KBM TPQ

KBM TPQ Dikritik seperti Mengajar Anak TK

KBM TPQ dikritik seperti Mengajar anak TK

Pontren.com – assalamu’alaikum para pengajar TPQ di seluruh Indonesia, pada saat saya melakukan wawancara dengan alumni mesir tentang terjemah atau arti Taman Pendidikan Al Qur’an dalam Bahasa Arab, terselip pembicaraan mengenai pendidikan alquran di negara pharaoh ini.

Dalam percakapan itu menceritakan disana juga terdapat informasi  bahwa di mesir pun terdapat pendidikan alquran yang mengajarkan baca tulis serta materi pendidikan keislaman.

Baca;
APLIKASI PENGAJARAN AL-QUR’AN PADA TKA/TPQ DAN TPA/TPQ DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET
Masalah yang di Hadapi dalam Pembelajaran Al Qur’an
Cara Terbaik Mengelola TPQ adalah dengan praktek ilmu yang didapat

Yang membedakan bahwa para pengajar ini memiliki kualifikasi keilmuan yang mumpuni, sedangkan di Indonesia memiliki kualitas pengajar yang iklhas dan semangat daya juang tinggi.

Salah satu yang disampaikan beliau adalah mencermati tentang cara atau metode pembelajaran TPQ yang bisa dikatakan adaptasi dari cara mengajar di TPQ, ditandai dengan model tepuk, bernyanyi dan bermain serta happy – hapy untuk anak didik.

Apakah kritikan ( cara pembelajaran TPQ  sama seperti mengajar anak TK) ini salah? Itu tergantung dari sudut mana kita melihat dan mengupasnya, bisa juga kritik ini salah karena memang seperti itu cara mengajar TPQ, atau kritik ini masuk dikatakan benar dikala anak-anak yang sudah usia lebih besar malah diajak bermain semisal anak TK.

Baiklah mari kita melihat dari sudut pandang metode pembelajaran yang di sarankan oleh Kementerian agama melalui beberapa buku panduan yang diterbitkan oleh Ditpdpontren Kemenag RI Jakarta.

Dalam buku panduan Kemenag membagi proses kegiatan belajar mengajar dalam bentuk klasikal dan privat, dimana klasikal lebih pada pemberian materi pelajaran semisal ilmu tajwid, dinul islam dan pelajaran lainnya.

Metode privat dilakukan dalam rangka menyimak bacaan santri satu persatu dimana metode sorogan dipakai santri membaca buku iqra atau ummi didepan ustadz, meskipun model privat, jika terdapat kelebihan santri dibanding pengajar maka seorang guru bisa menyimak sekaligus 2 orang santri.

ilustrasi santri pontren tanpa biaya

Posisi mengajar adalah disaat model klasikal dimana satu kelas santri diberikan materi pembelajaran yang sama dan adakalanya diselingi dengan berbagai tepuk maupun lagu guna membuat suasana kondusif dan menyenangkan hati santri.

Metode ini dikenal dengan BBM, yang merupakan singkatan dari Bermain Bercerita dan Menyanyi. Jadi secara teknis, lembaga yang mengajar TPQ seperti anak TK tidaklah menyalahi acuan dalam kegiatan Belajar Mengajar ada TPQ.

Akan tetapi juga harap dilakukan pemilahan, bagi santri yang sudah berada pada jenjang kelas 5 dan 6 SD atau Madrasah Ibtidaiyah mestinya metode ini sebaiknya dilakukan hanya sesekali mengingat umur anak yang sudah menginjak lebih jauh dibandingkan dengan TK, meskipun ice breaking tetap diperlukan guna minat anak sekolah pada TPQ.

Diperlukan pengurangan kegiatan bermain bercerita dan menyanyi pada anak usia yang lebih besar ini diharapkan dapat memberikan materi pelajaran yang lebih banyak karena terbatasnya waktu kegiatan belajar mengajar pada TPQ (umumnya durasi KBM TPQ antara 1 jam sampai 1,5 jam pembelajaran dari pembukaan sampai penutupan).

back to TPQ
back to TPQ

Dengan melakukan pemilahan yang tepat kapan santri diberikan model BBM dengan metode yang klasikal semisal lembaga pendidikan formal maka tujuan yang diinginkan yaitu adanya transformasi ilmu yang maksimal dari guru pengajar kepada para santri anak didik pada Lembaga Pendidikan Al Qur’an atau LPQ.

Dengan demikian kesimpulan mengenai adanya komentar bahwa cara mengajar TPQ seperti anak TK memang benar karena seperti itulah metode yang dianjurkan melalui model BBM, akan tetapi perlu dilakukan pemilahan umur kepada siapa metode ini ditekankan.

Dan jika dikurangi kegiatan BBM bagi santri yang lebih besar dalam rangka mencapai pembelajaran maksimal tentunya akan lebih baik dilaksanakan karena mengingat umur anak usia 11-12 tahun sudah meninggalkan bangku TK sekitar 5 sampai 6 tahun yang lalu.

Itulah hasil ngobrol yang lain dengan salah satu lulusan al azhar mesir mengenai lembaga Pendidikan Al Qur’an Khususnya TPQ dan menukik tentang ulasan kegiatan Belajar Mengajar pada TPQ.

Sugeng sonten, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa baraktuh.

Silakan berkomentar

%d blogger menyukai ini: