQA serta Madrasah Diniyah Takmiliyah ditinjau dari menyambungnya jenjang pendidikan pada tingkatan yang lebih tinggi.

pontren.com – mengamati tentang pedoman dalam pelaksanaan lembaga LPQ (yang biasanya paling terkenal yaitu TPQ, sedangkan TKQ dan TQA jarang yang menyentuhnya) serta kaitan dengan kesinambungan pendidikan pada Madrasah Diniyah Takmiliyah yang berfungsi sebagai komplemen pada pendidikan agama di sekolah formal.

Baca;
Jenjang pendidikan pada Madrasah Diniyah Takmiliyah #
Jenjang pendidikan TPQ secara detil #
Jenjang pendidikan madin membuat saya bingung #

Saya berusaha untuk mengotak atik tentang jenjang pendidikan pada TKQ TPQ dan TQA dengan Jenjang pendidikan yang ada pada Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Bagian yang di utak atik yaitu bagaimana menyatukan atau mencoba memahami pendidikan yang berkesinambungan berdasarkan jenjang pendidikan yang ada pada lembaga TPQ maupun Madin di kombinasikan dengan tingkatan anak didik pada sekolah formal semisal SD MI MTs maupun SLTP sampai dengan SMA bahkan Perguruan Tinggi.

Pun nantinya ada yang membantah atau berargumen yang berbeda atau menyalahkan, saya pribadi juga welcome menerima dengan lapang lapang dada terbuka selebar luas yang bisa dijangkau.

Untuk memahami apa yang saya otak atik, pertama akan kami sampaikan tentang data dan fakta mengenai jenjang pendidikan pada kedua lembaga ini.

Jenjang pendidikan Lembaga Pendidikan Al Qur’an (TKQ TPQ dan TQA)

back to TPQ
back to TPQ

Lembaga Pendidikan Al Qur’an memiliki 3 jenjang pendidikan yaitu;

TKQ ditempuh 2 tahun
TPQ ditempuh 3 tahun
TQA ditempuh 2 tahun

Masing masing lembaga memiliki jenjang yang disebut dengan level, yaitu

TKQ terdiri dari 2 level yaitu level a dan b
TPQ terdiri dari 3 level yaitu level a, b, dan c
TQA terdiri dari 2 level yaitu a dan b

Dengan asumsi bahwa TKQ 2 level maka untuk anak yang sekolah pada paud TK mestinya berada pada jenjang pendidikan di tingkatan ini. Setelah lulus dan memasuki madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar maka sang anak naik pada jenjang TPQ, kelas 1 berada di level a, kelas 2 di level b dan kelas 3 mi atau SD berada pada jenjang pendidikan TPQ level C.

Itu yang dapat dipahami secara analisa pribadi. Selanjutnya jika memilih TQA sebagai lanjutan pendidikan pasca kelulusan Taman Pendidikan Alquran level C maka sang anak berada pada jenjang pendidikan kelas 4 dan disaat kelas 5 dia ada pada TQA level b.

Terus kelas enam sekolah dasar atau mi, sang santri melanjutkan pendidikan kemana? Ke madrasah diniyah takmiliyah?? Mau masuk jenjang apa kalau dia lulus TQA disaat kelas 5 naik kelas enam? Diketahui bahwa madrasah diniyah awaliyah terdiri dari 4 jenjang pendidikan.

Jenjang pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah

santri Madrasah Diniyah Takmiliyah sedang belajar (ilustrasi)
santri Madrasah Diniyah Takmiliyah sedang belajar (ilustrasi)

Untuk madin terdiri dari beberapa tingkatan yaitu;

Madrasah Diniyah Takmiliyah awaliyah
Madrasah diniyah takmiliyah wustha
Madrasah diniyah takmiliyah ulya
Madrasah diniyah takmiliyah aljamiah

Dan pada masing masing jenjang madin ini memiliki kelas atau tingkatan sebagai berikut;

Madin Awaliyah dibagi menjadi 4 tingkatan
Madin wustha terdiri dari 2 tingkatan
Madin ulya terdiri dari 2 tingkatan
Madin aljamiah entah berapa tingkat yang diperlukan, bisa jadi di desain 6 tingkat mengakomodasi 6 semester pendidikan di kampus.

Itulah data dan fakta mengenai lembaga pendidikan madrasah diniyah takmiliyah.

analisa usia santri dan jenjang pendidikannya pada sekolah formal SD dan MI

Sekarang mari kita coba menganalisa umur atau usia anak santri dan tingkat pendidikan formal pada lembaga di gabungkan dengan kedua lembaga ini.

Anak tk a belajar di tkq level a
Anak tk b belajar di tkq level b
Anak kelas 1 sd/mi belajar di TPQ level a
Anak kelas 2 sd/ mi belajar di TPQ level b
Anak kelas 3 sd/mi belajar di TPQ level c

Sampai disini tidak ada masalah atau problem kecuali permasalahan dana dan sumber daya manusia yang mengajar.

Setelah lulus dari TPQ, apakah anak akan melanjutkan ke TQA atau ke Madrasah Diniyah Takmiliyah?

Dengan asumsi melanjutkan ke TQA maka sang anak melanjutkan pembelajaran selama 2 tahun, berikut infonya

Kelas 4 SD/MI belajar di TQA level a
Kelas 5 SD/MI belajar di TQA level B -> anak lulus

Disini masalah kesinambungan pembelajaran muncul, disaat usia kelas enam, secara teknis juknis terdapat blind spot untuk jenjang lanjutan lulusan TQA.

Mau lanjut ke madrasah diniyah takmiliyah? kita lihat gambaran tentang desain madin sebagai komplemen pendidikan.

lulusan wisuda TPQ
ilustrasi wisuda santri putri

Berdasarkan asumsi saya, anak kelas 1 dan kelas 2 sd sepertinya tidak atau belum bisa memasuki pembelajaran pada Madrasah Diniyah Takmiliyah awaliyah yang terdiri dari 4 jenjang pendidikan.

Karena sang anak masih belajar dalam kegiatan belajar membaca alquran. Jadi asumsi saya santri yang belajar pada kelas 1 madrasah diniyah takmiliyah adalah murid pada sekolah formal kelas 3 pada SD atau MI, dengan analisa bahwa mereka kelas 6 lulus pendidikan Madin bersamaan dengan kelulusan dari lembaga MDTA.

Problem yang didapat adalah, berdasarkan jenjang pendidikan LPQ, anak lulusan TPQ yang menempuh lengkap level Taman Pendidikan alquran berada pada kelas 3 naik kelas 4, sehingga tidak match antara permulaan pendidikan madrasah diniyah awaliyah dimulai awal masuk kelas 3 SD atau MI.

Sedangkan lulusan TPQ adalah anak yang memasuki pendidikan kelas 4 SD atau MI, disini terdapati lagi 1 ketidaknyambungan dalam jenjang pendidikan.

Blind Spot dan penumpukan jenjang pada pendidikan Islam Nonformal

blind-spot-dan-jenjang-yang-bertumpuk

Dari opini saya pribadi bahwa terdapat blind spot (lulusan TQA berada pada kelas 5naik kelas 6) dan dan double level pendidikan yang bertabrakan (TPQ level C dengan Jenjang pendidikan Madin kelas 1 dimana sama sama berada pada kelas 3 pendidikan formal baik pada SD atau MI.

Belum lagi kalau anda menganalisa jenjang madin pada level wustha dan ulya, terdapat blind spot pada kelas 3 karena madin wustha dan ulya hanya mempunyai 2 level pendidikan.

Sampai saat ini saya belum menemukan kenapa setting dari jenjang pendidikan pada TPQ maupun madin seperti itu, dan harapan kami dapat memberikan pencerahan kepada kami bagaimana sebenarnya filosofi dan arah tujuan dalam setting jenjang tingkat pendidikan pada lembaga pendidikan Islam non formal khususnya LPQ yang terdiri dari TKQ TPQ TQA dan Madin baik jenjang awaliyah wustha ulya dan aljamiah.

Jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah

buku-pedoman-madin
buku pedoman madrasah diniyah takmiliyah

Selain lembaga pondok pesantren dan taman pendidikan al Qur’an, salah satu lembaga non formal keagamaan Islam adalah Madrasah Diniyah Takmiliyah yang sering disebut dengan Madin. Seiring dengan perubahan aturan, akhir akhir ini kementerian agama atau Kemenag yang dahulu bernama Departemen Agama ( Depag) lebih memilih menamakan Diniyah takmiliyah. berita yang beredar adalah dengan menyandang nama madrasah dikhawatirkan nanti nya akan menuntut hak kepada Pemerintah seperti Madrasah Ibitidaiyyah atau Tsanawiyah ataupun Madrasah Aliyah. Dengan menghilangkan kata Madrasah maka meminimalisir dari tuntutan persamaan hak.

Jenjang Madin

Kembali lagi ke jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :

  1. Awwaliyah,
  2. Wustha
  3. Ulya.

penjelasan singkat dan peruntukan tingkatan pada Madrasah Diniyah Takmiliyah

adalah sebagai berikut :

  • Madrasah diniyah Awwaliyah (MDTA) diperuntukkan bagi anak-anak berumur sekolah dasar dengan asumsi umur 9-12 tahun.
  • Sedangkan untuk Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) merupakan wadah bagi para siswa setingkat SLTP atau MTs dengan kisaran umur 12-15 tahun. dan
  • untuk madrasah diniyah takmiliyah Ulya atau MDTU bagi mereka yang duduk di tingkat SMA atau MA.

Kenapa pembagian seperti itu? Karena secara prinsip Program Madrasah diniyah Takmiliyah di tujukan sebagai suplemen pendidikan keagamaan Islam di kalangan anak-anak sekolah untuk memperdalam pendidikan agama yang didapatkan di lingkungan sekolah sehingga bisa meningkatkan prestasi akademis di bidang pendidikan agama. Selain tentu pada dataran praktek dan perilaku menjadi pertimbangan dalam sasarannya.

Berapa tahun jengang pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah?

Dalam buku pedoman pembelajaran Madrasah Diniyah Takmiliyah, jenjang pendidikan MDT seperti tertulis diatas terbagi menjadi tiga tingkatan. Sedangkan secara ukuran lama pendidikan diperinci seperti dibawah ini :

  1. Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah menempuh pendidikan selama  4 Tahun
  2. Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha menempuh pendidikan selama 2 tahun
  3. Madrasah Diniyah Takmiliyah Ulya menempuh pendidikan selama 2 tahun

dengan begitu bagi seorang santri yang runut dan tertib mengikuti pendidikan diniyah takmiliyah akan bisa mendapatkan ijazah MDT Ulya setelah menempuh pendidikan selama 8 tahun. yang menjadi pertanyaan saya, jika pendidikan untuk tingkat wustha dan Ulya adalah selama 2 tahun pada masing masing tingkatan, maka akan terjadi lowong waktu dimasa santri lulus pendidikan wustha karena secara sasaran MDT ditujukan sebagai suplemen pendidikan keagamaan Islam di lingkungan sekolah. Jika anak tersebut melanjutkan ke jenjang ulya maka secara teknis kurikulum pendidikan diniyah takmiliyah akan mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan pelajaran keagaamaan di SMA atau Madrasah Aliyah. Padahal siswa tersebut masih berada di kelas 3 SMP atau MTs. Mungkin para pengambil kebijakan diatas menimbang dengan adanya ujian kelas 3 dan ujian nasional sehingga pada jenjang Wustha dan Ulya hanya berdurasi 2 tahun sehingga pada tahun ke-3 santri dapat konsentrasi untuk menghadapi Ujian Nasional ataupun Ujian Akhir.

baca : KURIKULUM, KOMPETENSI LULUSAN, PROSES PEMBELAJARAN MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH.

baca : PENGERTIAN, KEDUDUKAN, TUJUAN DAN FUNGSI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH