Gagak Nganggo Lare Merak Tegese, Tuladha Ukara, Kalebu Jenise

Gagak Nganggo Lare Merak Tegese, Tuladha Ukara, Kalebu Jenise

Gagak nganggo lare merak tegese yaiku wong asor (cilik) tumindak kaya wong luhur (gedhe), artinya burung gagak memakai bulu burung merak, maknanya orang kecil, jelata, biasa saja, yang berlagak seperti orang besar atau kaya. Kalebu jenise tembung saloka Basa Jawa. Gawea tuladhane ukarane! Contoh kalimatnya ada di bagian bawah.

pontren.com – asalaaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuhu, dalam ukara tembung unen – unen saloka Basa Jawa ini ateges wong asor utawa cilik kang tumindak kaya wong sing luhur yaiku gagak nganggo laring merak.

Peribahasa bahasa Jawa ini menggambarkan tentang perilaku orang kecil, rakyat jelata yang biasa saja akan tetapi bertindak seperti orang yang besar, misalnya dalam segi kekayaan, pangkat derajat serta strata sosial.

Tegese gagak nganggo lare merak, gawea tuladha ukara

gagak yaiku araning manuk wulune ireng, artinya burung gagak adalah sebutan burung yang bulunya hitam.

tegese nganggo yaiku migunakake, ngetrapne ing awak. Artinya nganggo adalah memakai, mengunakan, meletakkan pada badan atau tubuh.

lare, asale saka tembung lar, elar, tegese yaiku wulu, biasanya untuk hewan yang bisa terbang. artinya elar adalah bulu pada hewan yang biasanya mempunyai sayap.

merak yaiku araning manuk kang wulune endah banget, artinya adalah nama burung yang bulunya sangat indah.

Jadi dalam saloka ini memberikan gambaran tentang keadaan burung gagak yang bulunya biasa saja berwarna hitam keseluruhan, memakai atau menggunakan bulu dari burung merak yang tentunya sangat indah menawan.

Dalam peribahasa berbahasa Jawa ini, gambaran orang awam yang bagaikan burung gagak, namun memakai bulu burung merak. Yaitu bentuk bulu maupun warna yang sangat indah. Kontras dengan bulumya sendiri yang warnanya hitam semuanya.

Namun sayangnya hal ini bukanlah dalam hal yang positif namun merupakan perbuatan yang lagak saja, hanya bergaya agar menjadi tampak keren di kalangannya.

Pada beberapa penafsiran lain menyebutkan bahwa saloka ini memiliki arti orang jahat yang perilakunya pura pura baik, kelihatan lugu dan sebagainya.

Bahkan mungkin saja masuk ke got gorong-gorong pun dijabani agar orang mempercayai kalau dia itu baik dan lugu.

Contoh kalimatnya tuladhane ukarane misalnya ada soal wenehana tuladha ukara kanthi ngrakit unen unen tembung saloka ing ngisor iki!

Agustinus gayane selangit padahal wonge biasa wae, kaya gagak ngango lare merak wae.

dalam beberapa ungkapan menggunakan kata elare atau laring. Namun secara maknanya adalah sama saja tidak ada perbedaan.

Ungkapan ini juga bisa masuk kategori tembung pepindhan sing ukarane kaya gagak nganggo elare merak. Cirinya yaitu dengan menggunakan kata “kaya” yang artinya seperti.

Dan dalam bebasan gagak nganggo laring merak juga memiliki arti yang sama. Demikianlah pembahasan tentang bebasan kali ini, Maturnuwun sudah mampir, wassalamu’alaikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top