Wahai Blogger Muslim, Berilah Harakat Tulisan Arab Artikelmu

kepala gundul kartun
Share

Sekedar unek-unek pribadi setelah mengunjungi blog salah satu ketua Yayasan Pendidikan Islam yang menaungi SMPIT SMAIT dan Madrasah Aliyah yang memiliki popularitas yang baik pada kalangan tertentu.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, saat ini sudah lumayan banyak orang Islam yang menulis mengenai berbagai hal.

Salah satunya berupa keilmuan dan informasi mengenai keislaman.

Baik hukum, tafsir, motivasi semangat hidup dan lain sebagainya.

Akan lebih afdhal dalam tulisannya apabila melampirkan ayat hadits maupun fatwa ulama sebagai penguat dan dasar tulisannya.

Untuk ayat al Qur’an umumnya copy paste dari berbagai situs website yang menyediakan ayat lengkap dengan teks latin beserta terjemahnya dalam Bahasa Indonesia. Tentu juga berharakat alias ada syakalnya.

Namun sayangnya untuk teks hadits maupun fatwa ulama, banyak yang dalam versi gundulan alias tanpa harakat.

Jujur saja, banyak mubaligh maupun dai di Indonesia yang kemampuannya membaca al-Qur’an bagus, namun apabila disuruh membaca tulisan arab bukan al-Qur’an tanpa harakat, banyak yang sungkan berbunyi.

Kenapa?

Ya tidak semuanya menguasai ilmu nahwu sharaf dalam Bahasa Arab.

Situasi ini membuat berbagai artikel yang bagus dan cocok sebagai bahan menyampaikan materi menjadi majhul ungkapannya dalam Bahasa Arab.

Bahkan juga hadits-hadits yang tanpa harakat.

Why?

Ngeri saja jika salah membacanya karena tanpa syakal harakat.

Dalam pengajian umum atau yang di hadiri orang banyak, bisa saja audience atau pendengar ada yang lebih ahli menguasai Bahasa Arab daripada yang menyampaikan materi,

Atau tidak paham bahasa Arab namun hafal hadits yang dijadikan landasan mubaligh.

Sehingga apabila sampean menulis teks arab sebagai hujjah atau penguat artikel, saya pribadi sangat menyarankan untuk melengkapinya dengan harakat serta syakal pada tulisan anda.

Pentingnya Memberi harakat pada Tulisan Arab di Blog

Tujuannya supaya apabila ada orang yang mengambil tulisan sampean sebagai materi dalam khotbah maupun pengajian, bisa pula mengucapkan teks arab yang ada.

Tentunya akan sayang jika ada mubaligh yang menyampaikan isi hadits namun hanya dengan menyampaikan artinya saja.

Tentunya secara rasa “ada yang kurang” meski juga mestinya tidak mengurangi kebaikan dalam isi materi pengajian atau khotbah jum’ah.

Rasah adoh-adoh, saya sendiri juga mengalami pengalaman yang sama, saat menemukan teks Arab tanpa harakat.

Menjadi galau dan gamang jika hendak membacanya di depan umum.

Ngeri saja kalau salah dalam membacanya.

Itu saja uneg-uneg pagi ini setelah melihat blog alumni lulusan Kampus Universitas Al Azhar Kairo Mesir tahun 2005.

Wilujeng enjang, selamat pagi dan wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *