Kalepetan Ala Tegese, artinya Tuladha Contoh Ukara

Kalepetan Ala Tegese, artinya Tuladha Contoh Ukara

Kalepetan ala tegese yaiku katut melu ala artinya ikutan kena dampak buruk, kalebu jinise tembung entar Basa Jawa.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, wilujeng enjang selamat pagi. Kali ini kita akan membahas tembung entar kang ateges katut melu ala (turut kena dampak jelek).

Saya mencari cari arti kalepetan ini dalam berbagai kamus Bahasa Jawa. Dan akhirnya tidak ketemu-ketemu.

Setelah mencermati berbagai teks menggunakan bahasa Daerah ini saya menyimpulkan bahwa tegese kalepetan kira kira kaya kecipratan, kena, lan sak piturute.

Adapun tembung ala tegese yaiku elek, ora becik, lan liya liyane.

Jadi secara singkatnya, arti salugu atau apa adanya adalah kena dampak, kecipratan hal yang tidak baik, jelek.

Contoh Tuladha Ukara Kalepetan Ala

Agak sulit juga mencari rujukan yang tepat sebagai contoh kalimat atau tuladha ukara yang tepat.

Namun saya menemukan tulisan dalam Babad Giyanti. Yaitu Seri Kajian Sastra Klasik Babad Giyanti Jilid 1 Raden Ngabei Yasadipura I Kedhungkol Surakarta Adiningrat.

saya tambahkan kata ala setelah kalepetan untuk menyesuaikan dengan tembung entar yang sedang kita bahas ini.

Berikut kalimatnya yang bisa membikin pening kepala menerjemahkan apabila tidak mendalami berbagai arti Bahasa Jawa yang sudah kuno jarang penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

ngicalakên dhog satunggil pintên banggi manggih gêsang supadi paduka katong sampun ngantos kalepetan ala ing labêt kang tan arja awit paduka pukulun lawan rad pêni India

artinya yaitu “Hanya membuang sebuah telur, seberapa kehilangannya. Supaya paduka Raja jangan
sampai terkena kesalahan saya, karena nanti bisa berakibat tidak baik, (antara raja dengan dewan India yang maksudnya adalah Kompeni)”.

Jadi ini adalah ucapan dari Pangeran Mangkubumi meminta ijin untuk minta diri, tidak lagi bergabung dengan sang Raja.

Alasannya yaitu supaya sang Raja tidak ikut menanggung kerepotan dan menjadi serba salah.

Karena kejadian sebelumnya soal besar nilai bagi hasil pesisir toh Raja juga sudah mengabaikan sarannya.

Jadi lebih baik untuk keharmonisan hubungan Raja dan Kumpeni apabila dirinya tidak di keraton. Bukankah bagi Raja Kumpeni lebih layak mendapat prioritas?

Jadi inti ungkapan ini adalah hal berkaitan kena dampak buruk atau setidaknya kena ciprat hal yang tidak baik, yang Tembung entar Kalepetan Ala kang ateges katut melu ala.

Demikian obrolan ngalor ngidul kali ini, terima kasih sudah mampir, salam kenal dan wassalaamu’alaikum wa rahmatulahi wa barakatuhu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top