Santri cantik manis berkerudung dan berjilbab

Posted on

Pada saat komunikasi dengan salah satu santri lulusan pondok pesantren, dimana dia bercerita bahwa pada saat dia memasuki pondok pesantren, banyak stereotype yang menimpanya. Yang pertama adalah stereotype yang di labelkan kepada pondok pesantren. Pondok pesantren di identikkan dengan tempat yang kumuh, kotor, hukuman fisik, salah sedikit mendapatkan hukuman yang istilah pesantren disebut dengan iqob atau ta’zir. Selain itu pondok pesantren dianggap puritan, radikal dan kata kata lain yang dilabelkan kepada pesantren dari orang yang tidak tahu dan orang yang alergi dan benci terhadap pesantren.

Sedangkan stereotype yang dilabelkan kepada orang yang melanjutkan pendidikan di pondok pesantren antara lain adalah anak tersebut ber IQ rendah sehingga tidak bisa diterima di sekolah favorit. Sehingga hanya bisa di terima di pondok pesantren. Kemudian di pesantren harus mencuci sendiri, dijauhkan dari orang tua, dilabeli anak yang di buang dan tidak di inginkan oleh orang tua sehingga di sekolahkan di pondok pesantren.

loading...

Dikisahkan selanjutnya setelah sang anak tersebut melanjutkan pendidikan di pesantren mengatakan bahwa label kumuh kotor dan udik di pesantren tidaklah semuanya benar. Saat ini banyak pesantren yang sudah menjaga kebersihan dan di dampingi tenaga ahli profesional di bidangnya. Dan banyak pondok pesantren yang memiliki UKP yaitu singkatan dari Unit Kesehatan Pesantren.

Terkait hukuman fisik dan alias ta’zir atau iqob, sebenarnya lumrah saja seperti peraturan di sekolahan, ada sanksi bagi yang melanggar. Dan umumnya hukuman di pesantren lebih bersifat mendidik seperti membaca Al Qur’an (walau sambil berdiri), kemudian membersihkan kebun atau ruangan, tidak seseram yang di tuduhkan mereka yang benci kepada Islam.

Label radikal? Saat ini memang sedang giat giatnya penempelan radikal kepada pondok pesantren, akan tetapi jika anda bertanya kepada yang mengatakan radikal, apa parameter suatu pondok pesantren dikatakan radikal? Bisa jadi jawaban antara satu orang dengan yang lain akan berbeda. Mestinya dari pemerintah memberikan ketentuan yang jelas tentang parameter suatu lembaga disebut radikal. Terkait ada lulusan pesantren yang melanggar hukum? Ada ribuan lulusan pondok pesantren di Indonesia, kalau di presentasi silakan di check ada berapa persen. Apakah aparat tidak ada yang melanggar hukum? Jumlah aparat dan oknum yang melanggar hukum silakan di presentase kan, kemudian di bandingkan ada berapa persen yang melanggar hukum, kira kira ilustrasi tentang adanya oknum santri atau oknum aparat.

Menarik terkait stereotip pesantren tempat kumuh kotor tidak higienis dan para santrinya jorok serta tidak bersih, ketika sedang ada kegiatan pondok pesantren, banyak dokumentasi santri cantik berkerudung, ada juga santri imut, santri cantik mengaji, dimana menjadikan luntur cerita yang saya dengar terkait kata kumuh dan kotor.

Pada saat penutupan lomba yang diadakan oleh instansi pemerintah, ditampilkan lagu dari MA pondok pesantren, disitu dilihat santri cantik nyanyi dengan alunan indah serta jauh dari kesan norak. Dan pada saat lomba sebelum penutupan, santri cantik ngaji antri sesuai urutan lomba.

Untuk menghindari tuduhan hoax karena pepatah NO PICTURE = HOAX, maka kami tampilkan gambar santriwati cantik dan juga disertakan foto santri cantik tidak lupa kita beritahu foto foto dibawah ini bukan merupakan santri cantik cari suami, akan tetapi kumpulan santri cantik sebagai pematah label kumuh dan kotor.

foto santri cantik
gambar santri cantik
santriwati cantik.jpg
santri manis tersenyum
santri cantik berjilbab.jpg
santriwati anggun
fitri santri manis berjilbab
kontingen pospeda di Jawa Tengah
foto santri cakep.jpg
santri putri cantik dan cakep
santriwati cantik kumpul
santri cantik kumpul

mengurus IMB Pondok Pesantren

nomor statistik TPQ

santri pondok pesantren gratis (ilustrasi)

pondok pesantren tanpa biaya (ilustrasi mahasantri)

Bantuan Insentif Guru TPQ

 

santri Madrasah Diniyah Takmiliyah sedang belajar (ilustrasi)

baca :

loading...
loading...

Silakan berkomentar