Balung Tinumpuk, Istilah mantu dalam Bahasa Jawa

Balung Tinumpuk, Istilah mantu dalam Bahasa Jawa

Balung tinumpuk merupakan istilah dalam bahasa Jawa yaitu perayaan ataupun menikahkan dua pasang pengantin dalam hari serta waktu yang sama.

Dalam pengertian bahasa Jawa memiliki beberapa penjelasan, namun intinya adalah sama saja yaitu mantokne bareng rong pasang padha dina lan jam.

Secara harfiah apabila kita mengartikannya kedalam bahasa Indonesia artinya adalah tulang yang ditumpuk (disusun atas bawah bertumpuk).

Berikut beberapa penjelasan menggunakan bahasa Jawa untuk istilah ini.

Bocah dikawina bareng bareng nang dina lan wektu sing pada (dua anak yang dikawinkan bebarengan dalam hari dan waktu yang sama).

Ngrabekake anak loro bebarengan (menikahkan dua anak bersama-sama).

Anak loro dimantu tunggal dina (anak dua dinikahkan pada hari yang sama).

Seperti teman kerja saya yang baru baru ini melaksanakan walimatul ursy untuk kedua anak laki-lakinya.

Dalam istilah Jawa, jika perayaan nikah dari pihak laki-laki istilahnya adalah ngunduh mantu (artinya secara harfiah yaitu memetik/memanen menantu).

Jadi dia melaksanakan resepsi acara puncak ngunduh mantu ini bareng bersama sama waktu dan hari untuk kedua pasang pengantin.

Namun pastinya beda antara ngunduh mantu dengan acara ngijapake (peristiwa ijab kabul dalam nikah).

Istilah mantu Balung Tinumpuk, kenapa bisa bareng pelaksanaannya?

Kenapa harus bersama-sama pelaksanaannya?

Sebenarnya tidak ada yang mengharuskan pelaksanaan nikah secara bareng untuk dua anak atau dua pasang pengantin ini.

Alasannya dapat bermacam macam.

Misalnya efisiensi waktu serta biaya, atau karena memang anaknya sudah ada yang melamar dalam waktu yang relatif bersamaan, sehingga apabila pelaksanaan tidak bareng maka akan bertele tele, sungkan sama para tetangga handai taulan.

Misalnya ada orang yang menyebar ulem padahal dia baru dua tahun mantu, di kalangan masyarakat dia belum lama merayakan walimahan.

Tentu kasian juga salah satu pasangan apabila menunggu lama nikah karena alasan perayaannya.

Atau bisa jadi karena pengantinnya adalah saudara kembar, sehingga pelaksanaannya pun juga bebarengan dalam mantu.

Mungkin juga karena petung jawa yang sampai saat ini masih ada saja yang meyakininya sehingga pelaksanaan mantu dua orang anak ini dilaksanakan secara bebarengan.

Kalau menurut jenisnya, saya menganggap ini masuk dalam kategori perbahasa bebasan, karena penggambaran sesuatu. Adapun paribasan merupakan ungkapan yang apa adanya.

Demikian sekedar ngobrol istilah jawa berkenaan dengan mantu ataupun cara menikahkan orang jawa dua orang anak pada hari dan waktu yang sama, wilujeng dalu dan wassalamu’alaikum.

Tentang

salam blogger

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*