Arsip Tag: ibadah

Letak Juz Dalam Al-Qur’an, dasar pembagian, Jumlah Halaman

juz dalam al-Qur’an. Daftar halaman, arti satu juz, serta cara mencari nama surat dalam al-Qur’an. artinya satu juz menurut saya adalah seper tiga puluh bacaan al-Qur’an. Lazimnya mushaf saat ini satu juz adalah 9 sampai dengan 10 lembar kitab suci Ummat Islam ini.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, lazimnya, letak tanda juz dalam al-Qur’an berada di sebelah kanan bagian atas pada lembar mushaf al-Qur’an. Sedangkan sebelah kiri adalah nama surat.

dasar pembagian juz

Pada jaman para sahabat nabi, biasanya para sahabat ini khatam membaca Al Qur-an dalam waktu sepekan (tujuh hari).

Akan tetapi untuk kalangan awam hal ini (mengkhatamkan ngaji dalam 7 hari) sangat berat. Selanjutnya muncul ide pembagian Al Qur-an menjadi 30 juz.

Tujun Pembagian berdasarkan juz ini supaya yang membaca al-Qur’an bisa mengukur waktu untuk dapat khatam al-Quran sekali per bulan.

Dalam berbagai keterangan, yang pertama kali membagi mushaf Al-Quran menjadi 30 juz (bagian) adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi (W 110 H).

Pembagian berdasarkan juz ini berpatokan pada jumlah huruf. Yang melakukan pembagian kala itu adalah para cendekiawan di Iraq atas perintah tugas dari Al-Hajjaj.

Pembagian ini membantu pembaca al-Qur’an yang ingin khatam dalam satu bulan (30 hari).

Supaya lebih terukur kapan saatnya membaca agar khatam 30 juz.

Arti satu juz dalam al-Qur’an adalah satu bagian (juz = bagian). Dalam pembagain juz ini mengacu kepada pembagian al-Qur’am menjadi 30 bagian.

nama 30 juz dalam al qur’an

yang lazim nama nama juz dalam al-Qur’ana dalah urutan angkanya, yaitu juz satu, juz dua sampai dengan juz terakhir yaitu juz 30.

Jadi sepanjang yang saya tahu hanya satu juz terakhir yang terkenal memiliki nama yaitu juz ‘amma.

Jumlah halaman dalam satu juz

Jika ada pertanyaan yang berbunyi 1 juz berapa halaman? Maka lazimnya mushaf al-Qur’an saat ini adalah 10 lembar untuk satu juz atau 20 halaman, adapula yang 9 halaman atau 18 lembar, tergantung percetakan mana yang mencetaknya.

Nah sekarang anda bisa mencoba menghitung jumlah lembar al-Qur’an yang biasa anda baca, apakah 9 lembar atau 10 lembar dalam satu juz alQur’an.

Tanda Juz di Quran

untuk membedakan perpindahan dari juz satu ke yang lainnya biasanya berupa tulisan awal yang tebal pada al-Qur’an, juga adanya perubahan angka juz pada pojok kanan lembar al-Qur’an yang disebelah kiri.

Selain itu pada mushaf yang banyak beredar di Indonesia, pergantian ini dengan keberadaan tanda juz yaitu tulisan huruf lebih tebal dan bergaris bawah.

cara mencari nama surat dalam al quran (juz dalam al-Qur’an)

ada sebuah informasi bonus yaitu cara mencari nama surat dalam al-Qur’an.

Yang pertama mencari nama surat yang anda baca, yaitu caranya dengan melihat pada lembar yang sedang sampean baca, kemudian lihatlah pada sebelah kiri atas, disitu ada nama surat yang sedang anda baca. Sedangkan pada sebelah kanan adalah awal kalimat dan juz al-Qur’an.

Yang kedua yaitu mencari nama surat yang hendak anda baca, tentu akan praktis jika sampean sudah hafal urutan nama suratnya.

Jika tidak, sampean bisa membuka mushaf al-Qur’an pada halaman belakang, disitu ada daftar nama surat beserta halamannya. Mulai awal sampai dengan akhir. Tentunya dengan menggunakan huruf hijaiyah, bukan teks latin.

Setelah ketemu surat yang anda maksud, kemudian carilah halamannya, dan bukalah halaman yang ada dalam daftar, tentunya sampean akan menemukan surat yang anda inginkan kemudian carilah ayat yang hendak anda mau.

Dan yang terakhir yaitu cara paling praktis, bukalah hape anda, kemudian ketikkan nama surat, pada internet akan muncul nama surat beserta urutan angka surat keberapa, anda tinggal mencarinya pada mushaf al-Qur’an.

Demikian, semoga membantu, wassalaamu’alaikum.

Cara Meningkatkan Kualitas Ibadah untuk Peningkatan Iman Taqwa

Serial materi isi khutbah jum’ah tentang tips kiat cara meningkatkan kualitas ibadah dalam rangka peningkatan iman dan taqwa. Jumatan pada masjid al Hidayah Tasikmadu Karanganyar dekat tempat kerja.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh, wilujeng siang, selamat ber apa saja para kaum mislimin wal muslimat di segala penjuru dunia. Utamanya pada kota besar Jakarta, Surabaya Depok Semarang Surakarta dan lain sebagainya.

meningkatkan kualitas ibadah dalam rangka peningkatan iman dan taqwa

Pada hari ini kami melaksanakan salat jumat pada masjid yang berada tidak jauh dari tempat kerja. Jaraknya hanya sekitar 5 menit perjalanan dengan berjalan kaki.

Adapun materi isi khutbah jumat kali ini berisi tentang kiat dan cara dalam rangka meningkatkan kualitas dalam beribadah. Salah satu tujuannya untuk peningkatan iman dan taqwa.

baca : BAIK SECARA LAHIR, BAIK SECARA BATIN DAN JANGAN DITAMPAKKAN

Dalam khutbah jumat ini sang khatib menyampaikan bahwa selain pesan untuk meningkatkan iman dan taqwa perlu pula menyampaikan cara atau ilmu dalam meningkatkannya.

Karena apa?

Karena pemberitahuan untuk meningkatkan iman dan taqwa masih berupa bahan mentah, alias tidak semua orang memahami tata cara dalam peningkatannya.

Sehingga kata “monggo kito tingkataken – poro jamaah sumonggo kito ningkataken iman soho taqwa kito dhumateng ngarsanipun gusti Allah SWT” menjadi kurang efektif.

Orang awam yang belum paham tidak mengetahui bagaimana cara meningkatkan iman dan taqwa.

Tips, Kiat, dan Cara Meningkatkan kualitas Ibadah

Selanjutnya salah satu kiat dan tips yang disampaikan dalam meningkatkan kualitas ibadah yaitu dengan teknik beribadah dan mengingat kematian.

Dalam memberikan ilmu meningkatkan kualitas ibadah dengan maksud tujuan untuk peningkatan iman dan taqwa. Bapak khotib khutbah jumah menyitir suatu kata bijak yang berbunyi

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً ، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

“I’mal lidunyaaka ka-annaka ta’iisyu abadan, wa’mal li-aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan.”

Artinya : Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok

Ada yang menganggap kalimat ini merupakan hadits nabi. Akan tetapi menurut situs rumaysho mengatakan bahwa kalimat ini bukanlah hadits dari nabi.

sumber : Rumaysho.com Bekerja untuk duniamu sekan akan hidup selamanya

Yang menjadi penekanan yang beliau sampaikan adalah metode beribadah seakan-akan mati besok.

Dengan mengasumsikan situasi seperti itu (dan tidak ada yang bisa menjamin kapan ajal kematian datang) maka tentu dalam beribadah akan lebih fokus dan khusyu’.

Beliau juga mengingatkan mengenai ketidak pastian kapan ajal. Contohnya seperti beberapa saat yang lalu ada orang yang melayat, kemudian beberapa hari yang melayat meninggal dunia.

baca : TIPS SHOLAT KHUSYU’ DARI KHOTIB KHOTBAH JUMAT

Dari situ dengan situasi ketidakpastian kedatangan ajal dan memposisikan ibadah dan pelaksanaannya. Misalnya salat jum’at ini adalah ibadah terakhir, maka akan ada perhatian lebih dalam kekhusyukannya.

Itulah salah satu isi materi khutbah jum’at di masjid Al Hidayah. Khutbah yang disampaikan pada tanggal 15 Januari 2021 Waktu Indonesia Barat.

Kesimpulan

Selain menyampaikan pesan untuk iman dan taqwa, khatib juga perlu menyampaikan cara untuk meningkatkan kualitas ibadah. supaya masyarakat meningkat keimanan dan ketaqwaan.

Kata kata “ bekerjalah seakan akan hidup selamanya dan beribadahlah seakan mati besok” bukan merupakan hadits nabi.

Salah satu tips dan kiat untuk meningkatkan kualitas beribadah dengan menganggap ibadahsekarang seperti ibadah terakhir kalinya di dunia ini.

Bacaan Sholat Terjemah Bahasa Jawa dan Kumpulan Doa dengan Arti Boso Jowo

Tulisan mengenai bacaan sholat dalam tulisan arab dengan terjemah arti boso jowo beserta kumpulan doa doa yang diterjemahkan kedalam bahasa Jawa bermanfaat untuk mengisi pengajian ataupun taklim kalangan bapak bapak dan ibu ibu dalam kajian rutin orang tua dewasa maupun remaja.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, selamat siang para kaum muslimin wa muslimatin yang saat ini sedang waspada terhadap berbagai virus dan apalah apalah namanya PSBB maupun lock down. Semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa diberikan kepada kita semua.

Beberapa saat yang lalu saya mendapatkan kiriman file dalam format doc ms word melalui whatsapp yang berisi tentang tuntunan bacaan salat dengan terjemah bahasa jawa.
Juga didalamnya terdapat doa doa dengan dasar dan sumber hadits yang dicantumkan juga diartikan secara boso Jowo.

Terima kasih kepada Ustadz Syarifuddin, SHI Al Panasani dari Gagak Sipat Boyolali, semoga amal jariyah memberikan barakah sakinah mawaddah wa rahmah dan juga dapat memberikan manfaat kepada para mubaligh maupun bagi orang orang yang hendak belajar sholat dengan menggunakan terjemah bahasa jawa.

Berikut bacaan sholat dan doa doa terjemah bahasa Jawa.

LAFAL BACAAN SHALAT DAN ARTINYA DALAM BAHASA JAWA

Takbir;

اَللهُ اَكْبَرُ

“Alloh meniko ingkang moho agung.”

Doa istiftah (Iftitah);

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Duh Alloh mugi panjenengan nebihaken dateng kulo saking doso, kados anggen panjenengan sampun nebihaken antawisipun wetan lan kilen.”

اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ

“Duh Alloh mugipanjenengan ngresikaken dateng kulo saking doso, kados anggen panjenengan sampun ngresikaken sandangan ingkang pethak saking rereget.”

اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

“Duh Alloh mugi panjenengan masuh doso kulo kanthi salju, toyo, lan embun.”
(H.R. Al-Bukhari; 1/181 dan Muslim; 1/419).

Ta’awuz;

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Kulo nyuwun rekso dumateng panjenengan saking panggodanipun setan ingkang dipun laknati.”

Surah Al-Fatihah;

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

“Kanthi asmo Alloh ingkang moho mirah tur moho asih.”

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh ingkang mangerani sedoyo alam.”

الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

“Ingkang moho mirah tur moho asih.”

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

“Ingkang ngratoni benjing dinten kiamat.”

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Namung panjenengan piyambak ingkang kulo suwuni pitulung.”

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Mugi nedahaken dateng kulo dateng mergi ingkang leres.”

صِرَاطَ الَّذِينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ

“Merginipun poro tiyang ingkang sampun panjenengan paring nikmat. Sanes merginipun poro tiyang ingkang sami kebendon lan sanes merginipun poro tiyang ingkang sami kesasar.”

آمِيْنَ

“Mugi-mugi ngijabahi ing panyuwun kulo.”

Surah Pendek;

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

“Kanthi asmo Alloh ingkang moho mirah tur moho asih.”

قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ

“Ngucapo siro Muhammad penjenengane Alloh iku mung sawiji.”

اَللهُ الصَّمَدُ

“Alloh iku kang samu barang iku gumantung panjenengane.”

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Ora peputro lan ora diputrakake.”

وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا اَحَدٌ

“Lan ora ono siji-sijio kang madani panjenengane.

Takbir;

اَللهُ اَكْبُرُ

“Alloh meniko ingkang moho agung.”

Rukuk;

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَاوَبِحَمْدِكَ اللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ

“Moho suci panjenengan duh Alloh pengeran kulo lan kanthi memuji dateng panjenengan, duh Alloh kulo nyuwun pangapunten dateng panjenengan.”
(H.R. Al-Bukhari; 1/99 dan Muslim; 1/350).

Iktidal;

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Alloh midangetaken dateng kawulonipun ingkang sami memuji dateng panjenenganipun.”
(H.R. Al-Bukhari dalam Fathul Bari; 2/282).

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Duh pangeran kulo sedoyo puji meniko kagungan panjenengan, pujian ingkang katah, sae, lan katah berkah.”
(H.R. Al-Bukhari dalam Fathul Bari; 2/284).

Takbir;

اَللهُ اَكْبُرُ

“Alloh meniko ingkang moho agung.”

Sujud:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَاوَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ

“Moho suci panjenengan duh Alloh pengeran kulo lan kanthi memuji dateng panjenengan, duh Alloh kulo nyuwun pangapunten dateng panjenengan.”
(H.R. Al-Bukhari; 1/99 dan Muslim; 1/350).

Takbir;

اَللهُ اَكْبُرُ

“Alloh meniko ingkang moho agung.”

Duduk antara dua sujud (Iftirasy):

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

“Duh pangeran kulo, mugi panjenengan paring pangapunten dumateng doso-doso kulo. (2x).”
(H.R. Abu Dawud; 1/532 dan Shahih Ibnu Majah; 1/148).

Sujud;

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَاوَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ

“Moho suci panjenengan duh Alloh pengeran kulo lan kanthi memuji dateng panjenengan, duh Alloh kulo nyuwun pangapunten dateng panjenengan.”
(H.R. Al-Bukhari; 1/99 dan Muslim; 1/350).

Takbir;

اَللهُ اَكْبُرُ

“Alloh meniko ingkang moho agung.”

Duduk Tasyahud;

اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ وَالصَّلَوَاتُ والطَّيِّبَاتُ

“Sedoyo pakurmatan meniko kagunganipun Alloh, semanten ugi sedoyo ngibadah lan sedoyo ingkang sae-sae.”

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Sedoyo kawilujengan mugi tetep dateng panjenengan, duh nabi, semanten ugi rohmatipun Alloh lan berkahipun.”

اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

“Sedoyo kawilujengan mugi tetep dateng kito sedoyo, tuwin dumateng kawulanipun Alloh ingkang sholeh-sholeh.”

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Kulo nyekseni bilih mboten wonten sesembahan kajawi Alloh, lan kulo nyekseni bilih Nabi Muhammad meniko kawulo lan utusanipun.”
(H.R. Al-Bukhari dalam Fathul Bari; 1/13 dan Muslim; 1/301).

Shalawat Nabi setelah Bacaan Tasyahud;

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ، وَعَلى الِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلى اِبْرَاهِيْمَ، وَعَلى الِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ

“Duh Alloh mugi panjenengan paring rohmat dateng Nabi Muhammad, tuwin dumateng keluarganipun Nabi Muhammad, kados anggen panjenengan sampun paring rohmat dumateng Nabi Ibrahim lan keluarganipun Nabi Ibrahim. Sejatosipun panjenengan meniko ingkang pinuji tur minulyo.”

اَللّهُمَّ بَارِكْ عَلى مُحَمَّدٍ، وَعَلى الِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلى اِبْرَاهِيْمَ، وَعَلى الِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ

“Duh Alloh mugi panjenengan paring berkah dateng Nabi Muhammad, tuwin dumateng keluarganipun Nabi Muhammad, kados anggen panjenengan sampun paring berkah dumateng Nabi Ibrahim lan keluarganipun Nabi Ibrahim. Sejatosipun panjenengan meniko ingkang pinuji tur minulyo.”
(H.R. Al-Bukhari dalm Fathul Bari; 6/408).

Doa sebelum salam;

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun rekso dateng panjenengan, ampun ngantos kenging sikso kubur lan sikso neroko, soho saking fitnahipun gesang lan pejah, lan saking sak awon-awone fitnah Masihid Dajjal.”
(H.R. Al-Bukhari; 2/102 dan Muslim; 1/412).

اَللّهُمَّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Duh Alloh sejatosipun kulo sampun nganioyo diri kulo piyambak kanthi panganioyo ingkang katah, mboten wonten ingkang saget paring pangapunten dateng doso-doso kajawi namung panjenengan piyambak, milo mugi panjenengan paring pangapunten dateng kulo saking ngarso panjenengan. Lan mugi panjenengan melasi dateng kulo, sejatosipun panjenengan meniko ingkang moho paring pangapunten tur moho asih.”
(H.R. Al-Bukhari; 8/168 dan Muslim; 4/2.078).

اَللّهُمَّ اَعِنِّيْ عَلى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Duh Alloh mugi panjenengan paring pitulungan dumateng kulo supados saget zikir dumateng panjenengan, syukur dumateng panjenengan, lan ngibadah ingkang sae dumateng panjenengan.”
(H.R. Muslim; 1/534).

Salam;

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Sedoyo kawilujengan mugi tetep dateng panjenengan sedoyo, semanten ugi rohmatipun Alloh lan berkahipun.”

Zikir setelah shalat;

اَسْتَغْفِرُ اللهَ.(3×)

“Kulo nyuwun pangaunten dumateng Alloh.”

اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Duh Alloh panjenengan meniko ingkang rahayu, kaharayon meniko saking panjenengan. Moho berkah panjenengan, duh pangeran ingkang kagungan kahagungan lan kamulyan.”
(H.R. Muslim; 1/414).

لاَ اِلـهَ اِلاَّ اللهُ، وَحْدَه لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Mboten wonten sesembahan kajawi Alloh, mboten wonten ingkang nyameni dateng panjenenganipun, penjenenganipun ingkang kagungan sedoyo peprintahan lan sedoyo pangalembono, panjenenganipun dateng samu kawis langkung kuwaos. ”

اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Duh Alloh mboten wonten ingkang saget ngawisi dumateng ingkang panjenengan paringaken, lan mboten wonten ingkang saget nampikaken dumateng sedoyo ingkang panjenengan awisi, soho sesugihan tiyang meniko mboten migunani dumateng ingkang nggadahi. ”
(H.R. Al-Bukhari; 1/255 dan Muslim; 1/414).

سُبْحَانَ اللهِ. (33×)

“Moho suci Alloh.” (33x).

الْحَمْدُ ِللهِ. (33×)

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh.” (33x).

اَللهُ اَكْبَرُ. (33×)

“Alloh meniko ingkang moho agung.” (33x).

لاَ اِلـهَ اِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Mboten wonten sesembahan kajawi Alloh, mboten wonten ingkang nyameni dateng panjenenganipun, penjenenganipun ingkang kagungan sedoyo peprintahan lan sedoyo pangalembono, panjenenganipun dateng samu kawis langkung kuwaos. ”
(H.R. Muslim; 1/418).

  • Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (Al-Mu‘awwizat). (H.R. Abu Dawud; 2/86 dan An-Nasa’i; 3/68. Lihat pula Shahih At-Tirmizi; 2/8 dan Fathul Bari; 9/62).
  • Membaca ayat kursi (Surah Al-Baqarah [2]; 255). (H.R. An-Nasa’i dalam; Amalul Yaum wal Lailah No. 100 dan Ibnu As-Sinni No. 121. Hadis tersebut dinyatakan shahih oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’; 5/329 dan Silsilah Hadits Shahih, 2/697 No. 972).

BACAAN DOA SEHARI-HARI

Doa untuk Kedua Orang Tua

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Duh pangeran kulo, mugi panjenengan paring pangapunten dateng kulo lan tiyang sepuh kulo kekalih, lan mugi panjenengan melasi dateng kulo lan tiyang sepuh kulo kekalih, kados welasipun tiyang sepuh kulo kekalih naliko ngopeni kulo tasih alit.”
(Q.S. Al-Isra’ [17]: 24).

Doa sebelum Makan

بِسْمِ اللهِ

“Kanthi asmo Alloh.”

(H.R. Abu Dawud; 3/347 dan At-Tirmizi; 4/288.Lihat kitab; Shahih At-Tirmizi; 2/167).

Apabila lupa membaca basmalah sebelum makan, maka membaca doa:

بِسْمِ اللهِ فِيْ اَوَّلِهِ وَآخِـرِهِ.

“Kanthi asmo Alloh wonten ing awalipun lan akhiripun maem.”
(H.R. Abu Dawud, 3/34 dan At-Tirmizi, 4/288).

Doa sesudah Makan

الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh. Kulo memuji dumateng Alloh kanthi pujian ingkang katah, ingkang sae, lan katah berkahipun. Panjenenganipun gusti Alloh mboten betah aken dhaharan saking kawulonipun, mboten dipun tinggalaken lan ugi mboten betah aken dhaharan meniko. Duh pangeran kito.”
(H.R. Al-Bukhari, 6/214 dan At-Tirmizi, 5/507).

Doa mau tidur

بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَمُوْتُ وَاَحْيَا.

“Kanthi asmo panjenengan, duh Alloh kulo pejah dan kulo gesang.”
(H.R. Al-Bukhari, 11/113 dan Muslim, 4/2.083).

Doa bangun tidur

الْحَمْدُ ِللهِ اَحْيَانَا بَعْدَ مَا اَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh, ingkang sampun nggesangaken dateng kulo sak sampunipun mejahi datang kulo, lan kulo tangi wangsul dumateng panjenenganipun.”
(H.R. Al-Bukhari, 11/113 dan Muslim, 4/2.083).

Doa masuk WC

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun rekso dumateng panjenengan, saking tumindak ingkang jember lan barang ingkang jember.”
(H.R. Al-Bukhari, 1/45 dan Muslim, 1/283).

Doa keluar WC

غُفْرَانَكَ

“Kulo nyuwun pangapunten dumateng panjenenganipun gusti Alloh.”
(H.R. Abu Dawud, No. 28, Ibnu Majah, No. 296, dan Ahmad, No. 34.063).

Doa Akan Belajar

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Duh pangeran kulo mugi panjenengan nambahi ilmu dateng kulo..”
(Q.S. Taha [20]: 114).

Doa Penutup Majelis

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

“Mohosuci panjenengan duh Alloh lan kanthi memuji dateng panjenengan, kulo nyekseni bilih mboten wonten sesembahan kajawi namung panjenengan, kulo nyuwun pangapunten dateng panjenengan, lan kulo tobat dateng panjenengan.”
(H.R. At-Tirmizi; 3/153, An-Nasa’i; 308, dan Ahmad; 6/77).

Doa untuk Kebaikan di Dunia dan Akhirat

رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى اْلاخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Duh Alloh pangeran kulo mugi panjenengan paring dateng kulo kesaenan wonten ing ndonyo lan kesaenan wonten ing akherat, soho mugi panjenengan nebihaken dateng kulo saking sikso neroko.”
(Q.S. Al-Baqarah, [2]: 201).

Doa ketika Berpakaian

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh, ingkang sampun maringi rasukan meniko kangge kulo, lan maringaken rasukan meniko dateng kulo kanthi mboten wonten doyo lan kekiyatan saking kulo.”
(H.R. Abu Dawud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah. Lihat; Irwa’u Al-Ghalil; 7/47).

Doa Naik Kendaraan

بِسْمِ اللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ (سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ، وَاِنَّا اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ). اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ

“Kanthi nyebut asmanipun Alloh, sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh. Mohosuci pangeran kulo ingkang sampun nundhukaken tumpakan meniko kangge kulo, lan kulo mboten saget nundhukaken tumpakan meniko. Lan dumateng pangeran kulo, kulo badhe wangsul. Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh (3x), Alloh meniko ingkang moho agung (3x), Mohosuci panjenengan duh Alloh sejatosipun kulo sampun nganioyo dumateng kulo pribadi, milomugi panjenengan paring pangapunten dateng kulo. Sejatosipun mboten wonten ingkang saget maringi pangapunten dumateng sedoyo doso kajawi namung panjenengan piyambak.”
(H.R. Abu Dawud; 3/34 dan At-Tirmizi; 5/501).

Doa Keluar Rumah

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ.

“Kanthi asmo Alloh kulo pasrah dumateng Alloh, lan mboten wonten doyo lan mboten wonten kekiyatan kajawi saking Alloh.”
(H.R. Abu Dawud; 4/325 dan At-Tirmizi; 5/490).

Doa Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْناَ وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا.

“Kanthi asmo Alloh kulo kulo mlebet, lan kanthi asmo Alloh kulo medal, lan naming dumateng Alloh pangeran kulo, kulo pasrah.”
(H.R. Abu Dawud; 4/325. Hadis tersbut dinilai dha‘if oleh Syaikh Al-Albani di dalam kitab; Dha‘if Abi Dawud, No. 5.096 dan Al-Kalamuth Thayyib, No. 62).

Doa Masuk Masjid

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Kanthi asmo Alloh lan mugi-mugi rahmat saha kawilujengan tetep dumateng Nabi Muhammad. Duh Alloh mugi panjenengan mbikakaken kangge kulo pintu-pintune rohmat panjenengan.”
(H.R. Abu Dawud; 1/528 dan Muslim; 1/494).

Doa Keluar Masjid

بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ مِنْ فََضْلِكَ

“Kanthi asmo Alloh lan mugi-mugi rahmat saha kawilujengan tetep dumateng Nabi Muhammad. Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun kanugrahan panjenengan.”
(H.R. Ibnu Majah; 129).

Doa sebelum Wudhu

بِـسْمِ اللهِ

“Kanthi asmo Alloh.”
(H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad. Lihat; Irwa’ul Ghalil; 1/122).

Doa sesudah Wudhu

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Kulo nyekseni bilih mboten wonten sesembahan kajawi Alloh, mboten wonten ingkang saget nyameni dateng panjenenganipun. Lan kulo nyekseni bilih Nabi Muhammad meniko kawulo lan utusanipun.”
(H.R. Muslim; 1/209).

Doa sesudah Azan

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ اْلقَائِمَةِ، اتِ مُحَمَّدَا الْوَسِيْلَةَ وَاْلفَضِيْلََةَ، وَابْعَثْهُ مَقَاًمًا مَحْمُوْدَا الَّذِيْ وَعَدْتَّهُ. نِ

“Duh Alloh ingkang kagungan timbalan ingkang sampurno meniko, lan shalat ingkang kaadekaken meniko. Mugi panjenengan paring dateng Nabi Muhammad pangkat ingkang minulyo lang ingkang utami. Lan mugi panjenengan ngenggenaken dateng nabi Muhammad ing panggenan pinuji ingkang sampun panjenengan janjekaken..”
(H.R. Al-Bukhari; 1/152).

Doa ketika Bersin

الْحَمْدُ ِللهِ

“Sedoyo puji meniko kagunganipun Alloh.”
Hendaklah yang mendengar mengucapkan:

يَرْحَمُكَ اللهُ

“Mugi-mugi Alloh paring rahmat dateng panjenengan.”
Hendaklah yang bersin membalas dengan berdoa:

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ.

“Mugi-mugi Alloh paring pitedah dateng panjenengan dan maringi kesaenan dateng kahanan panjenengan.”
(H.R. Al-Bukhari; 7/125).

Doa Berlindung dari Rasa Malas

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun rekso dumateng panjenengan saking sifat lemah, sifat males, sifat pengecut, sifat bakhil, pikun, lan saking azab kubur.”
(H.R. Muslim; 2/ 2.088).

Doa Meminta Hujan

اللّهُمَّ اَغِثْنا، اللّهُمَّ اَغِثْنا، اللّهُمَّ اَغِثْنا

“Duh Alloh mugi panjenengan paring jawah dumateng kito. (3x).”
(H.R. Al-Bukhari; 1/224 dan Muslim; 2; 613).

Doa ketika Hujan Turun

اَللّهُمَّ صَبِيَّا نَافِعاً

“Duh Alloh mugi panjenengan ndadosaken jawah meniko jawah ingkang mbeto manfaat.”
(H.R. Al-Bukhari; 2/518).

Doa agar Hujan Berhenti

اَللّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللّهُمَّ عَلَى اْلاكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُوْنِ اْلاَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Duh Alloh mugi panjenengan maringi jawah dumateng kito lan ampun ngantos jawah meniko mbeto bencana dumateng kito. Duh Alloh mugi panjenengan maringi jawah dumateng daerah bukit, gunung, lembah, lan panggenan-panggenan ingkang saget nuwuhaken wit-witan.”
(H.R. Al-Bukhari; 1/224 dan Muslim; 2/ 614).

Doa ketika Ada Angin Kencang

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا اُرْسِلَتْ بِهَ، وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا اُرْسِلَتْ بِهِ

“Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun dateng panjenengan kesaenan angin meniko, lan kesaenan ingkang wonten ing dalem angin meniko, lan kesaenan ingkang panjenengan kenthunaken wonten ing angin meniko. Lan kulo nyuwun rekso dumateng panjenengan saking keawonan angin meniko, lan keawonan ingkang wonten ing dalem angin meniko, lan keawonan ingkang panjenengan kenthunaken wonten ing angin meniko.”
(H.R. Al-Bukhari; 4/76 dan Muslim; 2/616).

Doa ketika Ada Halilintar

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلآَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ.

“Moho suci Alloh ingkang gludug kemawon sami podho tasbih kanthi muji dumateng panjenengan, lan poro malaikat ugi sami podho tasbih awit ajrih dumateng panjenengan.”
(Lihat kitab Al-Muwaththa’; 2/992).

Doa ketika Berbuka Puasa

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ.

“Ngelakipun sampun ical, otot-otot sampun teles, mugi ganjaranipun tetep, insya Alloh, sauger Alloh ngersakaken.”
(H.R. Abu Dawud; 2/306. Lihat Shahihul Jami‘; 4/209).

Doa ketika Menjenguk Orang Sakit

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ اِنْ شَاءَ اللهُ

“Mboten dados menopo, mugi-mugi sakit panjenengan saget ngresikaken dosa-dosa panjenengan. Insya Alloh, sauger Alloh ngersakaken.”
(H.R. Al-Bukhari dalam Fathul Bari’; 10/118).

Doa ketika Mendapatkan Musibah

اِنَّا ِللهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. اللّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَاَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Sejatosipun kulo meniko kagunganipun Alloh, lan sejatosipun kulo meniko badhe wangsul dateng panjenengan. Duh Alloh, mugi panjenengan paring ganjaran dumateng kulo kerono musibah meniko, lan mugi panjenengan maringi gantos ingkang langkung sae dumateng kulo.”
(H.R. Muslim; 2/632).

Doa ketika Ziarah Kubur

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاِنَّا اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ. (اَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ). لا

“Sedoyo kawilujengan mugi tetep dumateng panjenengan sedoyo, hai ahli kubur saking tiyang-tiyang mukmin lan tiyang-tiyang muslim. Lan sejatosipun kulo insya Alloh badhe nyusul panjenengan sedoyo, lan mugi-mugi Alloh paring rahmat dumateng tiyang-tiyang ingkang sampun sedho langkung rumiyin soho dumateng tiyang-tiyang ingkang sedho sak mangkih. (Kulo nyuwun dumateng Alloh mugi paring kawilujengan dateng kulo lan penjenengan sedoyo).”
(H.R. Muslim; 2/671 dan Ibnu Majah; 1/494).

Doa sesudah Shalat Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3x) }رَبِّ الْمَلآَئِكَةُ وَالرُّوْحُ{.

“Moho suci zat ingkang moho rojo ingkang langkung moho suci. {Pangeranipun poro malaikat lan pangeranipun malaikat Jibril}.”
(H.R. An-Nasa’i; 3/244 dan Ad-Daruqutni; 2/31. Kalimat di antara tanda kurung adalah tambahan menurut Imam Ad-Daruqutni. Lihat; Zadul Ma’ad, 1/337).

Doa ketika Menjumpai Lailatul Qadar

اَللّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

“Duh Alloh sejatosipun panjenengan meniko ingkang paring pangapunten, remen maringi pangapunten. Milo mugi panjenengan paring pangapunten dateng kulo.”
(H.R. Ibnu Majah, 3.840 dan Ahmad, 24.215)

Doa Melihat Bulan Sabit (Bulan Baru Tahun Hijriyah)

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللّهُمَّ اَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلاَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ.

“Alloh meniko ingkang moho agung. Duh Alloh mugi panjenengan njedulaken wulan meniko kangge kitho kanthi amal lan iman, keselametan lan Islam, lan nyocoki dumateng ingkang panjenengan tresnani lan ridhoi, duh pangeran kitho. Pangeren kitho lan pangeranipun bulan inggih meniko Alloh.”
(H.R. At-Tirmizi; 5/504 dan Ad-Darimi; 1/336).

Doa Qunut Witir

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ اُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

“Duh Alloh sejatosipun kulo nyuwun rekso kanthi ridho panjenengan saking murko panjenengan, lan kanthi pangapunten panjenengan saking sikso panjenengan, soho kulo nyuwun rekso dateng panjenengan, kulo mboten saget ngintun-ngintunaken puji-pujian dateng panjenengan kados anggen panjenengan memuji dateng panjenengan piyambak.”
(Shahih At-Tirmizi; 3/180 dan Shahih Ibnu Majah; 1/194. Lihat pula; Irwa’ul Ghalil; 2/175).

Doa ketika sedang Marah

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Kulo nyuwun rekso dumateng Alloh saking panggodanipun setan ingkang dipun laknati.”
(H.R. Al-Bukhari; 7/99 dan Muslim; 4/2.015).

Doa untuk Mayit dalam Shalat Jenazah

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (هَا) وَارْحَمْهُ (هَا) وَعَافِهِ (هَا) وَاعْفُ عَنْهُ (هَا)، وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ (هَا)، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ (هَا)، وَاغْسِلْهُ (هَا) بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ (هَا) مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلاَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ. وَاَبْدِلْهُ (هَا) دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ (هَا)، وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ (هَا)، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ (هَا)، وَاَدْخِلْهُ (هَا) الْجَنَّةَ، وَاَعِذْهُ (هَا) مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ (وَعَذَابِ النَّارِ).

“Duh Alloh mugi panjenengan paring pangapunten dumateng mayit meniko, paring rohmat dumateng mayit meniko, nylametaken dumateng mayit meniko, ngapunten dumateng mayit meniko, maringi panggenan ingkang minulyo dumateng mayit meniko, njembaraken kuburanipun mayit meniko, ngresikaken doso-dosonipun kanthi toyo, salju, lan es. Lan mugi panjenengan ngresikaken doso-dosonipun kados anggen panjenengan sampun ngresikaken sandangan ingkang pethak saking rereget. Lan mugi panjenengan maringi panggenan dumateng mayit meniko ingkang langkung sae tinimbang griyanipun, keluwargo ingkang langkung sae tinimbang keluwargonipun, garwo ingkang langkung sae tinimbang garwanipun, lan mugi panjenengan nglebetaken dumateng mayit meniko dateng suwargo, soho mugi panjenengan paring rekso dumateng mayit meniko saking sikso kubur (lan sikso neroko).”
(H.R. Muslim; 2/663).

Doa ketika Memasukkan Jenazah ke Liang Lahat

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ

“Kanthi asmo Alloh lan manut sunnah saking Rasululloh.”
(H.R. Abu Dawud; 3/314).

Doa setelah Jenazah Dimakamkan

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ (هَا)، اَللّهُمَّ ثَبِّتْهُ (هَا).

“Duh Alloh mugi panjenengan paring pangapunten dumateng mayit meniko. Duh Alloh neguhaken dumateng mayit meniko.”
(H.R. Abu Dawud; 3/315).

Doa untuk Orang yang telah Berbuat Baik kepada Kita

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

“Mugi-mugi Alloh maringi piwales ingkang langkung sae dumateng panjenengan.”
(H.R. At-Tirmizi; 2/200).

Doa Sujud Tilawah

سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.

“Rai kulo sujud dumateng Zat ingkang sampun nyiptakaken lan maringi rupo dumateng rai meniko, ingkang sampun maringi pamireng lan pandeleng kanti doyo lan kekiyatanipun gusti Alloh .”
(H.R. At-Tirmizi; 2/474 dan Ahmad; 6/30).

_ Wall±hu a‘lamu bi¡- ¡aw±b (i)__

Tata cara salat berjamaah

Informasi tentang tata cara melaksanakan salat berjamaah mengacu kepada buku pelajaran SLTP Kelas 7 mengenai panduan dalam melaksanakan salat secara bersama sama.

Pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, selamat siang paklik bulik dimanapun anda mengakses internet dari hape atau computer laptop anda. Semoga selalu diberikan kemudahan dalam beribadah dan dijauhkan dari kekhilafan.

Baca;
Salat berjamaah adalah arti dan pengertiannya;
Hukum salat berjamaah;
Sholat qashar.

Kali ini Mengambil dari buku pelajaran untuk Sekolah Pendidikan Kelas 7 pada Pelajaran Agama Islam ini disebutkan bahwa praktiksalat wajib berjamaah adalah sebagai Berikut ;

Pelaksanaan Salat Berjamaah

Berikut adalah tata cara salat berjamaah berkenaan dengan bacaan yang dibaca secara keras oleh imam dan gerakan makmum serta urutan penataan shof salat.

Tanpa basa basi berikut informasinya.

Azan dan Iqamah

Pelaksanaan sholat berjamaah diawali dengan adzan dan Iqamah, akan tetapi jika kondisi tidak memungkinkan maka cukup dengan iqamat saja.

Imam, Shaf laki laki dan barisan shalat wanita

Barisan salat (shof) di belakang imam diisi oleh jamaah laki-laki, selanjutnya barisan shaf jamaah wanita atau wanita berada di belakang shaf laki laki.

Dengan begitu, urutannya adalah sebagai berikut, imam paling depan, kemudian shof jamaah makmum laki laki, dan diikuti shaf jamaah wanita dibelakang jamaah pria.

Bacaan Imam secara Sirr dan Jahr

salat berjamaah adalah

Dalam pelaksanaan salat jamaah, imam membaca bacaan salat dengan jahr atau nyaring dan lirih (sirr).

Adapun bacaan bacaan shalat yang disuarakan secara nyaring terdengar oleh makmum yaitu ;

  • Bacaan takbiratul ikram, takbir intiqal, tasmi, dan salam;
  • Bacaan al-Fatihah dan ayat-ayat al-Qur’an pada dua rakaat pertama pada salat Magrib, Isya, dan Subuh. Begitu juga dengan salat Jumat, gerhana,
  • istisqa, 2 sholat ‘id (idul fitri dan idul adha), Tarawih dan shalat Witir;
  • Bacaan amin bagi imam dan makmum setelah imam selesai membaca surat al fatihah

Makmum mengikuti gerakan Imam

Makmum harus mengikuti gerakan imam dan dilarang untuk mendahului gerakan imam;

Hal ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan imam muslim (muttafaqun ‘alaih). Berikut matan bunyi hadits dimaksud beserta artinya.

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Artinya : Apakah seseorang diantara kalian tidak takut apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan rubah bentuknya menjadi bentuk keledai ?

Dalam Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih (riwayat Imam Bukhari & Imam Muslim, dari Abu Hurairah RA ;

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

Artinya “Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya”.

Salam dan dzikir

Setelah salam, imam membaca dzikir dan doa bersama-sama dengan makmum atau membacanya sendiri-sendiri.

Penutup

Demikian informasi tentang tata cara melaksanakan sholat berjamaah yang tentunya ada artikel lain yang memiliki perbedaan dalam ketentuan akan tetapi tidak terlalu signifikan.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Hukum Salat Berjamaah

Keterangan tentang hukum salat berjamaah dari pendapat berbagai ulama yang diulas secara ringkas dan padat guna kemudahan dalam mengingat dan menulis jawaban pertanyaan pada soal pendidikan agama Islam untuk siswa SMP kelas 7 dan dapat juga sebagai pegangan diri sendiri dalam memahami hokum salat berjamaah.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sugeng siang warganet Indonesia diseluruh dunia, bagi yang habis jum’atan selamat beristirahat sejenak menikmati waktu istirahat siang atau orang Jawa mengistilahkan dengan rolasan (pukul 12 siang dan kisarannya).

Beda salat jamaah dengan salat munfarid

Sekedar mengulang ingatan, yang disebut dengan salat jamaah adalah berjamaah salat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dan salah seorang dari mereka menjadi imam, sedangkan yang lainnya menjadi makmum.

Sedangkan salat yang dikerjakan sendirian atau hanya dikerjakan oleh satu orang dikenal dengan istilah salat munfarid.

Sebagaimana judul tulisan diatas, artikel ini dibuat untuk menjawab sebuah pertanyaan atau lebih yang intinya adalah;

Bagaimanakah hukumnya salat berjamaah?

Berikut jawaban yang dapat anda sampaikan.

Hukum salat berjamaah disini dimaksudkan dengan salat fardhu ‘ain yang 5 yaitu;

  1. Sholat subuh;
  2. Sholat dluhur;
  3. Sholat ‘asar;
  4. Sholat magrib; dan
  5. Sholat isya.

Dalam buku PAI diterangkan secara ringkas bahwa hukum salat jamaah (menurut berbagai pendapat) ada 2 yaitu;

  • Sunnah muakkad; dan
  • Fardhu kifayah.

Sunnah Muakkad

Ada yang berpendapat bahwa salat jamaah adalah sunnah muakkad.

Apakah itu sunnah muakkad?

Sebelum berlanjut tentang sunnah muakkad perlu diketahui apa itu yang dimaksud dengan sunnah dalam ilmu fikih.

Dalam ilmu fikih disebutkan bahwa sunnah adalah hukum mengerjakan sesuatu apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Selanjutnya hukum sunnah terbagi menjadi 2 yaitu;

  1. Sunnah muakkad; dan
  2. Sunnah ghairu muakkad.

Sunnah muakkad adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya.

Jadi salah satu pendapat tentang salat berjamaah adalah sunnah muakkad yang artinya apabila dikerjakan (salat jamaah/lawan salat munfarid) akan mendapatkan pahala dari jamaahnya akan tetapi tidak berdosa jika meninggalkannya (meninggalkan salat jamaah, bukan meninggalkan salatnya) dengan tingkatan sangat dianjurkan untuk melaksanakannya (berjamaah).

salat berjamaah adalah
salat berjamaah

Fardhu kifayah

Ada juga ulama yang menghukumi salat berjamaah ini (salat fardhu 5 waktu) dengan fardhu kifayah.

Apakah yang dimaksud dengan fardhu kifayah?

Kata fardhu kifayah berasal dari 2 kata yaitu fardhu dan kifayah

Yang dimaksud dengan fardhu adalah status hukum dari suatu aktivitas yang harus/wajib dilaksanakan, dalam pengertian lain yang lebih spesifik adalah pekerjaan yang menghasilkan pahala bagi pelakunya dan berdosa bagi yang tidak melakukanya.

Selanjutnya hokum fardhu dibagi menjadi 2 macam yaitu;

  1. Fardhu ‘ain; dan
  2. Fardhu kifayah.

Apa yang dimaksud dengan fardhu kifayah?

Fardhu kifayah artinya kewajiban terhadap umat islam yang mana bila telah dilakukan beberapa orang maka gugur kewajiban individu untuk melakukan kewajiban ini.

Dengan begitu (menurut pendapat yang ini) salat jamaah adalah merupakan kewajiban bagi orang muslim yang jika tidak ada yang melaksanakan jamaah maka berdosalah seluruh komunitas atau kelompok dimaksud.

Contoh lain dari fardhu kifayah adalah shalat jenazah, mempelajari ilmu tertentu semisal ekonomi, kesehatan dan lain lain.

Hal ini berbeda dengan fardhu ‘ain yaitu Fardhu ain kelompok kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu Muslim misalnya sholat lima waktu, hijab dan pergi haji ke Mekkah sekali seumur hidup.

Demikian ulasan siang ini mengenai salat berjamaah hukumnya adalah sunnah muakkad atau fardhu kifayah mengacu dari buku PAI SMP Kelas 7 yang tentunya telah disarikan dari berbagai pendapat ulama.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pengertian Salat Berjamaah adalah beserta artinya

Mengulas tentang pengertian atau arti dari salat berjamaah mengacu kepada buku pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk SMP atau MTs (Jenjang pendidikan Dasar Sekolah) Kelas 7.

Pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, selamat pagi menjelang siang hari kaum warganet citizen +62 di segala penjuru pulau tanah air Indonesia.

Pastinya kaum muslimin dan muslimah Indonesia mengetahui apa itu sholat dan minimal pernah mendengar apa yang dimaksud dengan salat jamaah.

Sekedar mengingatkan kembali apa itu salat jamaah artinya seperti apa, berikut informasinya.

Apa yang dimaksud dengan salat berjamaah?

Salat berjamaah salat yang dikerjakan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama dan salah seorang dari mereka menjadi imam, sedangkan yang lainnya menjadi makmum.

Dalam hal ini, salat wajib 5 waktu sangat diutamakan untuk dikerjakan secara berjamaah, bukan dengan salat sendirian (munfarid). Adapun kelima salat wajib dimaksud yaitu;

  1. Salat subuh;
  2. Salat dhuhur;
  3. Salat asar;
  4. Salat magrib, dan
  5. Salat isya.

Paling Sedikit salat berjamaah

Jika ada pertanyaan sebagaimana dibawah ini misalnya,

salat berjamaah paling sedikit dikerjakan oleh berapa orang?

Maka mengacu kepada pengertian dari salat berjamaah diatas, salat berjamaah paling sedikit dikerjakan oleh dua orang, satu menjadi imam dan yang satunya lagi menjadi makmum.

Salah satu landasan adalah Hadis Riwayat hadits Ahmad no.22189, dishahihkan oleh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Al Musnad).dari Abu Umamah Al Bahili, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika ada seorang yang memasuki masjid untuk shalat:

ألَا رَجُلٌ يَتصدَّقُ على هذا يُصلِّي معه؟ فقام رَجُلٌ فصَلَّى معه، فقال رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: هذان جَماعةٌ

“Tidakkah ada seseorang yang mau bersedekah terhadap orang yang shalat ini?”. Maka seorang lelaki pun berdiri untuk shalat bersamanya. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Dua orang ini adalah jama’ah”

Posisi imam dan makmum suami istri salat berjamaah dan imam makmum hanya 2 orang laki laki

Bagaimana jika ada suami istri yang hendak melaksanakan salat jamaah? Bagaimana posisinya?

apabila suami istri ingin melaksanakan shalat berjamaah maka Istri bermakmum kepada suami dan posisinya di belakang suami.

Trus kalau hanya ada 2 orang pria yang hendak melaksanakan salat berjamaah?

Jika keduanya laki-laki maka posisinya sejajar dan makmum terletak di samping kanan imam (ada juga yang mengatakan posisi makmum agak mundur sedikit).

Berikut hadits sebagai dasar atau dalil posisi makmum 1 orang.

Dalam Hadis Riwayat Imam Bukhari no 117, 697 dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’ahuma, ia berkata:

بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العِشَاءَ، ثُمَّ جَاءَ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ، فَجِئْتُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ نَامَ

“Saya pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah (binti Al Harits, istri Rasulullah). Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat isya (di masjid), kemudian beliau pulang, dan shalat 4 rakaat. Lalu beliau tidur. Kemudian beliau bangun malam. Akupun datang dan berdiri di sebelah kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Beliau shalat 5 rakaat, kemudian shalat dua rakaat, lalu tidur kembali” (HR. Bukhari no. 117, 697).

Bolehkah makmum sejajar dengan imam?

Makmum tidak boleh sejajar dengan imam jika ;

Makmum tersebut wanita dan imamnya laki laki;

Jumlah makmum lebih dari 1 orang.

Adapun makmum diperbolehkan berdiri sejajar dengan imam jika hanya ada dua orang yang melaksanakan salat jamaah (1 orang imam dan 1 orang makmum).

Demikian informasi tentang salat berjamaah. Selamat menjelang salat jum’at, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barkaatuh.

Cara Tayamum di Bus Pesawat

Informasi tentang tatacara dan urutan melakukan tayamum pada saat berada di kendaraan umum baik moda transportasi darat semisal bus travel taxi opelet ataupun pada moda transportasi udara seperti pesawat helikopter jet temur (kalau ada).

Pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Era saat ini banyak kaum muslimin dan muslimat yang bepergian jauh dengan menggunakan kendaraan. Kendaraan ini bisa mobil pribadi atau moda transportasi darat maupun laut semisal bus umum atau pesawat komersial.

Jika perjalanan ini memakan waktu berjam – jam lamanya dan tidak ada pemberhentian untuk melaksanakan shalat beserta wudhu maka umat islam mendapatkan rukhshah atau keringanan dalam pelaksanaan ibadah.

Dengan syarat tertentu seorang muslim dapat melaksanakan ibadah shalat dalam kendaraan umum seperti bis atau pesawat terbang menyesuaikan kondisinya.

Akan tetapi kebanyakan sebelum melaksanakan ibadah ini seorang muslim harus dalam kondisi suci untuk melakukan ibadah shalat, yaitu bersih dari hadats kecil maupun besar.

Hadats kecil dihilangkan dengan cara wudhu atau tayamum dan hadats besar dengan mandi wajib atau bertayamum.

Kondisi berada dalam bus umum atau pesawat terbang komersial menjadikan seseorang pada umumnya tidak mendapatkan air untuk berwudhu.

shalat-qashar

Sehingga untuk menghilangkan hadats kecil karena kentut atau buang air dan penyebab hadats lainya diperlukan metode lain untuk menghilangkan hadats ini.

Metode yang dipakai untuk menghilangkan hadats selain wudhu adalah dengan cara tayammum.

Apa itu tayammum?

Dalam buku Pelajaran Fikih untuk MTs, disebutkan bahwa tayamum merupakan pengganti wudhu atau mandi wajib. tayammum dilakukan dengan menggunakan sarana debu yang suci. Debu ini digunakan sebagai pengganti air.

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً

Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan sho’id yang baik (suci).” (QS. Al Maidah: 6)

Kebanyakan mengartikan sho’id dengan debu, akan tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa sho’id adalah segala permukaan yang ada di bumi. (sumber : rumaysho.com)

Penggantian wudhu dengan tayamum ini Hal ini dilakukan sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan ( uzur ).

Cara tayammum di dalam bus umum atau pesawat terbang komersial

bus

Kalau tayamum menggunakan debu, bagaimana jika berada dalam kendaraan atau pesawat yang sangat bersih?

Berikut adalah cara melakukan tayamum pada saat kondisi sedang berada pada kendaraan umum baik moda transportasi darat ataupun laut, tentunya terpenuhi syarat untuk bertayamum.

Yang pertama dilakukan adalah tempelkanlah sekali (tepukkanlah sekali) kedua tangan anda pada permukaan kursi didepan anda atau pada kaca atau pada permukaan apapun disekitar anda yang bersih dan mudah dijangkau (bisa dinding bus atau pesawat). Jangan lupa berniat dalam hati untuk bertayamum.

Niat tidak ada ketentuan bunyi dan ucapannya harus seperti apa, ada seorang alumni dari mesir (Tri Bimo Soewarno) berpendapat bahwa melafalkan niat adalah untuk memantabkan niat dalam hati.

Salah satu contoh niat tayamum yang jika anda hendak lafalkan secara lirih bisa seperti dibawah ini lengkap dengan arti beserta terjemahnya.

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى

Tulisan latin : Nawaitut Tayammuma Lisstibaahatish Shalaati Fardlol Lillaahi Ta’aalaa.
Arti bahasa Indonesia : Aku berniat tayamum agar diperbolehkan shalat karena Allah.

Kedua, Sapukan kedua telapak tangan ke wajah secara merata dari ujung rambut (dahi) sampai ke dagu (area wudhu pada wajah).

Ketiga, tempelkanlah / tepukkanlah kembali kedua telapak tangan anda sekali pada area lainnya (yang berbeda dengan anda menempelkan pertama kali untuk tayamum),

Keempat, Menyapukan tangan kanan hingga pergelangannya dengan tangann kiri, dan menyapu tangan kiri dengan tangan kanan.

selesai sudah anda menghilangkan hadats kecil dengan cara tayamum

Hadits tata cara Tayamum

Adapun dalil hadits tentang tata cara tayammum dapat anda baca dari hadits ammar bin yasir Hadits riwayat Abu Dawud nomor 318 yang dishahihkan al alBani :

أَنّ عَمَّارا كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّهُمْ “تَمَسَّحُوا وَهُمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّعِيدِ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَضَرَبُوا بِأَكُفِّهِمُ الصَّعِيدَ، ثُمَّ مَسَحُوا وُجُوهَهُمْ مَسْحَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ عَادُوا فَضَرَبُوا بِأَكُفِّهِمُ الصَّعِيدَ مَرَّةً أُخْرَى فَمَسَحُوا بِأَيْدِيهِمْ كُلِّهَا إِلَى الْمَنَاكِبِ وَالْآبَاطِ مِنْ بُطُونِ أَيْدِيهِمْ”

‘Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa mereka bertayamum ketika mereka bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan tanah untuk shalat Subuh, lalu mereka menepuk dengan telapak tangan mereka tanah kemudian mengusap wajah sekali usapan kemudian kembali memukulkan telapak tangan mereka ke tanah sekali lagi untuk mengusap tangan mereka semuanya sampai ke pundak dan ketiak dari telapak tangan mereka.

Demikian informasi tentang cara tayamum di pesawat atau bis dalam kendaraan umum. Selamat melakukan perjalanan, semoga selamat sampai tujuan barakah dan sakiinah.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Zakat Fitrah

Informasi perihal zakat fitrah ketentuan dan cara memberikannya disertai dengan dalil dari alquran dan alhadits

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, berikut adalah ringkasan mengenai zakat fitrah dan menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini yaitu;

Apakah yang dimaksud dengan zakat fitrah itu?
Apa saja dasar-dasarnya zakat fitrah ?
Kapankah zakat fitrah itu dilaksanakan?
Siapakah yang berhak menerima zakat fitrah?
Bagaimana tata cara memberikan zakat fitrah?

Berikut adalah daftar tulisan pada postingan ini

Berikut ulasannya

Pengertian Zakat Fitrah

Zakat Fitrah Zakat fitrah juga disebut zakat jiwa yaitu setiap jiwa/orang yang beragama Islam harus memberikan harta yang berupa makanan pokok kepada orang yang berhak menerimanya, dan dikeluarkan pada bulan Ramadhan sampai dengan sebelum shalat Idul Fitri pada bulan Syawal.

Zakat Fitrah merupakan salah satu bagian dari zakat, dimana ini dibebankan untuk semua orang yang beragama Islam, baik yang baru lahir sampai yang sakaratul maut.

Kesimpulannya siapapun dia orang islam baik kaya, miskin, laki-laki maupun perempuan, tua, muda maupun bayi, semuanya harus membayar zakat fitrah.

Mengapa disebut Zakat Fitrah?

Secara arti fitrah berarti suci, sehingga tujuan kegiatan itu untuk mensucikan setiap jiwa seorang muslim pada setiap tahunnya.

Ketentuan Zakat Fitrah

roti-arab-maroko

Bahasan tentang Hukum Zakat Fitrah – Mengeluarkan zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan, merdeka atau hamba sahaya.

Disini secara gamblang, Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah apabila mempunyai kelebihan makanan sehari semalam dalam keluarga itu yang hidup sejak awal sampai terbenamnya matahari akhir bulan Ramadan. Itulah ketentuannya.

Dalil al Qur’an dan hadits tentang zakat fitrah salah satunya terdapat dalam Bulughul Maram Ibnu Hajar

Alquran surat al a’la 14-15

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ

Qad aflaḥa man tazakkā
terjemahan: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Wa żakarasma rabbihī fa ṣallā
Terjemahan: Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

Hadits no. 627 Hadits riwayat Muttafaq ‘alaih (Imam Bukhari nomor 1503 dan Imam Muslim nomor 984) dari Ibnu Umar

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied.

zakat fitrah adalah alat pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dan dikeluarkan sebelum shalat Idul Fitri.

Diberikan kepada perorang/jiwa sebanyak 3,1 liter atau sekitar 2,5 Kg dan hanya diberikan dalam setahun sekali.

Waktu Pembayaran Zakat Fitrah

zakat-fitrah-bahan-makanan-pokok

Pembayaran zakat fitrah dapat diberikan langsung kepada yang berhak atau melalui amil zakat.

Waktu membayar zakat fitrah yaitu saat terbenamnya matahari pada penghabisan Ramadan (malam takbiran) sampai sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri.

Tidak ditemukan adanya larangan zakat fitrah dibayarkan sebelumnya yaitu mulai tanggal 1 Ramadan.

Jika membayarkan zakat fitrah setelah shalat Idul Fitri, maka dianggap sebagai sedekah biasa.

Dari hadits riwayat abu dawud dan ibnu Majah, (oleh syaikh al albani mengatakan ini hadits hasan) Ibnu Abbas berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan kotor, sekaligus untuk memberikan makan untuk orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka itu adalah zakat yang diterima. Namun, barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ‘ied maka itu hanya sekedar shodaqoh.”

Pembagian waktu pembayaran zakat fitrah berdasarkan kategori wajib afdhal mubah makruh

Dalam buku pendidikan untuk madrasah Ibtidaiyah kelas 4 dibagi waktu pembayaran zakat fitrah ini dengan kategori waktu wajib, afdhal, mubah, dan makruh. Berikut keterangannya.

  • Waktu wajib yaitu sejak terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadan samapai menjelang Shalat Idul Fitri
  • Waktu haram yaitu membayar zakat fitrah setelah terbenam matahari pada hari raya Idul Fitri
  • Waktu afdal (lebih baik) yaitu sesudah shalat subuh tanggal 1 Syawal sebelum pergi ke shalat Idul fitri
  • Waktu mubah (boleh) yaitu sejak tanggal 1 Ramadan sampai dengan akhir bulan Ramadan. 5.
  • Waktu makruh yaitu sesudah shalat idul fitri sebelum terbenamnya matahari pada tanggal 1 Syawal

Syarat Orang yang wajib membayar zakat Fitrah

zakat-fitrah-gandum

Berikut adalah syarat untuk orang – orang yang memiliki kewajiban untuk membayarkan zakat fitrah, dalam daftar ini ada 5.

  1. Beragama Islam
  2. Orang tersebut, ketika sebelum matahari terbit pada hari raya Idul Fitri masih hidup (yang baru lahir maupun dalam sakaratul maut)
  3. Mampu menafkahi dirinya dan keluarganya
  4. Orang yang tidak berada di bawah tanggung jawab orang lain
  5. Seorang kepala rumah tangga wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi dirinya, istri, anak-anaknya, ibunya dan orang lain yang menjadi tanggungannya misalnya karyawannya, pembantunya dan lainnya

Dalil tentang syarat untuk orang yang memiliki kewajiban membayar zakat fitrah dapat dilihat dalam hadits riwayat An Nasa’i (yang dishahihkan oleh Al AlBany) dari perkataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun yang budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.”

Orang-orang golongan yang berhak mendapatkan zakat fitrah

Ada 8 golongan yang mendapatkan zakat sebagaimana Firman Allah dalam alQuran surat at Taubah ayat 60;

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Innamaṣ-ṣadaqātu lil-fuqarāi wal-masākīni wal-'āmilīna 'alaihā wal-muallafati qulụbuhum wa fir-riqābi wal-gārimīna wa fī sabīlillāhi wabnis-sabīl, farīḍatam minallāh, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

Terjemahan : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Berikut adalah siapa saja yang berhak mendapatkan zakat fitrah disertai dengan penjelasan singkat Berdasarkan ayat di atas 8 kelompok yang berhak menerima zakat adalah :

  1. Fakir ádalah orang yang tidak memiliki harta benda dan tidak memiliki pekerjaan untuk mencarinya
  2. Miskin adalah orang yang memiliki harta tetapi hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
  3. Amil adalah orang yang mengelola pengumpulan dan pembagian zakat
  4. Muallaf adalah orang yang masih lemah imannya karena baru mengenal dan menyatakan masuk Islam
  5. Budak atau hamba sahaya adalah orang yang memiliki kesempatan untuk merdeka tetapi tidak memiliki harta benda untuk menebusnya.
  6. Garim yaitu orang yang memiliki hutang banyak sedangkan dia tidak bisa melunasinya (sepertinya banyak sekali ya di Indonesia).
  7. Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah sedangkan dalam perjuangannya tidak mendapatkan gaji dari siapapun
  8. Ibnu Sabil yaitu orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, sehingga sangat membutuhkan bantuan.

Cara memberikan zakat fitrah

Berikut panduan singkat dalam tata cara menyampaikan zakat fitrah kepada yang berhak atau amil;

  1. memilih makanan pokok (seperti beras, sagu, jagung dll) yang terbaik, minimal sama dengan yang biasa dikonsumsi
  2. menakar sesuai dengan ketentuan yang ada, jika menggunakan takaran literan maka gunakan usuran yang stándar, tidak terlalu kecil, kita ambil 3 liter atau lebih. Jika memakaitimbangan pastikan timbangannya tepat tidak berkurang, 2,5 kg beras atau bahan pokok lainnya.
  3. Niat berzakat fitrah
  4. Menyerahkan zakat fitrah kepada yang berhak atau amil panitia zakat fitrah di masjid atau mushola sebelum pelaksanaan shalat idul fitri.

Niat Zakat Fitrah

Sebagaiamana diketahui bahwasanya niat itu letaknya dalam hati, akan tetapi bagi yang hendak memantabkan niat dengan melafadzkan niat zakat fitrah dalam bahasa arab, berikut kami lampirkan tulisan arab niat zakat fitrah dan latin beserta artinya,

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَﻥْ أُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْسيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

tulisan latin : nawaitu an akhruja zakatal fitri ‘an nafsi fardhal lillahi ta’ala
Artinya : saya berniat mengeluarkan zakat fitrah untuk diri saya wajib karena Allah.

Doa Panitia Penerima Zakat

Adakalanya panitia zakat melakukan atau menerima beras maupun bahan pokok makanan sepeti ijab kabul, salaman dan mendoakan.

Dalam buku fikih MI kelas 4 dicontohkan doa untuk panitia penerima zakat fitrah dalam bahasa dan tulisan arab disertai latin dan terjemah bahasa Indonesia sebagai berikut;

ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

Latin : Aajaraka Allahu fiima a’thayta, wa baaraka fiima abqayta wa ja’alahu laka thahuran
Artinya “Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

Begitulah informasi tentang zakat fitrah, semoga menambah wawasan dalam berpuasa ramadhan serta zakat fitrah.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Shalat Jum’at

Sholat Jum’at Pengertian dasar Hukum Syarat Wajib dan Sah

Informasi sekitar sholat jum’at dari segi pengertiannya dan dasar hukum dari dalil alquran dah al hadits beserta syarat sah dan syarat wajib dalam solat jumat.

pontren.com – assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Apakah yang disebut dengan sholat jum’at? Secara pengertian, sholat jum’at adalah salat yang wajib dikerjakan pada waktu Zuhur di hari Jumat yang diawali dengan 2 (dua) khutbah .

Dalil Sholat Jum’at dan dasar Hukum

Dibawah ini ayat dalam alquran serta hadits beserta arti sebagai landasan dalam melaksanakan shalat jum’at.

Qur’an Surat Al Jumuah ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Bacaan latin : yā ayyuhallażīna āmanū iżā nụdiya liṣ-ṣalāti miy yaumil-jumu’ati fas’au ilā żikrillāhi wa żarul baī’, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

terjemah dalam bahasa Indonesia : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu R.A. Rasul bersabda :

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum’at menghentikan perbuatan mereka, atau benar-benar Allâh akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar menjadi termasuk orang-orang yang lalai. [HR Muslim].

Dari Hadits Riwayat Imam Muslim nomor 857, bahwasanya Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ
الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jum’at yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.

Syarat Wajib Salat Jumat

Berikut adalah persyarat wajib untuk melaksanakan sholat jumat

  • Muslim
  • Baligh
  • Berakal
  • Laki-laki, Merdeka, dan Sehat
  • Orang yang Menetap (Mukim)
  • Orang yang tidak ada uzur/halangan yang mencegahnya untuk menghadiri salat Jumat

Penjelasan mengenai syarat wajib solat jumat diatas adalah sebagai berikut;

Muslim, kewajiban salat wajib ini hanya dibebankan kepada orang yang beragama Islam, non muslim atau kafir tidak diwajibkan melaksanakan sholat jum’at bahkan sholatnya tidak sah jika tetap melaksanakan.

Allah SWT berfirman dalam alquran surat at taubah ayat 54

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

Bacaan Latin: Wa mā mana’ahum an tuqbala min-hum nafaqātuhum illā annahum kafarụ billāhi wa birasụlihī wa lā ya`tụnaṣ-ṣalāta illā wa hum kusālā wa lā yunfiqụna illā wa hum kārihụn

Terjemah dalam bahasa Indonesia : Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.

Baligh, anak kecil belum mendapatkan beban kewajiban menjalankan sholat jumat karena belum dibebankan syariat.

Walaupun belum mendapatkan beban kewajiban, bagi anak laki laki yang mumayyiz (biasanya usia 7 tahun atau lebih) kepada wali atau orang tuanya untuk memerintahkan si anak datang dan melaksanakan shalat jumat.

Berdasarkan hadits riwayat abu dawud :

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Terjemah dalam bahasa Indonesia “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Berakal, orang yang sedang mengidap penyakit jiwa atau akalnya terganggu berarti bukan orang yang cakap untuk mendapat perintah dan larangan dalam syariat.

Mengacu kepada Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir 3514], Sunan at-Tirmidzi (II/102/693)

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

Telah diangkat pena dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh

Laki laki, merdeka, sehat. Dengan begitu, kewajiban shalat jumat tidak dibebankan kepada kaum perempuan.

Berdasarkan HR Abu Dawud, no. 1069. Al-Hakim di dalam al-Mustadrak, no. 1062. Dishahîhkan oleh al-Hakim, adz-Dzahabi, dan al-Albani.

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Arti dalam bahasa Indonesia : Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah, kecuali empat (golongan), yaitu; hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.

Mukim/orang yang menetap, orang yang dalam perjalanan atau musafir dengan jarak tertentu termasuk kalangan yang mendapat rukhshoh (keringanan) baik dalam shalat maupun puasa wajib. Demikian juga untuk sholat jumat.

Sebagian ulama menetapkan pensyariatan solat jumat bagi musafir yang menetap sementara atau singgah beberapa saat di suatu saat. Hal ini karena mereka mengikuti orang-orang yang mukim.

Orang yang tidak ada uzur/halangan yang mencegahnya untuk menghadiri salat Jumat

Orang yang memiliki uzur, ada keringanan tidak menghadiri salat Jumat dan menggantinya dengan salat Zuhur. contoh hujan deras badai banjir atau angin topan besar yang terus menerus, atau ada kezaliman yang dikhawatirkannya, atau bisa menggugurkan suatu kewajiban yang tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya,dan sebagainya.

Syarat Sah Salat Jumat

Adapun syarat sah salat Jumat adalah sebagai berikut:

Pertama – Salat Jumat diadakan dalam satu tempat (tempat tinggal) baikdi kota maupun di desa.

Tidak sah mendirikan salat Jumat di tempat yang tidak merupakan daerah tempat tinggal misalnya berlokasi di ladang atau jauh dari perkampungan penduduk.

Kedua – Salat Jumat diadakan secara berjamaah. Jumlah jamaah menurutpendapat sebagian ulama adalah 40 orang laki-laki dewasa dari penduduk negeri setempat.

Sebagian ulama yang lain berpendapat lebih dari 40 orang jamaah dan sebagian ulama yang lain berpendapat cukup dengan dua orang saja, karena sudah berarti berjamaah.

Ketiga – Hendaklah dikerjakan pada waktu Zuhur. berdasarkan hadits riwayat al Imam Al Bukhari nomor 904, dari Anas bin Malik, rasulullah bersabda :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat Jum’at ketika matahari miring (condong ke barat, pent)

Keempat – Hendaklah dilaksanakan setelah dua khutbah. Hal ini Berdasarkan hadits riwayat Muslim nomor 861, Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ

Arti dalam bahasa Indonesia : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian Beliau duduk, kemudian Beliau berdiri”

Demikian informasi mengenai pengertian sholat jumat, syarat wajib dan syarat shalat jum’at, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.