Arsip Tag: elemen pondok pesantren

Pengajaran Kitab Kuning dan Dirasah Islamiyah pada Pondok Pesantren

pembelajaran-kitab-kuning-dan-dirasah-islamiyahpontren.com – mengenal tentang kajian kitab kuning dan dirasah islamiyah serta pola pendidikan muallimin berdasarkan petunjuk teknis izin operasional Pondok Pesantren Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor 3408 tahun 2018.

Dalam petunjuk teknis diatas, dikupas mengenai apa yang dimaksud dengan kitab kuning dan dirasah islamiyah ditinjau dari segi memahami hal diatas dalam rangka kebergunaan juknis secara tepat dan akurat.

baca :

Link1
Link2
Link3

Selain itu pembelajaran kitab kuning dan dirasah islamiyah dengan pola muallimin termasuk dalam arkanul ma’had yang mutlak harus dimiliki oleh pesantren yang mendaftarkan di Kemenag guna mendapatkan izin operasional.

Karena urgensi pembelajaran kitab kuning atau dirasah islamiyah pada lembaga ponpes, izin operasional tidak akan diberikan jika tidak terdapat pola pengajaran salah satu dari dua hal dimaksud.

Pun telah lolos mendapatkan piagam bisa dicabut jika ada aduan masyarakat atau karena investigasi petugas kemenag jika lembaga tidak ada kegiatan pembelajaran kitab kuning ataupun pola pendidikan dirasah islamiyah.

Pengertian Kitab Kuning dan Dirasah Islamiyah

pengertian-kitab-kuning-dan-dirasah-islamiyahKitab Kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.

Dirasah islamiyah adalah kajian tentang ilmu agama Islam yang tersusun secara sistematik, terstruktur, dan terorganisasi (madrasy).

Pola pendidikan mu’allimin adalah sistem pendidikan pesantren yang bersifat integratif dengan memadukan ilmu agama Islam dan ilmu umum dan bersifat komprehensif dengan memadukan intra, ekstra, dan kokurikuler.

Pola Pembelajaran

Pembelajaran kitab kuning dapat dilakukan dengan salah satu atau kombinasi dari 3 metode yang umum. adapun ketiga metode dimaksud adalah :

  1. metode sorogan (individual),
  2. metode bandongan (massal),
  3. metode bahtsul masail, dan metode lainnya.

Pembelajaran dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin dilakukan dengan metode klasikal, terstruktur, dan berjenjang sesuai dengan struktur kurikulum yang ditetapkan oleh pesantren terhadap tingkatan kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin yang diajarkan.

Sedikit Ulasan mengenai pembelajaran kitab kuning dan dirasah islamiyah

Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, utamanya kitab yang ditulis ulama menganut faham Syafi’iyah merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren untuk mendalami pengetahuan dan wawasan keagamaan Islam dimana tujuan utama pengajaran ini ialah untuk mendidik calon-calon ulama.

ilustrasi-santri-dirasah-islamiyah
ilustrasi-santri-dirasah-islamiyah

Jika kitab kuning merupakan beberapa literatur tertentu yang biasanya dikaji dari awal hingga akhir maka dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin merupakan kumpulan kajian tentang ilmu agama Islam yang tersusun secara terstruktur, sistematik dan terorganisasi yang bersifat integratif memadukan ilmu agama dan ilmu umum dan bersifat komprehensif dengan memadukan intra, ekstra dan kokurikuler, yang oleh sebagian pesantren dikenal dengan sebutan sistem madrasy.

Namun demikian, baik kitab kuning maupun dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin, keduanya memiliki 3 (tiga) kriteria dasar, yaitu ;

  1. menggunakan literatur berbahasa Arab,
  2. literatur tersebut memiliki akar historis-akademis dengan pesantren, dan
  3. kandungannya sesuai nilai-nilai Islamkeindonesiaan, yakni menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur lainnya serta mengembangkan pemikiran yang tawazun, tawasuth, santun, inklusif, moderat, menghargai perbedaan dan budaya lokal.

Demikian rangkuman ulasan dari juknis ijop pontren mengenai pembelajaran kitab kuning dan dirasah islamiyah dengan model mu’allimin.

Elemen Pondok Pesantren dan 5 Unsur Pokok

5 unsur pokok yang harus dimiliki oleh pondok pesantren berdasarkan juknis izin operasional pondok pesantren. Serta sedikit ulasannya
Di Indonesia, berdasarkan peraturan tentang di keluarkannya izin operasional lembaga pondok pesantren, maka suatu ponpes yang berkeinginan untuk mendapatkan izin operasional, maka harus memiliki 5 elemen pondok pesantren. Adapun 5 unsur pondok pesantren adalah sebagai berikut :

  1. 1Kyai atau sebutan yang lainnya
  2. Santri (mukim)
  3. Asrama santri/pondok
  4. Masjid/mushola
  5. Kajian Kitab

Kyai di pondok pesantren

Kyai merupakan figur sentral pada suatu pondok pesantren, utamanya pondok pesantren tradisional salaf. Apalagi pondok pesantren yang didirikan oleh perorangan atau keluarga di aliran NU. Pada penyebutannya, beberapa daerah memiliki sebutan tersendiri bagi pengasuh utama pondok pesantren. Diantara sebutan lain untuk Kyai adalah

  • Tuan Guru
  • Gurutta
  • Anre gurutta
  • Inyiak
  • Syekh
  • Ajeungan
  • Ustadz
  • Dan lain sebagainya

Secara pengertian, Nurhayati Djamas “kyai adalah sebutan untuk tokoh ulama atau tokoh yang memimpin pondok pesantren”.
Menurut Zamakhsyari Dhofier, asal muasal kata kyai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda :

  1. Sebagai gelar kehormatan bagi benda atau hewan yang dianggap atau diyakini keramat ; contoh , “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Kraton Yogyakarta, Kyai Slamet, kewrbau yang dianggap keramat di solo.
  2. Gealar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. (saat ini sudah jarang)
  3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santri. Selain gelar kyai, ia juga disebut dengan orang alim (orang yang dalam pengetahuan keislamanya)

dan ada satu lagi yang pas menurut saya adalah pengertian menurut syaiful Akhyar lubis, yaitu Kyai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya. Itulah beberapa pengertian Kyai dari beberapa orang yang menulis buku.

SANTRI SEBAGAI ELEMEN PONDOK PESANTREN

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, santri adalah orang yg mendalami agama Islam; orang yg beribadat dg sungguh-sungguh; orang yg saleh. Secara garis besar, untuk pengertian santri terkait elemen pondok pesantren, saya lebih cocok dengan pengertian umum yang dikatakan bahwa santri adalah sebutan bagi orang yang sedang menuntut ilmu agama Islam pada waktu tertentu dengan cara mukim di pondok pesantren.

Pengertian santri menurut para ahli

Selain itu, ada beberapa versi terkait asal kata santri. Penelit Johns mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa tamil yang mempunyai arti guru mengaji. Peneliti yang lain ( CC. Berg) berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari Bahasa India yang memiliki arti Ahli agama Hindu (Shastri). Anggapan A. Steenbirk bahwa sistem pendidikan hindu mirip dengan sistem pesantren, sehingga semakin menguatkan pendapat CC. Berg. Ada orang indonesia mengatakan bahwa santri berasal dari bahasa Sansakerta yang artinya paham huruf. Adapula yang mengasosiasikan dengan kata cantrik. Yaitu seorang yang setia menemani sang guru.

santri belajar di kelas
santri belajar di kelas

Jumlah santri mukim minimal untuk izin operasional

Dalam aturan izin operasional pondok pesantren. Disebutkan bahwa syarat minimal santri mukim pada pondok pesantren adalah 15 orang santri.

Pondok atau asrama tempat tinggal santri di pondok pesantren

Pada zaman dahulu, pondok atau asrama juga disebut dengan kobong. Berupa kamar atau bilik santri beristirahat dan aktivitas lainnya. Pada masa sekarang bangunan pondok pesantren atau asrama santri sudah banyak yang modern berupa tembok atau bahan lain yang representatif. Meskipun begitu, masih terdapat pula pondok pesantren yang kondisinya perlu di bantu, atau memang pesantren dengan konsep zuhud sehingga kondisi asrama masih terlihat sangat kuno dan super sederhana.

Masjid atau mushola di pondok pesantren

Masjid merupakan kata bahasa arab dengan arti tempat sujud.sedangkan musholla adalah tempat sholat. Orang menyebut bahwa masjid atau mushola adalah tempat ibadah bagi kaum muslimin.

Dalam buku tipologi masjid terbitan dari kementerian agama, disebutkan bahwa 2 perbedaan mendasar musholla dengan masjid berdasarkan pada :

  1. Kapasitan daya tampung
  2. Fungsi dan peruntukannya

Masjid bisa menampung ratusan bahkan ribuan jamaah, sedangkan musholla maksimal memuat 100 jamaah. Untuk fungsi dan peruntukan, masjid dipergunakan untuk tempat melaksanakan sholat jumat. Bagi mushola, ada yang dipergunakan, adapula yang tidak dipergunakan.

Kajian Kitab di Pondok Pesantren

Pada kode statistik lembaga pondok pesantren, ada sebuah angka yang menjadi kode bahwa pesantren tersebut menyelenggarakan kajian kitab atau tidak. Diisi angka 0 jika tidak menyelenggarakan, diberikan angka 1 jika menyelenggarakan kajian kitab. Bidang PD Pontren Provinsi Jawa Tengah mewajibkan nomor statistik tersebut diisi dengan angka 1, karena bagaimana disebut pondok pesantren jika tidak menyelenggarakan kajian kitab? Mungkin disebut boarding school saja.

Kajian kitab di pondok pesantren tentunya adalah kitab klasik atau kitab kuning. Bukan hanya kitab sebagai terjemahan dari kata Buku.
Itulah 5 elemen pokok atau 5 unsur pokok pondok pesantren dan dijadikan syarat dari beberapa syarat yang ada oleh kementerian agama dalam mengeluarkan izin operasional bagi lembaga pendidikan pondok pesantren.