Biaya Pondok Pesantren termasuk murah bagi orang Kota Besar


Share

Pendapat orang yang tinggal pada Kota besar di Indonesia tentang biaya pondok pesantren termasuk murah, meskipun untuk orang daerah pinggiran masuk dalam kategori harga mahal.

pontren.com – assalaamu’alaikum para pengamat pondok pesantren maupun pengelola lembaga ponpes yang eksis dan aktif menelusuri dunia maya, salam kenal dan wilujeng dalu.

biaya pondok pesantren murah bagi orang kota Besar

Beberapa kali saya mengobrol dengan teman maupun saudara, berbincang bincang tentang pondok pesantren beserta informasi sekitar biaya lembaga pendidikan Islam ini.

Umumnya lembaga pondok pesantren memerlukan biaya uang pangkal mencapai jutaan, lazimnya antara 5 – 15 juta rupiah untuk uang masuk.

Sedangkan SPP atau uang syahriyah perbulan bervariasi, mengacu kepada fasilitas dan baru atau lama suatu pesantren tersebut.

Alasan Pesantren Lama lebih murah biayanya dibanding pesantren yang masih baru belum lama berdiri

Tentunya ini adalah asumsi secara hukum umum, bisa saja ada kejadian kasuistik pesantren masih baru tapi hemat dalam biaya.

Contohnya ada penyandang dana yang sangat kuat dalam melengkapi fasilitas pesantren tanpa melibatkan orang tua santri dalam pembiayaan pembangunan.

Kenapa pesantren lama dan baru memiliki pengaruh terhadap biaya pendidikan?

Karena menurut pengamatan saya, lembaga pesantren yang masih baru tentu banyak melakukan pengembangan dan pembangunan baik kelas asrama dan fasilitasnya.

Baca : manfaat Pondok Pesantren Biaya Mahal Untuk Umat

Dampaknya biaya masuk santri alias uang pangkal akan mendapatkan salah satu pembiayaan yaitu berupa sumbangan pembangunan maupun dana pengembangan pesantren.

Berbeda dengan ponpes yang sudah lama dan mapan tentunya lebih banyak pembiayaan akan kembali kepada kebutuhan siswa seperti pakaian, kelengkapan santri maupun fasilitas untuk siswa. Intinya minus dana pembangunan.

Alasan Biaya Pondok Pesantren termasuk murah bagi orang Kota Besar

Kembali lagi kepada asumsi bahwa biaya pendidikan pondok pesantren adalah (termasuk) murah bagi orang yang tinggal pada kota besar.

Walaupun bagi masyarakat kota pinggiran bahkan kampung masuk dalam kategori mahal, begini logikanya.

Paman saya mempunyai anak laki-laki, usia SMP dan melanjutkan ke pondok pesantren di Kabupaten Semarang, uang masuknya sekitar 10 juta, SPP syahriyah setiap bulan kisaran 1 juta lebih sedikit.

Teman saya dari Tangerang (Sabila Fatwaningrum) ngobrolin mengenai biaya pondok pesantren Assalaam, uang masuknya nyaris 20 juta, sedangkan biaya SPP mencapai 2.500.000,- setiap bulan.

biaya pendidikan dikota sudah mahal

Untuk penghasilan PNS, angka tersebut masuk kategori tinggi apabila hanya mengandalkan gaji saja (minus tunjangan kinerja, kespeg, remunerasi, dan lain sebagainya), maupun orang pinggir kota dengan penghasilan UMR.

Wajar logika mahal untuk yang tinggal di pinggir kota atau kampung.

Karena lembaga pendidikan sekitar tempat tinggalnya menyediakan pendidikan gratis (untuk Negeri) maupun swasta yang menawarkan harga relatif terjangkau.

Akan tetapi asumsi ini tidak berlaku bagi orang yang tinggal pada kota Besar.

Sekolahan yang memiliki mutu lebih atau lumayan maka biayanya bisa setara dengan masuk pesantren.

Belum lagi biaya SPP mencapai ratusan ribu rupiah setiap bulan bahkan jutaan setiap bulanan.

Dan harap dicatat, ini merupakan sekolah biasa yang anak-anak pulang pergi sekolah.

Dengan keadaan kota besar, pergaulan menjadi susuh untuk mengontrol. Kedua, biaya akomodasi perjalanan dan makan anak saat sedang sekolah juga tidak murah.

Contoh Kongkrit Estimasi Biaya Pendidikan Pesantren dengan SekolahReguler pada Kota Besar secara hitungan Umum

Contohnya paman saya langganan ojeg untuk anaknya yang duduk pada sekolah SD menghabiskan dana sekitar 300 – 600 ribu rupiah.

Uang setengahan juta hanya sekedar u ntuk biaya pulang pergi anaknya. Belum termasuk uang SPP dan jajan makan siang anaknya saat berada di sekolahan.

Penuturan ini senada juga dengan yang Sabila Fatwaningrum sampaikan bahwasanya sekolahan di Tangerang untuk uang masuknya juga sudah rata rata segitu tingginya.

Seperti uang pangkal pondok pesantren kisaran 10 jutaan.

Perihal biaya SPP setiap bulan juga 11 – 12 dengan uang syahriyah di Pesantren.

Masih mengeluarkan pembiayaan uang perjalanan dan ongkos jajan anak untuk makan siang.

santri mukim pondok pesantren
santri pondok pesantren siap buka bersama

Makanya apabila banyak orang kota besar yang menyekolahkan anak pada pondok pesantren maka kalkulasi ekonomis malah bisa dikatakan untung secara finansial, jika hanya menghitung perekonomian.

Apalagi jika menimbang fasilitas pengawasan lebih terawasi pada pesantren daripada lembaga pendidikan umum.

Misalnya sebagai komparasi pondok pesantran Darus Salam Gontor Ponorogo, uang masuknya kisaran 6 juta dengan SPP setiap bulan kisaran 600 an ribu rupiah.

Bandingkan dengan biaya pendidikan pada sekolah pada kota-kota besar semisal Jakarta, Depok Tangerang, Bogor, Surabaya dan kota lain.

Tentunya akan mendapatkan perbandingan pembiayaan yang bisa masuk akal kenapa memilih pesantren.

Selain faktor ekonomis, masih plus pendidikan agama dan penanaman akhlak pada saat berada pada pendidikan pesantren, termasuk lingkungan yang membentuk mereka sebagai santri.

Untuk itulah perlunya orang tua melakukan survey pesantren mengenai lingkungan adat kebiasaan santrinya, apakah masih kondusif atau tidak.

Kesempatan pesantren untuk mendapatkan santri murid dengan pangsa penduduk kota besar

Melihat sistematika kalkulasi ekonomi orang kota dalam menghitung biaya pendidikan pesantren dan membandingkan dengan pendidikan umum, merupakan kesempatan untuk pengasuh pondok pesantren.

Perlu gerakan bersama sama memberikan edukasi bahwasanya menyekolahkan anak ke Pondok Pesantren selain tujuan Pendidikan Akhlak dan Agama juga merupakan penghematan ekonomi.

Intinya sebenarnya bagi orang tinggal pada besar, biaya pesantren adalah ekonomis.

Tentunya promosi ini perlu imbang antara kualitas lulusan pondok pesantren yang mampu bersaing dengan siswa sekolah umum.

Kemudian unggul dalam bidang adab etika serta perilaku beragama (saya yakin hal seperti ini juga merupakan tujuan pendirian lembaga pesantren).

Dengan image lulusan pondok pesantren yang baik cerdas berbudi mulia.

Maka kelak peminat pesantren akan semakin banyak yang bermuara kepada seleksi alam santri yang lebih cerdas yang bisa lolos ujian.

Dengan input yang baik secara logika maka output lulusannya tentunya juga akan meningkat.

Peningkatan secara lambat laun dan semakin meningkat beriringan semakin banyaknya pendaftar pada pondok pesantren.

Itulah opini malam ini, bagi para pengelola pondok pesantren, silakan memberikan pendapat maupun opini pada kolom komentar.

Atas partisipasi dalam obrolan ini, kami mengucapkan terima kasih. Salam kenal dan Wassalaamu’alaikum w rahmatullah.


Share

monggo silakan komen atau tanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.