Ajining Diri Ana Ing Lathi, Ajining Raga Ana Ing Busana Ajining Awak Saka Tumindak

Ajining Diri Ana Ing Lathi, Ajining Raga Ana Ing Busana Ajining Awak Saka Tumindak

Pitutur Jawa Ajining Diri Ana Ing Lathi, Ajining Raga Ana Ing Busana Ajining Awak Saka Tumindak artinya lan tegese dan contoh dalam praktek kehidupan sehari hari. Unen –unen ini masuk dalam kategori tembung paribasan. Klebu jinise tembung paribasan basa Jawa.

Kenapa masuk dalam kategori Paribasan? Bukan bebasan atau saloka?
Karena pitutur ini mempunyai arti dan makna apa adanya sebagaimana bausastra atau kata-kata dalam tetembungan ini.

Pa sih maksud dari pitutur? Secara singkat, arti atau maksud dari pitutur adalah (memberikan) pelajaran tentang kebaikan (yang baik), dalam Basa Jawa sebutannya yaitu aweh piwulang kabecikan.

Dalam unen-unen Bahasa Jawa ini ada 3 hal piwulang atau pembelajaran dalam hidup berkenaan dengan harga diri, kemudian penghormatan secara ragawi, dan juga tubuh secara keseluruhan yaitu lahir dan batin.

Bisa menjadi pembelajaran kita sebagai filosofis dalam berhubungan dengan orang lain ataupun membawa diri pada kehidupan di masyarakat.

Lebih jelasnya mari kita wedhari atau urai masing-masing paribasan ini.

Ajining Diri Ana Ing Lathi Artinya

Ajining Diri Ana Ing Lathi tegese yaiku kapribadening manungsa ditentokake dening ilate (pocapane). Artinya adalah harga diri kepribadian seseorang itu bergantung bagaimana dia berucap, berkata, atau memegang kata – katanya.

Contoh, orang akan mendapatkan tempat yang tinggi di kalangan masyarakat dalam hal kepribadian apabila dia berbicara sopan, bagus, menepati janji dan tidak suka berdusta atau bohong.

Dan sebaliknya, apabila ada orang yang perkataannya buruk, suka memfitnah, tidak menepati janji, berkata tidak sesuai dengan fakta maka masuk dalam kapribaden kang elek, orang berkepribadian buruk.

Dalam mata pelajaran bahasa Jawa, ungkapan ini ada contoh kalimatnya. Yang berbunyi sebagai berikut;

Bu Eni nek ngendika bener, sopan lan alus, mula murid-muride pada ngurmati kabeh. Sesanti kang trep kanggo ukara nang ndhuwur yakuwe ajining dhiri saka kedhaling lathi.

Arti kedaling atau kedhaling yaiku wetuning gunem, carane gunem. Artinya yaitu keluarnya ucapan, bunyi ucapannya (dalam artian cara dan isinya).

Ajining Raga Ana Ing Busana

doa memakai pakaian

Tegese ajining raga gumantung ana ing busana yaiku ajining raga manungsa banget ditemtokake dening busana (panganggo)ne, artinya kepribadian atau kehormatan tubuh bergantung kepada pakaian yang dikenakan.

Misalnya saat kita menghadiri ke tempat jamuan pernikahan atau buka bersama yang formal, apabila hanya memakai kaos oblong tentu kurang layak.

Maupun dalam kehidupan sehari-hari, kalau mengenakan pakaian yang memperlihatkan aurot kemana-mana sebagai sedekah badan pemandangan gratis tentu akan membuat harga tubuhnya menjadi murah.

Jadi dalam hal ini kehormatan raga manusia yang menjadi acuan adalah pilihan pakaian yang dia kenakan. Bukan selalu dengan kain sutera, baju mahal, sendal merk internasional.

Namun lebih kepada pemilihan pakaian yang tepat dan pantas dalam acara kegiatan dan memandang asas kepantasan dalam penggunaan busana.

Ajining Awak Saka Tumindak

Tegese Ajining Awak Saka Tumindak tegese yaiku ajine kapribaden manungsa iku ala apike miturut kepriye tandang gawe tumindhake. Artinya harga diri orang secara jiwa raga bergantung bagaimana perbuatannya.

Bisa perbuatan yang sesuai antara ucapan dengan tindakan alias omongane ora mencla mencle. Dapat pula dalam berperilaku dia baik, menghargai, giat, semangat, dapat dipercaya akan amanat dan menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh.

Bisa kita ringkas orang yang mempunyai value atau nilai tinggi dalam hal ini yaitu kesesuaian bicara serta tindakan. Juga dalam hal adab perilaku yang sopan santun serta andhap asor alias rendah hati.

Secara umum mestinya ketiga sesanti atau filosofi kata bijak dalam Bahasa Jawa ini adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Pun dalam busana, tidak harus yang mahal dan mewah. Namun patut serta sesuai dengan waktu dan tempat serta menjunjung norma agama susila serta keumuman pada masyarakat.

Demikianlah sekedar informasi tentang makna filosofis dalam sesanti unen-unen pitutur Basa Jawa arti dan penjelasan Ajining Diri Ana Ing Lathi, Ajining Raga Ana Ing Busana Ajining Awak Saka Tumindak. Maturnuwun sudah mampir, wassalamu’alaikum.

Tentang

salam blogger

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*