Kisah Teladan Wali Songo

Kisah Teladan Wali songo.
Salah satu peninggalan sejarah yang masih tampak kokoh dan dapat dilihat serta diraba saat ini yaitu Menara kudus merupakan salah satu peninggalan yang terkenal dari salah seorang wali Songo yaitu Sunan Kudus. Oleh karenanya masjid tersebut dinamakan dengan “Masjid Menara Kudus”.

pontren.com – assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, guna mengenal secara ringkas tentang siapa wali Songo dan bagaimana kisah keteladanan yang dapat diambil dari beliau beliau mari kita simak penuturan dibawah ini.

Nama Nama Wali Songo

Berikut adalah para wali songo yang diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi Wali Sembilan. Nama Wali Songo ini dipergunakan juga untuk penamaan Institut Agama Islam di Semarang yaitu IAIN Wali Songo yang kemudian Menjadi Universitas Islam Negeri Wali Songo.

Berikut para wali dimaksud;

  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Drajat
  5. Sunan Kudus
  6. Sunan Giri
  7. Sunan Kalijaga (Raden Said)
  8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
  9. Sunan Gunung Jati (syarif Hidayatullah)

Dalam soal ujian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 4 SD atau MI bisa saja terdapat pertanyaan sebagaimana berikut;

Ayo, sebutkan falsafah Moh Limo Sunan Ampel!
Ayo, ceritakan kisah keteladanan Sunan Drajat!
Ayo, ceritakan kisah keteladanan Sunan Bonang!

Guna menjawab pertanyaan diatas anda dapat membaca rangkuman yang kami buat mengacu dari Buku PAI Kelas 4 SD MI milik pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Beliau juga disebut dengan Sunan Gresik atau Sunan Tandhes, lahir di Samarkand Asia tengah dan meninggal di Jawa Timur tepatnya di Gresik Desa Gapura.

Termasuk keteladanan sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah semangat dalam berdakwah menyebarkan agaama Islam. Beliau banyak melakukan pembelaan terhadap rakyat (Jawa) yang tertindas oleh Majapahit.

Dikisahkan juga bahwa beliau mengajarkan cara cara baru dalam metode bercocok tanam.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan ampel ini atau yang disebut juga dengan raden rahmad dianggap sebagai sesepuh oleh para wali yang lain.

Makam mendiang sunan ampel terletak dekat dengan masjid ampel di Kota Surabaya.

Salah satu kisah keteladanan yang menarik dari beliau yaitu saat sunan ampel melakukan dakwah kepada Prabu Brawijaya.

Walaupun pada akhirnya Brawijaya tidak memeluk Islam, akan tetapi Raja ini terkesan dengan ajaran agama Islam sebagai ajaran budi pekerti yang mulia.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel mengajarkan falsafah moh limo (5M).

Yang dimaksu dengan moh limo yaitu tidak mau melakukan lima perbuatan tercela yaitu;

  1. Main; (berjudi)
  2. Ngombe (mabuk mabukan)
  3. Maling (mencuri)
  4. Madat (menghisap candu atau ganja)
  5. Madin (berzina)

Sunan Bonang

Beliau juga merupakan putra dari sunan ampel yang sekaligus muridnya, sunan bonang wafat pada tahun 1525.

Keteladanan dari sunan bonang yaitu cara penyebaran agama Islam atau dawahnya yang diyakini bijak.

Sunan bonang sering menggunakan media kesenian rakyat dalam rangka menarik perhatian dan simpati kaum jelata.

Dia juga memasukkan alat musik bonang pada seperangkat alat musik gamelan.

Dar sinilah selanjutnya beliau dikenal dengan sebutan sunan Bonang.

Selain dengan alat bonang pada gamelan, beliau juga penggubah suluk wijil dan tembang tombo ati.

Sunan Drajat

Sunan drajat merupakan putra dari sunan ampel, perkiraan waktu beliau wafat adalah pada tahun 1522, Pondok Pesantren sunan drajat dijalankan di desa Drajat Kecamatan Paciran, Lamongan Provinsi Jawa Timur.

Dalam hal keteladanan yang dapat dipetik dari sunan Drajat yaitu metode atau cara dakwah beliau yang menekankan pada keteladanan pada bidang perilaku yang terpuji, kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat sebagai pengamalan agama Islam.

Dalam dakwahnya, sunan Drajat juga melakukan dakwah melalui kesenian.

Tembang Macapat Pangkur disebut merupakan salah satu dari ciptaannya dalam bidang kesenian.

Sunan Kudus

Beliau merupakan putra dari Sunan Ngundung atau Raden Usman Haji.

Sunan Kudus memiliki posisi yang penting dalam pemerintahan kesultanan Demak.

Beliau menduduki posisi sebagai panglima perang, penasihat sultan Demak dan Hakm Peradilan Negara.

Dalam medan dakwahnya, beliau sunan kudus banyak melakukan dakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi jawa, bisa disebut kaum bangsawan.

Diantara muridnya adalah sunan Prawata Penguasa demak dan Arya Penangsang adipati Jipang panolan.

Salah satu peninggalan beliau yang terkenal yaitu masjid Menara Kudus.

Beliau (sunan Kudus) wafat pada tahun 1550.

Sunan Giri

Beliau merupakan putra atau anak dari Maulana Ishaq, termasuk salah satu murid dari Sunan ampel dan satu perguruan dengan Sunan Bonang.

Salah Satu Keturunannya adalah Sunan Giri Prapen yang berdakwah menyebarkan agama Islam sampai dengan NTB tepatnya di Wilayah Bima dan Lombok.

Jasa sunan giri dalam dakwah Islam sangat banyak bahkan sampai dengan pulau pulau di Indonesia wilayah timur.

Sunan giri juga pernah menjadi hakim dalam urusan perkara Syeh siti Jenar.

Dia termasuk yang berdakwah lewat kesenian.

Lagu atau tembang Islami untuk permainan (dolanan anak) diciptakan olehnya semisal lagu jamuran, jithungan dan delikan.

Sunan Kalijaga (Raden Said)

Raden Said atau Sunan kalijaga merupakan putra dari Adipati Tuban yan memiliki nama Tumenggung Wilatikta atau juga dipanggil dengan Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Beliau adalah murid dari Sunan Bonang.

Dalam cara berdakwah, sunan kalijaga menggunakan sarana kesenian dalam menyebarkan agaama Islam. Media kesenian yang dipakai semisal tembang suluk, tembang suluk iir-ilir dan gundul gundul pacul juga dianggap sebagai hasil karya Sunan Kalijaga atau raden Mas Said.

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Raden Umar Said yang dikenal juga dengan sunan muria adalah anak dari Raden Said alias Sunan Kalijaga.

Selain itu beliau juga merupakan adik ipar dari Sunan Kudus.

Bertempat tinggal di gunung muria yang terletak di sebelah utara Kota Kudus Jawa Tengah.

Dalam metode penyebaran Islam alias berdakwah, beliau mengikuti jejak ayahnya yaitu dengan menggunakan cara yang lembut.

Media gamelan beserta wayang tetap dipergunakan sebagai alat dalam berdakwah.

Sunan muria menciptakan tembang sinom dan kinanti.
Yang menjadi sasaran dakwah dari sunan muria ini adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata pada umumnya.

Sunan Gunung Jati (syarif Hidayatullah)

Beliau merupakan anak dari Syarif Abdullah Umdatuddin, jasa beliau yaitu mengembangkan cirebon sebagai pusat dakwah yang pemerintahannya kemudian menjadi kesultanan Cirebon.

Putra beliau yang bernama Maulana Hasanuddin juga sukses dalam pengembangan kekuasaan serta penyebaran agama Islam di Banten yang kemudian menjadi kesultanan Banten.

Suri tauladan baik yang diberikan dan ditinggalkan sunan gunung jati adalah dalamhal bekerja.

Beliau sering turut serta dalam musyawarah dengan para wali lain di Masjid Demak.

Pada saat pembangunan masjid Agung sang Ciptarasa (tahun 1480) Sunan Gunung Jati melibatkan banyak pihak.

Yang terlibat termasuk para wali lain serta sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh raden Patah (Kesultanan Demak).

loading...

Silakan berkomentar