kyai achmad yadi jenawipontren.com – tulisan tentang strategi mengajar yang biasa dipakai pada kalangan pondok pesantren. Tulisan ini merupakan hasil dari kegiatan yang dilaksanakan oleh seksi pakis suatu Kabupaten di Jawa Tengah. Disampaikan kisaran tahun 2015. Kegiatan tersebut bernama Workshop Sehari PENGUATAN TENAGA PENDIDIKAN BAGI GURU PESANTREN/DINIYAH.

Adapun sebagai nara sumber adalah seorang praktisi akademisi. Praktisi sebagai seorang pengelola lembaga pendidikan Pondok Pesantren, sedangkan akademisi beliau adalah seorang Dosen pada beberapa universitas.

Lebih lengkapnya beliau bernama Dr.H.Mardjoko Idris,M.Ag. untuk aktivitas akademisi dan praktisi sebagaimana dibawah ini.

• Dosen Pascasarjana UIN Yogyakarta
• Dosen Fakultas Adab & Ilmu Budaya
• Dosen Pusat Bahasa, Budaya & Agama
• Dosen Universitas Ahmad Dahlan
• Pimpinan Pondok Pesantren Wirausaha Sunan Kalijaga Jomblangan Bantul

Strategi mengajar biasa digunakan kalangan pondok pesantren (salaf)

Salah satu hal yang disampaikan adalah tentang strategi transfer ilmu dari Pengasuh Pondok Pesantren Kepada para santri.

Tentunya yang dimaksud pesantren disini yaitu model pesantren salafiyah, bukan ponpes modern. Karena pondok pesantren modern umumnya menggunakan metode klasikal semisal sekolah umum. Bisa dikatakan persis dalam model pembelajaran guru kepada murid.

Dalam materi ini, disebutkan ada 4 macam model manhaj yang paling umum digunakan. Berikut keempat taktik metode mengajar yang biasa dipakai oleh kalangan pesantren baik kyai ustadz maupun para gus.

Berikut keempat cara penyampaian ilmu yang umum di kalangan pesantren

  1. Kyai Ceramah,santri dalam jumlah yang banyak mendengarkan
  2. Kyai membaca kitab,santri dalam jumlah yang banyak menyemak
  3. Santri membaca kitab, Kyai menyemak
  4. Kyai ceramah,santri menanyakan apa yang belum dipahami

Kelebihan dan kelemahan metode mengajar

Pada model nomor 1 dan 2 umum disebut dengan sistem bandongan, dimana seorang pengasuh pondok pesantren atau kyai mengajar banyak santri dalam waktu yang sama.

bandongan pondok pesantren

bandongan pondok pesantren

Cara ini efektif memberikan ilmu kepada banyak santri. Akan tetapi kelemahannya tidak bisa mengcover semua santri guna paham dengan pelajaran karena susah kontrol ustadz terhadap kemampuan masing-masing peserta didik.

Pada nomor 3 sering disebut dengan sorogan, dimana santri menyorog kan kitab kepada kyai atau badal kyai kemudian membaca dengan disimak oleh para syaikh atau santri senior. Jika ada kesalahan bacaan atau mengartikan maupun maksud akan mendapatkan bimbingan dalam koreksi hal yang keliru.

Kelebihannya yaitu santri dapat memahami suatu pelajaran lebih detil karena disimak dan diarahkan secara langsung. Santri bisa langsung menanyakan apa yang tidak dipahami atau kurang jelas.

Kelemahan metode ini tidak efektif jika santri mencapai ratusan atau ribuan jika tidak tersedia pengajar yang memadai.

Pada nomor empat, bisa dikatakan termasuk dalam metode bandongan karena yang aktif dalam kegiatan ini adalah Kyai walaupun santri juga terlibat dalam pembelajaran dengan pertanyaan yang diajukan.

Secara umum kelemahan dan kelebihan seperti metode bandongan sorogan dengan cara melihat komposisi rasio jumlah pengajar dengan anak didik.

santri langitan sedang belajar (ilustrasi)

santri langitan sedang belajar (ilustrasi)

Demikian tulisan tentang metode mengajar atau transfer ilmu yang lumrah dijadikan strategi mengajar pada kalangan pondok pesantren. Kalau pernah mondok salaf, pastinya anda pernah diajar dengan menggunakan metode ini. Salam ayo mondok.

loading...