rebutan-pengaruh-pengurus-pondok-pesantren

Pengelolaan pesantren, berjuang bersama saat kecil, rebutan sewaktu besar

Pernahkah anda mendengar seorang ustadz atau kyai pada lembaga pondok pesantren keluar dari tempat lembaganya dan mendirikan pondok di lokasi yang relatif berdekatan? Atau terdengar adanya perpecahan pengurus yang membuat beberapa orang pengajar terdepak dari suatu lembaga?

Pontren.com – hal ini juga terjadi pada lembaga pendidikan Islam yang notebene banyak yang mendirikannya berdasarkan asas mencari ridha Allah SWT, akan tetapi setelah berjuang bersama sama mendirikan dan membesarkan pondok tapi disaat sudah mencapai titik “punya nama” dan dipercaya masyarakat malah di kalangan pengurus terjadi perebutan pengaruh sampai rebutan untuk mengelola.

Walaupun tentunya tidak semua pesantren seperti itu, bahkan mungkin lebih banyak yang adem ayem dibandingkan dengan lembaga yang didalamnya terjadi rivalitas berebut pengaruh dalam mengelola lembaga pendidikan ini.

Bahu membahu disaat awal pendirian dan pembangunan pondok pesantren

berjuang-bersama-mengelola-lembaga-pendidikan
bersama membangun lembaga

Biasanya awal dari pondok pesantren yang memiliki kans untuk menjadi besar adalah adanya semangat para pengelola (baik pengurus maupun dewan pengajar) dalam mengembangkan lembaga yang dibuat.

Semangat ini dapat berupa bagaimana caranya supaya santri menjadi berkualitas, pencarian dana yang penuh dedikasi, pencarian terobosan supaya lembaga dapat dikenal dan mendapatkan kepercayaan masyarakat, semisal mendirikan balai pelatihan untuk santri sehingga santri bisa mandiri disaat lulus dari pondok pesantren.

Pada taraf tertentu pengorbanan waktu tenaga dan biaya termasuk lumrah pada masa awal pendirian pondok pesantren, ada yang bersedia mengajar dengan bayaran yang minim atau gratis, ada yang menjual sepeda motor, mewakafkan tanah, menyumbang uang demi berjalannya kegiatan belajar mengajar pada pesantren.

Intinya yaitu adanya kebersamaan yang kuat dari seluruh komponen pada lembaga pondok pesantren supaya lembaga berkembang dengan pesat dan mendapatkan santri sebagai anak didik yang diharapkan menjadi alumni pesantren yang berkualitas unggul.

Rebutan lembaga pondok pesantren disaat sudah besar

rebutan-pengaruh

Arti dari lembaga sudah besar adalah perkembangan pada taraf tertentu dimana pesantren sudah mendapatkan nama dan kepercayaan dari masyarakat serta tidak terlalu sulit untuk mendapatkan santri baru.

Pada titik ini lembaga memiliki kerawanan sosial yaitu perpecahan pengurus baik dari segi arah dan tujuan pesantren, tarik ulur dalam pendidikan keagamaan (madzhab, keyakinan ibadah, organisasi dll), maupun adanya penegakan disiplin serta kalkulasi peningkatan mutu yang membuat beberapa orang terpaksa harus minggir.

Pada beberapa lembaga saya mendengar terjadi seperti itu dan tentunya saat lembaga telah mempunyai aset berupa bangunan dan nama, sedangkan pada tahap berkembang, jarang terekspose, karena apa yang mau diperebutkan jika belum berkembang masih dalam taraf tertatih tatih.

Pemicu perebutan pengaruh dan pengurus pada lembaga pendidikan khususnya pondok pesantren

Mestinya ada sebab yang menimbulkan perpecahan dan perebutan lembaga di kalangan pengelola pondok pesantren, adapun beberapa sebab yang menurut analisa kami adalah;

Pendiri lembaga bersifat kolektif setara, tidak ada tokoh utama

Pada lembaga yang didirikan secara bersama akan rawan mengalami perebutan disaat telah berkembang dan berjakan dengan baik, hal ini terjadi karena yang namanya pimpinan biasanya hanya satu, akan tetapi karena pendiri lembaga bersifat keroyokan, tentunya ada perbedaan pendapat yang muncul disaat lembaga sudah berjalan baik.

Disaat perbedaan pendapat ini tidak dapat disatukan, akan terjadi pergolakan yang lama bahkan terus menerus dan puncaknya salah satu pihak yang kalah akan terpental secara massal karena sudah tidak dapat disatukan lagi.

Perbedaan organisasi, manhaj, para pendiri dan pengelola pesantren

rapat anggota dewan (ilustrasi)

Diawal pendirian tentunya akan melupakan adanya perbedaan diantara mereka, yang ada dikepala adalah pokoknya bagaimana supaya lembaga pondok pesantren bisa berkembang dengan baik, dikesampingkan beda madzhab maupun organisasi.

Disaat sudah tercapai perkembangannya, maka energi untuk mengembangkan lembaga menjadi teralihkan, yang dahulu bisa dikesampingkan muncul kembali karena adanya salah satu pihak yang getol menebarkan organisasi atau madzhab dalam beragama.

Hal ini tentunya akan mengundang reaksi dari pengelola yang lain yang memiliki aliran berbeda dengan yang di getolkan oleh pihak lain.

Dampaknya pada kultum atau pembelajaran dikelas (bagi sekolah yang memiliki MTs MA) akan terjadi perebutan pengaruh dan perang pemikiran melalui santri yang dididik, santri yang memiliki kemampuan analisa tentunya akan menyadari hal ini.

Ketiadaan figur tokoh yang dominan dalam kelembagaan

Ya merupakan kebalikan dari kolektif tadi, akan tetapi misalnya jika pendirian bersifat kolektif akan tetapi terdapat tokoh pemersatu akan dapat meminimalisir perpecahan antara kelompok kelompok yang bertikai.

Fokus pada pembangunan dan promosi lembaga, mengabaikan AD ART dan pengorganisasian diawal pembangunan

Biasanya disaat awal pembangunan, energi dari para pendiri dan pengasuh akan fokus kepada bagaimana caranya supaya lembaga segera mapan dalam ekonomi, bangunan, jumlah santri, kbm dan lainnya.

Hal ini membuat pengorganisasian lembaga cenderung terabaikan sehingga penanganan secara organisasi bersifat responsif dengan kondisi, bukan antisipatif.

Maksudnya adalah etika anak anak banyak yang belajar baru dipikirkan bagaimana ijazah formalnya, bukan melakukan antisipasi di awal pembangunan dengan perencanaan apakah akan dibuat sekolah formal atau hanya pondok saja.

Adanya oknum yang bersifat materialistis dan motif lain

sejumlah-uang

Ini juga salah satu faktor pembuat pengelola pesantren menjadi pecah, yaitu disaat lembaga sudah mulai berjalan baik maka profit yang disasar, hal ini tentunya tidak ditampakkan secara lahir, akan tetapi dalam batin dan kegiatan politik dalam pengurus lembaga dia akan bergerak supaya dapat meraih poin harta dari keberadaan lembaga.

atau faktor tidak suka kepada orang tertentu sehingga menyulut gerakan yang menimbulkan perpecahan, bisa juga ambisi pribadi pengen diakui eksistensinya akan tetapi tidak memiliki kemampuan memadai dan sifat buruk sehingga malah membuat lembaga menjadi panas kondisi antar pengurus.

Beda orang yayasan dengan pengelola Pesantren

Yayasan dan pengurus pesantren adalah orang yang berbeda dalam arah serta tujuan. Biasanya pesantren yang berada dibawah yayasan dan memiliki ketergantungan kepada yayasan akan mengalami intervensi dalam kepengelolaan lembaga, jika pengurusnya sudah tidak kuat atau jengkel dengan tekanan dari lembaga biasanya akan ada geakan massal keluar dari pesantren.

Itulah analisa beberapa hal yang menjadikan suatu lembaga pondok pesantren rawan mengalami perpecahan pengurus dikala lembaga sudah berjalan dengan baik

Antisipasi terjadi perpecahan pengurus dan rebutan lembaga pondok pesantren

Berdasarkan kejadian kejadian yang bisa diamati dan dianalisa, maka langkah langkah antisipasi dari perebutan kekuasaan pada pondok pesantren diantaranya adalah sebagai berikut;

Membuat rumusan bagaimana dan kemana pondok pesantren diarahkan

langkah-antisipasi

Maksudnya membuat blueprint mengenai model pondok pesantren baik dari segi pendidikan formal yang akan digunakan, ijazah yang akan dipakai, standar pendidik dan yang menyangkut pesantren jangan diabaikan disaat sibuk mengembangkan pesantren.

Dengan adanya perumusan awal model pesantren ini diharapkan meminimalisir peperangan antar pengurus dalam hal arah lembaga dijalankan

Menyamakan visi misi pengurus pengelola maupun pendiri

Selanjutnya menyamakan ide antar pengurus untuk mengamankan arah dan tujuan pondok pesantren supaya nantinya jika terjadi perbedaan pendapat dapat dibuka kembali kesepakatan yang telah dibuat sehingga pihak pihak yang berbeda pendapat dapat menyadari awal arah tujuan lembaga.

Membuat susunan pengurus yang jelas baik nama alamat tugas serta kewajibannya dan juga masa bhakti berapa tahun telah disusun dengan jelas dan dapat dipahami semudah mudahnya oleh keseluruhan pengurus.

mendokumentasikan kesepakatan

huruf hijaiyah dan cara penulisannya

Jangan lupa mendokumentasikan kesepakatan ini secara tertulis dan dapat dimasukkan dalam AD ART pada akta notaris lembaga sehingga jika terjadi percikan perbedaan dapat segera dieliminisir dengan membuka file yang telah dibuat.

Penutup

Seperti disampaikan diatas, kejadian perebutan ini biasanya hanya sedikit terjadi pada pondok pesantren dan utamanya bagi lembaga yang pendiriannya bersifat keroyokan.

Pada lembaga yang didirikan oleh seorang tokoh atau figur kuat apalagi juga penyandang dana tunggal akan lebih aman dan terkendali dari perebutan kekuasaan pada lembaga pendidikan.

Meskipun model figur kuat meminimalisir adanya perebutan, ada baiknya juga antisipasi dengan AD ART lembaga pada notaris baik dalam metode pemilihan pengurus dan durasi masa bhaktinya, hal ini supaya kelak dibelakang hari bisa menjamin situasi kondusif lembaga yang dikelola.

loading...

Silakan berkomentar