Perbedaan Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah

MGMP-Madrasah-Diniyah-Takmiliyah

Perbedaan Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah apa saja sih? Untuk mengetahui bedanya maka sebaiknya merujuk kepada lembaga yang menaunginya yaitu Kementerian Agama.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, yang memuat tentang penjelasan dari kedua lembaga pendidikan ini salah satunya adalah Peraturan Menteri Agama Nomor 13 tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang menjelaskan tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Untuk penjelasan mengenai Madrasah Ibtidaiyah bisa anda lihat dalam PMA nomor 90 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah.

Peraturan Menteri Agama no 13 tahun 2014 memberikan gambaran pengertian yang menjelaskan posisi keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah baik ula wustha maupun ulya.

Dalam PMA ini pada pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan keagamaan Islam terdiri dari Pesantren dan Pendidikan Diniyah.

Kemudian, dalam pendidikan Diniyah terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu pendidikan Diniyah Formal, Pendidikan Diniyah Nonformal dan pendidikan Diniyah informal.

Selanjutnya dalam penyelenggaraan pendidikan diniyah nonformal dalam bentuk madrasah Diniyah Takmiliyah (madin), Pendidikan Al-Qur’an, Majelis Taklim, Pendidikan Keagamaan Islam lainnya.

Pada PMA no 90 tahun 2013 menyebutkan Bahwa Madrasah Ibtidaiyah selanjutnya disingkat MI adalah satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam yang terdiri dari 6 (enam) tingkat pada jenjang pendidikan dasar.

Perbedaan Madrasah Diniyah dan Madrasah Ibtidaiyah

Dari ringkasan dalam Peraturan Menteri Agama ini ada perbedaan yang paling mencolok yaitu;

Madrasah Ibtidaiyah atau MI merupakan satuan pendidikan Formal, sedangkan Madrasah Diniyah Takmiliyah adalah pendidikan nonformal.

Perbedaan lain dalam hal mata pelajaran yaitu untuk MI menyelenggarakan pendidikan umum semisal matematika, Ilmu Pengetahuan Alam Sosial, sedangkan Madin atau Madrasah Diniyah Takmiliyah tidak menyelenggarakan pendidikan umum, atau fokus dalam pembelajaran keislaman.

Dari segi bentuk, untuk Madrasah Ibtidaiyah berupa satuan pendidikan, sedangkan Madrasah Diniyah Takmiliyah dapat berupa satuan pendidikan atau berbentuk program pendidikan.

Yang selanjutnya adalah ijazah. Ijazah MI atau Madrasah Ibtidaiyah memiliki kekuatan dan pengakuan secara nasional. Adapun untuk ijazah madin adakalanya lembaga sendiri atau santri dan orang tuanya tidak begitu memperdulikan.

Kenapa tidak peduli?

Alasannya karena pengakuan dari lembaga lain sepertinya tidak begitu menganggap tentang keberadaan dari ijazah madin.

Sangat sedikit Kabupaten atau Kota yang memberikan pengakuan ijazah madin untuk melanjutkan pendidikan ke Jenjang lebih tinggi. Ada yang mensyaratkan ijazah madin untuk masuk ke SMP. Namun….

Ada namunnya.. seandainya orang atau anak didik tidak mempunyai ijazah madin, apakah dia tidak bisa melanjutkan ke SMP atau SMA?

Saya kira apabila ada kejadian suatu Kabupaten Kota menolak anak didik melanjutkan ke jenjang pendidikan formal lebih tinggi karena tidak punya ijazah madin, maka akan menimbulkan keriuhan di berita nasional.

Dan malah lembaga Madin yang kena imbasnya, atau pemerintah dati 2 tersebut akan mendapatkan stigma kadrun, intoleransi, kaum radikal, this is not middle east!!! atau apalah oleh yang merasa paling berbangsa dan bernegara.

Pol mentok ijazah Madin ini hanya menjadi nilai tambah untuk memasuki suatu sekolah atau madrasah yang menjadi tujuan anak didik.

Demikianlah sekilas tentang beda antara Madasah Diniyah Takmiliyah (nonformal) dengan Madrasah Ibtidaiyah. Semoga bisa menjadi bahan tambahan informasi, dan wassalamu’alaikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *