Arsip Tag: about pondok pesantren

Strategi Mengajar Kyai biasa digunakan pada Pesantren

kyai achmad yadi jenawipontren.com – tulisan tentang strategi mengajar yang biasa dipakai pada kalangan pondok pesantren. Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan yang dilaksanakan oleh seksi pakis suatu Kabupaten di Jawa Tengah. Disampaikan kisaran tahun 2015. Kegiatan tersebut bernama Workshop Sehari PENGUATAN TENAGA PENDIDIKAN BAGI GURU PESANTREN/DINIYAH.

Adapun sebagai nara sumber adalah seorang praktisi akademisi. Praktisi sebagai seorang pengelola lembaga pendidikan Pondok Pesantren, sedangkan akademisi beliau adalah seorang Dosen pada beberapa universitas.

Lebih lengkapnya beliau bernama Dr.H.Mardjoko Idris,M.Ag. untuk aktivitas akademisi dan praktisi sebagaimana dibawah ini.

• Dosen Pascasarjana UIN Yogyakarta
• Dosen Fakultas Adab & Ilmu Budaya
• Dosen Pusat Bahasa, Budaya & Agama
• Dosen Universitas Ahmad Dahlan
• Pimpinan Pondok Pesantren Wirausaha Sunan Kalijaga Jomblangan Bantul

Strategi mengajar biasa digunakan kalangan pondok pesantren (salaf)

Salah satu hal yang disampaikan adalah tentang strategi transfer ilmu dari Pengasuh Pondok Pesantren Kepada para santri.

Tentunya yang dimaksud pesantren disini yaitu model pesantren salafiyah, bukan ponpes modern. Karena pondok pesantren modern umumnya menggunakan metode klasikal semisal sekolah umum. Bisa dikatakan persis dalam model pembelajaran guru kepada murid.

Dalam materi ini, disebutkan ada 4 macam model manhaj yang paling umum digunakan. Berikut keempat taktik metode mengajar yang biasa dipakai oleh kalangan pesantren baik kyai ustadz maupun para gus.

Berikut keempat cara penyampaian ilmu yang umum di kalangan pesantren

  1. Kyai Ceramah,santri dalam jumlah yang banyak mendengarkan
  2. Kyai membaca kitab,santri dalam jumlah yang banyak menyemak
  3. Santri membaca kitab, Kyai menyemak
  4. Kyai ceramah,santri menanyakan apa yang belum dipahami

Kelebihan dan kelemahan metode mengajar

Pada model nomor 1 dan 2 umum disebut dengan sistem bandongan, dimana seorang pengasuh pondok pesantren atau kyai mengajar banyak santri dalam waktu yang sama.

bandongan pondok pesantren
bandongan pondok pesantren

Cara ini efektif memberikan ilmu kepada banyak santri. Akan tetapi kelemahannya tidak bisa mengcover semua santri guna paham dengan pelajaran karena susah kontrol ustadz terhadap kemampuan masing-masing peserta didik.

Pada nomor 3 sering disebut dengan sorogan, dimana santri menyorog kan kitab kepada kyai atau badal kyai kemudian membaca dengan disimak oleh para syaikh atau santri senior. Jika ada kesalahan bacaan atau mengartikan maupun maksud akan mendapatkan bimbingan dalam koreksi hal yang keliru.

Kelebihannya yaitu santri dapat memahami suatu pelajaran lebih detil karena disimak dan diarahkan secara langsung. Santri bisa langsung menanyakan apa yang tidak dipahami atau kurang jelas.

Kelemahan metode ini tidak efektif jika santri mencapai ratusan atau ribuan jika tidak tersedia pengajar yang memadai.

Pada nomor empat, bisa dikatakan termasuk dalam metode bandongan karena yang aktif dalam kegiatan ini adalah Kyai walaupun santri juga terlibat dalam pembelajaran dengan pertanyaan yang diajukan.

Secara umum kelemahan dan kelebihan seperti metode bandongan sorogan dengan cara melihat komposisi rasio jumlah pengajar dengan anak didik.

santri langitan sedang belajar (ilustrasi)
santri langitan sedang belajar (ilustrasi)

Demikian tulisan tentang metode mengajar atau transfer ilmu yang lumrah dijadikan strategi mengajar pada kalangan pondok pesantren. Kalau pernah mondok salaf, pastinya anda pernah diajar dengan menggunakan metode ini. Salam ayo mondok.

Pengertian Santri Pondok Pesantren Menurut Para Ahli

Dr.-Zainal-Arifin,-S.Pd.I.,-MSI-dengan-KH-Solahuddin-Wahid
Dr.-Zainal-Arifin,-S.Pd.I.,-MSI-dengan-KH-Solahuddin-Wahid

Pontren.com – informasi mengenai pengertian pondok, santri, pesantren, diambilkan dari Disertasi Dr. Zainal Arifin, S.Pd.I, MSI. Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bagi yang mau mengutip atau menggunakan karya ilmiah silakan langsung dari ambil dari disertasi beliau yang berjudul KEPEMIMPINAN SPIRITUAL PESANTREN TEMBOROStrategi Kebudayaan Kiai dalam Membentuk Perilaku Religius yang mendapat predikat Cum Laude (sangat memuaskan).

Tulisan ini ditulis ulang dalam media internet blog secara cuplikan dan dipecah pecah diambil yang praktis tanpa membingungkan pembaca dalam memahami beberapa bagian keilmuan. Dilakukan guna memudahkan proses transfer ilmu kepada peminat karya ilmiah utamanya dalam hal pondok pesantren.

Baca :

Selain itu dilakukan adaptasi dimana kutipan berupa footnote diubah menjadi model dalam tulisan supaya lebih support dalam penulisan pada media wordpress ini karena dalam blog kita mengalami kesulitan jika menggunakan model footnote. 😀

Pengertian Pondok, Santri dan Pesantren

Dr.-Zainal-Arifin,-S.Pd.I.,-M.Pd.I
Dr. Zainal-Arifin, S.Pd.I., M.Pd.I beserta santri Pendamping

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dikenal sebagai tempat mencetak ahli-ahli agama Islam (tafaqquh fi al-di>n) yang memiliki karakteristik kemandirian dan ketaatan kepada kiai. (A. Musthofa Bisri dalam Baddrut Tamam, Pesantren, Nalar, dan Tradisi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), xx)

Pengertian Santri

Zamakhsari Dhofier mengutip beberapa pendapat mengenai istilah santri. Pendapat C.C. Berg, santri berasal dari istilah Shastri dalam bahasa India berarti orang yang mengetahui buku-buku suci Agama Hindu atau sarjana ahli kitab suci Agama Hindu dan pendapat M. Chaturverdi dan BN Tiwari, istilah Shastri berasal dari Shastra yang berarti buku suci, buku agama atau buku tentang ilmu pengetahuan (Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, cet. ke-9, (Jakarta: LP3ES, 2011) hal 41)

pondok pesantren langitan
santri belajar (ilustrasi)

M. Ziemek juga merangkum pendapat-pendapat para ahli tentang istilah santri ini. Pertama, pendapat Hamid A bahwa kata “santri” dari ikatan kata “sant” yang berarti “manusia baik” dihubungkan dengan suku kata “tra” yang berarti “suka menolong”, sehingga pesantren dapat  diartikan sebagai “tempat pendidikan manusia yang baik-baik”.(Ziemek, Pesantren dalam…, 99)

Kedua,
menurut Geertz, santri mungkin diturunkan dari kata Sansekerta “Shastri” (ilmuwan Hindu yang pandai menulis). Dalam pemakaian bahasa modern, kata santri memiliki arti yang sempit dan luas. Arti sempit santri adalah seorang pelajar sekolah agama (pondok atau pesantren) dan arti luasnya berarti seorang anggota bagian penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh. (Ziemek, Pesantren dalam…, 99)

Pengertian Pesantren

Pesantren merupakan proses penyantrian yang memiliki dua arti, yaitu tempat santri atau proses menjadi santri”. (Abd. Halim Soebahar, Kebijakan Pendidikan Islam dari Ordonasi Guru sampai UU Sisdiknas, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), 35.)
Dari asal-usul kata “santri”, banyak sarjana berpendapat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan bangsa Indonesia yang berasal dari lembaga “mandala” agama Hindu Budha yang diislamkan (proses islamisasi) oleh para kiai (Dhofier, Tradisi Pesantren…, 41)

asrama pondok pesantren al mubaarok manggisan wonosobo
asrama pondok pesantren al mubaarok manggisan wonosobo

Menurut Karel A. Steenbrink, pendidikan pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem pendidikan pesantren digunakan secara umum untuk pendidikan agama Hindu di Jawa. (Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1986), 20-21.

Asal Usul Pesantren

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua pendapat mengenai asal-usul pesantren. Pertama, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berasal dari tradisi Isla m seperti za>wiyah atau khana>qah di Timur Tengah sebagaimana pendapat Nurcholis M.Kedua, pesantren merupakan kelanjutan dari tradisi Hindu Budha yang mengalami proses islamisasi sebagaimana pendapat Zamakhsari Dhofier dan Karel A. Steenbrink.

Tipologi Santri berdasarkan tempat tinggal

Dalam tradisi pesantren, ada dua tipologi santri, yaitu santri mukim dan kalong. Santri mukim adalah santri yang menetap di pesantren sedangkan santri kalong adalah santri yang tidak menetap atau setiap hari pulang-balik atau nglaju (Jawa) dari rumahnya sendiri. (Binti Maunah, Tradisi Intelektual Santri (Yogyakarta: Teras, 2009), 37

hari santri
ilustrasi santri berangkat sekolah

Karena pengaruh modernisasi di pesantren dan masyarakat modern, banyak santri yang kurang termotivasi untuk melanjutkan perjuangan kiai dengan mendirikan pesantren dan lebih suka mencari pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat modern. (Yon Machmudi, ‚The Decline of Ulama Authority in Indonesia: The Cases of Two Pesantrens in East Java (Pesantren Pesantren Darul Ulum Jombang and Langitan Tuban)‛, dalam https://www.academia.edu/5355939/The_Decline_of_Ulama_Authority_in_Indonesia. [Diakses
tanggal 19 Maret 2014].

Demikian hasil transfer bentuk file pdf ke dalam tulisan blog dengan modifikasi edit supaya support dalam halaman blog ini.

Dasar Hukum Penyelenggaraan Pondok Pesantren

dasar-hukum-penyelenggaraan-pondok-pesantren
dasar-hukum-penyelenggaraan-pondok-pesantren

pontren.com – informasi perihal dasar-dasar hukum penyelenggaraan pondok pesantren di Indonesia berdasarkan ketentuan dan perundang – undangan yang berlaku.

Sebagai lembaga yang sudah sangat senior dalam menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, terdapat acuan yang secara legal dijadikan dasar dalam rangka penyelenggaraan Pondok Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan baik yang formal maupun nonformal.

Baca :

  • Link1
  • Link2
  • Link3

Dengan adanya dasar hukum ini maka menjadi pedoman lembaga, yayasan, jajaran pengurus, pengelola maupun pengasuh pondok pesantren dalam menjalankan kegiatan kepesantrenan baik secara administratif maupun pengelolaan pendidikan di lingkungannya.

Disini ada 6 aturan yang menjadi dasar hukum dalam penyelenggaraan pondok pesantren baik berasal dari UUD 45, Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Menteri Agama.

 

Manfaat Mengetahui Dasar Hukum Penyelenggaraan

 

Dengan mencermati, mentaati dan melaksanakan aturan dan ketentuan dalam dasar hukum ini niscaya lembaga pondok pesantren tidak akan terlepas dari rel dalam kehidupan yang baik secara berbangsa dan bernegara.

manfaat-mengetahui-dasar-hukum-penyelenggaraan-pesantren
manfaat-mengetahui-dasar-hukum-penyelenggaraan-pesantren

Disampaikan informasi mengenai dasar hukum ini selain bisa dimanfaatkan oleh kalangan lembaga pendidikan di pondok pesantren juga bisa diambil manfaat oleh para akademisi, peneliti, mahasiswa maupun yang lain dalam melakukan kajian secara ilmiah baik berbentuk paper, makalah, karya tulis, skripsi, tesis, disertasi maupun tulisan bebas.

Dasar Hukum Penyelenggaraan Pesantren

dasar-hukum-pondok-pesantren
dasar-hukum-pondok-pesantren

Berikut undang undang ataupun peraturan sebagai dasar hukum dalam menyelenggarakan pondok pesantren di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945;
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301).
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4769).
  4. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 822) .
  5. Peraturan Menteri Agama Nomor 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah pada Pondok Pesantren (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 972).
  6. Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1761).

Dasar hukum diatas diambil atau dikutip dari juknis izin operasional pondok pesantren SK Dirjen Pendis nomor 3408 Tahun 2018.

8 Jiwa Pondok Pesantren Ruhul Ma’had

jiwa-pondok-pesantren
jiwa-pondok-pesantren

pontren.com – suatu hal yang tercantum dalam juknis pendirian pondok pesantren SK Dirjen Pendis tahun 2018 nomor 3408 mengenai rumusan karakteristik pondok pesantren. Rumusan ini dibuat mengutamakan karakter yang baik dalam berbangsa serta bernegara disertai penguatan rasa nasionalisme.

Baca

  • Link1
  • Link2
  • Link3

Setelah karakter nasionalisme jiwa NKRI dan menjunjung tinggi sekali nilai keindonesiaan dalam berbangsa bernegara berlandaskan Pancasila dan UUD 45, baru kemudian jiwa keilmuan serta karakteristik yang lainnya.

8 Karakteristik Pondok Pesantren yang ideal

8-ruhul-ma'had
8-ruhul-ma’had

Berikut adalah 8 Ruhul Ma’had yang dirumuskan Kemenag dalam Juknis Ijin operasional pondok pesantren. Kedelapan jiwa pondok pesantren dimaksud adalah :

1. Jiwa NKRI dan Nasionalisme
2. Jiwa Keilmuan
3. Jiwa Keikhlasan
4. Jiwa Kesederhanaan
5. Jiwa Ukhuwah Islamiyya
6. Jiwa Kemandirian
7. Jiwa Bebas
8. Jiwa Keseimbangan

Itulah Jiwa Pondok Pesantren atau Karakteristik yang di istilahkan secara kepondokan dengan kata ruhul ma’ahd.

Penjelasan Ruhul Ma’had

ruhul-ma'hadJiwa Pesantren Dalam proses penyelenggaraan pendidikannya, pesantren mengembangkan jiwa atau karakteristiknya (Ruhul Ma’had) sebagai berikut:

1. Jiwa NKRI dan Nasionalisme. Jiwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan nasionalisme merupakan prinsip utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan yang dikembangkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semua lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, yang berada di dalam wilayah teritori NKRI harus menjunjung nilai-nilai keindonesiaan, kebangsaan, kenegaraan dan persatuan yang didasarkan atas NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

2. Jiwa Keilmuan Jiwa. keilmuan ini melandasi pada seluruh stakeholder dan civitas akademika pondok pesantren untuk menimba, mencari, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak henti. Bagi kalangan pondok pesantren, mencari ilmu pengetahuan merupakan keharusan yang dilakukan hingga meninggal dunia.

Demikian juga dengan semangat untuk mengembangkan dan menyebarkan imu pengetahuan kepada masyarakat merupakan bagian dari ibadah sosial sebagai pengejewantahan itikad meraih imu pengetahuan yang bermanfaat (al-ilm al-nafi’).

3. Jiwa Keikhlasan. Jiwa keikhlasan yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu tetapi semata-mata demi ibadah kepada Allah.

Jiwa keikhlasan termanifestasi dalam segala rangkaian sikap dan tindakan yang selalu dilakukan secara ritual oleh komunitas pondok pesantren. Jiwa ini terbentuk oleh adanya suatu keyakinan bahwa perbuatan baik mesti dibalas oleh Allah dengan balasan yang baik pula, bahkan mungkin sangat lebih baik.

4. Jiwa Kesederhanaan. Sederhana bukan berarti pasif, melarat, nrimo dan miskin, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan.vidyanti Ayu Syafitri

Di balik kesederhanaan itu, terkandung jiwa yang besar, berani, maju terus dalam menghadapi perkembangan dinamika sosial. Kesederhanaan ini menjadi identitas santri yang paling khas di mana-mana.

5. Jiwa Ukhuwah Islamiyyah. Ukhuwah islamiyyah yang demokratis ini tergambar dalam situasi dialogis dan akrab antar komunitas pondok pesantren yang dipraktekkan sehari-hari.

Disadari atau tidak, keadaan ini akan mewujudkan suasana damai, senasib sepenanggungan, yang sangat membantu dalam pembentukan dan pembangunan idealisme santri. Perbedaan yang dibawa oleh santri ketika masuk pondok pesantren tidak menjadi penghalang dalam jalinan yang dilandasi oleh spiritualitas Islam yang tinggi.

6. Jiwa Kemandirian. Kemandirian di sini bukanlah kemampuan dalam mengurusi persoalan-persoalan intern, tetapi kesanggupan membentuk kondisi pondok pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang merdeka dan tidak menggantungkan diri pada bantuan dan pamrih pihak lain. Pondok pesantren harus mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.

7. Jiwa Bebas. Bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimistis menghadapi segala problematika hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. Kebebasan di sini juga berarti tidak terpengaruh atau tidak mau didikte oleh dunia luar.Pengertian PDF Pendidikan Diniyah Formal

8. Jiwa Keseimbangan. Jiwa keseimbangan pada pondok pesantren dimanifestasikan atas kesadaran yang mendasar atas fungsi manusia baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi.

Sebagai hamba Allah, manusia diwajibkan untuk beribadah dan menjalin hubungan-personal secara vertikal dengan Allah melalui serangkaian ibadah-ibadah mahdlah dan fasilitasi ibadah lainnya.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diwajibkan untuk menjalin komunikasi, kerjasama, dan hubungan sosial-horizontal antara sesama dan pemanfaatan alam semesta secara harmonis untuk kepentingan kemanusiaan secara luas. Kedua fungsi ini senantiasa mendasari dalam sikap dan perilaku keberagamaan, pola pikir, dan kegiatan sehari-hari secara seimbang.

Demikian mengenai ruhul ma’had, semoga para JFU di lingkungan PD Pontren ataupun PAKIS bisa hafal diluar kepala mengenai jiwa pesantren karakter ruhul ma’had ini.

Salam ayo mondok.

Penyelenggaraan Pondok Pesantren

penyelenggaraan-pondok-pesantren
penyelenggaraan-pondok-pesantren

Pontren.com – mengupas tentang penyelenggaraan pondok pesantren dari segi kewajiban, kelembagaan, lembaga pendidikan keagamaan Islam, maupun lembaga sosial kemasyarakatan.

Baca :

  • Link1
  • Link2
  • Link3

Kewajiban Pondok Pesantren

Sebagai suatu lembaga yang berada di wilayah teritorial dan hukum Indonesia, lembaga pondok pesantren diwajibkan untuk menjunjung tinggi dan mengembangkan nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur lainnya.

Lembaga Pondok Pesantren secara kelembagaan

3-perspekif-kelembagaan-pondok-pesantren
3-perspekif-kelembagaan-pondok-pesantren

Kelembagaan pesantren dapat ditinjau dari 3 (tiga) perspektif, adapun ketiga hal dimaksud yaitu:

a. pesantren sebagai Lembaga Keagamaan yang menjalankan fungsi pengembangan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin), penjaga identitas kultural (cultural identity), serta menjaga dan melestarikan nilai, norma, tradisi, dan budaya Islam Indonesia.

b. pesantren sebagai Lembaga Pendidikan yang menjalankan fungsi penyebaran pengetahuan, sains dan teknologi, nilainilai kemajuan, dan berbagai keterampilan berbasis teknologi.

c. pesantren sebagai Lembaga Sosial Kemasyarakatan yang menjalankan fungsi penyampaian beragam cara yang akan merubah masyarakat kepada perbaikan kehidupan/ meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pondok Pesantren Sebagai lembaga keagamaan dan pendidikan

Pondok pesantren dapat berbentuk sebagai satuan pendidikan dan/atau sebagai penyelenggara pendidikan.

Pesantren sebagai satuan pendidikan merupakan pesantren yang menyelenggarakan pengajian kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin, dengan ketentuan umum:

(1) Penyelenggaraan pengajian kitab kuning dapat dilakukan dalam bentuk pengajian kitab kuning pada umumnya dan/atau program takhasus pada bidang ilmu keislaman tertentu sesuai dengan ciri khas dan keunggulan masingmasing pesantren.

(2) Penyelenggaraan dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin dilakukan secara integratif dengan memadukan ilmu agama Islam dan ilmu umum dan bersifat komprehensif dengan memadukan intra, ekstra, dan kokurikuler.

muatan-kurikulum-pondok-pesantren
muatan-kurikulum-pondok-pesantren

(3) Muatan kurikulum pesantren sebagai satuan pendidikan meliputi

Al-Quran,
Tafsir,
Ilmu Tafsir,
Hadits,
Ulum AlHadits,
Tauhid, Fiqh,
Ushul Fiqh,
Akhlak,
Tasawuf,
Tarikh,
Bahasa Arab,
Nahwu-Sharf,
Balaghah,
Ilmu Kalam,
Ilmu ‘Arudl,
Ilmu Manthiq,
Ilmu Falaq, dan
disiplin ilmu lainnya.

program-takhashush-pondok-pesantren
program-takhashush-pondok-pesantren

Pesantren dapat menyelenggarakan program takhasus yang meliputi :

tahfizh al-Qur’an,
ilmu falaq,
faraid, dan
cabang dari ilmu keislaman lainnya.

Pembelajaran kitab kuning dapat dilakukan dengan menggunakan metode sorogan (individual), metode bandongan (massal), metode bahtsul masail, dan metode lainnya.

Pembelajaran dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin dilakukan dengan metode klasikal, terstruktur, dan berjenjang sesuai dengan struktur kurikulum yang ditetapkan oleh pesantren terhadap tingkatan kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan mu’allimin yang diajarkan.

Kyai atau pendidik pada pesantren melakukan penilaian atas perkembangan, kemajuan dan hasil belajar santri.

Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan

Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan adalah pesantren yang selain menyelenggarakan satuan pendidikan

satuan-pendidikan-diselenggarakan-oleh-pondok-pesantren
satuan-pendidikan-diselenggarakan-oleh-pondok-pesantren

pesantren, secara terpadu menyelenggarakan jenis pendidikan lainnya, dengan ketentuan umum.

Satuan dan/ atau program pendidikan lainnya yang dapat diselenggarakan oleh pesantren meliputi:

(a) pendidikan diniyah formal, contoh PDF/Pendidikan Diniyah Formal
(b) pendidikan diniyah nonformal; contoh, TPQ, Madrasah Diniyah, Majelis Taklim
(c) pendidikan umum; contoh, SD, SMP, SMA,
(d) pendidikan umum berciri khas Islam/madrasah; contoh MI, MTs, MA
(e) pendidikan kejuruan; contoh, SMK
(f) pendidikan kesetaraah; • contoh, Paket A, B, C, Wajardikdas Ula Wustha, PMU
(g) pendidikan mu’adalah/satuan pendidikan muadalah pada pondok pesantren; Pesantren Muadalah
(h) pendidikan tinggi; contoh, Ma’had Aly, Universitas, PTAI
(i) program pendidikan lainnya. Kursus singkat pendidikan keagamaan, dll.

Penyelenggaraan satuan dan/atau program pendidikan oleh pesantren dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sebagai lembaga sosial kemasyarakatan,

pesantren dapat menyelenggaran lembaga sosial, unit usaha/bisnis, dan jenis lembaga lainnya dalam rangka merubah masyarakat kepada perbaikan kehidupan/meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

What Is pondok pesantren?

Knowing pesantren in Indonesia. As you know that boarding is a unique name that exist in Indonesia. This name is reserved for Islamic educational institutions in Indonesia that provide dormitories for students. Students at the pondok pesantren are often referred to as a student. The leader of the boarding school is generally invoked by Kyai or ustadz or Ajengan according to similarities in the area. It also calls the Kyai/cleric or ustadz/religious teachers based on a kind of boarding school. For teachers, ustadz are commonly used to call them.

To know in brief about pondok pesantren, there is some sense used by experts or scholars, both in language and meaning of the term. Quoted from zamakshsyari Dhofier, that the cottage was taken from funduq word (فندق). It refers to a building where the boarding school became a dormitory for students who live and carry out daily activities outside their daily activities learning activities. While the “pesantren” comes from the word “santri” given to-and -an additional words (bahasa indonesia grammar) that became the word “pesantren”, or place for the santri. On the other hand the santri is a combination of “Sant” and “tra” words. The meaning sant is nice guy and say TRA is “likes to help”. In that way, the combination of these words mean a good person who likes to help, which is one of the goals of general education and emphasized in schools. In other words, schools can significantly as the location of a good education for the good of man. Meanwhile, according to Clifford Albert Geertz known as Clifford Greetz, one anthropologist from America and many conduct research in Indonesia and particularly in schools that the word is derived from one of the languages in India namely Shastri. Expert Hindu meaning scientists write. And of course in this case as a human being adjusted understanding of Islam learned or clever in reading and writing (in particular Arabic writing). According to say that boarding is a modification of hindu (should the education system that is applied mainly in the hostel).

When viewed from either language translation into Arabic and english. many use the word ma’had islam in arabic. Meanwhile, when translated into English, people in pesantren often use the term “Islamic boarding school.

Daily activities in the dorms of pondok pesantren

For people outside the boarding school, may be curious about any daily activities that the students in the dorm. Basically activities can be divided into two, namely learning and students’ personal activities. In general boarding school, activities Starting from dawn namely by performing the dawn prayer in congregation (usually in the mosque boarding) continued to recite the Qur’an commonly called tadarus / nderes. There is also the Tahfidz students (students who memorized the Qur’an) has a repeating rote activities or usually called setoran (oral memorize the holy quran in front of the Kyai/chaplain or ustadz or senior santri. There are also at particular pondok pesantren which emphasized the lessons yellow book filled with yellow book (kitab kuning) lessons. with the guidance of a mentor or even clerics. Generally, if the lesson is done after the dawn prayer is religious instruction. After completion of the lesson activities / read the Qur’an after dawn, a common activity done by students is personal activities, such as bathing, washing clothes, breakfast, or even sleep, and also preparation for study in the class.

In the early morning hours until the afternoon or evening, the activities carried out is to learn. For students of junior high school and senior high school in formal education will be studied in accordance with the existing lessons, for students who did not take a formal certificate usually boarding school subjects such as lesson “kitab kuning” or memorize the Koran. For those students of a college conduct lessons in their respective campuses. After education time in the morning until the evening, generally, students are preparing the afternoon prayer (hsolat magrib). After Sholat magrib at the mosque, a common activities  is reading the Koran followed by dinner. After dinner the next activity is evening prayers in congregation (sholat Isya). after Finished evening prayers students have a little time to rest for waiting the next activity. Approximately half an hour to rest the students then continue on his own in the form of learning in the classroom or the Koran yellow book

For modern boarding school the daily activites is study in the classroom, while the model pesantren Salaf ba’da Isha activities are learn the Yellow Book. After whole daily activities, the students sleep until dawn. Not all schools have this kind of activity. However, this kind of activity which is prevalent in the boarding school. In addition to daily activities, there is a routine that is often carried among boarding schools weekly or monthly or yearly such as boarding schools Salaf have regular activities barzanji or berjanjen, grave pilgrimage, tahlilan, and sometimes engage in religious tours to the tomb walisongo (usually once a year) and modern boarding school there are weekly routines activites such as muhadasah / conversation (learn to speak a foreign language, usually Arabic or English), muhadarah (learn speech), sometimes there are scouts and sports (eg karate, taekwondo, football, basketball) and other activities. students clean the dormitory during the holidays and do before they enjoy the holidays (commonly weekly activities)

What are the lessons learned in boarding school students?

soultan cirebonFor the layman or people outside the boarding schools may not know what is being taught in boarding school. Broadly speaking, it can be said that the boarding school is not just one type, there are Salaf and modern type, and also a model with no formal certificate that take non-formal diplomas and there are also schools that Just recite the yellow book without a diploma unless of pesantren. While the sharing of lessons, for boarding schools that have a formal education, for example, junior high school or junior high, senior high school or MA (Madrasah Aliyah) then the lessons that are given are the lessons that has been outlined by the Ministry of Education and Ministry in indonesia (Dinas Pendidikan) and Religious Affairs In Indonesia (Kementerian Agama), such as Biology, Mathematics, History , Indonesian, Social Education Science, and other subjects coupled with an emphasis in the field of Arabic and English, whereas religious education such as Fiqh, Aqeedah Ahlaq, Islamic Cultural History usually refers to the curriculum at the Indonesian Ministry of Religious (Kementerian Agama Republik Indonesia)

In modern pondok pesantren kinds, there is a formal school is usually less qualified in the field of Arabic grammar due to the many general studies at the boarding school. On boarding school the Salaf who have formal education, many of which in the morning after the morning prayer and evening prayer ba’da given extra lessons yellow book, the yellow kitb often taught is about worship and generally begins with taharah, or also Arabic grammatical lessons such nahwu shorof, it is not surprising that the salaf students more proficient in reading yellow book compared with modern students, but in oral, the student of modern pondok pesantren generally more proficient. For boarding school which focus in religion  and arabic gramatical lessons (doesn’t take the formal certificate), the lessons are usually abot the Arabic grammar, fiqh of worship, muamalah, akidah ahlaq and others. That starts with taharah / purification and tajwid science lessons. Or for the  tahfid boarding school filled with lesson of tajwid (the lessons how to read the holy qur’an) or tahsin (make better the reading of Qur’an) recitation and oral memorize the Qur’an in front of the teacher (murojaah). With so real lesson in boarding schools that have formal school lessons is commonly given in schools umumseperti in SMP or SMA coupled with religious subjects with an emphasis in foreign  languages (arabic and english). While in boarding school Salaf, teh kitab kuning usually used such as Amtsilah book At-Tashrifiyah, Mushtholah Al-hadith, Arba’in Nawawi, At-Taqrib, Aqidatul Layman, Ta’limul Muta’alim, Book of the book mentioned above are book about of Arabic grammar , then the disciplines of hadith, fiqh common knowledge taught is about worship and muamalah, as well as the moral sciences, Warding prejudice any outside among the schools who thought taught something strange. not only the formal lessons and foreign languages lessons, but also the character is built. character education also taught them closer to the behavior of nabi Muhammad saw. Or commonly referred to ahlakul karimah with hasanah uswatun parameters of the prophet.

this article has not been completed

To be continued.