Dulu curhat di Buku Diary ada kuncinya zaman now di blog dan berharap banyak yang Baca

kejujuran dalam Islam

Brothers and sisters bloggers and wordpressers… Sugeng dalu, selamat malam. Jadi ingat masa lalu zaman behaula sebelum internet menjajah waktu bersosial di dunia nyata dan membuka tali sillaturrahmi orang yang belum pernah bertatap muka sebelumnya.

Pernah dengar engga lagu nya ratu, itu lho duo mulan kwok (sekarang mulan jameela) dengan maia estianty. Lagunya berjudul dear diary.

Tau dong apa itu diary, jangan salah tulis jadi diare ya… Artinya beda sangat dan haduhhh….. Pokoknya beda, sulit diungkapkan dengan kata dan sakit bila melanda.

Jadi diary berasal dari kosa kata bahasa Inggris yang jika di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti buku harian.

Zaman dulu era Rano Karno masih jadi artis dan belum menjadi politisi, buku harian sangat ngehits di kalangan pelajar maupun mahasiswa.

Umumnya berwarna warni menarik dengan sampul tebal bergambar sangat kentara apakah buku yang disasar untuk kaum adam atau para kaum hawa alias ABG yang kala itu banyak disebut dengan kawula muda.

Buku harian alias si diary ini menjadi sahabat teman curhat, kebanyakan tertulis didalamnya rasa cinta terhadap orang yang ditaksir atau ungkapan cinta dalam dada yang tak terungkap lewat kalimat dibibir.

Ngeri ditolak takut kabur karena cinta tidak diterima sehingga malah dijauhi. Adapula ungkapan kekesalan dalam hati alias unek unek yang tertumpah disitu.

Ada banyak kesamaan pemilik diary yaitu umumnya menganggap tulisan dalam diary merupakan hal yang sangat pribadi sehingga tidak ada seorangpun yang boleh membaca kecuali dirinya.

Top secret pokoknya, meskipun sahabat dekat bisa kena damprat jika berani membacanya. Makanya zaman dahulu era 90 an masih banyak terjual buku harian yang ada gembok kecilnya. 😀

Beda zaman beda kebiasaan, itu yang terjadi. Saat ini kayaknya para abg maupun mahasiswa mahasiswi di kampus sudah memiliki diary virtual. Ada yang berupa media sosial atau setingkat lebih keren yaitu blog.

Bedanya jika zaman dahulu diary merupakan rahasia yang top secret dimana orang lain haram hukumnya membaca buku harian ini, maka dunai terbalik di era milenial.

Postingan curhatan di twitter atau facebook maupun upload gambar galau menggambarkan isi hati akan bisa maksimal memberikan perasaan ekstasy kepada pemiliknya jika banyak tanggapan like maupun komen yang mampir di beranda.

Apalagi kisah kisah yang tertulis di blogger atau wordpress yang bisa di deteksi jumlah hits dan pageview serta visitor yang mampir di postingan. Postingan galau akan menjadi kegembiraan tersendiri jika jumlah hits atau pageview dalam sehari mencapai ratusan untuk satu artikel.

Galau berujung happy karena banyak yang membaca heheheee….

Yang jelas selain perubahan model tulisan privat untuk diri sendiri pada diary di era tahun 90 an tentunya tidak akan di publish untuk umum pada blog, minimal model privat atau password.

Jika dahulu anda membaca diary seseorang akan menemukan keaslian atau isi hati sang pemilik, maka saat inj saya meragukan isi curhatan ini memiliki bobot dan tingkat akurasi yang sama yang tertulis di blog.

Kenapa begitu? Karena jika seseorang hanya menulis untuk dirinya sendiri menurut saya dia akan memiliki akurasi kebenaran yang lebih tinggi dan tingkat keterbukaan lebih gamblang.

Berbeda dengan curhat via blog atau medsos, akan ada beberapa intrik dan informasi yang disembunyikan guna kepentingan citra sang pemilik akun tidak jatuh terjerembab karena mengumbar fakta dengan jelas.

Saking ngehits dan jujurnya seseorang pada buku diary, di india pernah di produksi film yang mana buku diary menjadi dasar sumber cerita dan dipergunakan untuk mengungkap kejahatan seseorang.

Saat ini selain blog ada juga yang berbasis vlog. Akan tetapi menurut saya untuk area video alias vlog ini sangat jarang untuk dijadikan ajang curhat seperti yang ada dalam tulisan dear diary.

Malah kebanyakan yang suka ngevlog ini selain untuk eksistensi diri ada juga yang menyasar untuk mendapatlan penghasilan dari google adsense melalui youtube.

Sedangkan blogger yang berisi curhat kebanyakan visitor bukan menjadi area target untuk nulis tapi hanya sebagai bonus.

Tulisan di blog atau wordpress sebagai ladang menyemai bakat dan membuang benalu di hati dan pikiran supaya dunia lebih terasa luas dan nyaman.

Itulah seonggok kisah tentang tulisan pada media buku yang biasa diawali dengan dear diary dan perubahan perilaku anak zaman old dengan anak zaman now. Kalau pengen tau coba aja tanya emak atau babe apakah dahulu punya buku diary hehejee….

loading...

Silakan berkomentar